<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767</id><updated>2012-01-09T18:28:00.441-08:00</updated><category term='Puisi'/><category term='Sosok'/><category term='Cerpen'/><category term='Opini'/><category term='Berita'/><category term='Dari Redaksi'/><title type='text'>smart institute jepara</title><subtitle type='html'>MEDIA online ini menerima tulisan dari pembaca sekalian. Panjang tulisan 2000-4000 karakter. Tulisan dilengkapi dengan foto, data diri dan ilustrasi yang sesuai. Kirim ke smart_jpr@yahoo.co.id. Redaksi berhak mengedit tulisan sepanjang tidak mengubah isi. Terima kasih</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>162</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-2801308101265624796</id><published>2011-04-21T19:09:00.000-07:00</published><updated>2011-04-21T19:14:56.796-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Kartini, sang Ayunda Pergerakan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/04/21/144205/Kartini-sang-Ayunda-Pergerakan"&gt;Suara Merdeka, 21 April 2011&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hadi Priyanto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar upaya pewarisan pemikiran Kartini bisa berjalan baik, sekolah bisa mengambil peran konstruktif dan edukatif dengan memasukkannya dalam muatan lokal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMAHAMI hanya sebatas kulit luar mungkin istilah yang paling tepat untuk menggambarkan kedangkalan pemahaman Kartini (kaum wanita) kini, terhadap usaha-usaha RA Kartini untuk membangun peradaban bangsa. Sebagian besar Kartini kini hanya tahu RA Kartini adalah pahlawan emansipasi  yang lahir di Jepara, 21 April 1879, pernah sangat menderita dalam pingitan, anak Bupati Jepara, kawin dengan Bupati Rembang dan meninggal serta dimakamkan di Bulu. Tetapi ketika pertanyaan dilanjutkan, apa sebenarnya yang  telah dilakukan oleh RA Kartini, banyak perempuan yang ragu untuk menjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal spirit perjuangan Kartini demikian luar biasa. Ia tidak hanya berjuang untuk membebaskan kaum wanita dari belenggu adat yang telah berabad-abad mengikat kaki dan tangan mereka tetapi yang dicita-citakan adalah membangun sebuah peradaban bangsa. Karena itu Kartini menganggap perjuangan untuk melepaskan rantai diskriminasi hanyalah sasaran antara untuk membangun peradaban baru bagi bangsa Bumiputera. Peradaban yang memberikan tempat yang sama bagi semua orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam surat-suratnya yang sangat panjang selama hampir 5 tahun, termasuk 2 notanya kepada pemerintah Hindia Belanda,  kita juga dapat belajar tentang paham nasionalisme yang disuarakan nyaring oleh Kartini. Juga perlawananya kepada kolonialisme yang dituduh Kartini berkeinginan agar bangsa Bumiputera tetap miskin dan bodoh sehingga tetap bisa dikuasai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu Kartini telah ikut meletakkan fondasi dan spirit bagi perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia. Kartini telah ikut menyemai tumbuhnya bunga-bunga nasionalisme dan patriotisme di tengah-tengah bangsa Bumiputera yang terjajah ratusan tahun. Dengan caranya sendiri, ia telah ikut mengobarkan api perjuangan dan keberanian melawan kolonialisme lewat ujung penanya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya Pahlawan Emansipasi yang layak disandangnya tetapi  ia juga layak mendapatkan anugrah sebagai Ibu Nasionalisme. Sebab jauh sebelumnya pergerakan itu menemukan momentumnya pada 1908, Kartini telah lebih dahulu melakukannya. Apa yang  dilakukan tidak hanya mampu memberikan inspirasi terhadap pejuang pergerakan Indonesia dan rakyat Bumiputera tetapi telah menumbuhkan  keberanian melakukan perlawanan terhadap ketidakadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memikul Beban Pokok-pokok pikiran Kartini pada tanggal 24 Desember 1911 telah diterima secara aklamasi sebagai richtsnoer atau  pedoman perjuangan Indische Vereeniging di Belanda, tempat berhimpunnya para mahasiswa Indonesia. Tahun 1924 organisasi ini  diganti dengan Perhimpunan Indonesia yang menjadi salah satu pelopor utama pergerakan kemerdekaan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di Tanah Air terbitnya buku Door Duisternistot Licht  yang berisi kumpulan surat Kartini   disambut hangat oleh para tokoh pergerakan. Bahkan ada tanggal 24 Mei 1912, di surat kabar milik Dr Douwes Dekker, De Express, Dokter Tjipto Mangunkusumo menegaskan tiap halaman surat Kartini tertuang keinginan, harapan, dan perjuangan untuk mengajak bangsanya bangun dari tidurnya yang panjang yang telah beratus-ratus tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh sebelum Jong Java dideklarasikan tahun 1915 dengan nama Tri Koro Dharmo, 12 tahun sebelumnya dalam suratnya kepada Ny Ovink Soer tahun 1903, Kartini sudah mengungkapkan tentang para aktivis Jong Java yang menyebut Kartini dengan panggilan ayunda, tempat mereka mencurahkan persoalan dan keyakinannya  akan datangnya zaman baru  yang hanya bisa dicapai dengan persatuan para aktivis perjuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu pewarisan nilai, semangat juang, dan pemikiran Kartini dirasakan perlu, bukan saja untuk menjaga agar momentum peringatan tidak salah arah dan terjebak dalam acara seremonial yang kurang bermakna melainkan agar dalam setiap zaman muncul anak-anak ideologis Kartini yang berani memikul beban zaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar upaya pewarisan itu bisa berjalan baik, sekolah bisa mengambil peran konstruktif dan edukatif dengan memasukkannya dalam muatan lokal. Termasuk pewarisan melalui organisasi perempuan yang sering kali bangga menyebut dirinya pewaris semangat Kartini. (10)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-2801308101265624796?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/2801308101265624796/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=2801308101265624796' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/2801308101265624796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/2801308101265624796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2011/04/kartini-sang-ayunda-pergerakan.html' title='Kartini, sang Ayunda Pergerakan'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-2321136039457013290</id><published>2011-04-20T19:15:00.000-07:00</published><updated>2011-04-21T19:18:27.384-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Rombongan Srikandi Tiba di Jepara</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-8r9q-Sq05GY/TbDlR2zMP9I/AAAAAAAAANU/YqbioiLP_5M/s1600/d766c152756b36afb41345c08d172606.JPG"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 284px; height: 213px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-8r9q-Sq05GY/TbDlR2zMP9I/AAAAAAAAANU/YqbioiLP_5M/s320/d766c152756b36afb41345c08d172606.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5598226431752290258" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2011/04/20/83483/Rombongan-Srikandi-Tiba-di-Jepara"&gt;Suara Merdeka, 20 April 2011&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jepara, CyberNews&lt;/span&gt;. Sepuluh Srikandi Bike to Work yang tiba Jepara pada Selasa (12/4) melanjutkan aktivitas di Bumi Kartini dengan mengunjungi lokasi-lokasi pariwisata yang ada di Kota Jepara kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para anggota Srikandi adalah Lucy Iskandar (29), Tense Manalu (38), Rahma Anggraeni (30), Aristi Majid (30), Rahmi Diyarti (35), Rifa Ilyasa (35), Meika Manullang (27), Evie Permatasari (39), Seklie Patyuniestri (31), dan Rini Rismiati (35)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setibanya di Jepara, mereka mengunjungi Pendopo Jepara dimana RA Kartini dipingit, Museum Kartini, Sentra Kerajinan Mulyoharjo, Pantai Bandengan dan diakhiri pada Kura-kura Ocean Park di Pantai Kartini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evie Permatasari, salah satu anggota mengaku, "Saya yang paling terkesan memang keberaniaan Kartini saat berusia 12 tahun yang berani mengatakan kepada perajin untuk tetap mengukir dan tidak usah takut dosa. Sikap itu bisa dibilang kenakalan dalam tanda kutip, tetapi menunjukkan perhatian Kartini atas masyarakat luar biasa," ucap Evie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, keberanian Kartini kecil bersikap seperti itu memiliki andil memajukan ukir Jepara. "Saya juga salut dengan rasa seni yang dimiliki Kartini karena ada beberapa peninggalan Kartini yang memiliki seni," ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Meika Manullang dan Aristi Majid menjelaskan terkesan dengan kebersihan dan kerapian Kota Jepara yang berkali-kali mendapatkan penghargaan Adipura berkali-kali. Ia berharap soal transportasi ke Pulau Karimunjawa agar bisa dibenahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Bupati Hendro Martojo kegiatan yang dilakukan sepuluh perempuan itu merupakan salah satu cara meuwujudkan cita-cita Kartini. Dengan bersepeda, lanjutnya, Srikandi berkampanye pentingnya menjaga lingkungan. "Sungguh perkasa, kota demi kota dilalui sambil mengajak masyarakat mencintai lingkungan yang hijau sekaligus napak tilas Kartini," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai ungkapan terima kasih, Bupati atas dana Pemkab Jepara dan seluruh masyarakat memberikan piagam penghargaan dan cendera mata kepada segenap awak Srikandi. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;( Akhmad Efendi / CN26 / JBSM )&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-2321136039457013290?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/2321136039457013290/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=2321136039457013290' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/2321136039457013290'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/2321136039457013290'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2011/04/rombongan-srikandi-tiba-di-jepara.html' title='Rombongan Srikandi Tiba di Jepara'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-8r9q-Sq05GY/TbDlR2zMP9I/AAAAAAAAANU/YqbioiLP_5M/s72-c/d766c152756b36afb41345c08d172606.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-2450636229542761516</id><published>2011-04-04T03:14:00.000-07:00</published><updated>2011-04-05T03:18:37.960-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Seni Kentrung Jepara Di Ambang Kepunahan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-vuDszk3Aepc/TZrsK2U0hxI/AAAAAAAAANM/IOK6X5oxPps/s1600/zkentrung.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 282px; height: 189px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-vuDszk3Aepc/TZrsK2U0hxI/AAAAAAAAANM/IOK6X5oxPps/s320/zkentrung.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5592041558459582226" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Klik: &lt;a href="http://for-mass.blogspot.com/2011/04/seni-kentrung-jepara-di-ambang-kepunah.html"&gt;http://www.for-mass.blogspot.com/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JEPARA&lt;/span&gt; -   Makin banyak saja kesenian tradisional di Jepara yang terancam punah. Akibat tidak berjalannya proses regenerasi, kesenian tradisonal kentrung juga mengalami ancaman itu. Para seniman kentrung sendiri bahkan tak yakin sampai kapan kesenian bisa bertahan. Seni kentrung adalah seni pentas yang melibatkan 2 -3 orang dengan cara membacakan lakon yang dalam pementasannya diiringi dengan pantun atau joke-joke yang lucu . Sehingga para penonton yang melihat dan mendengar akan terpesona oleh olah kata sang dalang , bahkan jika tak kuat bisa membuat terbahak-bahak orang yang mendengarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain bercerita dalam seni kentrung ini juga menggunakan alat music tabuh berupa rebana yang suaranya jika didengar bersahutan-sahutan, sehingga dalam bercerita sanga dalang sekaligus pemain music memadukannya sehingga enak didengarkan. Selain orang tua yang menjadi penggemar utama , anak muda satu dua juga senang akan kesenian kentrung ini oleh karena itu meskipun tidak seperti dahulu pada jaman kejayaannya puluhan tahun yang lalu , kini seni kentrung masih bisa kita saksikan. Biasanya seni kentrung ini  didatangkan untuk memeriahkan acara semisal melekan bayi , acara 17 agustusan juga untuk melekan menyambut tahun baru hijriah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ Ya seperti di Radio Kartini FM Jepara setiap pergantian tahun baru hijriah pasti ada siaran langsung Kentrung di Studio, selain untuk nguri-nguri seni ini juga sebagai tanda syukuran datangnya tahun baru “, ujar Odie Melankolis seniman dari Jepara pada local.detik.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jepara dulu desa Ngasem kecamatan Batealit di kenal sebagai gudangnya dalang kentrung , namun seiring dengan merebaknya kesenian modern seni kentrung ini lambat laun makin hilang dari pededaran . Meski demikian saat ini masih dapat kita temukan dalang kentrung walaupun jumlahnya bisa dihitung dengan jari hal itu disebabkan tidak adanya regenerasi dari mereka. Penerus dari dalang kentrung ini tidak bisa mewariskan keahlian mereka pada anak-anak mereka yang tidak mau menekuni seni ini , justru mereka memilih pekerjaan lainnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seni kentrung sendiri syarat muatan ajaran kearifan lokal. Dalam pementasannya, seorang seniman menceritakan urutan pakem dengan rangkaian parikan. Joke-joke segar sering diselipkan di tengah-tengah pakem, tetap dengan parikan yang seolah di luar kepala. Parikan berirama ini dilantunkan dengan iringan dua buah rebana yang ditabuh sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa lakon yang dipentaskan di antaranya Amat Muhammad, Anglingdarma, Joharmanik, Juharsah, Mursodo Maling, dan Jalak Mas. Selama seniman kentrung masih ada tradisi rutin untuk mementaskan seni kentrung ini pada awal tahun baru hijriah tetap dilaksanakan oleh pemerintah daerah Jepara lewat Radio Kartini. Selain nambani kangen untuk penggemar seni kentrung di Jepara juga sebagai ajang pelestarian seni tradisional Jepara . &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(FM/Oedy)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-2450636229542761516?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/2450636229542761516/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=2450636229542761516' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/2450636229542761516'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/2450636229542761516'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2011/04/seni-kentrung-jepara-di-ambang.html' title='Seni Kentrung Jepara Di Ambang Kepunahan'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-vuDszk3Aepc/TZrsK2U0hxI/AAAAAAAAANM/IOK6X5oxPps/s72-c/zkentrung.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-5013345988992188576</id><published>2011-04-04T03:12:00.000-07:00</published><updated>2011-04-05T03:14:00.535-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>PLTN dan Risiko Multisosial</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: georgia;font-size:85%;" &gt;&lt;a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/04/04/142237/PLTN-dan-Risiko-Multisosial"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Suara Merdeka, 04 April 2011&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Trisno Yulianto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;LEDAKAN&lt;/span&gt; reaktor nuklir Fukushima, Jepang, akibat gempa beberapa waktu lalu meningkatkan radiasi 1.000 kali di atas ambang batas normal. Kebocoran reaktor akibat tekanan gempa bumi membuat guncangan dahsyat di pusat reaktor nuklir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pelajaran penting di balik ledakan reaktor itu bagi Pemerintah Indonesia yang (melalui rencana strategis Batan) berkeinginan membangun PLTN di Ujungwatu, Jepara. Pertama, Jepang yang merupakan negara berkemampuan teknologi, kedisiplinan dalam pengelolaan produk teknologi, minim korupsi saja tak bisa memprediksikan dan menjaga keamanan reaktor nuklir akibat bencana alam. Seberapa kuat dan kompeten ilmuwan, teknokrat, dan birokrat ilmu pengetahuan Indonesia bisa menjamin keselamatan masyarakat dan keamanan reaktor nuklir?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akuntabilitas Diragukan Pembangunan PLTN di Indonesia yang direncanakan di lepas pantai Jepara, konon, akan menghabiskan alokasi anggaran Rp 80 triliun. Skema pembangunan PLTN dirancang atas estimasi anggaran yang diragukan akuntabilitasnya oleh publik. Karena, kultur perencanaan anggaran adalah penggelembungan dan dalam praktik direduksi untuk ongkos politik dan birokrasi. Jika akuntabilitas anggaran pembangunan PLTN diragukan, bisa dibayangkan bagaimana kualitas PLTN yang akan dibangun. Apakah bisa dijamin tak bakal bocor dan aman sesuai dengan rencana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Jepang membangun PLTN untuk memproduksi energi listrik industrial. Jepang miskin sumber daya alam, sedangkan Indonesia kaya sumber daya alam tetapi selama 40 tahun lebih tak mampu mengeksplorasi dan mengeksploatasi untuk kepentingan masyarakat. Alternatif selain PLTN bisa berupa tenaga panas bumi, panas matahari, angin, yang selama ini mengalami pembiaran inovatif. Pembangunan PLTN yang tetap diskenario pemerintah dan akan dibangun ketika resistensi masyarakat mengendur lebih didasari kepentingan orientasi proyek. Bukan kepentingan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, area pembangunan PLTN yang konon tetap diprioritaskan di Jawa dengan sasaran utama pantai utara memiliki zona kerawanan ekologis. Riset analisis dampak lingkungan calon lokasi yang dinyatakan aman dari guncangan gempa bumi diragukan berbagai ahli geologi independen. Sebab, Pulau Jawa tidak merupakan zona steril dari ancaman gempa, gelombang tinggi, dan berbagai deformasi ekologis lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebocoran reaktor nuklir berdampak ekonomis, kemanusiaan, dan lingkungan. Ledakan dan kebocoran PLTN Chernobyl di Ukraina, Uni Soviet, 26 April 1986, adalah model kebencanaan akibat terbakar dan melelehnya pusat reaktir nuklir. Bencana itu merenggut korban ribuan jiwa. Gas radiokatif mencemari udara, air, tanah bukan hanya di zona bahaya inti gas radioaktif, melainkan menyebar ke berbagai kawasan di Rusia dan Belarusia. Gas radiasi mencemari tanah subur, yang baru pulih dan terbebas dari pencemaran zat radioaktif setelah 30 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isu Nasional Upaya membangun PLTN sering diletupkan jadi isu nasional di tengah kemeretasan isu krisis energi. Dalam berbagai pertemuan ilmiah, sosialisasi program, serta diskursus media, upaya membangun PLTN seolah ditempatkan sebagai satu-satunya solusi mengatasi krisis energi yang diprediksi menimpa Indonesia beberapa tahun ke depan. Padahal, krisis energi itu sebenarnya disebabkan oleh peningkatan permintaan dan salah kelola manajemen energi puluhan tahun. Permintaan meningkat bukan untuk menyubsidi kepentingan masyarakat banyak, melainkan oleh kerangka politik industrial yang promodal dan investasi asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan PLTN di berbagai negara maju selama ini secara makro tak bermasalah, kecuali beberapa tragedi di Rusia, China, Jepang, dan AS. Namun kesiapan infrastruktur keilmuan, transparansi tanggap bencana, kesiagaan birokrasi, serta pemenuhan jaminan keamanan masyarakat di negara yang memproduksi energi dari reaktor nuklir cukup memadai. Adapun Indonesia, negara yang masih termasuk 10 besar terkorup di dunia, PLTN bisa saja menjadi bencana bagi publik dan berkah bagi penguasa dan birokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan dan pengelolaan PLTN memerlukan biaya mahal dan produksinya menghasilkan dana melimpah. Namun, apakah PLTN kelak tidak menjadi bagian dari proyek korupsi baru dengan label ilmu teknologi modern? Kompetisi tenaga ahli nuklir di Indonesia pun patut diragukan karena belum terdidik dalam aktivitas kerja keilmuan dan praksis operatif PLTN secara langsung. Jika masa transisi mendatangkan tenaga ahli (konsultan) asing, bisa dihitung berapa ongkos yang dibutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan PLTN di Indonesia adalah buah simalakama kegagalan rencana eksplorasi, eksploitasi, dan manajemen sumber daya energi sejak Orde Baru hingga kini. Pemerintah acap mencari jalan pintas dengan mengadopsi teknologi pemroduksi energi dan melupakan unit kreativitas teknologi yang memiliki nilai kearifan lokal. Cetak biru pembangunan reaktor nuklir (PLTN) di Indonesia, yang konon mendapat restu Badan Atom Dunia (IAEA), tak menyentuh tuntutan publik. Tak ada garansi politik, ekonomi, ekologi, serta ilmu pengetahuan dan teknologi yang menjamin keselamatan masyarakat serta kelestarian PLTN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski Batan dan pemerintah meretorikakan ìmenjaminî, publik tetap meragukan. Sebab, dalam kasus lumpur Lapindo saja pemerintah gagal mengimplementasikan resolusi alam, ekonomis, dan kemanusiaan, bagaimana dengan PLTN? Bukankah kultur politik penguasa sejak 40 tahun lalu lebih senang menjadikan rakyat eksperimen dan tumbal kebijakan politik pembangunan? (51)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-5013345988992188576?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/5013345988992188576/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=5013345988992188576' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/5013345988992188576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/5013345988992188576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2011/04/pltn-dan-risiko-multisosial.html' title='PLTN dan Risiko Multisosial'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-2220143977928981755</id><published>2011-03-29T07:44:00.000-07:00</published><updated>2011-04-01T07:47:23.106-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Kebijakan Pangan di Karimunjawa</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: georgia;font-size:85%;" &gt;&lt;a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/03/29/141566/Kebijakan-Pangan-di-Karimunjawa"&gt;Suara Merdeka, 29 Maret 2011&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Riyono Abdullah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TIDAK&lt;/span&gt; banyak yang menyoroti dampak musim ekstrem saat ini, terutama bagi kehidupan penduduk di pulau terpencil, seperti Karimunjawa (Karimun) Kabupaten Jepara. Oktober 2010 sampai Maret ini masuk musim barat yang merupakan musim ’’kelaparan’’ bagi warga setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggi ombak yang bisa 2-3 m membuat Kapal Muria Jepara-Karimun sebagai sarana utama transportasi terpaksa berhenti berlayar, termasuk Kapal Cepat Kartini yang melayani rute Semarang-Karimun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat musim barat seperti ini kadang muncul berita bahwa terjadi kelaparan dan kelangkaan pangan di Pulau Dewandaru ini, serta Pemprov Jateng dan Pemkab Jepara biasanya cepat memberi klarifikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepulauan Karimunjawa yang dikelilingi pulau-pulau kecil terletak 110 kilometer di timur laut Semarang, dan aksesibilitas menuju kepulauan ini sangat bergantung pada kondisi pelayaran. Masalah pertama yang sering dihadapi adalah kurangnya pasokan bahan makanan. Kedua; penanganan yang dilakukan pemerintah masih bersifat instan belum ada model pengembangan ketahanan pangan yang membuat tidak jelasnya penanganan masalah kerawanan pangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus Desa Karimunjawa, ketergantungan pangan dari Jepara memang sangat besar. Desa dengan luas 4.302 ha ini hanya memiliki lahan pertanian produktif  sekitar 62 ha. Pulau Kemujan dengan luas 1.501 ha memiliki lahan produktif pertanian seluas 210 ha, sedangkan Parang (termasuk Pulau Nyamuk) dengan luas 690 ha, sebagian besar lahannya produktif untuk pertanian, yakni 400 ha. Masalah ketiga adalah tidak adanya kebijakan atau road map  pengembangan pangan yang membuat gelap kemandirian pangan di Karimunjawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian dan kajian yang dilakukan penulis sebagai bahan tesis magister menunjukkan bahwa berdasarkan data Kecamatan Karimunjawa Dalam Angka 2009, jumlah penduduk 10.210 orang. Dengan asumsi rata-rata kebutuhan beras per kapita per tahun 125 kg (Husodo, 2006) maka dibutuhkan 1.276,25 ton beras/ tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan luas total sawah 32 ha dan yang produktif 9 ha, estimasi produksi beras hanya sekitar 24,3 ton per tahun atau sekitar 1,9% dari kebutuhan. Dari data ini terlihat bahwa memang kondisi sumber alam lokal memang tidak dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan pangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah cadangan bahan pangan (beras)  yang dimiliki penduduk untuk mencukupi kebutuhan keluarganya dengan estimasi  kebutuhan beras per kapita per hari adalah 0,34 kg beras, maka stok beras dalam 1 bulan yang harus ada di masyarakat Karimunjawa idealnya adalah 104 ton. Namun dari pengolahan data hasil survei, stok beras di masyarakat hanya sekitar 47,4 ton atau 45% saja dari total kebutuhan satu bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis SWOT menunjukkan ada tiga strategi yang bisa dilakukan untuk mengatasi kondisi pangan di kepulauan tersebut. Pertama; strategi pemantapan ketersedian pangan meliputi peningkatan cadangan pangan menjelang musim barat, per wilayahan komoditas pangan sesuai potensi, dan pemantapan infrastruktur produksi pertanian.&lt;br /&gt;Membangun Ketahanan Operasionalisasinya bisa dilakukan melalui program pembangunan lumbung pangan yang difungsikan sebagai KUD dan pasar bersama saat pasokan terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua; strategi pemantapan diversifikasi konsumsi pangan meliputi penyediaan suplai dengan mengembangkan  sumber daya lokal (unggulan wilayah), peningkatan knowledge, attitude, dan practice (KAP)  melalui  gerakan konsumsi pangan yang beragam, gizi seimbang, dan aman,&lt;br /&gt;Ketiga, strategi pemantapan distribusi  pangan meliputi pasokan bahan pangan dari musim ke musim, penguatan posisi tawar petani dan nelayan, pengembangan sarana dan prasarana  pascapanen  dan infrastruktur distribusi, kemitraan petani, nelayan dan pedagang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peneliti saat ke Pulau Parang melihat potensi luar biasa pertanian dan wisata yang bisa mendukung kesejahteraan warga, namun ketiadaan moda transportasi yang layak membuat pulau itu jarang dikunjungi wisatawan. Pembangunan pasar sebagai sarana penggerak ekonomi desa sangat diperlukan masyarakat Karimun, dan saat ini baru saja difungsikan pasar bantuan pemerintah. Sebelumnya yang ada hanya pasar kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga kebijakan itu bisa menjawab kabar bahwa kondisi Karimunjawa termasuk kategori rawan pangan sementara. Kebijakan ini melibatkan banyak instansi dan stakeholder yang harus bersinergi membangun ketahanan pangan. (10)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-2220143977928981755?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/2220143977928981755/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=2220143977928981755' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/2220143977928981755'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/2220143977928981755'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2011/03/kebijakan-pangan-di-karimunjawa.html' title='Kebijakan Pangan di Karimunjawa'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-7347070842007939622</id><published>2011-03-18T07:50:00.000-07:00</published><updated>2011-04-01T07:51:39.183-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Hapuskan Saja Ide soal PLTN Muria</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: georgia;font-size:85%;" &gt;&lt;a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/03/18/140378/Hapuskan-Saja-Ide-soal-PLTN-Muria"&gt;Suara Merdeka, 18 Maret 2011&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cukuplah&lt;/span&gt; insiden meledaknya Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi akibat gempa bumi di Jepang, 11 Maret lalu, menjadi pelajaran nyata bagaimana seharusnya pemerintah menyikapi rencana pembangunan PLTN Muria di Jepara. Logika penolakan berbagai elemen masyarakat di kawasan Muria yang mendapat dukungan secara nasional, makin diperkuat oleh realitas empirik bencana-bencana nuklir dunia, dan kini krisis nuklir di Jepang. Semua menjadi referensi kuat untuk melupakan saja rencana tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simaklah pakar fisika nuklir Iwan Kurniawan ini, ”Kurang apa Jepang? Teknologi, sumber daya manusia, dan kedisiplinannya luar biasa, tetapi bencana tetap bencana yang sulit diprediksi kadarnya”. Maka ia mengimbau Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) menghentikan promosi untuk membangun PLTN Muria. Pernyataan Menko Perekonomian Hatta Radjasa juga perlu digarisbawahi: ada atau tidak ada gempa Jepang, pembangunan PLTN merupakan solusi terakhir kalau sudah tidak ada sumber energi lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak hendak merendahkan SDM bangsa sendiri ketika membandingkannya dengan keandalan SDM dan kedisiplinan ala Jepang. Boleh jadi secara eufimistis kita mengatakan, ”Membangun jalan tol saja tidak beres, kok ngotot membangun PLTN yang risikonya sedemikian tinggi”.  Yang ingin kita tekankan hanyalah faktor besarnya kemudaratan yang bisa saja muncul karena tingginya risiko. Berbicara tentang risiko, kita tentu berbicara yang terburuk, karena masalahnya terkait dengan keselamatan dan masa depan bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini terdapat 442 PLTN di berbagai negara di dunia. Pemicunya adalah pemanasan global akibat tingginya penggunaan bahan kabar konvensional. Karena kebutuhan energi makin besar,  produk nuklir pun dipandang sebagai salah satu solusi. Pilihan itu menjadi semacam tuntutan bagi negara-negara yang perekonomiannya dinamis, seperti China dan India yang masih membutuhkan suplai energi tambahan dari nuklir. Prancis juga memenuhi sekitar 70 persen energi listriknya dari nuklir. Tetapi bagaimana pasca-Fukushima?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jepang, selama ini terus berusaha menyempurnakan pengamanan PLTN-nya dengan teknologi yang mampu menahan gempa sekuat apa pun. Namun klaim tersebut dimentahkan oleh insiden Fukushima Daiichi. Artinya, negara yang punya kemampuan konsolidasi teknologi, infrastruktur, SDM, kultur, dan disiplin tinggi pun menghadapi titik keterbatasan dalam mencegah risiko radiasi. Kalau sekadar berpikir tentang kontribusi PLTN memang positif, tetapi yang lebih positif tentu berpikir tentang ekses dan keselamatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penolakan PLTN Muria pun kini mendapat energi baru. Pemerintah tidak perlu ragu untuk surut ke belakang, bahkan sama sekali melupakan rencana tersebut. Jika suatu ketika kebutuhan energi tak bisa lagi ditawar, pilihan akhir itu harus dengan mencari tapak baru yang risikonya paling kecil, jauh dari kemungkinan risiko gempa. Dorongan pembatalan tentu jangan diartikan sebagai kemandekan dinamika ekspresi kualitas SDM bangsa ini. Bukankah masih banyak medium lain untuk mengekspresikan keunggulan?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-7347070842007939622?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/7347070842007939622/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=7347070842007939622' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/7347070842007939622'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/7347070842007939622'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2011/03/hapuskan-saja-ide-soal-pltn-muria.html' title='Hapuskan Saja Ide soal PLTN Muria'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-7223194289378112164</id><published>2011-03-17T07:52:00.000-07:00</published><updated>2011-04-01T07:54:30.598-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Pelajaran dari PLTN Fukushima</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/03/17/140261/Pelajaran-dari-PLTN-Fukushima"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Suara Merdeka, 17 Maret 2011&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Oleh &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: georgia;"&gt;Sahala Hutabarat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: georgia;"&gt;PERDANA&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: georgia;"&gt;Menteri&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt; Jepang Naoto Kan dalam konferensi pers awal menyatakan tidak ada kebocoran akibat gempa berkuatan 9 Skala Richter (SR) terhadap bangunan PLTN Fukushima, tetapi kenyataannya terjadi kebocoran pada 3 reaktor nuklir. Waktu itu, lebih dari 200 ribu orang diungsikan ke zona aman, radius 20 km dari pusat pembangkitan energi tersebut. Ledakan hidrogen kali kedua, kembali terjadi Senin lalu dan mencederai 11 pekerja. Bahkan radiasi radioaktif sudah terdeteksi oleh kapal induk AS (SM, 15/ 03/11).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Meskipun Jepang telah 165 kali mengalami gempa sejak 1800, kejadian pada 11 Maret 2011 itu adalah yang terhebat dalam sejarah kegempaan di negara itu dan dunia. Pada 1 September 1923 Negeri Matahari Terbit itu juga mengalami salah satu gempa bumi hebat (7,9 SR) pada abad ke-20, yang dikenal sebagai gempa bumi Great Kanto. Gempa itu menghantam dataran Kanto, menghancurkan Tokyo dan beberapa bagian Yokohama, dan menewaskan hampir 140 ribu orang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Terkait dengan gempa yang diikuti tsunami di Jepang itu, sebagaimana di Aceh tahun 2004, seharusnya Pemerintah Indonesia memetik pelajaran dari Jepang dalam mempersiapkan diri menghadapi gempa melalui standar keamanan yang sangat tinggi. Sejak dini, penduduk dilatih mengatasi keadaan darurat, khususnya menghadapi gempa dan tsunami.  Bahkan infrastruktur publik dikembangkan sedemikian rupa sehingga walaupun terjadi gempa berkekuatan 7-8 Skala Richter, kerusakan yang diakibatkan relatif minim.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Namun apa yang diperhitungkan manusia secara teliti dan cermat, seperti  pembangunan PLTN Fukushima yang dipersiapkan dan dikelola secara baik itu tidak bisa mengalahkan kekuasaan Tuhan. Konstruksi itu tetap tidak bisa menahan gempa, akibatnya terjadi ledakan diikuti kebocoran yang mengakibatkan radiasi radioaktif pada skala 4 dalam skala 0-7.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Tingkat radiasi ini berbeda dari kebocoran di PLTN Chernobyl Rusia tahun 1986, yang mencapai skala 7 dan menewaskan sedikitnya 4 ribu jiwa, dan menghancurkan seluruh fauna dan flora sehingga daerah tersebut tidak diperbolehkan ditinggali karena sudah terpapar radiasi nuklir.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Kemampuan insinyur Jepang juga sangat mumpuni dalam membuat bangunan tahan gempa karena mereka sadar negaranya rawan gempa. Dalam sejarah kegempaan di negara lain, gempa berkekuatan 7-7,5 SR bisa meluluhlantakkan bangunan dan infrastruktur. Namun Jepang membuktikan mampu meminimalisasi kerusakan akibat gempa besar seperti pada 11 Maret lalu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Risiko Mahal Kerugian akibat gempa pasti sangat besar tetapi di balik itu banyak hal yang dapat dipelajari, utamanya kesiapsiagaan darurat bangsa Jepang yang terbukti efektif  dalam mengantisipasi dan  mengatur keadaan darurat,  khususnya dalam menghadapi gempa dan tsunami. Masyarakatnya tidak terlalu panik menghadapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaca pada bencana gempa besar yang diikuti tsunami di Jepang pada 11 Maret lalu, marilah kita menarik pelajaran,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt; sekaligus meninjau ulang rencana pembangunan PLTN, baik di Semenanjung Muria Jepara, Banten, maupun di Provinsi Bangka Belitung (Babel). Perlunya mengkaji ulang rencana itu mengingat risikonya bila terjadi kebocoran dari reaktor pembangkitan itu, terkait gempa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga provinsi itu belum pernah mengalami gempa tektonik, tetapi harus diingat bahwa Indonesia berada di atas lempengan tektonik yang sewaktu-waktu dapat bertubrukan dan menimbulkan gempa yang diikuti tsunami. Sejarah membuktikan bahwa gempa berulang kembali pada kisaran 140-150 tahun akibat pergerakan lempeng tektonik antara 1,5 dan 7,5 cm tiap tahun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Pada sisi lain, pemanfaatan nuklir untuk pembangkitan energi sesungguhnya sangat mahal ditinjau dari teknologi dan biaya pembangunan reaktornya (belum lagi risikonya jika terjadi kebocoran) ketimbang pemanfatan sumber energi lain seperti gas, batu bara, atau panas bumi yang relatif lebih murah dan di Indonesia potensinya berlimpah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Marilah kita belajar dengan menimba pengalaman dari gempa dan tsunami di Jepang,  supaya kita lebih berhati-hati menentukan program pembangunan nasional dengan selalu memperhatikan kondisi sumber daya alam, letak geografi, kesiapan SDM dan masyarakat, serta penerapan teknologi yang tepat. (10)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-7223194289378112164?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/7223194289378112164/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=7223194289378112164' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/7223194289378112164'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/7223194289378112164'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2011/03/pelajaran-dari-pltn-fukushima.html' title='Pelajaran dari PLTN Fukushima'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-8459352266715716591</id><published>2011-03-15T07:56:00.000-07:00</published><updated>2011-04-01T07:58:01.834-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Tsunami Kedua: Kebocoran PLTN</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/03/15/140032/Tsunami-Kedua-Kebocoran-PLTN"&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Suara Merdeka, 15 Maret 2011&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Oleh &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: georgia;"&gt;Prayitno&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Inilah momentum yang tepat bagi Batan untuk berpikir ulang apakah masih tetap ngotot membangun PLTN fissi?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;LEBIH kuat manakah antara serangan dengan menabrakkan pesawat Boeing 747 seperti dilakukan teroris pada gedung WTC New York dan gempa 8,9 SR yang memicu tsunami di Jepang, Jumat pekan lalu? Yang jelas, keduanya sama-sama mengakibatkan kehancuran dan menyebabkan ribuan orang meninggal dunia. Akibat hantaman Boeing 747 bermuatan bom pada 11 September 2001 itu, gedung WTC yang didesain tahan gempa, rata dengan tanah. Hanya beda penyebabnya, Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi juga tak cukup kuat dari guncangan gempa 8,9 SR yang memicu tsunami itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Ledakan di dekat reaktor PLTN fissi yang dioperasikan Tepco tersebut, sebagaimana diberitakan harian ini, meningkatkan radiasi radioaktif. Namun Pemerintah Jepang menyatakan tingkat radiasinya rendah karena ledakan itu tak memengaruhi kontainer inti reaktornya. Tapi yang pasti, warga di sekitar pembangkit energi itu telah diungsikan. Emosi kita terusik, karena gempa 8,9 SR di Jepang itu tak hanya memicu terjadinya tsunami, namun juga mengakibatkan salah satu PLTN-nya rusak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Tentu tidak keliru jika rasa kenyamanan bangsa Indonesia terganggu atas peristiwa yang menimpa PLTN di Jepang itu. Bukankah pemerintah lewat Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) selama ini ngotot merealisasikan proyek PLTN? Berbagai argumen dan upaya untuk meyakinkan publik bahwa PLTN aman dibangun dan kita telah menguasai teknologinya, sudah dan tengah dilakukan Batan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Ketika terjadi polemik antara pemerintah, Batan, dan kalangan pro-PLTN pada satu sisi dan kelompok anti-PLTN fissi setelah penyerangan WTC pada sisi yang lain, ada pejabat menegaskan bahwa reaktor PLTN fissi yang akan dibangun di Ujung Lemahabang, Balong, Jepara (Semenanjung Muria), tak hanya tahan dari guncangan gempa tetapi juga didesain tak mempan serangan bom pesawat Boeing 747.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Argumen yang berkesan berandai-andai itu sering kita dengar dari otoritas Batan. Padahal selama ini, Indonesia baru mengoperasikan reaktor nuklir untuk tujuan riset dan berskala sangat kecil, seperti Reaktor GA Siwabessy di Serpong, Tangerang dan Reaktor RA Kartini di Yogyakarta. Keluarannya lebih untuk  pembangunan atau rekayasa pertanian dan peternakan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Batan juga meyakinkan kita tak akan kesulitan mendapatkan pasokan bahan baku utama sebagai bahan bakar yakni uranium (U), karena di perut bumi Indonesia banyak tersimpan potensi itu. Apalagi cadangan di dunia juga cukup besar. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Pembelaan diri tersebut terbukti kurang meyakinkan, setelah aktivis anti-PLTN menyodorkan data kontroversi. Menurut mereka, data cadangan U di Indonesia kecil dan tidak valid (kurun 1966-1994) dan sejatinya tak ada cadangannya. Ditegaskan, ketersediaan U di dunia hanya untuk 40-50 tahun ke depan, di samping hal itu membuat Indonesia bergantung pada asing.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Begitu pula mengenai pengelolaan limbah radiokatif yang dihasilkan PLTN. Batan sangat yakin umur limbah PLTN fissi 24 ribu tahun, dan aman dengan cara disimpan di kontainer baja di bawah tanah dengan bangunan beton. Selain itu ada teknologi yang bisa memperpendek umur limbah (rubiatron).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Tetap Ngotot Lagi-lagi argumen pejabat pemerintah tersebut dimentahkan oleh pakar nuklir yang anti-PLTN fissi. Katanya, usia bangunan penyimpanan limbah radioaktif (sebagaimana umur pengoperasian PLTN-nya), paling hanya sampai 50 tahun. Di samping pemendekan usia limbah radioaktif oleh teknologi tidak menghilangkan faktor kebahayaannya, dan belum terbukti.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;PLTN Fukushima meledak tidak karena serangan Boing 747. Tapi sampai saat ini,  belum diketahui pada posisi berapa instalasi PLTN didesain aman dari guncangan gempa? Siapa yang meragukan tingkat kedisiplinan superketat dan tinggi bangsa Jepang, yang kenyang pengalaman mengelola reaktor daya? Berkaca pada peristiwa pahit, yang mungkin meleset dari perkiraan sebelumnya oleh ahli PLTN Jepang, inilah momentum yang tepat bagi Batan untuk berpikir ulang apakah masih tetap ngotot membangun PLTN fissi?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Tidak perlu malu menarik kembali gagasan itu. Termasuk amat bijak bila melupakan rencana pembangunan PLTN pertama di Kepulauan Bangka Belitung (Babel) meski pemprov telah menyediakan lahan 1.500 hektare. Dana Rp 159 miliar yang telah dialokasikan untuk studi kelayakan, bisa dialihkan untuk tujuan dan target proyek yang menyangkut hajat hidup orang banyak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: georgia;"&gt;Cukup sudah bencana itu pada 1986 menimpa PLTN Chernobyl dan gempa 8,9 SR meledakkan PLTN (fissi) Fukushima. Kita sudah lelah dan tak tahu masih berapa lama harus berjuang menyudahi multikorupsi di negeri ini, juga persoalan besar lainnya yang melilit bangsa. (10)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-8459352266715716591?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/8459352266715716591/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=8459352266715716591' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/8459352266715716591'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/8459352266715716591'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2011/03/tsunami-kedua-kebocoran-pltn.html' title='Tsunami Kedua: Kebocoran PLTN'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-5440569271146820264</id><published>2011-03-14T07:58:00.000-07:00</published><updated>2011-04-01T07:59:39.670-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Tsunami di Jepang dan Ancaman Nuklir</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: georgia;font-size:85%;" &gt;&lt;a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/03/14/139903/Tsunami-di-Jepang-dan-Ancaman-Nuklir"&gt;Suara Merdeka, 14 Maret 2011&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tsunami yang menghantam Jepang, Jumat pekan lalu sungguh bencana dahsyat. Korban gempa dengan kekuatan 8,9 skala Richter dan tsunami itu terus bertambah. Kepolisian Jepang mencatat, korban tewas sudah menembus angka 2.000 orang. Sebagian besar belum berhasil diidentifikasi. Pihak Kepolisian Jepang, seperti dikutip Kantor Berita Kyodo menyebutkan di Prefektur Fukushima saja sudah ditemukan 1.167 mayat, sementara 600 lebih mayat ditemukan di Prefektur Miyagi dan Iwate. Wilayah-wilayah tersebut berhadapan langsung dengan Samudera Pasifik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah lokal di masing-masing prefektur masih kesulitan mengetahui nasib puluhan ribu warganya karena kerusakan infrastruktur. Sejauh ini, sebanyak 20.820 bangunan dilaporkan rata dengan tanah dan hilang terbawa tsunami. Sementara lebih dari 300.000 orang di enam prefektur telah dievakuasi. Dari jumlah tersebut, 180.000 di antaranya adalah warga yang tinggal dalam radius 20 kilometer dari reaktor nomor 1 nuklir di Fukushima. Akibat kebocoran radiasi, 19 orang dinyatakan terkontaminasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah keprihatinan kita, ada sejumlah pelajaran berharga yang penting untuk direnungkan. Kesiapan pemerintah Jepang menghadapi bencana patut dipuji. Laporan-laporan media massa memperlihatkan, pemerintah dan warga terlihat sudah mengantisipasi gelombang tsunami. Sistem peringatan dini berfungsi optimal, sehingga memungkinkan semua pihak menghadapi tsunami secara maksimal. Simulasi penanganan bencana dilakukan secara rutin dan intensif sehingga langkah-langkah antisipasi berjalan efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akurasi sistem peringatan dini serta sinergi pemerintah dalam program penanganan bencana terbukti efektif menekan jumlah korban. Namun, bencana itu juga membawa ancaman berikutnya, yakni bahaya radiasi nuklir. Setelah terjadi ledakan di pembangkit listrik Fukushima Dai-ichi pada Sabtu lalu, ancaman radiasi makin meningkat. Ini menjadi ancaman baru bagi Jepang. Terhadap bahaya yang lebih mengerikan dibandingkan dengan tsunami itu, pemerintah Negeri Sakura itu juga sudah menyiapkan prosedur pengamanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Status darurat nuklir pun langsung diumumkan, dan sekitar 170.000 warga dievakuasi dari sekitar wilayah tersebut. Namun tingkat radiasi naik melebihi angka keamanan di sekitar lokasi PLTN. Segera saja ancaman ini mengingatkan isu serupa di Tanah Air, yakni bahaya dari sebuah reaktor nuklir. Fasilitas reaksi nuklir dikelilingi oleh mesin penyimpanan baja, yang kemudian dikelilingi oleh bangunan beton. Di Jepang, hanya tsunami dahsyat yang membuat bocor pengamanan super itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkanlah, apa yang terjadi apabila reaktor itu adalah PLTN Muria? Kalau menangani jalan tol yang ambles dan jalan-jalan rusak saja kerepotan, adakah optimisme kita akan terbangunnya reakor nuklir yang aman dan andal? Secara ilmu dan teknologi, manusia-manusia Indonesia tentu tidak kalah dari para pakar luar negeri. Persoalan krusial terletak pada sejauh mana kebijakan dan politik pemerintah mampu menyediakan sistem yang bersih dan bertanggung jawab untuk terbangunnya infrastruktur fisik yang aman bagi warga.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-5440569271146820264?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/5440569271146820264/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=5440569271146820264' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/5440569271146820264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/5440569271146820264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2011/03/tsunami-di-jepang-dan-ancaman-nuklir.html' title='Tsunami di Jepang dan Ancaman Nuklir'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-6593513778304819458</id><published>2011-03-06T08:00:00.000-08:00</published><updated>2011-04-04T08:02:15.031-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Dangdut di Jepara Tak Mati-mati</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: georgia;font-size:85%;" &gt;&lt;a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/03/06/138948/Dangdut-di-Jepara-Tak-Mati-mati"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Suara Merdeka, 06 Maret 2011&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Akhmad Efendi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MUSIK&lt;/span&gt; dangdut yang memiliki ciri khas pada alat musik kendang dan seruling sudah menjadi bagian dalam hidup masyarakat Jepara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak era 60-an dangdut sudah akrab di telinga publik Kota Ukir dengan beberapa grup musik yang cukup populer, seperti Bintang Pagi, Surya Pagi, dan Merah Delima. Bahkan, menurut Aris Isnandar, Ketua Persatuan Artis Melayu Indonesia (PAMI) Jepara, dangdut di Jepara merupakan barometer di Jawa Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, ada sekitar 156 grup musik dangdut di Jepara. Pemain musik yang terlibat di dalamnya sekitar 780 orang dengan rata-rata satu grup musik beranggotakan lima orang. Sementara jumlah penyanyi sekitar 80 orang.&lt;br /&gt;Perkembangan itu menunjukkan potensi musik dangdut di Jepara yang tidak ada matinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apa yang saya sampaikan mengenai dangdut Jepara merupakan barometer Jawa Tengah adalah ucapan langsung dari Rhoma Irama. Saya dengar langsung dari mulut beliau. Salah satu bentuknya memang nuansa atau perkembangan dangdut di Jepara memang luar biasa dibandingkan daerah lain. Artis level nasional, seperti Jamal Mirdad dan Susi KDI juga dari Jepara,” kata Aris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, perkembangan awal dangdut di Jepara adalah hobi. Berangkat dari hal itu, bermunculan grup-grup musik dangdut.&lt;br /&gt;Soal inovasi, jenis musik dangdut Jepara sangat cepat beradaptasi. Jenis dangdut koplo merupakan salah satu jenis aliran yang menjadi penghilang dahaga maniak dangdut meskipun tidak lantas menghilangkan jenis musik dangdut yang asli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Adanya dangdut koplo merupakan respons terhadap pasar,” terang Aris.&lt;br /&gt;Hal yang sama juga disampaikan Susi Indrias Tanti, alias Susi KDI. Dia merasa perkembangan musik dangdut di Jepara, terutama dalam up date lagu-lagu populer yang beredar di masyarakat, sangat cepat. ”Yang saya rasakan memang begitu. Di bandingkan dengan daerah lain, Jepara ini cepat banget soal lagu-lagu baru yang diolah menjadi musik dangdut. Saya sendiri juga lebih enjoy dengan dangdut jenis koplo karena bisa langsung menjiwai,” tuturnya. &lt;br /&gt;Menjanjikan Selain soal kreativitas dalam musik yang tidak ada matinya, aspek bisnis musik dangdut di Jepara juga menjanjikan. Menurut Aris, sekali manggung rata-rata bisa meraup pendapatan sebesar Rp 5 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebulan, ketika musim pernikahan, bisa belasan kali manggung. ”Memang cukup besar, tetapi harga itu tidak lantas harga mati. Karena tinggal paketannya dan banyaknya penyanyi yang ada. Tapi, memang cukup bagus potensi di Jepara,” terang Aris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persaingan pun tak dapat terelakkan. ”Dalam menghadapi persaingan ini, antara grup satu dengan yang lain saling beradu kreativitas. Grup musik yang mampu memenuhi selera pasarlah yang akan bertahan. Jadi, kondisi persaingan yang ada, saya lihat baik. Dalam kesempatan ini, saya juga berharap koordinasi pelaku musik dangdut bisa lebih ditingkatkan,” sambungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susi KDI bahkan ketika masih berkutat di lokal Jepara pada 2004 hingga 2007 dalam sebulan libur manggung hanya dua kali. Sekali manggung rata-rata mendapatkan honor Rp 250 ribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; ”Saat itu saja jumlahnya sudah lumayan. Kondisi itu memungkinkan karena penyanyi tidak melekat pada salah satu grup, sehingga bisa manggung bersama banyak grup. Tapi, ada juga penyanyi yang menjadi anggota grup tertentu sehingga ketika grupnya tampil wajib ikut. Tapi, ketika tidak manggung, bisa ikut grup dangdut yang lain,” terang Susi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, musik dangdut bukan tanpa problem. Hal itu pun dialami jenis musik yang lain. Dangdut dalam beberapa kasus tak jarang menjadi pemicu perkelahian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dangdut adalah seni, yang seharusnya dinikmati. Jangan kemudian menjadi ajang tawuran. Joget juga ada etikanya, sehingga jangan berlebihan. Kalau ini bisa dimengerti para pecinta dangdut, tentu citra yang muncul di masyarakat adalah positif,” kata H Subangun, pecinta dangdut yang juga Wakil Ketua DPRD Jepara. (24)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-6593513778304819458?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/6593513778304819458/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=6593513778304819458' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/6593513778304819458'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/6593513778304819458'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2011/03/dangdut-di-jepara-tak-mati-mati.html' title='Dangdut di Jepara Tak Mati-mati'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-8448139240564227967</id><published>2011-02-13T07:56:00.000-08:00</published><updated>2011-04-04T07:59:24.712-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Trafficking ibarat Gunung Es</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/02/13/136882/Trafficking-ibarat-Gunung-Es"&gt;Suara Merdeka, 13 Februari 2011&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita&lt;/span&gt; dikejutkan oleh adanya berita mengenai kasus perdagangan manusia (trafficking) di Jepara, beru-baru ini. Untung, Polres Jepara berhasil membongkar jaringannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin petang, 24 Januari 2011,  aparat keamanan berhasil meng­hentikan mobil di pertigaan Gotri, Kecamatan Kalinyamatan, pukul 13.30, yang berpenumpang empat pe­rempuan yang rencananya dipe­ker­jakan sebagai pekerja seks ko­mersial (PSK) di Palembang, Sumatera Selatan. Keempat perempuan itu, dan sepasang suami istri yang diduga sebagai penyalur, diamankan polisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus trafficking juga terjadi beberapa hari sebelumnya di Kudus. Bahkan yang memperihatinkan, korbannya adalah dua anak yang masih duduk di bangku  Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).  Jajaran Polres Kudus berhasil membongkar jaringannya pada 19 Januari.  Petu­gas me­nang­kap korban dan kliennya saat se­dang ngamar di salah satu hotel di Kudus, sekitar pukul 16.00 WIB. Seorang induk semang dan dua orang pe­rantaranya juga ditangkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembongkaran dua kasus tersebut bisa jadi merupakan fenomena kecil dari fenomena besar perdagangan manusia di daerah ini, karena jaringan ini selalau bergerak dengan cara tersembunyi. Ibarat gunung es, kasus yang terbongkar oleh polisi mungkin baru sebagian kecil dari  keadaan yang se­nya­ta­nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini bisa terjadi  mengingat  kasus serupa juga sudah pernah terbongkar dua tahun se­belumnya. Waktu itu, 18 Januari 2009, Polres Kudus berhasil menyelamatkan lima perempuan yang dipekerjakan sebagai PSK di lokalisasi Pang­kalan Bun, Kali­mantan Tengah.&lt;br /&gt;Enam pelaku diamankan, empat di antaranya berasal dari Kudus, yang berperan sebagai pencari korban dan dua orang berperan sebagai otak pela­ku yang berasal dari Kali­mantan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Pada 5 Mei 2008,  Polres Jepara  juga berhasil menggagalkan  perdagangan perempuan  sebagai pekerja seks komersial (PSK) di Jambi, tepatnya di lo­kalisasi Kota Baru. Empat perempuan menjadi korban. Polisi meng­amankan seorang tersangka saat membawa para korban ke daerah tujuan di jalur Keling-Kelet. Para korban dinaikkan Isuzu Panther. Tersangka tertangkap  setelah polisi menerima laporan dari keluarga korban. Selanjutnya, anggota Pol­res Jepara berkoordinasi dengan Polsek Keling untuk mengejar dan menangkap mereka.&lt;br /&gt;Para korban mengaku tidak tahu akan diperkerjakan sebagai PSK, sebab dijanjikan sebagai pekerja di sebuah kafe di Jambi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka juga mengaku tidak begitu mengenal tersangka, sebab keempatnya hanya ditawari mendapatkan pekerjaan dan diberi upah Rp 500.000 tiap bulannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum direkrut, korban di­datangi perantara dengan mena­wari pekerjaan di luar Jawa. Setelah satu per satu setuju, mereka dijemput hari Minggu untuk bertemu dengan pelaku. Namun, dalam perjalanan menuju Pati, laju mobil yang membawa para korban berhasil dihentikan polisi, tepatnya di Pasar Keling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Waspada&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Terungkapnya beberapa kasus trafficking itu, baik yang terjadi di Kudus, maupun di Jepara, telah mengundang keprihatinan berbagai pihak. Para orang tua, terutama yang memiliki anak gadis, diminta waspada dari tindak kejahatan perdagangan orang, lewat modus ta­waran kerja, dengan gaji tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Untuk melancarkan aksinya, pelaku biasanya mendatangi rumah calon korbannya dengan menawar­kan pekerjaan. ” Pada saat pembe­rangkatan, mereka tanpa dilengkapi surat keterangan dari pemerintah desa setempat,kata Kabid Per­lin­dungan Perempuan dan Anak pada Jaringan Perlindungan Pe­rempuan dan Anak (JPPA) Kudus, Endang Erowati.&lt;br /&gt;Menurutnya, hal itu untuk meng­hilangkan kecurigaan sejumlah pihak, termasuk memberi ke­mudahan kepada keluarga korban untuk dapat diterima kerja tanpa harus mengurus sejumlah surat kelengkapan kerja di luar daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan penelusuran tim JPPA terhadap korban trafficking, ternyata orang tua korban memang termakan bujukan pelaku untuk tidak memedulikan aturan atau kelengkapan surat-surat kerja. ”Se­bagian besar, orang tua juga meng­ikuti saja kehendak pelaku,” ujar­nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Endang mengimbau kepada orang tua untuk tidak mudah terbujuk pada tawaran kerja dengan gaji tinggi. Selain itu, kalaupun ada tawaran pekerjaan bagi anaknya, setidaknya memberitahukan kepada pemerintahan desa setempat.&lt;br /&gt;”Setidaknya, jika terjadi hal-hal yang tidak baik, mudah diusut,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika jaringan perdagangan anak di Kudus  terbongkar Januari lalu, Kapolres Kudus AKBP R. Slamet Santoso didampingi Kasat­reskrim AKP Suwardi mengungkapkan bahwa jaringan ini terstruktur dan rapi.&lt;br /&gt;Pihaknya mengimbau agar orang tua selalu memantau keberadaan anaknya, baik di sekolah, maupun sepulang sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kami mengindikasikan, masih banyak kasus seperti ini yang belum tercium petugas. Untuk itu, kami berharap kepada masyarakat yang mengetahui kasus seperti ini, langsung melaporkannya ke petugas yang berwenang supaya segera ditindaklanjuti,” imbaunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadisdikpora Kabupaten Ku­dus, Sudjatmiko, mengharapkan semua pihak agar tidak melihat kasus perdagangan anak di Kudus sebagai sebuah gambaran umum wajah edukasi di Kota Keretak ini. Satu hal yang pasti, melalui kejadian tersebut diharapkan menjadi pembelajaran bagi semua pihak agar kejadian serupa tidak terulang lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kepada setiap sekolah, kami sudah menginstruksikan agar dapat memberikan tambahan kegiatan agar siswa dapat disibukkan dengan hal-hal yang sifatnya positif,” ung­kap­nya.&lt;br /&gt;Hal senada juga dikemukakan salah seorang pendidik SMP, Basuki Sugita. Menurutnya, semua pihak tentu tidak dapat cuci tangan begitu saja pada kasus tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerhati masalah sosial dari Universitas Muria Kudus (UMK), Mochamad Widjanarko, menyebut kasus perdagangan anak perempuan yang masih duduk di bangku SMK itu tidak dapat diselesaikan secara sepotong-sepotong. Banyak pihak yang harus memberikan kontribusinya, mulai dari orang tua, pen­didik dan masyarakat. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Anton W Hartono, Mauham­mad Ali -24)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-8448139240564227967?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/8448139240564227967/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=8448139240564227967' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/8448139240564227967'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/8448139240564227967'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2011/02/trafficking-ibarat-gunung-es.html' title='Trafficking ibarat Gunung Es'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-6642049106222360798</id><published>2011-02-12T08:04:00.000-08:00</published><updated>2011-04-01T08:06:09.573-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Banjir Membayangi Kawasan Muria</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: georgia;font-size:85%;" &gt;&lt;a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/02/12/136790/Banjir-Membayangi-Kawasan-Muria"&gt;Suara Merdeka, 12 Februari 2011&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Banjir &lt;/span&gt;yang memorakporandakan puluhan desa di Kabupaten Pati, Kudus, dan Jepara, Minggu lalu, mendencingkan peringatan: cuaca ekstrem masih membayangi. Kalau pada beberapa tahun lalu kita masih bisa memerkirakan musim hujan lazimnya berakhir kira-kira akhir Februari atau awal Maret, sekarang semua cenderung menjadi serbatidak terduga. Secara awam, jika akhir April diprediksi baru memasuki cuaca terang, anomali cuaca harus menjadi titik perhatian tersendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi demikian, adaptasi bermobilitas sosial-ekonomi mesti dilakukan. Bukan hanya kerusakan infrastruktur transportasi dan yang langsung bersinggungan dengan kehidupan ekonomi masyarakat seperti sawah dan pasar; rumah-rumah penduduk pun terhantam banjir. Tanggul jebol karena pendangkalan sungai dan saluran-saluran, air sungai melimpas akibat tingginya curah hujan, hingga sifat topografi kawasan tertentu yang memang rendah sehingga menjadi tempat akumulatif parkir air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makin menurunnya kualitas daya tangkal sejumlah kawasan ketika curah hujan tinggi menjadi fenomena di mana-mana, termasuk Muria dan sekitarnya. Banjir bandang di Celering, Jepara beberapa pekan lalu, dan sekarang di wilayah lereng Muria dan pegunungan Kendeng utara, memiliki keterkaitan dalam kemiripan pola. Kita mesti membangun ”kecurigaan”, penurunan mutu akomodasi tanah itu terutama dipicu oleh peruntukan kawasan dan kecenderungan degradasi ekologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kualitas ekologis kawasan Celering, Muria, dan Kendeng mengalami degradasi karena kehilangan pilar-pilar penopang, sehingga kemampuan tangkapan airnya menurun? Perhatian dan sikap para pegiat lingkungan terhadap kawasan di lingkaran tiga gunung tersebut sebenarnya cukup intens, terutama dalam ikhtiar pengawalan Perda Tata Ruang Jawa Tengah. Hanya, banjir yang sekarang terjadi mestinya memang mengetuk kesadaran lebih besar lagi dari semua pemangku kepentingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari gejala peningkatan intensitas banjir pada musim penghujan tahun ini, maka kesiapan antisipasi di Pati, Kudus, dan Jepara menjadi ukuran bagi langkah-langkah kuratif pada tahun depan. Juga bagaimana menciptakan sistem pengendaliannya. Fokusnya adalah kesiapan, berupa manajemen antisipasi yang bersifat faali seperti pengungsian, pangan, dan langkah-langkah darurat lainnya. Selanjutnya, manajemen antisipasi yang bersifat preventif harus dijadikan sikap sepanjang waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa digambarkan kerusakan kantung-kantung ekonomi masyarakat: sawah, kebun, atau pasar. Juga kehancuran fasilitas seperti rumah dan sekolah-sekolah. Dituntut kesigapan otoritas-otoritas terkait dalam jangka pendek hingga masa tanggap darurat dan pemulihan selesai. Kita galang solidaritas, simpati dan empati bagi mereka yang tengah menghadapi bencana. Ke depan, bagaimana mengimplementasi konsep pencegahan dari para pemangku kepentingan di kawasan Muria dan sekitarnya.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-6642049106222360798?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/6642049106222360798/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=6642049106222360798' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/6642049106222360798'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/6642049106222360798'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2011/02/banjir-membayangi-kawasan-muria.html' title='Banjir Membayangi Kawasan Muria'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-4255328289362894166</id><published>2011-01-26T07:53:00.000-08:00</published><updated>2011-04-04T07:55:59.669-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Kasus Trafficking, Jaringan Sumarti Diburu</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: georgia;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2011/01/26/76399/Kasus-Trafficking-Jaringan-Sumarti-Diburu"&gt;Suara Merdeka, 26 Januari 2011&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jepara, CyberNews&lt;/span&gt;. Polisi masih terus mengembangkan penyelidikan atas kasus perdagangan perempuan (trafficking) di Jepara yang dikirim ke Palembang, Sumatra Selatan untuk dijadikan pekerja seks komersial (PSK).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tersangka utama, Sumarti (41) dan Ruli Setiawan (38) warga Desa Jlegong RT 2 RW 1, Keling, hingga kini masih ditahan di Maporles Jepara dan dimintai keterangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapolres Jepara AKBP Ruslan Ependi mengemukakan, pihaknya masih memperdalam jaringan Sumarti dan suaminya untuk tenaga perekrutan ke Palembang. Pada pemeriksaan awal, Sumarti mengaku bekerja sendirian dan empat korban tersebut datang ke rumahnya untuk meminta pekerjaan. Keterangan Sumarti ini belum bisa membuat polisi percaya. Pasalnya, disinyalir Sumarti dan Ruli tidak bekerja sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami masih memburu tangan kanan Sumarti atau biasa disebut calo atau pencari perempuan yang dipekerjakan kepada tersangka," ujar Ruslan, Rabu (26/1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembangan ini bekerja sama dengan kepolisian Palembang, mencari informasi berapa perempuan dari Jepara yang direkrut Sumarti untuk menjadi PSK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, Polres Jepara berhasil membongkar jaringan perdagangan wanita (trafficking) yang dipekerjakan ke Palembang, Sumatra Selatan, Senin (24/1) petang. Polisi berhasil menghentikan mobil berpenumpang empat perempuan yang rencananya dipekerjakan sebagai pekerja seks komersial (PSK) di pertigaan Gotri, Kecamatan Kalinyamatan, pukul 13.30.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengejaran itu, polisi mengamankan empat perempuan, yakni Win (28) warga Desa Cepogo, Kecamatan Kembang, Mar (25) warga Desa Sumber Rejo, Donorojo, Sof (25) warga Sowan Kidul, Kedung dan Sol (29) warga Bumiharjo Keling. Keempatnya hendak diberangkatkan ke Palembang melalui jalur darat mengendarai Kijang Inova hitam BG-2934-NL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, di salah satu ruang pemeriksaan reskrim Mapolres Jepara, pjs Kasat Reskrim Iptu Rismanto masih memintai keterangan Sumarti terkait jaringannya tersebut. Namun, ia tetap bersikeras tidak mau membuka mata rantai komplotannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hadapan Rismanto, Sumarti mengaku bekerja sendiri bersama suaminya untuk perekrutan perempuan. Bahkan, dia menjelaskan, bukan dirinya yang menawari pekerjaan, melainkan para korban yang mendatangi dirinya untuk meminat pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu pekerjaan yang ditawarkannya yakni menjadi pelayan di Kafe Monalisa di Palembang dengan iming-iming bayaran tinggi. Tersangka juga mengaku, sebelumnya, keempatnya pernah bekerja sebagai PSK di Semarang, Pati, dan Bangka Belitung. Namun, karena penghasilannya sedikit, akhirnya memilih mencoba ikut Sumarti. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;( Budi Cahyono / CN16 / JBSM )&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-4255328289362894166?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/4255328289362894166/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=4255328289362894166' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/4255328289362894166'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/4255328289362894166'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2011/01/kasus-trafficking-jaringan-sumarti.html' title='Kasus Trafficking, Jaringan Sumarti Diburu'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-4145736025505568409</id><published>2011-01-25T08:17:00.000-08:00</published><updated>2011-04-04T08:19:11.444-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Dibongkar, Jaringan Traficking Jepara</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: georgia;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2011/01/25/76318/Dibongkar-Jaringan-Traficking-Jepara"&gt;Suara Merdeka, 25 Januari 2011&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jepara, CyberNews&lt;/span&gt;. Kepolisian Resor (Polres) Jepara berhasil membongkar jaringan perdagangan wanita (traficking) yang dipekerjakan ke Palembang, Sumatera Selatan, Senin (24/1) petang. Polisi berhasil menghentikan mobil yang mengangkut empat wanita yang rencananya dipekerjakan sebagai pekerja seks komersial (PSK) di pertigaan Gotri, Kecamatan Kalinyamatan, pukul 13.30.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengejaran dengan sandi Operasi Bunga yang dipimpin langsung Kapolres Jepara AKBP Ruslan Ependi dan sejumlah anggota termasuk pejabat sementara Kasat Reskrim Iptu Rismanto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengejaran itu, polisi berhasil mengamankan empat wanita masing-masing berinisal Win (28) warga Desa Cepogo, Kecamatan Kembang, Mar (25) warga Desa Sumber Rejo, Donorojo, Sof (25) warga Sowan Kidul, Kedung dan Sol (29) warga Bumiharjo Keling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempatnya hendak diberangkatkan ke Palembang melalui jalur darat mengendarai Kijang Inova hitam BG-2934-NL. Selain mengamankan empat wanita, polisi juga berhasil meringkus pasangan suami istri sebagai tersangka yakni Sumarti (41) dan Ruli Setiawan (38) warga Desa Jlegong RT 2 RW 1, Keling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengungkapan jaringan Sumarti ini setelah ada informasi yang masuk ke Polres Jepara beberapa waktu lalu Untuk memastikan jaringan Sumarti, polisi melakukan penyelidikan selama sepekan terakhir dan menghubungi anggota di Palembang dimana lokasi kafe milik Sumarti mempekerjakan wanita ini sebagai PSK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setelah kami mendapatkan informasi dan tersangka pulang ke Jepara, penangkapan pun akhirnya dilakukan di tengah jalan saat korban hendak dibawa ke Palembang," tegas Kapolres Jepara Ruslan Ependi saat gelar perkara, Selasa (25/1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bayaran Tinggi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, polisi mendapatkan informasi jika Sumarti dan suaminya Ruli kembali ke Jepara untuk merekrut tenaga wanita untuk dipekerjakan di kafe dengan iming-iming bayaran tinggi. Empat wanita tersebut sudah diberi uang panjar sebesar Rp 500.000. Saat pemberangkatan, mereka dijemput satu per satu oleh tersangka di rumah masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebagian korban ini tahunya bekerja di kafe atau rumah makan di Palembang. Tetapi sampai di sana dipekerjakan sebagai PSK untuk melayani hidung belang. Tarifnya berkisar antara Rp 150.000-Rp 300.000 sekali kencan," tandas Kapolres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Palembang, mereka ini dipekerjakan di Kafe Monalisa yang menyediakan live musik bersanding dengan deretan kafe lainnya. Para wanita ini untuk kedoknya dipekerjakan sebagai kafe. Jika ada lelaki yang minat menyewanya, Sumarti yang bertindak sebagai mami menyediakan kamar untuk kencan para tamunya dengan anak buahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumarti dijerat dengan pasal 2 ayat 1 UU nomor 21 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang dengan ancaman hukuman minimal tiga tahun penjara, maksimal 15 tahuh penjara dan denda paling sedikit Rp 120 juta, paling banyak Rp 600 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Ruli dijuntokan pasal 10 turut membantu perekrutan dengan ancaman setahun penjara, paling lama enam tahun dan denda paling sedikit Rp 40 juta, paling banyak Rp 240 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk empat korban kami pulangkan ke rumah masing-masing. Sedangkan barang bukti satu unit mobil, dan dua tersangka masih kami mintai keterangan. Kami akan kembangkan jaringannya, apakah hanya berdua atau melibatkan orang lain," imbuh Ruslan. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;( Budi Cahyono / CN26 / JBSM )&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-4145736025505568409?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/4145736025505568409/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=4145736025505568409' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/4145736025505568409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/4145736025505568409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2011/01/dibongkar-jaringan-traficking-jepara.html' title='Dibongkar, Jaringan Traficking Jepara'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-962497150664407025</id><published>2011-01-25T08:10:00.000-08:00</published><updated>2011-04-04T08:12:53.628-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Cabuli Anak Bawah Umur, Enam Pemuda Diprodeokan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-nhDsrrRzusA/TZnf5MDFc7I/AAAAAAAAAM8/vIES2U9snIM/s1600/aff18114868e089ce482568045beb79a.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 212px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-nhDsrrRzusA/TZnf5MDFc7I/AAAAAAAAAM8/vIES2U9snIM/s320/aff18114868e089ce482568045beb79a.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5591746585936884658" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2011/01/25/76340/Cabuli-Anak-Bawah-Umur-Enam-Pemuda-Diprodeokan"&gt;Suara Merdeka, 25 Januari 2011&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jepara, CyberNews&lt;/span&gt;. Enam pemuda, satu di antaranya masih kelas tiga SMP, diamankan polisi karena mencabuli anak dibawah umur. Sebut saja Mawar (16), warga Kecamatan Pecangaan yang mengaku dicabuli enam pemuda, masing-masing  Teg (20), Ris (25), Bok (25), ketiganya warga Desa/Kecamatan Tahunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga tersangka lainnya yakni Rud (23) Guf (18), dan Dik (16). Mereka warga Desa Somosari, Kecamatan Batealit. Dik, masih duduk di kelas tiga di sebuah SMP di Kabupaten Jepara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam tersangka ini diciduk polisi dan dimasukkan hotel prodeo, Sabtu (22/1) siang setelah dijemput di rumah masing-masing. Sebelumnya polisi menerima laporan dari orang tua Mawar 12 Januari lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapolres Jepara AKBP Ruslan Ependi didampingi pjs Kasat Reskrim Iptu Rismanto, mengungkapkan kronologis peristiwa yang berakhir pada pencabulan Mawar. Pencabulan ini terjadi di rumah Dik, Jumat (7/1) lalu. Sebelumnya, korban dijemput sekitar pukul 14.00 oleh tersangka Teg dan  Ris dan diajak pesta minuman oplosan yang terbuat dari dextro, suplemen dan dicampur air putih di rumah Ris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi Mawar dan rekan-rekannya tersebut setengah mabuk. Kemudian diajak ke Pantai Teluk Awur untuk melanjutkan pesta minuman keras (miras) jenis ginseng hingga mabuk berat. Sekitar pukul 16.30, mereka berangkat menuju Somosari bersama korban ke rumah Rud.  "Saat itu kondisi korban mabuk berat, bahkan muntah-muntah akibat miras berlebihan. Karena tak sadar akibat mabuk, korban dipaksa Bok masuk kamar dan lalu dicabuli, setelah itu gantian rekan-rekan lainnya," kata Rismanto, Selasa (25/1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di situlah secara bergantian tersangka Bok, Teg dan Ris mencabuli korban. Setelah ketiga tersangka pulang ke rumahnya, pagi harinya giliran Rud, Guf dan Dik yang mencabuli secara bergantian. Saat diperiksa penyidik, para tersangka ini mengaku yang mengajak berbuat mesum adalah Mawar. Tetapi setelah dikonfrontir keterangan para tersangka, Mawar dipaksa oleh keenamnya dan dicabuli bergantian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rismanto menjelaskan, sebelum dibawa ke ranah hukum, pihak keluarga Mawar dengan para tersangka berusaha mengupayakan penyelesaian secara kekeluargaan. Keluarga Mawar meminta uang damai sebesar Rp 12 juta, namun tidak disanggupi para tersangka. Keenamnya hanya sanggup membayar Rp 1 juta. Karena mengalami jalan buntu, akhirnya kasus ini dilaporkan ke Polres Jepara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Para tersangka akan dijerat dengan pasal 82 pada Undang-undang No 23/2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman kurungan penjara maksimal 15 tahun. Saat ini para tersangka sudah ditahan di Mapolres Jepara," tegas Rismanto. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;( Budi Cahyono / CN16 / JBSM )&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-962497150664407025?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/962497150664407025/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=962497150664407025' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/962497150664407025'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/962497150664407025'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2011/01/cabuli-anak-bawah-umur-enam-pemuda.html' title='Cabuli Anak Bawah Umur, Enam Pemuda Diprodeokan'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-nhDsrrRzusA/TZnf5MDFc7I/AAAAAAAAAM8/vIES2U9snIM/s72-c/aff18114868e089ce482568045beb79a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-8768773194647826615</id><published>2011-01-20T08:09:00.000-08:00</published><updated>2011-04-01T08:10:41.003-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Mengusung Ikon Macan Kurung</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: georgia;font-size:85%;" &gt;&lt;a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/01/20/134866/Mengusung-Ikon-Macan-Kurung"&gt;Suara Merdeka, 20 Januari 2011&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kus Haryadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MACAN&lt;/span&gt; kurung adalah sebuah karya seni ukir khas Jepara yang berkembang sejak zaman RA Kartini dan mengalami kejayaan selama kurang lebih satu abad sesudahnya. Macan kurung muncul di tengah-tengah sistem pemerintahan kolonial dan adat-istiadat budaya feodal. Diduga karya seni ini sebagai ekspresi simbolis perlawanan para perajin ukir atas tekanan hidup yang dirasakan saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya seni itu berbentuk seekor macan yang hidup di dalam sebuah kurungan. Di dalam kurungan terdapat pula bola yang dapat menggelinding dan rantai pengikat macan. Bagian atas kurungan sering diberi berbagai hiasan berbentuk binatang, seperti burung, naga, ular, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya itu mempunyai keunikan tersendiri dari teknik pembuatannya. Ukiran ini dibuat pada segelondong kayu utuh tanpa dibelah dan tanpa sambungan. Karena keunikan-keunikan inilah macan kurung pernah menjadi primadona pada masa sebelum booming industri mebel ukir Jepara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disebut macan kurung Belakanggunung karena karya seni ini lahir dari tangan terampil seniman ukir masyarakat Dukuh Belakanggunung Desa Mulyoharjo Kecamatan Jepara Kabupaten Jepara.&lt;br /&gt;Belakanggunung merupakan salah satu wilayah yang sangat bersejarah dan paling fenomenal dalam ranah pertumbuhan kerajinan ukir kayu di kabupaten itu. Sebuah mitos keajaiban pahat pusaka dan sejarah perkembangan ukiran Jepara tidak lepas dari dukuh tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan mengukir itu terus tumbuh dan berkembang sampai sekarang sehingga menjadi pilar utama terciptanya kesejahteraan masyarakat setempat. Seni ukir macan kurung Belakanggunung juga menjadi salah satu embrio bagi tumbuhnya sentra seni ukir patung Mulyoharjo yang juga menjadi primadona Kabupaten Jepara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ketika Belakanggunung telah mengalami kejayaan sebagai sentra seni ukir patung, justru keberadaan macan kurung dewasa ini makin tergeser oleh produk-produk baru. Ibarat mencari jarum dalam tumpukan jerami adalah ungkapan yang paling tepat untuk menggambarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak diproduksinya macan kurung oleh perajin sekarang bukan karena kerumitan atau kesulitan teknis pembuatannya. Keahlian serta kreativitas perajin muda sekarang dalam membuat ukiran bahkan sering kali lebih hebat dari pendahulunya. Alasan pasarlah yang menjadi faktor utama. Perajin tidak berani membuat stok macan kurung karena rendahnya minat pembeli asing dan daya beli konsumen lokal.&lt;br /&gt;Hak Cipta Dewasa ini macan kurung sudah tidak lagi menjadi primadona, namun geliat pengusungan macan kurung masih sangat terasa. Geliat tersebut nampak dalam berbagai momentum terutama yang dilakuan oleh para seniman, Pemerintah Kabupaten Jepara, media masa, dan publik Jepara.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali masih ada perajin yang membuat macan kurung walaupun tidak jelas apakah ukiran itu akan terjual atau tidak. Motivasinya bermacam-macam: ada yang mencoba menarik perhatian barang kali ada yang terpikat membeli; sekadar mengoleksi untuk apresiasi bagi pengunjung; ada pula perajin yang bernostalgia dengan kesibukan membuat karya seni itu seperti pada masa kejayaannya dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Strategi kreatif juga masih terus dilakukan perajin. Salah satunya dengan cara mengemas macan kurung menjadi suvenir replika yang lebih simpel dari segi ukuran, bentuk, maupun teknik pembuatannya. Perajin menyederhanakan teknik pembuatan untuk keperluan tertentu, tanpa berbenturan dengan nilai-nilai yang harus dilestarikan. Cara ini diharapkan dapat memperkenalkan kembali macan kurung sebagai ukiran khas yang menginspirasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas seni peran termasuk bagian yang terinspirasi oleh macan kurung. Sebuah kelompok teater bekerja sama dengan Dinas Pariwisata, Seni, dan Budaya sempat mengusung macan kurung sebagai lakon dalam sebuah pementasan kolosal di Jepara, Semarang, dan Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu Pemerintah Kabupaten Jepara tiada henti berupaya melekatkan di hati masyarakat melalui berbagai kegiatan. Seperti yang dilakukan dalam beberapa kali pameran di dalam dan di luar negeri. Pemerintah mencoba menampilkan ukiran macan kurung sekaligus mendemonstrasikan proses pembuatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya hukum dilakukan pada tahun 2008 dengan mendaftarkan bersama dengan puluhan desain ukiran khas Jepara lainnya kepada Dirjen HKI untuk mendapatkan perlindungan hukum atas aset budaya Jepara. Dengan adanya perlindungan hukum terhadap macan kurung maka diharapkan tidak akan terjadi lagi klaim hak cipta dari pihak asing. (10)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-8768773194647826615?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/8768773194647826615/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=8768773194647826615' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/8768773194647826615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/8768773194647826615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2011/01/mengusung-ikon-macan-kurung.html' title='Mengusung Ikon Macan Kurung'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-8469050315184887648</id><published>2011-01-07T08:13:00.000-08:00</published><updated>2011-04-04T08:16:11.077-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Bayi Dibuang di Tempat Sampah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-l3AkeTQOYl0/TZngpm172kI/AAAAAAAAANE/_ds-4gggtys/s1600/29f7affe51630cc2f9412688fb92aaec.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 320px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-l3AkeTQOYl0/TZngpm172kI/AAAAAAAAANE/_ds-4gggtys/s320/29f7affe51630cc2f9412688fb92aaec.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5591747417763207746" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2011/01/07/74906/Bayi-Dibuang-di-Tempat-Sampah"&gt;Suara Merdeka, 07 Januari 2011&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jepara, CyberNews&lt;/span&gt;. Seorang bayi perempuan yang diperkirakan berusia enam bulan dalam kandungan ditemukan sudah tak bernyawa di tempat sampah sebelah barat terminas Kota Jepara, Kamis (6/1) sekitar pukul 23.30.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayat bayi tersebut ditemukan oleh seorang pemulung, Yuliasih (50) warga Desa Lebak, Kecamtan Pakis Aji saat mencari sampah di lokasi tersebut. Diduga, bayi tersebut dibuang oleh orang tuanya karena hasil dari hubungan gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yuliasih menuturkan, saat itu dia tengah beraktivitas mencari sampah di sekitar jalan dekat Terminal Kota. Saat mendekat, dia kaget karena di dalam tempat sampah ada sesosok bayi yang sudah tak bernyawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena panik, dia pun menginformasikan ke warga sekitar tempat kejadian perkara (TKP). Kondisi mayat memprihatinkan, karena bayi tersebut dibungkus kantung plastik warna putih dan kuning secara berlapis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, warga menghubungi Mapolsek Kota dan diteruskan ke Mapolres Jepara. Tak berselang lama, anggota satreskrim dan unit identifikasi tiba di TKP. Sedangkan bayi tersebut langsung dibawa ke kamar mayat RSU RA Kartini setelah olah TKP sekitar pukul 01.20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapolres Jepara AKBP Ruslan Ependi didampingi Kapolsek Kota AKP Sarwo Edi Santosa di TKP mengatakan, dari olah TKP sementara diduga bayi tersebut  sengaja dibuang oleh orang tuanya karena hasil hubungan gelap. "Bisa jadi karena takut aibnya terbongkar, akhirnya bayi yang dilahirkan dibuang di tempat sampah dengan maksud agar tidak diektahui identitasnya," ungkapnya, Jumat (7/1) dini hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, dari visum di RSU RA Kartini, dokter Sumadi mengungkapkan, mayat bayi tersebut diperkirakan berusia enam bulan dalam kandungan. Hal itu diketahui dari bentuk dan ukuran tubuh bayi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dengan usia bayi yang prematur, ada indikasi bayi dilahirkan dengan paksa atau sengaja digugurkan," tegasnya usai visum di kamar mayat RSU RA Kartini, Jumat dini hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terpisah, pejabat sementara Kasat Reskrim Polres Jepara, Iptu Rismanto menjelaskan, polisi sudah meminta keterangan saksi Yuliasih si penemu pertama. Kasus ini masih proses penyelidikan dan mencari informasi di sekitar tempat kejadian terkait wanita hamil. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;( Budi Cahyono / CN26 )&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-8469050315184887648?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/8469050315184887648/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=8469050315184887648' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/8469050315184887648'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/8469050315184887648'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2011/01/bayi-dibuang-di-tempat-sampah.html' title='Bayi Dibuang di Tempat Sampah'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-l3AkeTQOYl0/TZngpm172kI/AAAAAAAAANE/_ds-4gggtys/s72-c/29f7affe51630cc2f9412688fb92aaec.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-4685239366194389695</id><published>2011-01-06T08:17:00.000-08:00</published><updated>2011-04-01T08:19:10.944-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Korban Tiwul dalam Ketahanan Pangan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: georgia;font-size:85%;" &gt;&lt;a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/01/06/134144/Korban-Tiwul-dalam-Ketahanan-Pangan-"&gt;Suara Merdeka, 06 Januari 2011&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Provinsi Jawa Tengah, termasuk daerah yang memiliki ketahanan pangan cukup baik. Dalam pemetaan Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo, Jepara termasuk daerah yang diberi label warna hijau tua. Artinya, ketahanan pangannya cukup mantap. Tetapi, apa yang terjadi beberapa waktu lalu, di Jepara jatuh 6 korban jiwa sebagai akibat mengonsumsi tiwul. Apa yang terjadi ini sungguh aneh, bahkan mungkin di luar dugaan. Di zaman seperti ini ada yang mengonsumsi tiwul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja peristiwa tersebut mengundang pertanyaan serius, kenapa keluarga Jamhamid mengonsumsi makanan yang terbuat dari singkong tersebut. Apakah itu dilakukan sekedar ”klangenan” karena lama tidak mengkonsumsinya ? Atau terpaksa makan karena tidak memiliki bahan pangan lainnya ? Tampaknya lebih karena tidak memiliki makanan lain, sehingga dengan terpaksa mengonsumsi tiwul. Fakta ini terasa paling kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari fakta terungkap bahwa keluarga Jamhamid tergolong tidak mampu, sehingga setiap hari hampir pasti mengonsumsi tiwul. Apalagi di tengah kenaikan harga bahan pangan yang cukup tinggi, tentu keluarga itu tidak mampu menjangkaunya. Jika pun beras tak mampu, apalagi bahan pangan lainnya hampir pasti tidak terbeli dengan baik. Apakah keluarga ini juga tidak terjangkau program beras miskin (raskin) ini juga pertanyaan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga meyakini bahwa masih banyak dari keluarga di daerah ini yang mengonsumsi tiwul. Ada dua cara untuk melihat peristiwa tersebut, yakni pertama  bahan pangan tiwul pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jawa, terutama di pedesaan. Hingga kini, tiwul kadangkala masih disikapi sebagai salah satu bentuk variasi bahan pangan. Jika proses pembuatan bersih, bahan pangan itu cukup higienis dan mengeyangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, jika tiwul dikonsumsi secara terpaksa lebih karena tidak memiliki pilihan lain, maka pemerintah harus menjadi peristiwa itu dicatat dengan tinta merah. Tanpa mengurangi rasa hormat bahwa pemerintah telah memberikan perhatian serius terhadap ketahanan pangan, tetapi fakta itu tidak bisa diabaikan. Di atas kertas benar sekali, daerah ini memiliki ketahanan pangan yang bagus. Tetapi, apakah pangan itu benar bisa terbeli oleh masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaca dari peristiwa tersebut, pemerintah di berbagai tingkatan, terutama kabupaten/kota harus meneliti kembali tentang angka-angka ketahanan pangan, kemiskinan, daya beli, dan sebagainya. Para kepala daerah perlu lebih jernih dan terbuka dalam melihat kemiskinan di daerahnya. Data angka kemiskinan jangan disulap menjadi lebih bagus supaya citra meningkat. Sebaliknya, data harus disajikan apa adanya agar solusinya juga tepat dan akurat. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-4685239366194389695?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/4685239366194389695/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=4685239366194389695' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/4685239366194389695'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/4685239366194389695'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2011/01/korban-tiwul-dalam-ketahanan-pangan.html' title='Korban Tiwul dalam Ketahanan Pangan'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-1864245113786057358</id><published>2010-10-04T02:44:00.000-07:00</published><updated>2010-10-06T02:46:06.646-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Mempertahankan Ikon Kota Ukir</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;a style="font-weight: bold;" href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/10/04/125532/Mempertahankan-Ikon-Kota-Ukir"&gt;Suara Merdeka, 04 Oktober 2010&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Suhardiman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;INDUSTRI mebel (furnitur) dan ukir kayu merupakan ikon kota Jepara, yang kemudian menghadirkan jati diri Jepara Kota Ukir. Salah satu tonggak pencapaian pasar internasional dalam industri ini adalah ketika RA Kartini memperkenalkan produk perajin binaannya kepada kawan-kawannya di berbagai kota di Indonesia, termasuk di Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua industri itu tersebar di beberapa wilayah di Jepara. Tahun 2008 produk dua industri itu telah dipasarkan di 110 negara tujuan oleh 248 perusahaan, baik PMDN maupun PMA. Jumlah usaha yang eksis 3.821 unit, menyerap 50.668 tenaga kerja. Nilai produksinya mencapai Rp 1,2 triliun, dengan investasi Rp 164 miliar lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunjungan mantan ketua Hipmi Sandiaga S Uno pada 8 Juli lalu memberi angin segar kepada pengusaha mebel di Jepara, terlebih pengusaha muda. Sandiaga memberi semangat dan apresiasi atas bangkitnya kembali industri mebel. Sejak krisis ekonomi tahun 1998, industri mebel ukir di Jepara mengalami penurunan permintaan. Pasar ekspor anjlok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini meski usaha tersebut sudah mulai menggeliat kembali, ada beberapa kendala yang belum terpecahkan. Misalnnya kurangnya bahan baku, sistem pemasaran secara internal, dan persaingan harga yang tak sehat antarpengusaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problem lain adalah terancamnya produk ukir lokal karena diklaim pihak asing. Hak cipta dan desain produk pigura cermin (mirror frame), aksesoris, dan mebel bermotifkan ukiran diklaim oleh salah satu pengusaha asing asal Inggris, Christopher Guy Harrison, tepatnya pada 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasal 10 Undang-Undang (UU) Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta menyatakan bahwa,’’Negara memegang hak cipta atas folklor dan hasil kebudayaan rakyat yang menjadi milik bersama seperti cerita, hikayat, dongeng, legenda, babad, lagu, kerajinan tangan, koreografi, tarian, kaligrafi, dan karya seni lainnya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan UU itu, negara sebagai pemegang hak cipta berkewajiban mencegah adanya monopoli atau komersialisasi serta tindakan yang merusak hasil kebudayaan bangsa Indonesia. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari tindakan pihak asing yang menjiplak atau mengklaim hasil kebudayaan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah LSM Collaboration of Ecology and Centre Information to Us (Celcius) yang menggelar acara Jagong Budaya di Jepara pada 5 Agustus lalu, merupakan wujud sosialisasi dan desakan kepada pemerintah agar lebih memperhatikan mebel ukir sebagai karya orisinil budaya masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desain ukir Jepara merupakan karya anak bangsa yang harus dilindungi, dan pihak asing manapun tidak boleh menjiplak untuk kepentingan apapun. Meskipun Mei lalu Pemkab telah mengajukan HAKI kepada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia atas 99 produk asli Jepara, usaha sejenis perlu terus ditingkatkan dan didukung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih Serius Bisa jadi, masih ada hasil karya budaya asli Jepara yang belum terinventarisasi. Pemkab dan masyarakat tentu tidak ingin kecolongan untuk kali kedua. Itu sebabnya, pengakuan HAKI ini sangat penting guna mendapatkan hak paten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat jangan berhenti pada tataran kepuasan sesaat atas berbagai karya yang telah dihasilkan.&lt;br /&gt;Sikap mempertahankan, menjaga, dan mengembangkan budaya daerah, jauh lebih penting dilakukan. Ketika masyarakat, terutama generasi muda, lupa pada budaya lokal, tidak menutup kemungkinan kasus klaim atas produk asli milik kita bisa terulang kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk makin memperkokoh kiprah ukiran Jepara ke depan, perlu perhatian lebih serius dari pemerintah, mulai pengadaan bahan baku, permodalan hingga pemasaran dan promosi. Semakin sedikitnya pasokan kayu jati (bahan baku andalan ukiran Jepara) serta informasi peluang akses pasar baru membuat produsen harus melakukan antisipasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bahan baku, selain kayu jati, perajin juga mesti mencari bahan baku alternatif seperti kayu meranti, mahoni, dan lain-lain. Selain itu, produsen dan pengusaha ukiran Jepara perlu lebih aktif mencari informasi tentang pameran-pameran dan media ajang promosi lainnya, baik di dalam maupun luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah Manipin Gersang, pemilik PT Gabe International, perusahaan furnitur yang menjaring pembeli dari berbagai negara lewat internet bisa dijadikan contoh. Eksportir juga bisa menerapkan sistem pemasaran on line dengan memanfaatkan jaringan global melalui alibaba.com yang dihadirkan oleh Jepara Trade and Tourism Center (JTTC).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-1864245113786057358?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/1864245113786057358/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=1864245113786057358' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/1864245113786057358'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/1864245113786057358'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2010/10/mempertahankan-ikon-kota-ukir.html' title='Mempertahankan Ikon Kota Ukir'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-4400437641726464632</id><published>2010-08-16T20:51:00.000-07:00</published><updated>2010-08-18T20:54:43.239-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Tantangan Perajin Kain Troso</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/08/16/120577/Tantangan-Perajin-Kain-Troso"&gt;Suara Merdeka, 16 Agustus 2010&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Manshur Shofi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;SEBULAN&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt; lewat Gubernur Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo mengampanyekan penggunaan seragam tenun lurik troso, untuk pakaian kerja PNS se-Jateng, khusus hari Rabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imbasnya langsung terasa, denyut perajin kembali bergairah. Banjir order, permintaan mendadak datang tak terkira. Khusus Sabtu dan Minggu, pemandangan mirip showroom terlihat di jalan-jalan di Desa Troso. Sejumlah mobil berpelat luar kota berderet di jalan desa sentra produksi tenun lurik khas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Troso berlokasi di di jalan raya Jepara-Kudus Km 15, dengan cuaca khas pesisir yang panas. Sejarah panjang telah terlewati akan keberadaan perajin kain, yang sampai sekarang tetap teguh menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM) untuk memproduksinya. Suara khas, toklekÖtoklekÖtoklek, membius telinga sampai malam hari. Suara unik yang muncul dari gesekan kayu alat tenunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Troso juga desa superjumbo, luasnya 711,5 hektare dengan jumlah penduduknya 23.000 jiwa dibagi dalam 83 RT  dan 10 RW. Tapi perajin tenun lurik hanya berpusat di daerah selatan atau istilahnya, Troso Kidul. Kain (tenun lurik) troso sebenarnya tidak punya ciri khusus, bahkan secara jujur kain tersebut dibuat tergantung pesanan dan musim. Trik untuk tetap eksis dan bertahan membuat perajin mengkreasi sendiri corak dan jenisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja kain yang diberi nama jaranan karena terdapat gambar jaran (kuda) berhadap-hadapan. Istilah kain salur, atau ada yang menyebut sebagai kain antik yang tebal dan motifnya mirip buatan Nusa Tenggara Barat, lebih cocok untuk sprei, gorden, taplak meja atau jok kursi. Sementara itu, kain ikat untuk bahan baju, lebih banyak variasi bahan dan motifnya. Benang misris mendominasi dengan gambar-gambar atau corak yang simetris. Plus model songket atau doby juga diproduksi di desa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu ‘’rahasia’’ lagi, selama puluhan tahun Bali menjadi mitra masyarakat Troso, kain ikat yang selama ini terkenal sebagai kain Bali, sebenarnya diproduksi oleh tangan-tangan kreatif warga Troso. Padahal Troso-Bali itu harus ditempuh lebih dari 20 jam perjalanan darat. Hubungan yang unik, long distance yang tak mengurangi kemesraan tapi makin saling membutuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dua kali bom Bali itu merusak tatanan kehidupan di Indonesia, dan Troso terkena imbas cukup parah karenanya kerajinan tenun mati suri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi masyarakat Troso masa suram terasa lama. Sebelum akhirnya angin segar berhembus, enam 6 tahun lalu, tatkala Pemerintah Kabupaten Jepara di bawah kepemimpinan Bupati Drs Hendro Martojo MM mewajibkan PNS Jepara memakai seragam kain troso. Kamis, Jumat, dan Sabtu, dan berlanjut sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imbasnya, muncul fenomena menarik perajin tenun troso pecah tapi dalam arti positif yakni terbentuknya tiga ‘’kubu’’ utama.  Pertama, perajin yang tetap ‘’istikamah’’, masih mengandalkan Bali sebagai tujuan utama pemasaran. Kubu kedua; berkonsentrasi melayani permintaan domestik kain seragam lingkup Kabupaten Jepara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Masa Suram&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;Kubu ketiga; memasok sentra-sentra batik, seperti Pekalongan, Solo, dan Yogyakarta. Jenis kain yang diproduksi dalam bentuk polosan atau putihan, dari sutera, serat kayu, dan serat nanas. Media kain yang siap untuk dibatik ini proses pembuatnya lebih cepat dan tidak rumit dibandingkan dengan kain ikat atau lurik.&lt;br /&gt;Dua kubu yang disebut di depan, yaitu perajin kain troso yang fokus ke Bali dan daerah sentra batik, sekarang mengalami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;masa suram. Tidak ada keseimbangan antara harga bahan baku yang selalu naik dan harga jual kain yang stagnan. Hal itu diperparah dengan perilaku beberapa perajin yang berlomba banting harga dan tidak menjaga kualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini tinggal satu kubu yang kuat bertahan, dan sekarang mendapat angin segar babak kedua lewat kebijakan Gubernur Jawa Tengah yang mengampanyekan penggunaan seragam tenun lurik troso, untuk pakaian kerja PNS khusus hari Rabu. Hadiah besar bagi masyarakat Troso menjelang Idul Fitri, kain lurik sebagai produk-produk lokal menjadi kebanggaan, dan terpenting dapat menghidupkan perekonomian warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perajin tenun lurik wajib meningkatkan kualitas tanpa mengorbankan nilai seni sebagai warisan budaya lokal, tidak terjebak pada pakem tapi harus kreatif dan kaya inovasi dengan mengombinasikan warna, corak, dan desain. Hal itu   supaya produknya nyaman dipakai dan cocok dipakai dalam berbagai kesempatan dan oleh berbagai golongan. (10)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-4400437641726464632?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/4400437641726464632/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=4400437641726464632' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/4400437641726464632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/4400437641726464632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2010/08/tantangan-perajin-kain-troso.html' title='Tantangan Perajin Kain Troso'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-7644003730259634526</id><published>2010-08-05T04:49:00.000-07:00</published><updated>2010-08-06T04:51:10.610-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Kemasan Modern Pesta Baratan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;a style="font-weight: bold;" href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/08/05/119321/Kemasan-Modern-Pesta-Baratan-"&gt;Suara Merdeka, 05 Agustus 2010&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Mulyono &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SALAH &lt;/span&gt;satu potensi wisata budaya Jepara adalah tradisi Baratan, yang dilaksanakan tiap tanggal 15 Sya’ban kalender Hijriah atau 15 Ruwah kalender Jawa yang bertepatan dengan malam Nishfu Sya’ban. Kata Baratan berasal dari sebuah kata bahasa Arab, yaitu baraah yang berarti keselamatan atau barakah yang berarti keberkahan. Baratan adalah salah satu tradisi masyarakat Jepara yang konon berakar dari zaman pemerintahan Ratu Kalinyamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu, suami Ratu Kalinyamat (Retno Kencono) yaitu Sultan Hadirin (Sayyid Abdurrahman Ar Rumi) berperang melawan Arya Penangsang dan terluka. Kemudian Ratu Kalinyamat membawanya pulang ke Jepara dengan dikawal prajurit dan dayang-dayang. Peristiwa itu berlangsung malam hari, sehingga masyarakat di sepanjang jalan yang ingin menyaksikan dan menyambut rombongan Ratu Kalinyamat harus membawa alat penerangan berupa obor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita tersebut adalah salah satu versi asal muasal Baratan, yang salah satunya tradisinya adalah penyalaan obor, lampu minyak, dan lampion pada malam hari. Tradisi tersebut masih bertahan hingga kini pada masyarakat di Kecamatan Kalinyamatan, Mayong, dan Pecangaan. Tradisi Baratan merupakan salah satu tradisi di Jepara selain tradisi perang obor di Tegal Sambi yang bisa dikembangkan menjadi potensi wisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baratan dalam ingatan masa kecil penulis adalah salah satu hari raya yang penulis kenal, sewaktu kecil masyarakat Mayong menyebutnya badha Beratan. Saat itu belum tiap rumah tangga memiliki listrik. Sejak sore hari, tiap rumah mempersiapkan lampu-lampu minyak yang terbuat dari tanah liat, yang disebut umplung atau empluk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampu tersebut dibeli dari perajin gerabah yang memang menjadi mayoritas mata pencaharian masyarakat Desa Mayong Lor waktu itu. Lampu diletakkan berjajar di teras rumah dan di pagar halaman. Lampu-lampu lampion impes digantung di teras rumah. Impes adalah lampion berbentuk silinder dan berkerut, masyarakat menyebutnya impes karena bisa kempes atau mimpes dan dilipat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada malam Baratan, anak laki-laki selepas shalat isya berkumpul di mushala atau masjid terdekat untuk kenduri, membawa makanan yang disebut puli (sejenis gendar). Kata puli konon berasal dari bahasa Arab yaitu afwu lii, yang berarti maafkanlah aku.&lt;br /&gt;Ditunggu-tunggu Puli terbuat dari bahan beras, ketan dan bleng yang dikukus kemudian ditumbuk halus dan dimakan dengan kelapa parut yang dibakar atau tanpa dibakar. Para ibu saling berkirim puli buatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu dengan berkelompok anak laki-laki berkeliling kampung menarik mobil-mobilannya yang telah diberi lilin menyala di dalamnya, sedangkan anak perempuan ikut berkeliling membawa impes dengan meneriakan yel-yel ritmis. Anak-anak berkeliling sampai larut malam. Saat itu malam Baratan adalah salah satu malam yang paling ditunggu-tunggu anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini berpuluh tahun berselang, malam sudah terang benderang oleh listrik, keramaian dan aura tradisi tersebut banyak terkikis. Saat ini tradisi masih menyisakan mobil-mobilan kertas yang dulu sangat sederhana sekarang sedemikan bagus, namun bukan untuk ditarik keliling kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya untuk menghidupkan tradisi tersebut telah dilakukan oleh elemen masyarakat dengan dukungan Pemkab Jepara. Salah satunya adalah pawai lampion di Kecamatan Kalinyamatan. Beberapa tahun lalu, pawai ini masuk dalam catatan Muri sebagai pawai dengan pembawa lampion terbanyak, lebih dari 3.500 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun ini Pesta Baratan kembali digelar oleh Lembayung Production bekerja sama dengan Pemkab, ormas, dan perusahaan swasta berpusat di Kecamatan Kalinyamatan. Di facebook pun telah dibuat akun ’’Pesta Baratan’’ untuk lebih menyosialisasikan lewat dunia maya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penulis, ada beberapa hal yang perlu dilakukan pada tahun-tahun mendatang dalam rangka lebih mengembangkan potensi. Pertama; memperluas skala kegiatan, dengan mengundang daerah lain atau perusahaan besar untuk berpartisipasi, misalnya mengadakan lomba dan pawai mobil lampu hias.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua; meningkatkan promosi sehingga lebih banyak orang yang tahu dan berpartisipasi. Ketiga; mengemas acara lebih menarik sehingga wisatawan dapat menikmati dengan nyaman. Kempat; persiapan yang lebih profesional sehingga acara dapat berlangsung lebih baik, dan lebih ’’menjual’’. (10)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-7644003730259634526?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/7644003730259634526/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=7644003730259634526' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/7644003730259634526'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/7644003730259634526'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2010/08/kemasan-modern-pesta-baratan.html' title='Kemasan Modern Pesta Baratan'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-7000830059858431965</id><published>2010-07-14T06:19:00.000-07:00</published><updated>2010-07-17T06:22:33.900-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Kelanjutan Kampung Teknologi Jepara</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/07/14/116629/Kelanjutan-Kampung-Teknologi-Jepara"&gt;Suara Merdeka, 14 Juli 2010&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;M Abdullah Badri &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat teknologi yang praktis, mudah, cepat dan efektif membuat warga Suwawal Timur mampu meningkatkan kesejahteraan sosial dan ekonominya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADA titik terang di Jepara. Kabupaten di wilayah pantura Jateng yang juga dikenal dengan sebutan Kota Ukir sekarang dibicarakan sekolompok orang karena di daerah itu ada kampung teknologi. Jangan membayangkan kampung itu laiknya kota yang ada gedung pencakar langitnya dan mesin-mesin otomatis yang bekerja sendiri seperti dalam film futuristik rekaan Hollywood. Namanya juga kampung, jadi aroma naturalnya tetap terjaga dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suwawal, tepatnya Suwawal Timur, Kecamatan Pakis Aji, adalah desa yang diproyeksikan Pemerintah Kabupaten Pemkab) Jepara sebagai kampung masa depan berbasis teknologi dengan nilai investasi Rp 247,9 miliar. Dengan menggandeng Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek), Pemkab hendak menjadikan kampung seluas 110 hektare itu sebagai pusat pemberdayaan masyarakat desa dalam bidang pertanian, industri pengolahan, pariwisata, dan pendidikan berbasis teknologi (Kompas, 09/07).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sebelumnya warga kampung meminjam sapi jantan tetangga untuk membuat sapi betinanya hamil, dengan dikawinkan, kini, sejak teknologi peternakan dikembangkan di sana, kini mereka hanya perlu menyuntikkan cairan khusus (semen, mani beku-Red) ke sapi betina. Tanpa kawin, tak lama lagi sapi itu akan hamil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga kampung teknologi tersebut kini juga sudah bisa memaksimalkan lahan tanah yang dulu dibiarkan tidak produktif. Dengan penyuluhan, pendampingan dan praktik langsung, tanah tandus sekarang bisa ditanami aneka tanaman. Tanaman yang untuk sementara sudah diberdayakan adalah kacang tanah. Semua dilakukan berkat proyeksi sebagai kampung teknologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain memberdayakan, warga kampung teknologi juga diharapkan bisa mendayagunakan hasil tanaman dan olahannya. Hal ini dilakukan untuk menghindari agar hasil panenan tanaman dan ternaknya bisa dijual layak dengan harga yang menguntungkan. Berkat pembangunan jaringan sosial yang berjalan, petani kampung teknologi itu kini bisa menjual hasil jerih payahnya kepada beberapa perusahaan yang telah komitmen dan bekerjasama membeli hasil tanaman mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tanaman kacang, PT Garudafood Pati telah berbaik hati bersedia pasti membeli hasil tanaman kacang dari Suwawal, sekaligus memberikan benih kacang organik itu untuk ditanam. Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta juga telah diminta komitmennya meningkatkan kualitas kacang tanah dari petani dengan penyediaan oven pengering berbahan gas atau batu bara. Dengan alat teknologi itu, petani tak perlu menjemur kacang di jalan raya atau di halaman rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berkah Tersendiri &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Warga kampung teknologi Jepara telah menemukan kemudahan-kemudahan operasional kerja bertani dan beternak. Selain penggemukan sapi dan penanaman kacang organik secara teknologis, program pemberdayaan yang sudah berjalan sementara ini seperti dinyatakan oleh pengelola utamanya, Imam Chanafi, adalah pembuatan pupuk dari kotoran dan air seni kambing. Sifat teknologi yang praktis, mudah, cepat dan efektif telah membuat warga Suwawal Timur mampu meningkatkan kesejahteraan sosial dan ekonomi. Ini merupakan berkah tersendiri yang harus terus ditingkatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menjadikan gelisah adalah bagaimana kalau kampung teknologi itu tidak mampu bertahan lama? Belum adanya sekolah khusus berbasis teknologi pertanian dan peternakan di Jepara menjadi problem tersendiri terhadap eksistensi kampung teknologi. Warga kampung teknologi itu bisa jadi hanya akan ’’diperas’’ tenaganya oleh perusahaan yang membutuhkan hasil tanamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah, untuk menjaga keberlanjutan pembangunan kampung teknologi, Pemkab hendaknya juga mengirimkan putra daerahnya ke perguruan tinggi yang komitmen terhadap eksistensi kampung teknologi, untuk belajar sains dan ilmu pengetahuan. Kontraknya, setelah lulus dia mau membangun kampung itu lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau, akan lebih baik jika punya sekolah berbasis pendidikan teknologi sendiri sebagaimana STM khusus ukir yang sudah ada. Ini akan lebih baik mengingat kampung teknologi itu ke depan diproyeksikan dalam bidang yang lebih luas, yakni agrotechnopark, ecopark, dan technopark.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petani-petani jangan hanya di-wulang bagaimana cara menanam dan beternak hewan dengan baik. Mereka juga harus dirangsang secara inovatif agar muncul kreasi baru. Jika hal ini dapat dilakukan, kampung teknologi akan bisa bertahan dengan kaki sendiri, tanpa tergantung dengan unsur luar, nantinya.  (10)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-7000830059858431965?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/7000830059858431965/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=7000830059858431965' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/7000830059858431965'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/7000830059858431965'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2010/07/kelanjutan-kampung-teknologi-jepara.html' title='Kelanjutan Kampung Teknologi Jepara'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-2466877579951510732</id><published>2010-06-30T05:48:00.000-07:00</published><updated>2010-07-16T05:49:41.657-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Memakmurkan Taman Baca Jepara</title><content type='html'>&lt;a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/06/30/114978/Memakmurkan-Taman-Baca-Jepara"&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-size: 85%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;a style="font-weight: bold;"&gt;Suara  Merdeka, 30 Juni 2010&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-size: 85%;"&gt;&lt;br /&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Syaiful Mustaqim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BANYAK&lt;/span&gt; cara dan upaya yang dilakukan  Pemerintah Kabupaten Jepara melalui perpustakaan daerah dalam rangka  meningkatkan minat baca. Salah satunya dengan mendirikan dan mengelola  taman baca. Bahkan Bupati Hendro Martojo pada akhir Desember 2009  meresmikan Taman Baca Bukit Asri di Demaan Jepara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taman baca itu  untuk sementara waktu menempati Rumah Aman, yaitu sekretariat KDRT:  Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana. Rencananya pada  tahun ini dibangun perpustakaan permanen di dekat bangunan itu. Adapun  berkaitan dengan referensi (buku rujukan), saat ini taman baca itu sudah  dilengkapi 450 buku ditambah 20 alat peraga edukatif (APE).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain  taman cara tersebut, beberapa cara dan upaya yang telah dilakukan  perpustakaan daerah adalah menyediakan fasilitas bacaan di tempat umum  yakni dua warung baca yang menyediakan buku bacaan dan koran harian. Pun  papan baca berupa koran dinding, terletak di terminal kota dan di pojok  taman selatan alun-alun kota serta rumah baca lengkap dengan arena  bermain anak-anak di taman belakang kantor Perpustakaan Daerah Jalan HOS  Cokroaminoto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya itu, satu motor pintar—melayani  perpustakaan keliling di kawasan kota. Ditambah tiga mobil perpustakaan  keliling (dua unit beroperasi ke sekolah-sekolah dan satu unit lagi  keliling dari desa satu ke desa lain). Sehingga, sejak 2005 hingga 2009  saja di Bumi Kartini ini telah berdiri 169 perpustakaan yang tersebar di  pelosok desa dan kecamatan, 31 tempat untuk perpustakaan ormas, 81  lokasi perpustakaan sekolah serta 146 perpustakakan di tempat-tempat  peribadatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyaknya taman, ruang ataupun rumah baca yang  tersebar di pelosok kota ini semestinya tidak hanya berhenti di situ  saja—lebih dari itu, alangkah lebih afdolnya jika kantung-kantung baca  yang telah ada tidak hanya difungsikan sebagai tempat membaca saja.  Dengan hanya menjadikannya sebagai sarana meningkatkan minat baca  masyarakat bisa mengalami kejenuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya, tempat-tempat itu  bisa diperankan sebagai pusat pelbagai kegiatan berbasis massa.  Menyebut massa, maka seluruh elemen yang ada di masyarakat mulai  anak-anak, remaja hingga orang tua masuk kategori di dalamnya. Sehingga,  kantung-kantung baca yang telah ada perlu dimaksimalkan potensinya.  Kantung baca digunakan sebagai tempat kegiatan ilmiah. Agenda yang  penulis maksud yakni memosisikan kantung baca untuk sarana diskusi,  jumpa pembaca maupun sekadar tempat tukar ide.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski hanya  diikuti oleh beberapa gelintir orang saja, menurut hemat penulis tidak  jadi soal. Yang terpenting melalui forum yang beraura ilmiah  itu—berbincang-bincang tentang tema kejeparaan, isu nasional dan terkait  dunia pustaka nantinya menghasilkan wacana yang luar biasa dan  bermanfaat untuk khalayak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berbasis  Edukatif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lambat laun ketika pengunjung yang lain sudah tahu  maksud dan tujuan dari forum itu setidaknya berpartisipasi  meramaikannya. Dalam fase yang lebih besar digunakan untuk bedah buku,  seminar ataupun talkshow.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa pula dijadikan pusat keterampilan  berbasis edukatif. Semisal, keterampilan berbahasa, kesenian ataupun  membaca dan menulis. Artinya, kantung baca digunakan untuk klub-klub  bahasa Inggris, Prancis, Mandarin ataupun bahasa asing lain. Konkretnya  untuk belajar bersama tentang bahasa asing. Untuk perihal kesenian bisa  berupa seni teater, lukis maupun tari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan membaca dan  menulis dapat diaplikasikan melalui kegiatan jurnalistik  (tulis-menulis). Aktivitas tulis menulis artikel, puisi, cerpen,  resensi, berita dan sebagainya. Hal itu bisa dilaksanakan sepekan sekali  dan dijadwalkan sesuai dengan kesepakatan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu,  sebagai arena lomba berpidato, baca puisi, lomba jurnalistik, menggambar  ataupun mewarnai. Kegiatan lomba-lomba itu secara tidak langsung akan  menambah kuota yang berkunjung ke kantung baca yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya  untuk memaksimalkan potensi taman baca yang penulis maksud adalah selain  sebagai tempat yang digunakan dalam rangka meningkatkan minat baca baca  juga difungsikan untuk aktivitas lain. Tentu aktivitas yang bergaung  edukatif, artinya, nuansa pendidikan yang nantinya bermanfaat untuk  masyarakat luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan atas gagasan butuh kerja sama semua  pihak,  setidaknya pemkab mendukung pendanaan. Sementara, pegiat seni,  pekerja pers dan jurnalistik, akademisi serta penggila dunia pustaka  juga harus berperan aktif.(10)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-2466877579951510732?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/2466877579951510732/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=2466877579951510732' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/2466877579951510732'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/2466877579951510732'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2010/06/memakmurkan-taman-baca-jepara.html' title='Memakmurkan Taman Baca Jepara'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-1637178518003471722</id><published>2010-04-28T22:57:00.000-07:00</published><updated>2010-04-28T23:01:41.097-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Pesona Memudar Tanah Kelahiran</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/04/28/107363/Pesona-Memudar-Tanah-Kelahiran"&gt;Suara Merdeka, 28 April 2010&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Zakki Amali&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MENGENANG&lt;/span&gt; Kartini adalah mengenang perempuan Indonesia. Keberadaan Kartini membawa angin segar bagi pencerdasan perempuan. Saat itu, kebanyakan perempuan berada di ruang privat keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan harus berada dan mengurusi persoalan domestik. Namun, berkat langkah Kartini, Nusantara yang tersandera kolonialisme Belanda menilik perempuan untuk diajak bersama memajukan bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah Kartini selalu dinarasikan dalam sejarah besar bangsa ini. Gerak langkahnya menarik orang-orang Eropa. Setelah kematiannya, mereka menerbitkan kumpulan surat Kartini kepada kawan-kawan korespondensinya, khususnya keluarga Abendanon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikir Indonesia juga menelaah sikap kritis Kartini. Pemerintahan Soekarno pun mengangkat dan menganugerahi Kartini gelar Pahlawan Nasional karena pemikirannya yang cemerlang tentang masa depan perempuan pribumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun siapa sangka banyak orang tak mengetahui tempat kelahiran Kartini yang tepat. Ketika berbicara tentang asal daerahnya, kebanyakan orang mungkin hanya mengenal dia sebagai pribumi Jepara yang akhirnya dimakamkan di Rembang. Padahal, detail kelahiran atau daerah asal seorang tokoh besar berkorelasi dengan kualitas pengetahuan tentang dia. Sajian detail seorang tokoh merupakan salah satu tolok ukur keseriusan menelaah sang tokoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monumen Di Desa Pelemkerep, Kecamatan Mayong, Jepara, terdapat monumen ari-ari Kartini. Monumen itu berada di samping kantor kecamatan (dulu kantor wedana). Monumen serupa bunga teratai itu berada di atas tanah tak terlalu luas. Di monumen itulah, ari-ari atau plasenta Kartini ditanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monumen Kartini sangat sederhana. Hanya ada monumen, sumur, dan tugu penanda tempat dia dilahirkan. Penjaga monumen, Basuki, menuturkan di tempat itu dahulu rumah keluarga Kartini berada. “Sekarang sudah tak ada bekasnya,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah asli, kata dia, telah dibong-kar untuk dan dibawa ke Jepara. Saat masih di Mayong, ayah Kartini, Mas Adipati Ario Sosroningrat, menjabat wedana. Baru setelah dua tahun sejak kelahiran Kartini, dia sekeluarga pindah ke Jepara untuk bertugas sebagai bupati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Basuki yang menjaga monumen itu sejak 1981 menyaksikan kondisi asli sebelum direnovasi dengan pembangunan monumen. Dia menuturkan renovasi dilakukan tahun 1981 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed Joesoef. “Setelah itu belum ada renovasi lagi,” ujarnya.&lt;br /&gt;Keunikan Ada yang unik di kawasan monumen itu, yakni monumen ari-ari dan sumur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monumen dibuat menyerupai bunga teratai dengan lekuk yang bermakna kelahiran. Kuncup kedua dari atas berjumlah 21 yang menunjukkan tanggal kelahiran Kartini. Empat buah lampu menunjukkan bulan April, sedangkan 18 kuncup paling bawah menunjukkan tahun 1800. Ukiran bawah berjumlah tujuh menunjukkan angka tujuh. Kuncup paling atas sembilan menunjukkan angka sembilan. Jika dirangkai menjadi tanggal, bulan, dan tahun kelahiran Kartini: 21 April 1879.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumur di depan monumen masih asli. Letak dan bangunan sumur itu tak berubah. Basuki menuturkan sumber air itu tak pernah surut pada musim kemarau sekalipun. Kedalaman sumur sekitar 10 meter. “Warga sekitar sering memanfaatkan air sumur itu,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun nilai kesejarahan monumen itu tak dikenal luas. Monumen itu hanya ramai menjelang April, ketika orang-orang memperingati hari kelahiran Kartini secara besar-besaran. “Orang-orang Jakarta juga pernah ke sini,” tutur Basuki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang, pesona monumen itu sebagai salah satu sumber penting dalam kesejarahan pribadi Kartini seakan-akan dibiarkan. Saripati kelahiran perempuan itu tak lebih sebagai bangunan tak bertuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, lihatlah, betapa orang lalu lalang melewati monumen itu seperti tanpa merasakan kehadiran sosok bersejarah. Atau, mungkin malah mereka tak mengetahui apa gerangan maksud tujuan pendirian monumen ari-Ari Kartini.&lt;br /&gt;Mencari kesalahan perkara itu sangat mudah. Namun tak memberikan pemecahan terbaik bagi kelangsungan nilai-nilai sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawasan kantor Kecamatan Mayong, tutur Basuki, berhalaman paling luas di seluruh kantor kecamatan di Jepara. Potensi itu bisa dikelola menjadi bagian perluasan monumen. Taman di dekatnya dapat pula dipercantik. Apakah bisa? Selama ada kemauan politik dari penanggung jawab daerah, itu mudah. Namun mensyaratkan juga suara masyarakat untuk menggerakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah kabar gembira jika ada niat menjadikan kawasan kelahiran Kartini sebagai museum bersama. Sebab, Museum Kartini di Jepara dan Rembang berkesan terpisah. Narasi yang tersaji di kedua tempat itu terpenggal. Masa kecil Kartini di Jepara, sedangkan masa berkeluarga di Rembang. Dan, saat kelahiran hingga usia dua tahun di Mayong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu membangun museum bersama untuk mengintegrasikan pemahaman tentang sosok Kartini secara holistik. Jadi tak muncul persepsi setengah-setengah tentang Kartini. Orang yang hanya tahu monumen kelahiran Kartini, misalnya, akan ragu menyatakan bahwa itu monumen Kartini, sang tokoh emansipasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau, ketika melihat foto-foto keluarga dan benda peninggalannya di Rembang, orang akan bertanya-tanya tentang masa kecil dan tempat kelahirannya.&lt;br /&gt;Begitu pula yang terjadi ketika berkunjung ke Jepara dengan pertanyaan tentang nasib Kartini setelah diboyong sang suami ke Rembang. Pengetahuan yang tak lengkap bisa saja membuahkan  penghayatan yang tak utuh. Dan, akhirnya berujung ke kegagalan transformasi nilai-nilai kesejarahan Kartini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu pendirian museum Kartini yang komplet bisa diharapkan bakal memunculkan semangat untuk meneladani Kartini. Namun barangkali terlalu melangit jika tak mnempertimbangkan faktor geografis kedua daerah, Jepara dan rembang, dan berkesan memaksakan. Semoga muncul kesepakatan berbagai komponen untuk mewujudkan angan-angan tentang pembelajaran tentang Kartini melalui pendirian museum. Dengan harapan, generasi terkini lebih terpantik meneladani sosok pejuang itu. Semoga. (53)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-1637178518003471722?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/1637178518003471722/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=1637178518003471722' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/1637178518003471722'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/1637178518003471722'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2010/04/pesona-memudar-tanah-kelahiran.html' title='Pesona Memudar Tanah Kelahiran'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-5214936362094859497</id><published>2010-04-14T06:46:00.000-07:00</published><updated>2010-04-16T06:49:33.760-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Reorientasi Industri Mebel Jepara</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/04/14/105605/Reorientasi-Industri-Mebel-Jepara"&gt;Suara Merdeka, 14 April 2010&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nasir Syar’an SIP&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;TANGGAL 10 April 2010 adalah hari jadi ke-461 Jepara. Inilah hari jadi pertama bagi Kota Ukir dalam suasana ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberlakuan ACFTA sejak 1 Januari lalu itu jelas memengaruhi tingkat persaingan dan pasar industri  mebel Jepara, baik di pasar regional maupun domesti, karena tarif bea masuk dari dan ke sesama anggota ASEAN-China menjadi 0 persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Industri furnitur Jepara tidak hanya bersaing dengan negara peserta ACFTA di luar negeri, di dalam negeri pun industri ini akan menghadapi persaingan yang makin ketat dengan perusahaan-perusahaan dari negara tetangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, industri mebel Jepara terdesak oleh meningkatnya  harga bahan baku kayu solid yang kian hari kian langka dan  mahal.  Keterjepitan ini semakin menjadi-jadi  dengan adanya kecenderungan perang harga antarpengusaha Jepara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sedikit perusahaan Jepara yang menderita kerugian dan gulung tikar karena keterjepitan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tahun 2000 ada sekitar 450 eksportir, saat ini tinggal separo yang masih aktif. Sisanya adalah eksportir yang kesulitan dalam mendapatkan order.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk keluar dari keterjepitan persaingan era ACFTA, bahan baku dan perang harga ini, industri mebel jepara perlu bergerak dari membuat sesuai pesanan menuju membangun merek yang diakui oleh pembeli akhir. Jika sasaran pasar mengakui bahwa suatu merk mebel memberikan manfaat fungsional dan emosional secara positif, berarti merek terbangun dan peluang pengembangan pasar dan nilai jual akan berkembang secara berkelanjutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat fungsional antara lain kenyamanan, keamanan, kekuatan produk, sedangkan manfaat emosional antara lain kebanggaan, rasa memenuhi tanggung jawab etis dalam ikut serta menjaga lingkungan hidup, misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah membangun merek yang diakui pelanggan akhir tidak cukup hanya membuat nama dan logo. Diperlukan pemahaman yang cermat tentang  kebutuhan, keinginan dan harapan pelanggan, rumusan citra yang mengena (positioning), promosi, tawaran produk yang menarik, dan akses untuk mendapatkan produk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa membangun merek semakin diperlukan di tengah ACFTA dan era informasi ini? Setidaknya ada empat alasan pentingnya membangun merek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, untuk meningkatkan nilai jual. Tanpa merek, industri Jepara hanya menjadi pembuat sesuai pesanan dari pedagang  perantara. Posisi ini membuat pengusaha Jepara memperoleh nilai tambah yang jauh lebih kecil dibanding pedagang perantara ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berlakulah ungkapan bahwa pedagang lebih berkuasa dari pembuat. Mengapa? Pedagang  lebih tahu dari pembuat tentang keinginan dan daya beli konsumen akhir. Dia bisa merancang produk yang akan disukai konsumen akhir.  Produsen tidak bisa menjual langsung kepada konsumen akhir, selain melalui pedagang perantara.  Ketergantungan ini membuat pedagang dengan mudah menekan harga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketergantungan ini bisa diakhiri jika pengusaha jepara membangun merek di mata konsumen akhir. Jika produk industri mebel Jepara sudah diakui mereknya, nilai jual akan berlipat jauh lebih tinggi. Dalam aturan main ACFTA, nilai tambah dari bisnis yang bermerek akan jauh lebih menguntungkan&lt;br /&gt;Makin Mendekatkan Kedua, membangun merek ini diperlukan untuk perluasan pasar. Di tengah memasyarakatnya teknologi informasi bagi warga Jepara ini, merek akan semakin mendekatkan konsumen akhir dengan produsen. Konsumen akhir bisa langsung berhubungan dengan produsen melalui internet, cukup dengan mengetahui mereknya. Dengan demikian merek membantu memperpendek jalur distribusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, membangun merek ini penting karena kualitas ukir Jepara berpotensi untuk menjadi merek yang membanggakan pemakainya. Kemahiran ukir Jepara adalah akumulasi pengetahuan dan pengalaman masyarakat Jepara secara turun temurun selama ratusan tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ukiran Jepara dikenal lebih hidup, halus seperti sutera, ngrawit seperti rambut. Kemahiran ini tidak mudah ditiru begitu saja oleh masyarakat dari daerah lain ataupun dari luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, membangun merek ini semakin perlu dilakukan karena ditunjang oleh teknologi informasi yang semakin terjangkau. Riset pelanggan dan promosi ke luar negeri tidak harus dilakukan dengan membuat iklan di media luar negeri yang harganya mahal, tapi sekarang bisa dilakukan dengan  melalui sarana-sarana promosi di internet, baik melalui web, portal business to business, auction,  periklanan dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh sarana yang mempertemukan pedagang besar dan produsen adalah indonetwork.com, alibaba.com dan globalresources.com, sedangkan contoh sarana yang mempertemukan produsen dan pembeli retail adalah ebay.com. Sarana promosi ini jauh lebih terjangkau biayanya daripada promosi melalui media massa luar negeri. (10)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-5214936362094859497?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/5214936362094859497/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=5214936362094859497' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/5214936362094859497'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/5214936362094859497'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2010/04/reorientasi-industri-mebel-jepara.html' title='Reorientasi Industri Mebel Jepara'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-7096844400074785719</id><published>2010-04-08T09:41:00.000-07:00</published><updated>2010-04-08T09:43:53.734-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Menggagas Wisata Jejak-Jejak Kartini di Jepara</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/S74HgDY6BMI/AAAAAAAAAMk/jaPCvfLziQo/s1600/kartini.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 92px; height: 123px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/S74HgDY6BMI/AAAAAAAAAMk/jaPCvfLziQo/s320/kartini.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5457808045666600130" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Oleh &lt;a href="http://tamanhikmah.blogspot.com/2009/07/menggagas-paket-wisata-jejak-jejak_13.html"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Muhammad Rohani &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BERBICARA&lt;/span&gt; tentang R.A. Kartini (1879-1904) tidak terlepas dari perbincangan mengenai Kabupaten Jepara, tempat dia dilahirkan. Kota ini menjadi saksi sejarah atas jejak kehidupan Kartini. Banyak sekali tempat-tempat bersejarah di Jepara yang terkait dengan kehidupan Kartini. Di antaranya adalah Kecamatan Mayong, Pendapa Kabupaten Jepara, Pantai Tirta Samudera atau Bandengan, dan Pantai Kartini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, di Jepara juga terdapat museum yang mendokumentasikan benda-benda bersejarah peninggalan Kartini dan keluarganya, yaitu Museum Kartini. Meskipun museum ini dibangun pada tahun 1975, jauh setelah Kartini wafat, tempat ini menjadi bukti historis atas kehidupan Kartini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkunjung dan napak tilas ke tempat-tempat tersebut akan merekonstruksi ingatan kita akan sejarah hidup dan perjuangan Kartini. Dengan mengunjungi tempat-tempat itu kita dapat merasakan secara langsung derap kehidupan Kartini sewaktu kecil dan masa remajanya. Pada gilirannya, diharapkan ini akan menjadi sarana pendidikan dan pembelajaran bagi generasi muda, serta memotivasi mereka untuk meneladani apa yang telah dilakukan oleh Kartini bagi bangsa. Selain manfaat tersebut, kunjungan ke obyek-obyek itu juga dapat berfungsi sebagai rekreasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar lebih komprehensif dalam menyusuri jejak kehidupan Kartini, kunjungan ke obyek-obyek di atas selayaknya dilakukan secara terintegrasi. Dalam konteks ini, “Paket Wisata Jejak-Jejak Kartini” patut dijadikan sebagai konsep pariwisata di Jepara. Paket wisata tersebut berupa kunjungan ke Kecamatan Mayong, Pendapa Kabupaten, Museum Kartini, Pantai Kartini, dan Pantai Bandengan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayong dipilih karena di sana terdapat Tugu Ari-Ari Kartini yang merupakan simbol dan penanda atas kelahirannya. Di kota ini Kartini kecil tinggal bersama keluarganya selama beberapa tahun. Obyek kedua adalah Pendapa Kabupaten Jepara. Di tempat ini dia mendapatkan pendidikan dan pengalaman hidup, merenungkan dan mencetuskan pemikiran-pemikirannya, serta memberdayakan masyarakat dengan mendirikan sekolah wanita dan membina para perajin ukir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obyek selanjutnya adalah Museum Kartini. Museum ini menyimpan benda-benda peninggalan Kartini dan keluarganya, terutama kakaknya, R.M. Panji Sosrokartono. Di Museum ini kita juga dapat mengamati koleksi benda-benda yang bernilai sejarah, serta melihat-lihat benda-benda kerajinan Jepara semisal ukir-ukiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rangkaian perjalanan ditutup dengan rekreasi ke Pantai Kartini dan Pantai Bandengan. Di sana pengunjung bisa melepas penat dengan bersantai menikmati indahnya panorama pantai. Kedua pantai ini erat kaitannya dengan sejarah kehidupan Kartini. Di sana, Kartini dan saudara-saudaranya seringkali menghabiskan waktu mereka untuk bersantai. Khusus di Pantai Bandengan, Kartini pernah melakukan pembicaraan khusus dengan salah satu pejabat Pemerintah Kolonial Belanda—Mr. Abendanon—dalam rangka pengajuan beasiswa untuk belajar ke Belanda. Namun beasiswa ini akhirnya gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mewujudkan gagasan paket wisata ini diperlukan dukungan berbagai pihak, terutama pemkab. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata misalnya, berperan menyediakan paket wisata ini dengan melengkapi berbagai fasilitas yang mendukungnya. Kemudian mempromosikan paket tersebut kepada khalayak, baik pelajar, mahasiswa, maupun masyarakat umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui paket wisata pendidikan tersebut, peserta diajarkan untuk mengenang dan meneladani jasa-jasa R.A. Kartini, serta menghargai dan mengapresiasi potensi dan budaya lokal Jepara. Pada akhirnya hal ini dapat berfungsi menumbuhkan kecintaan terhadap daerah, serta memacu tumbuhnya prestasi dan kreativitas di antara mereka.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-7096844400074785719?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/7096844400074785719/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=7096844400074785719' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/7096844400074785719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/7096844400074785719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2010/04/menggagas-wisata-jejak-jejak-kartini-di.html' title='Menggagas Wisata Jejak-Jejak Kartini di Jepara'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/S74HgDY6BMI/AAAAAAAAAMk/jaPCvfLziQo/s72-c/kartini.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-7445975081717832422</id><published>2010-04-07T08:08:00.000-07:00</published><updated>2010-04-08T08:10:03.656-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Perlindungan Mebel Ukir Jepara</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;a style="font-weight: bold;" href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/04/07/104695/Perlindungan-Mebel-Ukir-Jepara"&gt;Suara Merdeka, 07 April 2010&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sahli Rais&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BULAN ini mebel ukir Jepara akan diakui dan dilindungi secara international sebagai produk indikasi geografis (IG), yaitu sebuah produk yang karena karateristtik tertentu dapat menunjukkan asal suatu daerah akibat  faktor lingkungan geografis, berupa pengaruh lingkungan alam (ekosistem), faktor manusia (sosio kultural) atau karena pengaruh kedua-duanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, mebel ukir Jepara telah memperoleh perlindungan hukum atas nama produknya sebagai produk yang berasal dari Jepara, pengakuan atas mutu dan kekhasan produk mebel ukir Jepara serta pengakuan atas tradisi, nilai-nilai pewarisan budaya dan tata cara produksi yang dikembangkan. Karena itu, kekawatiran mebel ukir Jepara diklaim oleh negara lain sebagai produknya, tidak lagi bisa dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada era globalisasi ini sekat-sekat budaya sudah tidak terbatasi  oleh pembagian teritorial lagi, terjadi interaksi antarwilayah sedemikian dahsyat, sehingga di mana dan kapan saja kita bisa memasuki budaya orang lain. Dampaknya, terjadi persaingan yang semakin ketat pada setiap produk, baik produk yang berbasis industri manufaktur, tradisi ataupun varietas tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etika perdagangan global pun diatur dengan UU Hak Kekayaan Intelektual. Sebagai perwujudan dari komitmen bangsa kita yang telah masuk dalam perjanjian WTO, masing-masing negara yang tergabung harus melakukan ratifikasi terhadap Trade Related Aspects of Intelectual Property Rights (TRIPs). Indikasi geografis (IG) sendiri telah diakui dalam perjanjian TRIPs sejak 1994, dan masuk dalam lembaran lampiran  pendirian WTO.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, konsep tentang perlindungan hukum IG mulai diformulasikan di Prancis awal abad 20 dengan sebutan apellation of origin. IG mulai menginternational di negara Uni Eropa, dimulai pada perlindungan terhadap produk-produk terkenal di UE seperti anggur, kopi, cokelat dan produk-produk yang menunjukkan ciri identitas lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia telah melakukan ratifikasi terhadap Perlindungan Indikasi Geografis (IG) dengan dimilikinya UU Nomor 15 Tahun 2001 tentang IG dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor  51 Tahun 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlindungan hukum IG adalah  pengembangan hukum merk dalam sistem hukum Hak Kekayaan Intelektual kita, selain hak cipta, paten, rahasia dagang, desain industri, dan sirkuit terpadu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlindungan IG memiliki peranan penting dalam mewujudkan produk-produk lokal yang memiliki karateristik menjadi produk yang mampu bersaing dan bernilai tambah di pasar global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karateristik khusus baik akibat pengaruh lingkungan maupun manusia (budaya) dengan perlindungan IG bisa meningkatkan daya saing produk lokal, juga mampu menjaga identitas tersebut dalam percaturan pasar global. Karena itu, banyak negara di dunia mendorong perlindungan  ini, terutama negara-negara berkembang.&lt;br /&gt;Mebel ukir Jepara merupakan produk yang memiliki karateristik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produk ini memiliki keunikan akibat talenta yang dimiliki masyarakat secara turun- temurun dan tidak ditemukan di daerah lain. Proses pewarisan keahlian melalui sistem nyantrik merupakan tradisi dan nilai-nilai tersendiri.  Proses pewarisan keahliannya tak ditemukan dalam sistem lembaga formal seperti sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem Nyantrik Dalam sistem nyantrik seorang ahli ukir yang dipandang senior menerima murid melalui cara pengabdian dan pewarisan nilai-nilai budaya ukir ke cantrik tersebut. Kondisi sosio kultur di Jepara menyebabkan proses nyantrik dapat berkembang dan para ahli ukir kayu mampu melakukan pengembangan diri secara maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang yang telah belajar ukir terbukti akan mengalami kesulitan berkembang jika mereka berpindah (relokasi) ke daerah lain di luar Jepara, apalagi oleh orang-orang dari luar wilayah Jepara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanda kualitas khusus pada  produk mebel ukir Jepara yang disebabkan oleh manusianya, keahlian, talenta,  dan keterampilan perajin ukir Jepara, tradisi dan lingkungan sosio kultural dapat menjadi alasan diperolehnya perlindungan IG.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya diragukan karena selama ini produk yang masuk dalam sertifikasi IG cenderung produk yang berasal dari varietas tanaman, lebih pada faktor alam. Misalnya kopi kintamani bali, kopi gayo arabika aceh, lada putih muntok, kopi toraja, ubi cilembu, beras cianjur, dan lada aceh. Untuk membuktikan, tim JIPMUJ telah melakukan kajian historis dan bukti artefak tentang ukir Jepara yang dituangkan dalam buku persyaratan IG.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan lain mebel ukir Jepara mendapat perlindungan IG adalah melihat kondisi di lapangan. Data tahun 2006 menyebutkan jenis industri itu tercatat 3.870 unit dengan total tenaga kerja terserap 59.070 orang. (10)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-7445975081717832422?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/7445975081717832422/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=7445975081717832422' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/7445975081717832422'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/7445975081717832422'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2010/04/perlindungan-mebel-ukir-jepara.html' title='Perlindungan Mebel Ukir Jepara'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-5848751219010890456</id><published>2010-04-01T08:32:00.000-07:00</published><updated>2010-04-01T08:34:12.801-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Amoralitas Siswa dan Peran Sekolah</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;a style="font-weight: bold;" href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/04/01/104117/Amoralitas-Siswa-dan-Peran-Sekolah"&gt;Suara Merdeka, 01 April 2010&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;M Saifuddin Alia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SALAH satu problem besar dunia pendidikan yang harus segera ditangani dengan serius adalah perihal moralitas siswa yang kondisinya sekarang sangat memprihatinkan. Betapa tidak, nyaris setiap hari kita selalu disuguhi berita tentang amoralitas siswa, baik itu dari media cetak maupun elektronik, baik itu dilakukan oleh siswa SMP maupun SMA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bahkan yang lebih menyedihkan lagi, perilaku amoralis itu ada yang dilakukan oleh siswa SD. Baik dalam bentuk tawuran antar pelajar, pergaulan bebas, pelecehan seksual, pencurian, penipuan,  perjudian, maupun mengonsumsi narkoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, mengingat kondisi riil moralitas siswa kian hari kian mengkhawatirkan, maka optimalisasi peran sekolah untuk mengatasi  masalah tersebut menjadi keniscayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks ini, setiap sekolah diharapkan secara khusus memberi perhatian terhadap masalah amoralitas siswa itu. Misalnya, dengan menciptakan suasana sekolah lebih religius, mewajibkan setiap siswa untuk taat menjalankan perintah agama, serta menjauhi segala larangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intensifikasi bimbingan rohani siswa hendaknya juga ditingkatkan. Tentu sekolah harus bersikap tegas terhadap siswa yang terbukti melakukan perbuatan amorali. Sekolah hendaknya memberi sanksi seberat mungkin pada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini penting sekali sebab selain hal itu merupakan wujud hukuman, juga sekaligus merupakan suatu tindakan pencegahan agar siswa tidak sampai terjerumus walaupun sekali saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Optimalisasi peran sekolah ini harus mendapat dukungan penuh dari keluarga, khususnya wali murid. Keluarga sebagai wahana pendidikan pertama dan utama bagi anak dituntut mampu untuk selalu memberikan nasihat pada putra-putrinya, dan sekaligus senantiasa mengawasi pergaulan mereka.&lt;br /&gt;Keluargalah yang bisa memantau secara aktif dan memiliki waktu lebih banyak bila dibandingkan dengan pihak sekolah yang hanya bisa mengawasi siswa selama 7-8 jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Optimalisasi peran sekolah juga harus mendapat dukungan maksimal dari masyarakat. Bila ketiga komponen utama di atas bisa bekerja sama dengan padu dan saling bantu-membantu, maka dapat dipastikan proyek besar untuk membangun moralitas siswa akan tercapai. Wallahu aílam. (45)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-5848751219010890456?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/5848751219010890456/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=5848751219010890456' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/5848751219010890456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/5848751219010890456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2010/04/amoralitas-siswa-dan-peran-sekolah.html' title='Amoralitas Siswa dan Peran Sekolah'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-9088389228457997191</id><published>2010-03-20T22:20:00.000-07:00</published><updated>2010-03-26T22:24:11.323-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Pudarnya Pesona PLTN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/S62WV3uSyvI/AAAAAAAAAMc/uclb6XCeHCo/s1600/25310_1437387134310_1221953685_31289480_2079755_n.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 300px; height: 250px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/S62WV3uSyvI/AAAAAAAAAMc/uclb6XCeHCo/s320/25310_1437387134310_1221953685_31289480_2079755_n.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5453180026295077618" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;span&gt;Oleh &lt;a href="http://www.mediaindonesia.com/webtorial/klh/?ar_id=Njg1Mg=="&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Muh. Khamdan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETEGANGAN&lt;/span&gt; wacana dan aksi menyangkut pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Semenanjung Muria, Kabupaten Jepara telah menemui ujung pangkalnya. Kelanjutan pembahasan proyek "mercusuar" pengadaan energi listrik nasional tersebut akan digulirkan kembali pada 2018. Tercatat pada Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUTN) Departemen Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) yang pernah dirilis pada 2008, PLTN tidak lagi masuk dalam program prioritas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Selama ini, nuklir selalu dikampanyekan sebagai salah satu alternatif pemasok krisis energi listrik di Indonesia. Terlebih untuk mencukupi kebutuhan listrik suatu negara berpenduduk besar dengan daratan yang terbatas seperti Indonesia, diperlukan suatu sumber energi yang ramah lingkungan dan berintensitas tinggi seperti PLTN. Namun gagalnya megaproyek PLTN di Semenanjung Muria cukup menjelaskan tingkat ketegangan yang dihadapi pemerintah dengan masyarakat lokal dan pemerhati lingkungan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Persoalan ketegangan tersebut bisa dilihat dari aksi penolakan yang terakhir terjadi di Jepara melalui bentangan spanduk sepanjang 500 meter berisi tanda tangan penolakan PLTN, di Desa Balong, Kecamatan Kembang dan pengiriman surat penolakan dari masyarakat seberat hampir 40 kg. Bahkan kalangan agamawan yang dimotori NU Kabupaten Jepara telah menggelar halaqoh fiqih lingkungan yang menghasilkan fatwa haram atas pembangunan PLTN di Jepara pada September 2007 sebagai refleksi bencana energi atas Kebocoran di pusat nuklir Chernobyl, Uni Soviet, 26 April 1986. Bisa dikatakan, aksi penolakan bukan hanya isu spekulatif karena sejauh ini selalu beriringan dengan aksi kampanye yang dilakukan oleh pemerintah, bahkan terkesan konfrontatif.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Dalam langkah "pemaksaan" promosi keunggulan nuklir sebagai energi alternatif, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) telah memprovokasi masyarakat Jepara dan sekitarnya dengan memasuki ranah pendidikan formal. Dalam hal ini, program kampanye tidak sekadar mengadakan diskusi tetapi semakin massif dengan mengedarkan buku tentang nuklir berjudul "PLTN Manfaat dan Potensi Bahayanya" pada beberapa sekolah di Kabupaten Kudus, Pati, dan Jepara, secara gratis (Kompas,1/4). Hal Dengan program ini, tak lain karena Kementerian Negara Riset dan Teknologi berupaya menggiring para guru beserta murid mulai tingkat SD, SMP, hingga SMA untuk ikut mengkampanyekan PLTN.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Melihat masa sebelumnya, kampanye pemanfaatan nuklir juga telah memasuki kampung-kampung di Kabupaten Jepara. Tentu bukan tanpa sebab jika Bappeda Jepara bekerjasama dengan Kementerian Ristek, LIPI, BPPT, dan BATAN mendeklarasikan terbangunnya Kampung Teknologi, di Desa Suwawal Timur, Pakis Aji, Jepara (25/08/08). Menariknya adalah simpati dan dukungan dari banyak pihak begitu besar terhadap langkah ini seolah membenarkan begitu besarnya manfaat nuklir untuk kesejahteraan masyarakat. Setidaknya anggapan itu dibenarkan melalui aplikasi teknik nuklir berupa gauging dan lodging diperankan dalam bidang hidrologi yang dapat membantu menemukan sumber air tanah dalam di wilayah Suwawal.� Namun juga sangat dimungkinkan deklarasi Kampung Teknologi tidak dirancang secara matang sehingga tidak berkesinambungan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Upaya Pengesampingan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Hampir sama dengan isu politik pembangunan, sebagaimana lingkaran tematis Peter L Berger dalam bukunya Pyramids of sacrifice (1974), terdapat biaya-biaya manusiawi yang pada akhirnya menjadikan masyarakat sebagai korban fisik demi kemajuan dalam pemaksaan berdirinya PLTN. Untuk kepentingan pembangunan PLTN yang berkaitan dengan klaim kemajuan atas teknologi nasional, mesti diperhitungkan bentuk paling mengerikan. Cara pandang seperti ini semakin membuat banyak solusi pembangunan dengan kemungkinan resiko terkecil dengan adanya kenyataan bahwa Pulau Jawa dan wilayah Indonesia secara keseluruhan telah menjelma menjadi "Supermarket Bencana".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Semestinya respon tersebut mempunyai relevansi yang cukup praktis dengan hasil Konferensi Kelautan Dunia (World Ocean Conference) yang berlangsung di Manado pada 11-15 Mei 2009, tak kurang sekitar 146 menteri kelautan dari berbagai negara sudah mempersiapkan skenario pengelolaan kelautan dan perikanan serta keanekaragaman hayati yang berkelanjutan secara lintas sektoral. Sementara 610 pakar kelautan dari dalam dan luar negeri menjadi pembicara dalam simposium tentang ilmu pengetahuan dan teknologi yang tentunya tidak hanya semacam permainan intelektual saja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Kajian mendalam menitikberatkan pada pengoptimalan sumber energi alternatif terbarukan dari laut seperti energi gelombang, energi yang timbul akibat perbedaan suhu antara permukaan air dan dasar laut (Ocean Thermal Energy Conversion/OTEC), energi yang muncul akibat perbedaan tinggi permukaan air yang disebabkan oleh pasang surut, serta energi yang ditimbulkan oleh arus laut. Dari sejumlah sumber energi alternatif tersebut, Indonesia memiliki prospek bagus pada pengembangan energi arus laut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Analisa tersebut dapat difahami karena wilayah Indonesia terdiri dari beribu-ribu pulau yang memiliki banyak selat, sehingga arus laut mengalami percepatan saat melewati selat-selat tersebut. Di samping itu wilayah Indonesia merupakan tempat pertemuan arus laut dunia yang diakibatkan oleh pasang surut air laut yang dominan di Samudra Hindia akibat gerak Bulan Mengelilingi Bumi, dan pasang surut air laut yang dominan di Samudra Pasifik akibat kecondongan orbit Bulan saat mengelilingi Bumi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;OTEC bukan suatu teknologi yang baru karena pada 1881, Jacques Arsene d�Arsonval, seorang fisikawan asal Perancis mengajukan usulan untuk membuat pembangkit yang mengubah suhu air laut menjadi energi listrik. Usaha ini dilanjutkan oleh George Claude yang berhasil membangun reaktor OTEC pertama pada 1930.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Pada 1974, Natural Energy Laboratory of Hawaii asal Amerika Serikat membangun reaktor OTEC terbesar di dunia yang berada di pantai Koha, Hawaii. Dan secara berlanjut, negara-negara lain segera membangun hal yang sama, seperti India, Jepang, dan Perancis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Pembangkit listrik dengan sistem OTEC memang membutuhkan persyaratan khusus, namun itu hanya terkait dengan kondisi alam. Setidaknya sebuah instalasi OTEC membutuhkan lingkungan laut yang memiliki perbedaan suhu antara suhu permukaan dengan suhu kedalaman minimum 20 derajat celcius tiap 100 meter. Dan tentunya, hal demikian bukan suatu masalah bagi lautan tropis seperti Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Meskipun Indonesia memiliki kecocokan dalam pengembangan OTEC, tetapi belum didukung adanya penelitian yang baik. Maklum, pola pengembangan pemenuhan energi listrik sudah diarahkan pada pembangunan PLTN. Padahal, Jepang telah mampu membuat instalasi OTEC berkapasitas 40.000 watt, sedangkan Amerika Serikat sendiri lebih unggul mencapai 50.000 watt.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Selain sebagai pembangkit tenaga listrik, OTEC dapat juga dijadikan sebagai proses membuat air tawar dari hasil kondensasi uap air laut, penghasil sistem pendingin ruangan bagi bangunan di atas laut, sekaligus mengekstrasi mineral berharga. Selain itu, hal yang penting dari pemanfaatan OTEC adalah tidak adanya limbah yang merusak lingkungan laut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Laut yang berperan vital sebagai penyerap karbon sekaligus penghasil energi yang murah serta ramah lingkungan mesti mendapatkan perhatian kembali dari semua pihak, dan itu bisa dimulai dari daerah-daerah pesisir di seluruh Indonesia, termasuk Jepara. Maka menjadi penting untuk mengenalkan teknologi kelautan guna mengimbangi memudarnya pamor PLTN di masyarakat. Bisa jadi, pembekuan pembangunan PLTN menjadi momentum untuk menjadikan laut sebagai simbol kejayaan bangsa. (*) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-9088389228457997191?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/9088389228457997191/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=9088389228457997191' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/9088389228457997191'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/9088389228457997191'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2010/03/pudarnya-pesona-pltn.html' title='Pudarnya Pesona PLTN'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/S62WV3uSyvI/AAAAAAAAAMc/uclb6XCeHCo/s72-c/25310_1437387134310_1221953685_31289480_2079755_n.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-2591451842621319605</id><published>2010-02-27T05:24:00.000-08:00</published><updated>2010-02-28T05:27:49.347-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Mengembalikan Citra Pantai Kartini</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/S4pu9vFFenI/AAAAAAAAAMU/vGbqOytwUdg/s1600-h/untitled.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/S4pu9vFFenI/AAAAAAAAAMU/vGbqOytwUdg/s320/untitled.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5443285106519538290" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/02/27/100415/Mengembalikan-Citra-Pantai-Kartini"&gt;SUARA MERDEKA, 27 FEBRUARI 2010&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;M Saifuddin Alia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BEBERAPA&lt;/span&gt; waktu lalu penulis bersama keluarga berlibur ke tempat wisata paling populer di Jepara, yaitu Pantai Kartini. Objek wisata kebanggaan warga Jepara itu telah mengalami kemajuan pesat sehingga benar-benar menarik dikunjungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tidak mengherankan bila Pantai Kartini setiap harinya tidak pernah sepi pengunjung. Apalagi pada saat liburan hari Minggu dan hari-hari besar lainnya, pantai itu dipadati wisatawan, baik dari Jepara maupun dari kota lain, semisal dari Kudus, Demak, Pati, Rembang, Purwodadi, atau Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan pengelola objek wisata Pantai Kartini menggaet banyak pengunjung tidak terlepas dari keadaannya sekarang. Wisatawan selain dapat menikmati indahnya pantai, dapat berlayar menggunakan perahu atau kapal kecil ke Pulau Panjang dengan tarif relatif terjangkau. Juga relatif aman karena ombaknya tidak terlalu besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di Pulau Panjang, wisatawan bisa menikmati indahnya pantai pasir putih. Di sana mereka dapat melihat-lihat aneka jenis burung. Tentunya bisa sekaligus berwisata religi, yaitu berziarah ke makam salah satu waliyullah, As-Syaikh Abu Bakar bin Yahya.        &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemenarikan Pantai Kartini tidak hanya terletak pada wisata pantai atau lautnya tetapi karena objek tersebut kini telah dilengkapi dengan beraneka ragam permainan. Terutama permainan anak-anak yang terbilang cukup lengkap untuk lingkup daerah. Juga tersedia tempat yang berfungsi sebagai panggung hiburan yang cukup memadai, yang setiap hari libur tidak pernah absen menampilkan sajian grup musik dangdut  ataupun pop, baik lokal maupun nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus bagi pecinta wisata kuliner, di objek wisata pantai ini tersedia beraneka menu masakan yang lezat. Pengunjung bisa dengan mudah memilih menu kesukaannya di warung-warung yang tersedia. Soal harga, jangan khawatir karena dijamin wajar dan cukup terjangkau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kondisi seperti itu, cukup pantas bila objek wisata tersebut selalu dibanjiri  pengunjung. Namun sayang, saat berjalan-jalan menikmati indahnya Pantai Kartini, sebagian pengunjung mengungkapkan keprihatinannya. Betapa tidak? Kondisi bangunan kura-kura raksasa yang berada di tengah-tengah objek wisata yang rencananya akan dijadikan sebagai Sea World-nya Jepara itu sangat memprihatinkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pada pertengahan dan penghujung tahun 2009 mendapat desakan dan tuntutan secara bertubi-tubi dari anggota DPRD, aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM), mahasiswa, dan elemen masyarakat agar bangunan itu segera diselesaikan, faktanya hingga kini keadaannya belum mengalami perubahan. Masih tetap kotor serta terbengkalai  alias belum bisa difungsikan.&lt;br /&gt;Lebih parah lagi setiap datang hujan atap bangunan kura-kura raksasa yang tampak berdiri megah itu juga pada bocor. Siripnya terlihat retak-retak, lantainya juga mulai rusak dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggaran Perawatan Makanya dengan melihat secara langsung kondisi bangunan tersebut masih seperti itu, penulis menilai sangat wajar dan sudah sepantasnya bila pembangunan Kura-kura Raksasa yang diprakarsai Pemkab Jepara tersebut dinilai oleh sebagian masyarakat Jepara lebih banyak ruginya. Sebagai gambaran, hingga kini uang rakyat yang dipakai untuk membangun sekurang-kurangnya Rp 8 miliar. Nilai yang cukup fantastis.  Anggaran  sebanyak itu masih ditambah lagi dengan kucuran anggaran perawatan setiap tahun lewat APBD. Padahal faktanya pemasukan dari kura-kura raksasa masih nol besar, alias nihil, karena memang belum bisa difungsikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, sudah seharusnya Pemkab Jepara segera membenahi secara total. Pemkab jangan sampai  terkesan cuek dan membiarkan proyek itu terbengkalai. Apalagi sampai ada kesan di masyarakat bahwa Pemkab kurang bertanggung jawab atas aset yang pembangunannya menelan uang rakyat miliaran rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pemrakarsa, Pemkab hendaknya secepatnya membuktikan kepada rakyat, bahwa proyek tersebut bukan menghambur-hamburkan uang rakyat melainkan justru menguntungkan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang selalu diungkapkan Bupati H Hendro Martojo di berbagai kesempatan, bahwa tujuan utama dibangunnya Kura-kura Raksasa adalah sebagai Sea World-nya Jepara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan itu nantinya diharapkan dapat memberikan kontribusi positif pada masyarakat, terutama dalam bidang ekonomi dan kepariwisataan. Jadi, cukuplah jelas bahwa memang tidak ada alasan lagi untuk menunda-menunda menyelesaikan serta menyempurnakan bangunan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuannya satu yakni agar bangunan itu dapat bermanfaat dan dinikmati oleh masyarakat Jepara serta wisatawan pada umumnya. Jadi tidak ada lagi keprihatinan di Pantai Kartini. Sekali lagi untuk Pemkab, selamat bekerja keras dan selamat membuktikan kepada masyarakat dan wisatawan. (10)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-2591451842621319605?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/2591451842621319605/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=2591451842621319605' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/2591451842621319605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/2591451842621319605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2010/02/mengembalikan-citra-pantai-kartini.html' title='Mengembalikan Citra Pantai Kartini'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/S4pu9vFFenI/AAAAAAAAAMU/vGbqOytwUdg/s72-c/untitled.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-2100742539120601484</id><published>2010-02-01T20:04:00.000-08:00</published><updated>2010-02-03T20:07:33.687-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Sesama Suporter Bersaudara</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/02/01/97309/Sesama-Suporter-Bersaudara"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Suara Merdeka, 01 Februari 2010&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bagaimanakah&lt;/span&gt; seharusnya kita menyikapi insiden pecegatan dan penyerangan terhadap rombongan suporter Persijap Jepara oleh sekelompok orang yang disebut-sebut sebagai oknum kelompok suporter sepak bola di Semarang? Yang paling awal tentulah keprihatinan mendalam, karena peristiwa itu sudah memasuki wilayah kriminal ketimbang sekadar urusan dukung-mendukung tim sepak bola. Apa pun keterkaitannya dengan urusan masa lalu, kenyataannya yang terjadi pada Jumat malam lalu itu adalah tindak kejahatan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="font-family: verdana;" class="first article1"&gt;               &lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya adalah tanda tanya, apa yang sebenarnya dicari oleh kelompok penyerang itu: menghadang dan merusak bus rombongan Jepara yang akan menonton pertandingan Persijap di Jakarta? Kalau hanya dilatarbelakangi oleh dendam atas sejumlah peristiwa bentrok tahun-tahun silam, keuntungan apa yang mereka dapat kecuali hanya mudah ditandai telah melakukan tindak kejahatan penyerangan? Modus yang tampak terencana makin menumbuhkan pertanyaan: siapa aktor intelektualnya, dan apa motivasinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semarang dan Jepara adalah dua entitas sepak bola yang sama-sama memiliki pendukung fanatik. Namun realitas dalam sejarah persebaran prestasi menunjukkan, jika salah satu tim mewakili entitas lebih luas – dalam hal ini region Jawa Tengah – ke tingkat lebih tinggi, publik dua entitas itu bersatu padu sebagai pendukung. Kesadaran sebagai saudara melekat dalam komunitas provinsial. Ide mulia inilah yang mestinya digalang bersama antara para petinggi kelompok suporter, juga institusi-institusi dalam kepemimpinan formal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita selalu memahami jiwa keberpihakan yang mengendap di alam bawah sadar dalam urusan persuporteran sepak bola. Bukan hanya di Tanah Air, di banyak negara pun fanatisme bisa bergerak ke arah vandalisme dan anarkisme, yang kemudian menumbuhkan banyak analisis tentang kemungkinan sepak bola menjadi medium ekspresi bagi naluri-naluri tribalitas. Banyak kemungkinan adanya kepentingan atau ekspresi lain yang ”menumpang”, yang sebenarnya sangat jauh di luar lapangan dan urusan sepak bola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagasan dan langkah-langkah ideal mengusung persuporteran sebagai suatu gerakan entertainment dalam memberi dukungan kepada tim kesayangan, selalu berhadapan dengan politisasi ekspresi-ekspresi lain itu. Maka sepak bola pun kerap dianalogikan sebagai ”jagat kecil” yang merefleksikan apa yang tengah dihadapi suatu bangsa atau kelompok di ”jagat besar”. Fenomena suporter bandha nekat (bonek) merupakan salah satu contoh pantulan dari ekspresi publik yang menghadapi tekanan-tekanan hidup keseharian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pun latar belakangnya, secara hukum kita tidak boleh menoleransi ketika ekspresi-ekspresi itu sudah menerbitkan gangguan atau bahkan ancaman bagi keselamatan, ketertiban, dan kenyamanan hidup masyarakat. Jangan ada apologi atau justifikasi. Kita memang harus menyelesaikan banyak soal di tingkat kehidupan rakyat, namun kekerasan yang muncul sebagai bias dari dunia persuporteran tetap menjadi tanggung jawab aparat hukum. Tindakan untuk menciptakan efek jera harus konsisten kita tegakkan. &lt;/span&gt;     &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-2100742539120601484?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/2100742539120601484/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=2100742539120601484' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/2100742539120601484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/2100742539120601484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2010/02/sesama-suporter-bersaudara.html' title='Sesama Suporter Bersaudara'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-7707198201778586025</id><published>2010-01-29T18:58:00.000-08:00</published><updated>2010-01-29T18:58:00.335-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Mengusung Troso ke Sekolah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/S2JPX2_kJcI/AAAAAAAAAMM/WcM-3hxxv_4/s1600-h/sampel-keris-026.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 300px; height: 294px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/S2JPX2_kJcI/AAAAAAAAAMM/WcM-3hxxv_4/s320/sampel-keris-026.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5431991371879949762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a style="font-style: italic; font-weight: bold; font-family: verdana;" href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/01/29/97063/Mengusung-Troso-ke-Sekolah"&gt;Suara Merdeka, 29 Januari 2010&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Oleh &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;Rhobi Shani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-family:verdana;" &gt;warga Jepara, guru SMA Sultan Agung Semarang &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;" &gt;PESONA&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; warna dan motif kain tenun troso telah terbukti di jagat industri tekstil di Indonesia. Selain ukiran dan mebel, tenun troso juga menjadi andalan industri dan pariwisata Jepara. Maka sangat disayangkan jika tenun troso yang ada sejak dulu ditinggalkan masyarakat pendukungnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Fakta sekarang toko-toko pakaian jadi di Jepara tak banyak yang menjual kemeja berbahan tenun torso. Hal ini, apakah disebabkan corak dan motif yang tidak bisa mengikuti perkembangan zaman, atau jangan-jangan masyarakat memang enggan memakainya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pasalnya kemeja yang dibuat dari kain tenun torso kini identik dengan seragam. Mulai seragam kerja dinas instansi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara sampai seragam perkumpulan pengajian bapak-bapak ataupun ibu-ibu PKK di desa-desa. Nampaknya pelaku industri kain tenun troso belum membidik pasar anak-anak dan remaja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Inisiatif Pemkab Jepara menelurkan peraturan daerah (perda) yang mewajibkan pegawai  negeri ataupun swasta di instansi pemerintah harus mengenakan seragam berbahan tenun troso patut diacungi jempol.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kebijakan memakai seragam troso diberlakukan pada hari Kamis hingga Sabtu, yaitu warna biru untuk hari Kamis dan Jumat. Sedangkan hari Sabtu warna bebas, sesuai dengan selera pemakainya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Langkah tersebut harus kita sambut baik. Artinya, ketika kita mengenakan seragam tersebut dengan senang hati dan bangga. Tak perlu bersungut-sungut atau risi mengenakan seragam tenun dari Desa Troso Kecamatan Pecangan itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Minimal, kebijakan tersebut demi menjaga dan melestarikan salah satu kekayaan kesenian dan kebudayaan Jepara. Selain itu, juga meningkatkan produksi dan pasar lokal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sayang, kebijakan yang mengharuskan memakai seragam tenun troso tersebut memutus mata rantai pelestari, pecinta, dan pemakai kain tenun troso. Pasalnya yang dibidik hanya generasi tua. Kebijakan yang membidik anak-anak dan remaja belum dilahirkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Andai kebijakan mengenakan seragam troso juga diberlakukan bagi siswa sekolah tentu akan meningkatkan produksi pasar lokal. Mulai siswa pendidikan taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas tak ada salahnya jika juga diwajibkan memakai seragam tenun troso.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Jadi sejak dini anak terbiasa mengenakan seragam (pakaian) berbahan dasar kain khas Jepara itu. Maka dengan sendirinya kecintaan dan kebanggaan akan tenun troso tumbuh tanpa paksaan (tuntutan peraturan). Jadi, dalam kehidupan sosial generasi muda bangga dan percaya diri memakai baju tenun troso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Identitas Daerah Peraturan yang mewajibkan siswa memakai seragam sekolah tenun troso tak sekadar menyambung mata rantai pemakai dan pecinta tenun itu. Kewajiban itu juga bisa dijadikan identitas daerah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt; Misalnya, ketika pemkab mengikutsertakan siswa terbaiknya dalam lomba-lomba di tingkat regional ataupun nasional, duta dari Bumi Kartini mengenakan seragam khasnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tak hanya identitas daerah, corak, dan warna tentun troso yang ada saat ini juga dapat digunakan untuk membedakan jenis jenjang sekolah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Misalnya dengan mengadopsi warna seragam yang sudah ada saat ini. Warna bawahan merah untuk jenjang sekolah dasar. Warna bawahan biru untuk sekolah menengah pertama, dan warna bawahan abu-abu untuk jenjang sekolah menengah atas atau kejuruan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Jika pemkab hendak memberikan kelonggaran kepada pihak sekolah untuk menentukan warna dan motif pun masih sangat mungkin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pasalnya, keanekaragaman warna dan motif kainnya sangat bervariatif. Sekolah yang menentukan sendiri warna dan motif, dan dengan begitu pengawasan aktivitas siswa di luar sekolah bisa dengan mudah dilakukan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pengawasan pihak sekolah terhadap aktivitas siswa di luar sekolah akan sulit jika siswa mengenakan seragam baku yang sudah ada.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sebab, untuk mengetahui siswa yang dimaksud dari sekolah mana, kita harus membaca lokasi (nama sekolah-Red) yang melekat pada lengan baju seragam bagian kanan atas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Berbeda jika sekolah memiliki seragam identitas, maka tanpa harus membaca Lokasi, kita dapat mengetahui siswa tersebut dari sekolah tertentu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sekolah swasta yang memiliki identitas seragam sekolah bisa memeloporinya dengan menggunakan tenun troso untuk dijadikan seragam identitas. Selama ini warna dan motif mayoritas seragam identitas sekolah swasta ataupun negeri hampir serupa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dapat dipastikan, pasti bermotif lambang sekolah. Jika memang lambang sekolah dirasa suatu hal yang sakral sebagai penanda identitas sekolah, tidak ada salahnya jika kain tenun troso bermotif lambang sekolah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Lantas, apabila pemkab memberikan keluwesan kepada pihak sekolah untuk mengkreasi sendiri model seragam sekolah itu juga lebih bijak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dengan begitu, masing-masing sekolah tentu akan berpacu menciptakan model seragam sekolah yang modis, kreatif, tetapi tetap memegang nilai dan tatanan berpakaian. Sebab, warna, corak, dan motif sangat memungkinkan untuk dikreasi menjadi beraneka ragam bentuk mode.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kini kelangsungan dan eksistensi keberadaan tenun troso  juga tak bisa terlepas dari kebijakan pemerintah kabupaten. Peraturan daerah yang strategis turut ambil bagian demi keberadaan tenun itu pada masyarakat pemakainya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Selain itu, pemakainya harus bangga dan merasa percaya diri mengenakan hasil kerajinan daerah sendiri. Rasa memiliki dan kecintaan kita yang akan terus menghidupi keberadaan tenun troso. (10)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-7707198201778586025?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/7707198201778586025/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=7707198201778586025' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/7707198201778586025'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/7707198201778586025'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2010/01/mengusung-troso-ke-sekolah.html' title='Mengusung Troso ke Sekolah'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/S2JPX2_kJcI/AAAAAAAAAMM/WcM-3hxxv_4/s72-c/sampel-keris-026.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-5048177265786510600</id><published>2010-01-25T05:15:00.000-08:00</published><updated>2010-01-25T23:46:29.171-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Pelatihan Jurnalistik SMA dan Santri se-Jepara*</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;font-family:georgia;font-size:85%;"  &gt;Keluarga Mahasiswa Jepara Semarang (KMJS) Cabang IAIN Walisongo Semarang bekerjasama dengan Smart Institute Jepara menyelenggarakan Pelatihan Jurnalistik SMA dan Santri se-Jepara 2010 yang akan dilaksanakan pada:&lt;br /&gt;Hari           : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sabtu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tanggal     : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;06 Februari 2010&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Waktu       : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;08.00 wib - selesai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tempat     : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Aula SMAN 1 Jepara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pembicara: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Arif Darmawan (Majalah Pena, Inkom Jepara)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;                     Muhammadun Sanomae (Kabiro Suara Muria)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;                     M Saifuddin Alia (konsultan Smart Institute Jepara)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;*) Setiap peserta mendapatkan majalah Pena, Inkom Jepara secara cuma-cuma.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;INFO LANJUT&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;085226200477 &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Muhammad Shoim| ketua KMJS IAIN Walisongo)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;085640033625 &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Syaiful Mustaqim| direktur Smart Institute Jepara)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-5048177265786510600?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/5048177265786510600/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=5048177265786510600' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/5048177265786510600'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/5048177265786510600'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2010/01/pelatihan-jurnalistik-sma-dan-santri-se.html' title='Pelatihan Jurnalistik SMA dan Santri se-Jepara*'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-5583720228698745475</id><published>2010-01-18T23:35:00.000-08:00</published><updated>2010-01-25T23:44:19.686-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Meracik Pop Religi dan Dangdut Jepara</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;a style="font-style: italic; font-weight: bold;" href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/01/18/95529/Meracik-Pop-Religi-dan-Dangdut-Jepara"&gt;Suara Merdeka, 18 Januari 2010&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fathurozi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-style: italic;font-size:85%;" &gt;Ketua Komunitas Mahasiswa Kreatif (KMK), mahasiswa IAIN Walisongo Semarang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;TULISAN&lt;/span&gt; M Abdullah Badri berjudul Tren Baru Pop Religi Jepara (SM, 26/12/2009) mengambarkan pergeseran dangdut ke maulidan (perayaan hari lahir Nabi Muhammad SAW).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergeseran ini terjadi, waktu acara maulidan menghadirkan Habib Syekh bin Abdul Qodir, saat itu pengunjung beragam, dari kalangan tua, muda, anak-anak, pedagang asongan, petani, santri, sampai abangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka merasa menemukan idola baru, bahkan mereka mengikuti di manapun sang idola manggung. Pengagum fanatik musik apapun akan selalu menyempatkan waktu, menyaksikan sang idola tampil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badri melihat fenomena ini baru dari salah satu sudut pandang  yakni ketika melihat orkesan dangdut dan maulidan diadakan bersamaan oleh dua orang bertetangga dalam satu desa. Namun, jumlah penikmat dangdut tidak bisa melebihi hadirin pangajian maulidan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian semacam ini, bukan dialami masyarakat Jepara saja melainkan seluruh masyarakat Nusantara karena mengikuti maulidan bagi kalangan pengikut Nabi Muhammad SAW adalah sunah hukumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menyambut perayaan kelahiran Nabi atau bahasa modernnya ulang tahun, seluruh pengikutnya mengadakan maulidan di mushala dan masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maulidan berisi pembacaan barzanji selama 12 hari dan puncaknya syukuran atas lahirnya pemimpin reformasi, yang membebaskan umat manusia dari belenggu kaum jahiliyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beraneka ragam acara dipersiapkan seperti pengajian akbar, lomba tilawah, rebana, azan, sepeda santai, pasar murah, dan khitanan massal. Kegiatan ini sudah jadi tradisi  masyarakat Jepara dan umat Islam di belahan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jepara yang terkenal dengan sebutan Kota Ukir,  masyarakatnya gemar musik dangdut. Kelompok dangdut asal Jepara tidak asing lagi di kalangan masyarakat pantura timur Jawa Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak tahun l970-an, puluhan grup musik melayu (dangdut) bermunculan, tapi ada salah satu grup yang dikenal masyarakat, bahkan merajai Jawa Tengah, yakni Bintang Pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pada era 1990-an, grup dangdut tuan rumah mulai tersaingi oleh pendatang baru dari Demak yakni Arista.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Picu Semangat Keeksisan Arista, memicu semangat musisi Jepara melahirkan grup baru seperti Birawa, Rush, Rolysta, Relaxa, Tepos, Star Band, dan banyak lagi. Di Jepara ada sedikitnya 100 grup, besar-kecil, yang siap memanjakan pengemarnya. Grup dangdut meracik-racik musik, mengikuti tren yang berkembang di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring waktu, penyanyi asal Jepara meramaikan blantika musik Indonesia. Sebut saja kehadiran Jamal Mirdad, putra Kota Ukir, yang sukses mengusung dangdut, selain berkiprah di jalur pop dan kini sinetron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dangdut sebagai hiburan rakyat ini, jangan dipandang sebelah mata karena layak dijual di pasaran. Meskipun penontonnya dikenai tiket masuk, penikmatnya sedikit pun tak berkurang, bahkan cendurung meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dangdut sering diindetikkan dengan musik pinggiran atau masyarakat menengah ke bawah, tapi sekarang penikmatnya merambah ke masyarakat modern dan instansi pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengusaha besar pun sering memakai jasa dangdut untuk meramaikan acaranya. Band yang beraliran pop di Jepara, kurang bisa menandingi membeludaknya jumlah penonton dangdut, dan satu per satu band vakum bahkan di ambang runtuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warna musik dangdut Jepara, selalu mempunyai kreasi baru, antara lain mengaransemen ulang lagu pop ke dangdut atau dangdut koplo. Hal itu jadi ciri khas tersendiri, dan penikmatnya pun enggan bergeser dari musik asli Indonesia tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita lihat realita  di dunia entertainment, band pop mencoba merebut hati penikmat dangdut, seperti Band Ungu atau Dewa 19 yang sukarela memberikan lagunya dinyanyikan versi Trio Macan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kejayaan produk budaya Indonesia masih mempunyai tempat di hati masyarakat secara luas.  Apabila yang diungkapkan Badri itu benar adanya hal itu merupakan langkah positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jika hanya sebagai pemenuhan spiritual sesaat maka setelah mualidan selesai mereka berbalik ke warna semula yakni menjadi pengagum  dangdut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penulis, kemungkinan sangat kecil, penggemar dangdut beralih ke pop religi, karena kedua musik tersebut, mempunyai fans yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dikatakan fans dangdut adalah kalangan biasa, dan fans pop religi hampir dipastikan  orang agamis, termasuk kalangan pondok pesantren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika penulis bertanya ke beberapa teman asal Jepara, rata-rata dari mereka masih meragukan penikmat dangdut berpaling ke idola baru itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berpendapat dangdut sudah jadi  bagian hidup masyarakat setempat, semisal orang melaksanakan hajatan, jika tidak ada hiburan dangdut rasanya kurang lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beralihnya fans dangdut ke pop religi (maulid) kemungkinan  musiman (tahunan) saja yakni pada bulan Maulid. Saat bulan itu tiba, mereka ramai-ramai merayakan, karena sudah jadi tradisi turun-temurun, penggemar fanatik dangdut tetap fanatik dengan aliran musik itu. (10)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-5583720228698745475?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/5583720228698745475/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=5583720228698745475' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/5583720228698745475'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/5583720228698745475'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2010/01/meracik-pop-religi-dan-dangdut-jepara.html' title='Meracik Pop Religi dan Dangdut Jepara'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-958321013584272703</id><published>2010-01-14T23:27:00.000-08:00</published><updated>2010-01-25T23:33:51.194-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Potensi Desa Wisata Durian di Jepara</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/S16aAkVn07I/AAAAAAAAALs/NpCTO_cGMgA/s1600-h/durian_liz_callison.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 280px; height: 210px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/S16aAkVn07I/AAAAAAAAALs/NpCTO_cGMgA/s320/durian_liz_callison.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5430947535200441266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/14/13171972/Agrowisata"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kompas Jateng, 14 Januari 2010&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/a&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SEPTINA NAFIYANTI &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Petani dan Peneliti di Paradigma Institute STAIN Kudus, tinggal di Jepara&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sejak&lt;/span&gt; dulu, Jepara terkenal dengan durian bervarietas tinggi. Sebut saja durian petruk yang terkenal manis dan legit, serta daging buahnya yang sangat tebal. Terakhir, tiga varietas baru yaitu sutriman, subandi, dan sukarman juga diakui secara nasional melalui lomba durian oleh Kementerian Pertanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat potensi Jepara dengan varietas unggul buah durian itu, saya jadi mengingat kebun apel Kusuma Agrowisata di Kota Batu, Malang, Jawa Timur. Rasa-rasanya tidak salah jika pemerintah kabupaten mau membuat konsep desa wisata durian di Jepara. Terlebih, area untuk pengembangan desa wisata durian sudah ada. Di Kecamatan Pakis Aji ada lahan seluas 50 hektar yang ditanami durian petruk dan mulai dikembangkan sejak lima tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep desa wisata durian otomatis bisa semakin mengenalkan keunggulan durian-durian asal Jepara. Varietas-varietas durian unggul asal Jepara juga akan semakin dikenal, bukan hanya durian petruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep desa wisata durian juga bisa merangsang perekonomian di Jepara. Petani di sekitar desa pariwisata bisa diarahkan untuk budidaya tanaman durian. Masyarakat sekitar juga bakal terkena imbasnya dengan menciptakan iklim pariwisata. Sebab, setiap tempat wisata tentu memberikan peluang usaha untuk masyarakat sekitar, seperti berdagang, parkir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan desa wisata durian, masyarakat dari berbagai kota bisa langsung menuju ke lokasi. Bahkan, tidak hanya untuk membeli durian, akan tetapi juga bisa menikmati suasana kampung dengan ciri khas masayarakat sekitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu cara untuk mendongkrak perekonomian melalui budidaya durian adalah membuat durian berbuah lebih dari satu kali dalam setahun atau dengan membuat durian berbuah tidak pada musimnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-958321013584272703?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/958321013584272703/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=958321013584272703' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/958321013584272703'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/958321013584272703'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2010/01/potensi-desa-wisata-durian-di-jepara.html' title='Potensi Desa Wisata Durian di Jepara'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/S16aAkVn07I/AAAAAAAAALs/NpCTO_cGMgA/s72-c/durian_liz_callison.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-8139892379952614812</id><published>2010-01-11T23:58:00.000-08:00</published><updated>2010-01-26T00:02:44.904-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Pelajaran Catur</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/S16hcI2w2mI/AAAAAAAAAME/-EJAkurSB40/s1600-h/catur.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 213px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/S16hcI2w2mI/AAAAAAAAAME/-EJAkurSB40/s320/catur.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5430955705440983650" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;a style="font-style: italic; font-weight: bold;" href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2010/01/11/94565/Pelajaran-Catur-"&gt;Suara Merdeka, 11 Januari 2010&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Yusuf Afandi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;guru SD N 4 Bategede, Nalumsari, Jepara&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SEJAK&lt;/span&gt; 2006, olah raga catur secara resmi masuk dalam salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan di Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) dan Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas). Kenyataan ini tentu sangat menggembirakan, namun ada hal aneh yang mungkin luput dari perhatian pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kenyataannya olahraga catur belum dimasukkan dalam kurikulum resmi sekolah formal. Bahkan, di lembaga pendidikan tinggi pencetak guru olahraga (FPOK), tidak ada mata kuliah khusus yang memelajari catur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal di beberapa negara, seperti Amerika Serikat, Kanada, Jerman, Rusia, Zaire, dan yang kemudian menyusul belakangan adalah Jepang, sudah lama memasukkan catur dalam kurikulum pendidikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan catur dimasukkan dalam kurikulum sekolah bukanlah semata-mata untuk mencetak atlet dan meraih prestasi catur, tapi lebih dari itu. Di balik permainan catur terkandung nilai-nilai positif yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antaranya belajar menganalisis dan memecahkan masalah, belajar mengambil keputusan yang konsisten, meningkatkan kecerdasan dan daya ingat, meningkatkan kepercayaan diri, melatih disiplin, mengasah logika, belajar menerima kemenangan dan kekalahan (sportif), belajar merencanakan, mengatur strategi, dan mempunyai visi ke depan untuk mencapai tujuan.&lt;br /&gt;Luar Sekolah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, di Indonesia, catur dipelajari anak-anak di luar pelajaran sekolah. Mereka belajar bermain catur dari teman, tetangga, kakak dan orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa anak juga ada yang dimasukkan ke klub catur atau sekolah catur dengan tujuan utama untuk meraih prestasi yang baik dalam pertandingan catur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan itu menggambarkan tidak semua anak mendapat kesempatan yang sama dalam belajar dan bermain catur. Jadi, pada akhirnya tidak semua anak bisa bermain catur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain halnya, jika olahraga catur dimasukkan dalam kurikulum sekolah, hampir dipastikan semua anak bisa bermain catur dan bisa mendapatkan manfaat positif dari olahraga tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu kita ingat, bermain catur bukan sekadar untuk menyalurkan hobi dan mendapatkan prestasi, tapi lebih dari itu bisa membentuk anak menjadi pribadi yang lebih unggul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat nilai-nilai positif yang terkandung dalam permainan catur, sudah saatnya pemerintah untuk segera memasukkan cabang olahraga ini dalam kurikulum yang wajib diajarkan di sekolah-sekolah formal di seluruh Indonesia. Semoga! (45)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-8139892379952614812?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/8139892379952614812/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=8139892379952614812' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/8139892379952614812'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/8139892379952614812'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2010/01/pelajaran-catur.html' title='Pelajaran Catur'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/S16hcI2w2mI/AAAAAAAAAME/-EJAkurSB40/s72-c/catur.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-8159685194296196522</id><published>2009-12-30T23:47:00.000-08:00</published><updated>2010-01-25T23:51:48.865-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Merenungi Kasus Rapor di Jepara</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/S16e28VDJBI/AAAAAAAAAL0/-23zmvxCLnc/s1600-h/gb122.gif.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 310px; height: 208px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/S16e28VDJBI/AAAAAAAAAL0/-23zmvxCLnc/s320/gb122.gif.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5430952867399934994" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;a style="font-style: italic; font-weight: bold;" href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/12/30/93272/Merenungi-Kasus-Rapor-di-Jepara"&gt;Suara Merdeka, 30 Desember 2009&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ironi&lt;/span&gt; dalam dunia pendidikan kita muncul lagi. Jargon pendidikan gratis yang disampaikan oleh sejumlah kepala daerah sering tidak paralel dengan realitas di lapangan. Bahkan, hanya karena masih menunggak uang gedung sebesar Rp 50 ribu — dari jumlah Rp 300 ribu — , seorang siswi di sebuah SMP negeri di Jepara tidak diperkenankan untuk mengambil rapor. Tragisnya, siswi putri seorang buruh mebeler tersebut merasa tertekan dan frustrasi, lalu sempat mencoba bunuh diri. Bagaimana seharusnya kita menyikapi kasus itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala sekolah yang menerapkan peraturan tentang uang gedung dan persyaratan dalam pengambilan rapor, boleh jadi tidak membayangkan akibat sefatal itu bagi siswinya. Tetapi itulah ekses, tekanan-tekanan psikologis yang mungkin tak terperhitungkan ketika segala sesuatu sudah diukur dari uang. Apalagi sebenarnya terdapat peraturan mengenai dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) bagi pendidikan dasar baik SD maupun SMP. Peraturan Bupati Jepara 2009 tentang Pendidikan juga menjabarkan kebijakan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita menilai wajar jika kemudian muncul kecaman dan pendapat dari berbagai kalangan pendidikan di Jepara. Bagaimanapun, kasus tersebut merupakan sebuah pelajaran yang sangat pahit. Apakah otoritas sekolah tidak memiliki jalan keluar dengan nalar yang ”out of the box”, yakni dengan melewati sekat-sekat yang sekadar normatif, untuk memberi keniscayaan bagi si siswi agar tetap bisa mengambil rapornya? Padahal bukankah rapor merupakan hak mengetahui hasil pembelajarannya selama satu semester?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara tersirat dan tersurat, realitas di tingkat lapangan pun terbentang. Uang sebesar Rp 50 ribu ternyata bukan jumlah yang mudah bagi kalangan tertentu. Sebaliknya, bisa menjadi jumlah sangat tak berarti bagi yang lain. Namun ketika jumlah yang kecil itu bisa menimbulkan akibat tak terduga, terutama terkait dengan hak atas akses pendidikan, maka kiranya kita perlu menyikapinya secara hati-hati dan sangat bijak. Dana BOS sebenarnya merupakan bagian dari jalan keluar, sehingga pengefektifannya perlu didorong dan dikawal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plus-minus larangan pemungutan iuran pendidikan tentu saja ada. Apakah berupa pengaruh terhadap mobilitas operasional dan mutu proses pembelajaran, atau mungkin pengaruh-pengaruh yang lain. Tetapi kapan kita melangkah ke realisasi pemaksimalan hak atas akses pendidikan bagi seluruh warga negara, jika penerapan pungutan untuk item-item tertentu tetap diperkenankan, yang bahkan pernah berlangsung secara tidak terkendali? Bisa disimpulkan sendiri, apakah kasus rapor di Jepara merupakan akibat atau bukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita hanya berharap, ”geger rapor” itu tidak akan menyulut sikap negatif pihak sekolah terhadap siswi tersebut. Struktur lembaga pendidikan di Jepara, juga lembaga-lembaga ”pengawas” di tingkat masyarakat harus ikut mengawal agar sorotan yang muncul ke sekolah tidak menyebabkan si siswi yang kemudian dirugikan. Dibutuhkan dialog terbuka, lalu langkah-langkah untuk menyikapi kasus tersebut agar tidak menjadi preseden, di mana pun. Bukan tidak mungkin, model-model sikap serupa juga masih ada di sekolah yang lain.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-8159685194296196522?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/8159685194296196522/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=8159685194296196522' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/8159685194296196522'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/8159685194296196522'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/12/merenungi-kasus-rapor-di-jepara.html' title='Merenungi Kasus Rapor di Jepara'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/S16e28VDJBI/AAAAAAAAAL0/-23zmvxCLnc/s72-c/gb122.gif.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-5316275850356739041</id><published>2009-12-29T23:54:00.000-08:00</published><updated>2010-01-25T23:58:41.076-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Optimalisasi Peran Blog Sekolah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/S16gaWiMP2I/AAAAAAAAAL8/1-2RSLjwH5Q/s1600-h/blogger-small.png"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 228px; height: 226px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/S16gaWiMP2I/AAAAAAAAAL8/1-2RSLjwH5Q/s320/blogger-small.png" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5430954575241428834" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/12/29/93105/Optimalisasi-Peran-Blog-Sekolah-"&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Suara Merdeka, 29 Desember 2009&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Syaiful Mustaqim &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;pengelola blog aktif di Smart Institute Jepara &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DI&lt;/span&gt; Kabupaten Jepara ada dua blog sekolah (madrasah)  yang menurut hemat penulis memiliki nilai lebih. Selain tampilannya menarik, admin (pengelola) senantiasa memperbarui isinya, yakni blog milik Madrasah Aliyah (MA) Walisongo Pecangaan, pengelola kadang menuliskan reportase (berita) tentang kegiatan sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satunya lagi, blog yang dikelola oleh sivitas akademika Madrasah Aliyah (MA) Matholi’ul Huda Troso Pengelola secara keseluruhan menuliskan berita kegiatan sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat perbedaan yang mencolok antara keduanya, sebagian besar berita yang di-posting di blog Walisongo merupakan kliping media (berita yang dipublikasikan di media), adapun blog Matholi’ul Huda pemberitaan murni dari pengelola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya kedua blog tersebut hanya dikelola oleh seorang, artinya penulis berita, artikel, esai, ataupun kolom hanya ditulis seorang ataupun  sekadar mengunduh berita sekolah yang telah dipublikasikan di media. Selebihnya, hanya mengambil artikel di web-web.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dari sekolah lain, blog malah belum dikelola sebagaimana mestinya. Hanya memuat profil dan kurikulum, sementara mengenai kegiatan sekolah tidak dipublikasikan di media online tersebut. Ada pula yang hanya memiliki alamat blog sehingga boleh dikata sebagai ajang coba-coba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, di era teknologi informasi seperti saat ini masih banyak sekolah (madrasah) yang belum memiliki media online tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blog sekolah memang dikelola seorang pengelola. Tetapi seluruh elemen yang ada di lembaga pendidikan semestinya berpartisipasi mengoptimalkan peran blog itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibutuhkan kerja sama antara pengelola, siswa dan guru. Pengurus OSIS ataupun seluruh kegiatan ekstrakulikuler di sekolah berkewajiban mewartakan hasil kegiatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa saja siswa menuliskan karya-karyanya sesuai dengan kemampuan masing-masing sehingga guru bisa memonitoring siswa-siswinya yang memiliki bakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru pun demikian, perlu menuliskan karyanya sesuai dengan disiplin keilmuannya. Misalnya artikel tentang pendidikan, hukum, sosial, ekonomi, agama, sastra, budaya, seni dan sebagainya.&lt;br /&gt;Mempermudah Melalui kerja sama tersebut nantinya seluruh elemen yang ada di sekolah ikut berperan sehingga hal itu akan mempermudah kerja pengelola. Artinya, berbagai tulisan dikirimkan oleh guru, siswa, serta khalayak umum, sementara pengelola hanya mem-posting dan menata perwajahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media berfungsi untuk menginformasikan kepada pembaca. Semisal media cetak, di kalangan sekolah bisa berupa buletin, tabloid, ataupun majalah yang juga berperan menginformasikan kepada seluruh elemen sekolah atau  masyarakat umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media elektronik pun demikian. Sementara media online, selain mempunyai peran yang sama keberadaannya bisa diakses oleh seluruh dunia. Hal itulah keuntungan lebih yang dimiliki oleh media online.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping sebagai media informasi, blog sekolah dapat dijadikan wadah untuk berekspresi dan berkreasi seluruh elemen sekolah. Sehingga antara sekolah satu dan yang lain memiliki ciri khas tersendiri, baik dari karya yang dimuat, pemikiran yang disampaikan, maupun kritik yang dilontarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nantinya ciri khas tersebut yang akan membedakan daya intelektual dan kecenderungan arah berpikir sivitas akademika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis menyayangkan apabila terdapat blog sekolah yang hanya berisi profil, guru, dan kurikulum, serta tidak meng-up date-nya dengan posting-an terbaru, hanya memiliki alamat blog saja ataupun beberapa sekolah di Jepara hingga kini belum memiliki media online.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal jika dikelola dengan baik secara tidak langsung akan mempromosikan sekolah kepada khalayak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media promosi yang penulis maksud tidak hanya berisi profil dan foto guru saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalayak akan lebih tertarik jika sekolah aktif (melakukan kegiatan ataupun berprestasi). Keaktifan itu dipublikasikan dalam blog yang dikelola sekolah. Hal itu memungkinkan tidak hanya penduduk sekitar saja yang akan memasuki sekolah tetapi daerah lain pun tertarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, optimalisasi peran blog sekolah di Jepara masih sangat minim padahal fungsinya sangat banyak hal itu dipengaruhi minimnya tradisi menulis serta belum maksimalnya sosialisasi pentingnya blog bagi masyarakat (sekolah) yang mengakibatkan masyarakat enggan untuk mengelolanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seyogianya, pemerintah kabupaten bekerja sama dengan lembaga pendidikan untuk menyosialisasikan pentingnya blog di sekolah. Kemudian, diperlukan monitoring (pengawasan) kepada sekolah-sekolah agar blog itu dikelola secara terus menerus. (10)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-5316275850356739041?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/5316275850356739041/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=5316275850356739041' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/5316275850356739041'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/5316275850356739041'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/12/optimalisasi-peran-blog-sekolah.html' title='Optimalisasi Peran Blog Sekolah'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/S16gaWiMP2I/AAAAAAAAAL8/1-2RSLjwH5Q/s72-c/blogger-small.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-922834000544821614</id><published>2009-12-26T23:52:00.000-08:00</published><updated>2010-01-25T23:54:13.334-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Tren Baru Pop Religi Jepara</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/12/26/92796/Tren-Baru-Pop-Religi-Jepara"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Suara Merdeka, 26 Desember 2009&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;M Abdullah Badri &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;peneliti budaya di Idea Studies Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SELAMA&lt;/span&gt; ini, masyarakat Jepara dikenal sebagai warga yang memiliki minat relatif tinggi terhadap musik dangdut. Hampir setiap malam, jika mau melakukan safari ke pelosok dan sudut desa di Kota Ukir itu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda tidak akan kesulitan menemukan pergelaran orkes dangdut utuh atau organ tunggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi ketika banyak warga sedang melangsungkan gawe besar keluarga, semacam nikahan dan sunatan. Bahkan untuk tasyakuran haji atau umrah, tidak jarang dirayakan dengan dangdutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tontonan gratis itu membuat masyarakat berdatangan, berdesak-desakan menikmati musik khas Indonesia itu, ngibing (bergoyang) bareng, yang seringkali memicu timbulnya kekerasan antarpenonton. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, ada banyak polisi diterjunkan untuk mengondisikan penonton orkes. Dangdutan memang hiburan, namun juga berarti ancaman keamanan dan ketertiban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratusan atau bahkan mencapai angka ribuan manusia yang hadir di arena jika tidak dikondisikan sedemikian rupa oleh aparat, bukan tidak mungkin, dan bahkan sering, menimbulkan kekacauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang euforia dangdut di Jepara telah digeser oleh keriuhan lain yang barangkali dianggap lebih positif, yakni maulidan (perayaan hari lahir Nabi Muhammad SAW). Beberapa bulan terakhir, hampir setiap malam ada perhelatan acara maulidan di mana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti memiliki idola, ketika tokoh agama itu membacakan teks maulid Nabi dalam acara tersebut, orang ber-bondong-bondong menyimak suara merdu yang dilantunkan olehnya serta nasihat-nasihatnya, baik yang berkaitan dengan problem agama maupun sosial humaniora. Habib Syekh bin Abdul Qodir. Ya, itulah nama idola baru masyarakat Jepara belakangan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang sebelumnya tidak pernah mengikuti kegiatan keagamaan, mengikuti arus baru itu, menghadiri acara tersebut. Sekadar melepaskan rasa penasaran atau memang ia ingin menjadi aktor yang terlibat langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hanya warga sekitar yang hadir, orang luar kota juga tidak jarang mengikuti ke mana pun sang idola manggung. Penggemarnya juga berasal dari berbagai kalangan. Tua, muda, anak-anak, pedagang asongan, petani, santri, abangan, semua mengikuti syair arab yang dilantunkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hafal Seperti sebuah konser musik populer, hampir semua penonton bisa mengikuti syair-syair atau nyanyian lagu pujian kepada Nabi Muhammad yang dibawakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan saking seringnya mengikuti acara yang sama, ada yang hafal kumpulan syair yang tersusun hingga puluhan halaman itu, di luar kepala. Kumpulan syair pujian tersebut bernama Simtud Duror, karya Habib Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsy, pujangga kelahiran Hadramaut, Yaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik adalah euforia praktik keagamaan itu ternyata menyedot ribuan hadirin. Pernah suatu ketika dalam malam yang sama di desa yang sama, orkesan dangdut dan maulidan diadakan bersamaan oleh dua orang bertetangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kuantitas penikmat dangdut ternyata tidak bisa melebihi tumpahnya hadirin yang mengikuti pangajian maulidan itu, mengikuti idola baru itu. Orang lebih memilih menghadiri pengajian daripada dangdutan. Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali ada dua hal menarik sebagai penggambaran karakter sosial dan kultur budaya masyarakat Jepara. Pertama, ketertarikan masyarakat terhadap acara keagamaan seperti maulidan adalah karena mayoritas penduduknya masih memegang teguh nilai dan tradisi yang sudah berlaku sejak lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, mereka merindukan suasana baru yang lebih aman daripada dangdutan yang kadang melahirkan kecemasan pribadi dan sosial, namun masih dalam suasana yang menghibur serta menyajikan nilai tambah dalam peningkatan pengetahuan dan spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara maulidan itu bukan hanya membacakan dan melantunkan bait menjadi lagu merdu, namun juga ada keterangan tambahan dari pembicara, idola baru itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, dalam kesempatan tertentu, disediakan waktu khusus kepada hadirin untuk memberikan pertanyaan kepada pembicara itu. Hal yang tidak didapati dalam pertunjukan orkes dangdut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengikuti acara itu, orang akan lebih dekat dengan teks sejarah kehidupan dan perjuangan Nabi Muhammad. Namun jika dilihat secara substansial, acara yang mulanya dimaksudkan untuk tujuan dakwah menjadi seperti pertunjukkan konser musik band, yang semata untuk mencari hiburan dan keriuhan sensasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tidak, tutur kata yang dilontarkan tidak lebih banyak daripada syair arab yang dilagukan dengan iringan rebana itu. Hiburan bukan iringan, tapi menjelma tujuan.  (10)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-922834000544821614?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/922834000544821614/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=922834000544821614' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/922834000544821614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/922834000544821614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/12/tren-baru-pop-religi-jepara.html' title='Tren Baru Pop Religi Jepara'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-7290952924732638671</id><published>2009-11-26T05:13:00.000-08:00</published><updated>2009-11-27T05:17:08.012-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Kurban dan Komunikasi</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Sumber: &lt;a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/11/26/89601/Kurban.dan.Komunikasi"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Suara Merdeka, 26 November 2009&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Akhmad Efendi SPdI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;guru di Madrasah Aliyah Wahid Hasyim Bangsri Jepara       &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;BEGITU&lt;/span&gt; banyak pesan yang terkandung dalam peristiwa kurban. Makna yang sering muncul dalam momentum peringatan Idul Adha adalah agar setiap manusia berusaha menghilangkan ego dan membunuh sifat-sifat kebinatangannya. Sifat-sifat negatif itu lantas diganti dengan keinginan untuk mendekat diri kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisan ini, saya mencoba memberi makna lain dalam peristiwa penyembelihan yang dilakukan Nabi Ibrahim atas perintah Allah terhadap putranya, Nabi Ismail, yang kemudian diganti dengan domba dari surga.&lt;br /&gt;Nilai penting yang juga terkandung dalam kisah itu adalah ajakan yang sangat jelas untuk mengedepankan proses komunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibrahim yang berposisi sebagai seorang bapak tidak bertindak otoriter dalam memberi instruksi terhadap anaknya Ismail meski mendapat perintah dari Allah. Ibrahim justru mengajak diskusi Ismail dalam artian meminta pendapat tentang mimpi yang dialaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses komunikasi harmonis yang terjalin dalam hubungan bapak-anak itu sejatinya juga menjadi pesan yang tidak kalah penting. Dalam peristiwa itu, yang dikedepankan adalah sikap saling legawa untuk menerima peran masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah gonjang-ganjing nasional mulai dari peristiwa bencana, kecelakaan, hingga kasus korupsi, masyarakat kita semestinya tetap menjaga jalinan komunikasi agar bangsa ini tidak makin terpuruk. Saling bertukar pendapat agar sikap apatis terhadap bangsa tidak semakin parah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih dalam dunia pendidikan yang juga sedang dilanda banyak isu. Rencana pengubahan format pelaksanaan Ujian Nasional (UN) yang digulirkan Mendiknas Muhammad Nuh jelas sangat memerlukan sosialisasi dan komunikasi dengan banyak pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rasional&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berkaca pada kisah Ibrahim, meski mendapat banyak kritikan, Mendiknas harus bisa membangun komunikasi dengan penjelasan yang rasional terkait rencana-rencana pembenahan pedidikan nasional. Hal itu diperlukan sebagai rangkaian proses tesis, antitesis, dan sintesis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ranah praksis, masih bermunculan kasus-kasus kekerasan oknum guru terhadap murid dalam proses belajar mengajar. Hal itu terjadi dikarenakan buntunya komunikasi antara guru dengan murid. Hasilnya, relasi yang terbangun tidak untuk bekerja sama meraih hasil belajar yang baik, tetapi keinginan saling menaklukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini perlu diperhatikan para guru agar tidak menjadikannya sebagai cara berpikir. Perlu diingat kembali proses belajar mengajar adalah sebuah sistem yang termasuk di dalamnya adalah guru, murid, dan metode yang membutuhkan kerja sama harmonis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga dalam momentum peringatan Idul Adha ini, seluruh elemen bangsa semakin cerdas dalam berkomunikasi. Sehingga kasus-kasus kekerasan yang banyak terjadi semakin mengecil. (45)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-7290952924732638671?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/7290952924732638671/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=7290952924732638671' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/7290952924732638671'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/7290952924732638671'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/11/kurban-dan-komunikasi.html' title='Kurban dan Komunikasi'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-8863807991260539932</id><published>2009-11-09T05:18:00.000-08:00</published><updated>2009-11-27T05:21:19.006-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Guru Profesional, Bukan Tawaran</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Sumber: &lt;a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/11/09/87306/Guru.Profesional..Bukan.Tawaran"&gt;Suara Merdeka, 09 November 2009&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;M Saifuddin Alia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;guru MTs Negeri Wirosari Grobogan dan Madrasah Aliyah Ismailiyyah Jepara       &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;TULISAN&lt;/span&gt; Agus Wibowo, ”Menjadi Guru Profesional” (Suara Merdeka, 12/10) menarik dikajirenungkan. Khususnya, bagi guru yang telah menerima tunjangan profesi. Apalagi pemberlakuan PP Nomor 41 Tahun 2009 berupa realisasi tunjangan guru ke depan selalu melekat pada gaji setiap bulan (Suara Merdeka, 21/10). Jadi sepantasnyalah bila mereka tergugah oleh tulisan Agus Wibowo tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti tulisan itu, secara keseluruhan, menuntut para guru yang telah menerima peningkatan kesejahteraan berupa berbagai tunjangan, terutama tunjangan profesi, bisa berlaku secara profesional. Itu berarti mereka mampu menjadi pendidik profesional. Nah, pertanyaannya sekarang, sudahkah mereka menjadi guru profesional?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila jawabannya sudah, mereka wajib mempertahankan dan meningkatkan. Namun bila jawabannya belum, mereka sepaturnya berjuang untuk secepatnya menjadi guru profesional. Mengingat, menjadi guru profesional saat ini bukanlah tawaran, melainkan suatu keniscayaan atau kewajiban bagi setiap pendidik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, menurut pendapat Langeveld, guru hanyalah salah satu dari lima komponen penting dalam pendidikan. Namun jika dilihat dari realitas saat ini, guru mempunyai posisi paling vital di antara komponen-komponen lain dalam pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, guru merupakan penentu pola dan warna komponen lain. Maka tak berlebihan jika dalam budaya masyarakat Jawa dikenal istilah guru kuwi sumur kang lumaku tinimba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun harapan masyarakat sekarang terhadap guru masih sangat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena, masyarakat yakin hanya di tangan gurulah, harapan untuk membangun generasi penerus yang lebih berkualitas dapat terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan masyarakat terhadap guru itu tidaklah berlebihan, mengingat guru hakikatnya adalah orang yang paling bertanggung jawab dalam mencerdaskan kehidupan anak didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, mengingat tugas, tanggung jawab, serta peran guru begitu besar, setiap guru dituntut selalu profesional dalam melaksanakan tugas kependidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, untuk dapat dikatakan profesional, setidak-tidaknya seorang guru harus memiliki kemampuan dasar yang sering disebut kompetensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, guru mesti mampu menguasai landasan kependidikan. Kedua, menguasai bahan bidang studi dalam kurikulum sekolah dan menguasai bahan pendalaman bidang studi. Ketiga, mampu memanfaatkan sumber dan media belajar. Keempat, mampu mengorganisasikan materi dan program belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, menguasai serta mampu memilih dan melaksanakan metode pembelajaran yang tepat untuk mata pelajaran tertentu. Keenam, mampu mengelola kelas dan interaksi belajar-mengajar. Ketujuh, mampu mengetahui dan menggunakan assessment siswa. Kedelapan, mampu mengenal fungsi program bimbingan konseling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesembilan, mampu mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah dengan baik. Kesepuluh, mampu memahami hasil-hasil penelitian pendidikan untuk keperluan pengajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, itulah minimal kompetensi profesional yang harus dimiliki setiap guru. Bila seluruh guru di Tanah Air, terutama guru yang telah memperoleh tunjangan profesi, mempunyai kompetensi tersebut, niscaya mutu pendidikan ke depan akan makin baik. (53)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-8863807991260539932?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/8863807991260539932/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=8863807991260539932' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/8863807991260539932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/8863807991260539932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/11/guru-profesional-bukan-tawaran.html' title='Guru Profesional, Bukan Tawaran'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-5835300765153654997</id><published>2009-11-02T18:11:00.000-08:00</published><updated>2009-11-05T18:15:29.211-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Penyelamatan Pulau Panjang Jepara</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Sumber: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Suara Merdeka, 02 Nopember 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Muh Khamdan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;pemerhati kajian pembangunan dan fungsional widyaiswara di BPSDM Depkumham RI &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pengakuan&lt;/span&gt; Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislutkan) Kabupaten Jepara Achid Setiawan mengenai kerusakan pesisir pantai Jepara dan beberapa pulau sungguh memprihatinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal demikian setidaknya memiliki korelasi dengan hasil penelitian Sri Puryono Karto Soedomo bahwa hampir keseluruhan hutan mangrove di pantura dalam kondisi rusak; sekitar 96,95 persen yang tentunya meliputi wilayah Tegal, Kendal, Semarang, Demak, Jepara, Pati, sampai pada Rembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rusaknya pesona kealamian hutan mangrove seiring dengan krisis lingkungan secara global yang meningkatkan kualitas pemanasan global menjadi dentum ancaman menyusutnya luas daratan secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih melemahnya kualitas lingkungan pesisir Jepara yang ditandai ancaman abrasi telah menghapus beberapa wilayah daratan Desa Bulak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerusakan yang terjadi dulu dan sekarang ini memang tidak disebabkan oleh satu faktor berupa alih fungsi lahan, begitu banyak faktor yang membuat proses abrasi semakin akut, yaitu hilang atau ketiadaan hutan mangrove sebagai vegetasi hijau asli pesisir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan sekarang apa yang harus dilakukan? Tidak bisa lain pemerintah daerah (Pemda) dalam lintasan jalur Pantai Utara, termasuk Kabupaten Jepara harus membuat gerakan bersama berupa Mangrove Center. Sebuah gerakan lintas sektoral yang berfungsi untuk membudidayakan ragam jenis mangrove yang sesuai dengan kondisi pesisir yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Mangrove Center juga memiliki fungsi untuk melakukan pengawasan terhadap pengelolaan lingkungan pesisir dan pulau-pulau kecil secara holistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, menjaga agar kebijakan pembangunan yang menitikberatkan pertumbuhan ekonomi tidak bertentangan dengan prinsip pelestarian lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah demikian karena memahami bahwa terjadi siklus alam yang saling berpengaruh. Vegetasi pesisir berupa mangrove dalam aspek biologinya merupakan tempat berpijahnya udang, ikan, dan kepiting. Adapun untuk aspek kimiawinya mampu menyerap polutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, jika mangrove gundul maka polutan dari udara maupun daerah hulu tidak bisa lagi dinetralisasi karena ketiadaan fungsi hutan yang menghasilkan oksigen dan menyerap CO2 serta polutan-polutan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih hutan mangrove adalah tameng untuk memecah sekaligus penahan gelombang laut yang besar karena selama ini infrastruktur fisik seperti breakwater dari beton yang menelan dana ratusan miliar, bahkan triliunan rupiah tidak mampu menekan laju abrasi kawasan pesisir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, yang perlu dilakukan sebagai tindak lanjut adalah mengintegrasikan ekonomi ke dalam lingkungan. Untuk menjamin pembangunan berwawasan lingkungan tersebut, terdapat tiga dimensi penting yang harus dipertimbangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, dimensi ekonomi yang menghubungkan antara pengaruh-pengaruh unsur makroekonomi dan mikroekonomi pada lingkungan dan bagaimana sumber daya alam diperlakukan dalam analisis ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, dimensi politik yang mencakup proses politik yang menentukan penampilan pembangunan, pertumbuhan penduduk, dan degradasi lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, dimensi sosial budaya yang mengaitkan antara tradisi atau sejarah dengan dominasi teknologi, pola pemikiran, dan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu masalah besar dalam orientasi pembangunan yang berlangsung selama ini adalah adanya kebiasan terhadap kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat-masyarakat pesisir tersingkir dengan lingkungan huniannya sendiri karena adanya perumahan atau hotel di kawasan pantai dengan slogan ’’kota di desa’’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan ada semacam kesengajaan dengan berdirinya kawasan industri atau pabrik olahan di sepanjang pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah pantai harus diperuntukkan bagi ruang publik berupa rekreasi pantai, taman, dan hutan pantai, baik sebagai cagar alam maupun hutan wisata agar tidak tereksploitasi secara massif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena setelah diberlakukannya UU Nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah justru terjadi percepatan eksploitasi sumber daya alam secara besar-besaran yang akhirnya meninggalkan prinsip-prinsip keselamatan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jackson melalui bukunya Crabgrass Frontier (1985) memaparkan adanya tren masyarakat modern melakukan perpindahan dari pusat kota menuju pinggir kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka pernyataan Jackson yang lebih dari dua puluh tahun tersebut menjadi pembenaran ketika sekarang usaha properti bangkit dengan menawarkan surga hunian secara besar-besaran melalui ekspansi daerah pinggiran kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ironisnya itu menjorok menuju kawasan pesisir pantai karena keindahan. Argumentasi penghematan lahan perkotaan yang kian menyempit serta mengurangi masalah psikologis masyarakat perkotaan dan gaya hidup back to village justru mengancam kawasan vegetasi alam pesisir berupa hutan mangrove.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergumulan dari perebutan wacana tersebut adalah amanat eksplisit bahwa lingkungan menjadi bagian dari Hak Asasi Manusia, pasal 28 Bab XA UUD 1945 tentang HAM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana lingkaran tematis Peter L Berger dalam Pyramids of Sacrifice (1974), terdapat biaya-biaya manusiawi yang pada akhirnya menjadikan masyarakat sebagai korban fisik demi kemajuan dalam pemaksaan pembangunan yang tidak memperhatikan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kepentingan pembangunan hunian atau industri dan objek lainnya, hutan mangrove yang berkaitan dengan ekosisitem pesisir mengalami kerusakan. Imbasnya, penangkapan secara berlebihan (over fishing) yang mengancam pasokan ikan di Laut Jawa tidak mampu diimbangi adanya klaster perikanan lain seperti udang yang sangat tergantung keberadaan hutan mangrove.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, lebih cepat lebih baik terwujudnya Mangrove Center sebagai polisi atas vegetasi hijau dan lingkungan pesisir seiring dengan keberadaan Perda Pesisir untuk kesejahteraan masyarakat pesisir kembali. (80)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-5835300765153654997?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/5835300765153654997/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=5835300765153654997' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/5835300765153654997'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/5835300765153654997'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/11/penyelamatan-pulau-panjang-jepara.html' title='Penyelamatan Pulau Panjang Jepara'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-2168747058260913861</id><published>2009-10-23T01:56:00.000-07:00</published><updated>2009-10-28T01:59:41.936-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Kali Gelis Siapa yang Punya?</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Sumber: &lt;a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/10/23/85144/Kali.Gelis.Siapa.yang.Punya."&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Suara Merdeka, 23 Oktober 2009&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Oleh &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Masruri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;pengamat masalah sosial, tinggal di Sirahan, Cluwak, Pati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketika&lt;/span&gt; investor sulit masuk wilayah Sirahan, penambang kemudian memilih lokasi sekitar 800 meter ke arah selatan. Itulah Kali Gelis yang berbatasan antara Desa Payak, Cluwak, Pati dan Desa Damarwulan, Keling, Jepara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika penambangan di lokasi tersebut sudah berlangsung enam bulan, reaksi penolakan mulai muncul dari warga Damarwulan yang mengklaim, areal penambangan berada di wilayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, pihak penambang meyakini areal tersebut masuk Desa Payak, Cluwak, Pati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain klaim wilayah, keberatan warga Damarwulan terhadap penambangan tersebut karena melibatkan alat angkut puluhan armada truk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kalkulasi mereka, akan terjadi ketidakseimbangan antara material (batu dan pasir) yang diangkut, dengan yang datang secara alami pada musim banjir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, adalah wajar jika kemudian muncul kekhawatiran akan rusaknya lingkungan hidup, juga sekaligus kecemburuan sosial karena masyarakat (di mana pun) memiliki image bahwa alam terdekat adalah “milik” masyarakat setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munculnya penambangan baru yang dilengkapi alat angkut lebih besar memberikan kesan bahwa milik mereka dikeruk, dibawa (keluar), dan yang menikmati hanya segelintir orang saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa penambang tradisional dan petani yang memanfaatkan bantaran Kali Gelis untuk membuka lahan persawahan pun menggerutu, “Kula namung kebagian blumbang ipun,” yang artinya saya hanya kebagian lubang bekas penambangan.&lt;br /&gt;Tempo Dulu Kali Gelis seperempat abad silam adalah sungai yang bening dengan debet air yang melimpah. Sungai yang dalam legenda masyarakat pernah dilewati kapal Dampo Awang saat akan menemui Sunan Muria itu, kini mulai kehilangan keindahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali Gelis kini sudah menjadi areal persawahan dan penambangan. Saat musim kemarau, Kali Gelis berubah menjadi hamparan bebatuan dan pasir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya sedikit air yang mengalir seakan membenarkan ramalan Jayabaya bahwa sebagian dari tanda datangnya zaman akhir adalah ketika sungai mulai kehilangan kedung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali Gelis yang selama ini diposisikan sebagai “milik bersama” oleh warga yang tinggal di perbatasan Kabupaten Pati dengan Jepara, kini berubah fungsi menjadi “sungai industri”. Maka, pertanyaan pun muncul, kali ini milik siapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang klaim batas wilayah, awal tahun 80-an pernah terjadi ketika warga Damarwulan mengklaim sawah yang berlokasi di tengah-tengah Kali Gelis, tepatnya di persil 97a yang sudah bertahun-tahun digarap warga Sirahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari peta berjudul “Resident Jepara Rembang” Pati - Tajoe Regentshap Distrik Desa Bakalan - Sirahan No. 72 = 70 in een blad Schaal 1 : 5000 yang disalin petugas pengairan bernama Mustamin tertanggal 6 September 1955 itu menunjukkan tanah (sawah) di tengah Kali Gelis itu masuk wilayah Desa Bakalan-Sirahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada peta tersebut, tertera Kali Gelis yang berada di wilayah paling barat Desa Sirahan masuk wilayah Pati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, jika saat ini muncul klaim bahwa lokasi penambangan di Kali Gelis yang berada di selatan Desa Sirahan atau di antara wilayah Payang dengan Damarwulan, logikanya juga masuk wilayah Payak, Cluwak, Pati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, keterangan Kades Damarwulan, Keling, Jepara yang meyakini areal penambangan berada di wilayahnya juga harus dihargai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, sebelum banjir bandang yang meluluhlantakkan areal persawahan di bantaran Kali Gelis tahun 2000, posisi alur Kali Gelis berada di sebelah timur areal penambangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena banjir bandang itu menyebabkan alur sungai bergeser ke arah barat. Artinya, lokasi yang saat ini ditambang disinyalir bekas sawah yang dulu digarap warga Damarwulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan lain bahwa areal  penambangan itu masuk wilayah Damarwulan karena di sebelah timur Kali Gelis - posisi saat ini - ada beberapa petak tanah (sawah) berleter C atas nama warga Damarwulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negatifnya, petani yang menggarap lahan sawah di bawah lokasi penambangan mengkhawatirkan aktivitas penambangan mengakibatkan makin rendahnya posisi dasar sungai sehingga air tidak bisa naik mengairi sawah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kompromi dengan latar belakang ekonomi biasanya lebih rasional dan sangat mungkin terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jika aktivitas penambangan itu tidak memerhatikan kelestarian alam, hingga menyebabkan terganggunya kebutuhan warga yang selama ini menggantungkan hidup dari menambang atau kemungkinan matinya jalur irigasi, maka warga tentu sepakat mengatakan: “Kalau air sudah tidak ada, manusia tidak bisa makan uang.’’ (80)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-2168747058260913861?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/2168747058260913861/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=2168747058260913861' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/2168747058260913861'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/2168747058260913861'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/10/kali-gelis-siapa-yang-punya.html' title='Kali Gelis Siapa yang Punya?'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-5965901173684632099</id><published>2009-10-19T02:01:00.000-07:00</published><updated>2009-10-28T02:03:51.463-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Pengembangan Usaha Mikro</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Sumber: &lt;a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/10/19/84552/Pengembangan.Usaha.Mikro."&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Suara Merdeka, 19 Oktober 2009&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Siti Rohmah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Semarang &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Selama&lt;/span&gt; ini, usaha mikro hanya bergerak tanpa pendampingan dari pemerintah. Akibatnya, problem-problem yang ada di kalangan pengusaha mikro ini tidak bisa dideteksi. Contohnya adalah usaha batu bata di kawasan Demak, Semarang, Kudus, dan Jepara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kajian ini akan memperlihatkan secara deskriptif problem di Demak. Desa Karangsono yang terletak di Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak terkenal dengan batu bata Penggaron, di sini terdapat 300 pengrajin batu bata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir setiap pengrajin memiliki beberapa karyawan yang dipekerjakan untuk membuat batu bata, sehingga hal ini sangat membantu perekonomian warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Penggaron diambil dari nama salah satu kecamatan di Kota Semarang, tepatnya di daerah perbatasan Semarang-Demak. Itu diambil karena mengikuti pasaran walaupun tidak dibuat di Penggaron tapi karakteristiknya sama seperti batu bata di Penggaron. Selain batu bata penggaron ada juga jenis batu bata lain, yaitu batu bata Welahan dan Kudus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyewa Tempat Namun ternyata masih banyak dari pengrajin batu bata yang masih menyewa tempat untuk proses pembuatan batu bata, tempat disewa selama beberapa tahun, setelah waktu penyewaan telah habis maka pengrajin batu bata harus mencari tempat penyewaan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun hal ini sama-sama menguntungkan bagi pemilik tanah dan pengrajin batu bata, namun apabila hal ini terjadi secara terus-menerus, maka akan menimbulkan  masalah bagi pengrajin batu bata yang tidak mempunyai lahan. Harga sewa tanah semakin tahun akan terus naik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dituntut oleh para pengrajin batu bata adalah penyediaan bahan baku sebagai bagian dari mekanisme produksi dan tentang kesinambungan usaha terkait dengan status pengrajin batu bata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batu bata Penggaron terkenal kuat, tidak mudah patah, posturnya kasar dan pori-porinya yang banyak sedangkan batu bata Welahan dan kudus hampir sama. Kelebihannya batu batanya lebih halus, tidak kasar dan pori-porinya sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara pembuatan batu bata Penggaron memakai bahan dari tanah liat, brambut  (kulit padi) dan kawul  (limbah industri kayu yang kecil-kecil yang didapat dari industri pabrik kayu). Sedangkan batu bata Welahan dan Kudus memakai tanah liat dan brambut saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sederhana Cara pengolahan batu bata Penggaron sederhana. Tanah biasa dicangkul dan dicacah kemudian disiram dengan air sampai hancur, setelah itu diberi brambut dan kawul. Campuran itu kemudian dicangkul dan diinjak-injak  sampai homogen (menjadi satu). Hal itu diulang-ulang terus sampai tiga kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menjadi satu bahan siap dicetak menggunakan cetakan kayu, setelah batu bata aga kering batu bata ditata sigir  (miring). Setelah kering batu bata dibawa ke Linggan (tempat pembakaran).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya kalau sudah terkumpul minimal 50.000 biji batu bata baru dibakar menggunakan kayu bakar, kayu bekas potongan gergaji atau kayu lebihan yang tidak dipakai. Limbah kayu dibeli di pabrik-pabrik kayu dengan harga Rp 1.800.000 pertruk. Proses pembakaran lebih memakan waktu sekitar 24-30 jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai dibakar batu bata dibongkar dan ditata dengan rapi sedangkan batu bata Welahan dan Kudus prosesnya hampir sama dengan batu bata Penggaron.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bedanya dalam proses pembakaran hanya menggunakan brambut. Biasanya brambut dibeli dengan harga Rp 500.000 - Rp 600.000 per truk. Banyaknya batu bata yang dibakar minimal 10.000 biji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi pemasaran antara batu bata Penggaron, Welahan dan Kudus hampir sama yaitu pembeli langsung datang atau menghubungi pengrajin batu bata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu batu bata akan dikirim ke tempat tujuan. Kalau dari segi harga batu bata Penggaron lebih murah dibanding dengan batu bata Welahan dan Kudus. Untuk saat ini harga batu bata penggaron Rp 270 per biji, batu bata Welahan Rp 300 per biji, batu bata Kudus 400 per biji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendala yang dihadapi oleh pengrajin batu bata, kalau musim kemarau sering kekurangan air, padahal untuk proses pembuatan air adalah komponen yang sangat penting, namun hal itu dapat diatasi oleh pengrajin dengan membuat sumur di sawah yang dekat dengan lokasi pembuatan batu bata. Kalau air tidak mau keluar maka sumur dibor sampai keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau musim penghujan kendalanya adalah batu bata tidak bisa kering dalam waktu cepat sehingga mengakibatkan kenaikan harga di pasaran karena kekurangan stock.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini dapat diatasi dengan cara menyimpan persediaan stock untuk musim penghujan sehingga di saat musim penghujan tidak akan kekurangan stock bagi konsumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekomendasi yang diharapkan oleh pengrajin batu bata adalah tindak lanjut dari pemerintah secara intensif dalam bentuk modal yang berupa kredit lunak. Ini diambil dari subsidi nonenergi sekitar 83 trilyun untuk kemajuan ekonomi mikro dan industri dalam skala kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu pula pendampingan dalam usaha informal sehingga para pengrajin batu bata mampu mengembangkan usahanya secara mandiri dan tidak tergantung pada penyewaan lahan. (80)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-5965901173684632099?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/5965901173684632099/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=5965901173684632099' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/5965901173684632099'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/5965901173684632099'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/10/pengembangan-usaha-mikro.html' title='Pengembangan Usaha Mikro'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-6889700017305746999</id><published>2009-10-15T02:07:00.000-07:00</published><updated>2009-10-28T02:10:21.645-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Mudahnya Dapat Sarjana di Jepara</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Sumber: &lt;a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/10/15/84150/Mudahnya.Dapat.Sarjana.di.Jepara"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Suara Merdeka, 15 Oktober 2009&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Rhobi Shani, S.Pd&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;alumnus Jurusan Pendidikan Bahasa Jawa Universitas Negeri Semarang, tinggal di Tahunan Jepara &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Di&lt;/span&gt; Jepara banyak beredar sarjana karbitan, terutama sarjana pendidikan (SPd). Pasalnya, proses kuliah memperoleh gelar tersebut bertentangan dengan Peraturan Pemerintah (PP) No 60/1999. Selain itu, diduga menyalahi surat edaran Direktur Kelembagaan Dirjen Dikti Nomor 595/D5.1/2007 terhitung sejak tanggal 27 Februari 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat yang ditandatangani Satryo Soemantri Brodjonegoro melarang model Kelas Jauh dan Kelas Sabtu-Minggu. Surat yang ditujukan kepada Rektor Institut/ Universitas Negeri, Ketua Sekolah Tinggi Negeri, dan Koordi-nator Kopertis Wilayah I-XII tersebut menetapkan bahwa ijazah kuliah kelas jauh dan Sabtu-Minggu tidak sah dan tidak dapat digunakan terhadap pengangkatan maupun pembinaan jenjang karir/ penyetaraan bagi Pegawai Negeri Sipil, TNI, dan Polri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat edaran tersebut pun sudah ditindaklanjuti oleh Pemerintah Kabu-paten Jepara. Surat edaran keluaran Pemkab Jepara yang ditujukan  kepada pimpinan instansi sekolah dan dinas. Isinya serupa dengan surat edaran Dirjen Dikti, yaitu mengintruksikan ijazah yang diperoleh dari perkuliahan kelas jauh dan Sabtu-Minggu tidak sah dan tidak dapat digunakan terhadap pengangkatan maupun pembinaan jenjang karier/ penyetaraan bagi Pegawai Negeri Sipil, TNI, dan Polri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, surat edaran itu tak dikaji dan ditindaklanjuti jajaran Pemkab Jepara. Misalnya, dalam penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) formasi tahun 2008 banyak pelamar yang menggunakan ijazah hasil kuliah jarak jauh. Seperti yang diberitakan Suara Merdeka (28/9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ijazah dua calon CPNS guru bahasa Jawa formasi 2008 yang diragukan oleh Badan Kepegawaian Nasional adalah ijazah hasil perkuliahan Jarak Jauh di Universitas Veteran (Univet) Sukoharjo yang diselengarakan di Jepara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu mahasiswa berinisial MS menceritakan proses perkuliahan yang menyalahi aturan itu. Mahasiswa angkatan 2005 itu sebelumnya bekerja di Pabrik Karung Pecangaan menceritakan, perkuliahan dilakukan dua kali dalam seminggu, yaitu Jumat dan Minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber lain menceritakan, ada tenaga pengajarnya tidak dosen, melainkan guru SMP yang mengajar Bahasa Jawa. Dari proses perkulihan ini sudah tampak jelas telah menyalahi surat edran Dirjen Dikti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pemebritaan media ini (28/9) proses kuliah tersebut dilaksanakan di gedung milik SMP N 1 Mlonggo. Kemudian, proses perkuliahan dipindahkan ke Desa Kedungcino.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak salah jika ijazah yang diperoleh dari kelas jauh dan Sabtu-Minggu ini dianggap tidak sah karena ada kesengajaan dari pihak perguruan tinggi mempermudah proses mendapatkan gelar sarjana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada proses perkuliahan kelas jauh yang diselenggarakan Univet Sukohar-jo di Jepara tampak tak serius. Ini terjadi pada masa Praktik Profesi Lapangan (PPL) yang dilakukan mahasiswa. Ada beberapa mahasiswa yang melaksanakan PPL tidak mengajar sesuai bidang studi jurusan kuliah yang diambil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang guru tersebut menceritakan bahwa dalam perangkat pembelajaran, misalnya Rancangan Proses Pembelajaran (RPP) tidak tercantum nama mata pelajaran. Padahal, dalam perangkat pembelajaran nama mata pelajaran adalah hal pokok yang harus dicantumkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat peluang menjadi PNS guru bahasa Jawa cukup besar, banyak masyarakat Jepara mengikuti perkuliahan jarak jauh yang diselenggarakan Univet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mayoritas mahasiswa kelas jauh Univet adalah mereka yang sudah bekerja. Di antaranya telah menjadi guru tidak tetap SD dengan menggunakan ijazah DII.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang dosen Jurusan Bahasa Jawa Univet Sukoharjo, Masukardi, mengakui instansinya memang menyelenggarakan kuliah Jarak Jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, baginya itu tak menjadi soal, sebab perkuliahan dilakukan dengan tatap muka. Berbeda dengan UT yang tak melaklukan perkulihan tatap muka. Dia menambahkan, kualifikasi tenaga pengajar di UT tidak bisa menjadi jaminan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang disampaikan dosen tersebut jelas, pihak Univet menyalahi atauran Dirjen Dikti, yaitu  memaksakan diri melaksanakan perkuliahan jarak jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya, pelaksanaan perkuliahan jarak jauh boleh-boleh saja asalkan perkuliahan yang diselenggarakan UT. Sebab hanya UT diperbolehkan. Selain itu, bagi mahasiswa kelas jauh atau Sabtu-Minggu yang sudah bekerja harus ada surat izin kuliah dari pimpinan instansi tempat bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan ini saya kembalikan kepada pemerintah Kabupaten Jepara. Apakah akan mempekerjakan orang-orang yang memperoleh gelar sarjana dengan cara seperti itu. Atau berani mengambil sikap tegas menolak sarjana-sarjana karbitan tersebut. Sebagai guru saya prihatin akan kondisi ini. (80)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-6889700017305746999?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/6889700017305746999/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=6889700017305746999' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/6889700017305746999'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/6889700017305746999'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/10/mudahnya-dapat-sarjana-di-jepara.html' title='Mudahnya Dapat Sarjana di Jepara'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-4836199313622620403</id><published>2009-10-01T04:29:00.000-07:00</published><updated>2009-11-16T04:37:42.083-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Dari yang Lirih Sampai yang Lantang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/SwFHQYqKxzI/AAAAAAAAALk/tUiASj--wIA/s1600/yang-lirih-dan-yang-lantang.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 200px; height: 156px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/SwFHQYqKxzI/AAAAAAAAALk/tUiASj--wIA/s200/yang-lirih-dan-yang-lantang.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5404679374644102962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Sumber: &lt;a href="http://www.annida-online.com/cerpen/dari-yang-lirih-sampai-yang-lantang.html?pageID=1"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Annida, 01 September 2009&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify; font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Cerpen &lt;b style="font-family: verdana;"&gt;Adi Zam Zam &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Apakah kalian pernah mendengar nama Negeri Kegelapan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeri itu adalah tempat di mana kalian yang mengaku berani membela kebenaran dan keadilan diculik dan lalu disiksa hingga kelian menyerah. Apakah kalian benar-benar teguh pendirian, ataukah sekedar pandai memulas bibir dengan segala kalimat megah akan segera terlihat nanti. Jarang ada yang bisa melepaskan diri dari sana. Andai kau sanggup melepaskan diri dari mereka, kau pun tak kan bisa menikmati kehidupan normalmu dengan tenang dan nyaman. Hidupmu akan rusak dan bahkan mungkin kau akan bunuh diri jika imanmu tidak benar-benar karang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalian ingin tahu di mana letak Negeri Kegelapan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan tanya aku. Sebenarnya aku hanya tahu sedikit dari cerita mereka yang berhasil meloloskan diridari Negeri Kegelapan. Aku dan teman-temanku bahkan sedang memburu letak tempat itu, karena ayahku adalah salah seorang yang disekap oleh mereka, dan hingga detik ini beliau telah benar-benar lenyap dari kehidupan ini. Bahkan kuburnya pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku ndak bisa, Bu."&lt;br /&gt;"Ndak bisa bagaimana? Pantang bagi seorang gadis menolak lamaran seseorang..." suara di ujung telepon meninggi.&lt;br /&gt;"Pantang?" potongku.&lt;br /&gt;"Maksud Ibu, kau tak boleh menolak jodoh yang diberikan Tuhan, Nduk. Teddy itu pemuda baik-baik, sudah mapan, anaknya juga kelihatannya bakti sama orang tua."&lt;br /&gt;"Ibu tahu dari mana?"&lt;br /&gt;"Pokoknya Ibu sudah mencari tahu semuanya. Menyesal kalau kamu sampai menolaknya."&lt;br /&gt;"Aku lebih menyesal kalau sampai putus kuliah, Bu."&lt;br /&gt;"Siapa bilang kamu akan samapai putus kuliah. Ini cuma pertunangan dulu, baru kemudian..."&lt;br /&gt;"Berarti dia sanggup menunggu tiga tahun lagi? Lima tahun?"&lt;br /&gt;"Lin!" suara diseberang naik beberapa oktaf. Marah besar kelihatannya.&lt;br /&gt;"Sampai aku menyelesaikan sebuah buku sejarah."&lt;br /&gt;"Buku sejarah?" Pasti beliau melongo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum mendengar reakasi Ibu. "Aku ingin mempersembahkan sesuatu untuk Ayah". Ayah adalah bagian yang tak terpisahkan dari masa lalu dan masa depanku. Aku tahu, jika kalimatku sudah sampai subjek Ayah, pasti kemudian Ibu akan melunak.&lt;br /&gt;"Apakah menikah bagimu adalah hambatan?" Pelan tapi bermaksud menohok.&lt;br /&gt;"Untuk minggu-minggu ini Lina ndak bisa, Bu."&lt;br /&gt;"Kalau begitu kapan kmau bisanya?"&lt;br /&gt;"Kenapa Ibu sampai mati-matian begitu sih?"&lt;br /&gt;Terdengar tarikan nafas. "Kalau kamu punya dua atau tiga anak perempuan, nanti kau akan tahu bagaimana pikiran Ibumu saat ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah perlakuan macam apa yang telah diperolehnya hingga keadaannya menjadi mengenaskan begitu. Ia hanya menggambar, menggambar, dan menggambar seolah-olah ratusan kertas belum cukup. Ia seperti tak mau mengingat dan tak mau diingatkan tentang sebulan keberadaannya yang entah. "Saat itu dia hanya pamit ingin ke warnet," jawab ibunya saat pertama kami bertamu sesudah kabar kepulangannya kembali. Perempuan itu seumuran Ibuku. Sama-sama seorang janda pula, yang harus tegar untuk menghidupi anak-anaknya seorang diri. Padanya beliau punya tanggungan yang mungkin lebih berat. Ada lima perut yang masih setia meminta belas kasih dari jerih payahnya sebagai seorang pedagang pakaian. Sedang Ibuku hanya punya tiga tanggungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ternyata setelah pagi itu dia tak pulang-pulang," beliau meneruskan kalimatnya.&lt;br /&gt;Kami bisa memahami perasaan beliau sama seperti memahami perasaan kami sendiri. Ti"ga-empat hari sekali bolak balik ke kantor polisi untuk menanyakan kabar pencarian mereka. Kesana-kemari bertanya ke "orang-orang pintar" itu juga bisa kami setarakan dengan jerih payah kami menghubungi berbagai LSM ke pelosok Kabupaten. Dan aku yakin, setiap malam pun beliau pasti terserang insomnia karena doa-doanya. Secara pribadi aku bahkan merasa berdosa kepada beliau karena akulah yang awal mula menyeret putra sulungnya itu ke ranah paling berbahaya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu dari setiap curhat anaknya kepadaku bahwa sang Ibu itu melarang keras anaknya untuk terjun di kancah peperangan ini. Saat ku pamerkan cerita bahwa Ayahku adalah salah seorang pejuang pembebas hak-hak orang tertindas. Tama langsung menyatakan kesediaannya meneyrahkan segala keberanian masa mudanya untuk bergabung dengan gerbong sepak terjangku. Aku yakin, saat itu si Ibu mengalah sejenak karena semangat Tama yang sulit dipadamkan. Dan sekarang pradugaku terbukti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Ibu itu terkadang memperlihatkan raut masam saat kami berkali-kali bertamu. Meski aku tahu segala pransangka layaknya tak patut dipelihara, namun jika keadaan terus menerus semakin tak membaik, apakah harus diabaikan semua kekeliruan kecil itu? Tentu saja tidak. Maka kemudian kami beri pengertian kepada si Ibu bahwa segala tindakan kami sebenarnya memiliki tujuan mulia. Jika para orang tua kami selalu menanamkan benih-benih kemuliaan, bukankah pohonnya kelak akan berbuah kemuliaan pula?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kami ceritakan kepada si Ibu itu sampai sedetil-detilnya. Tentang bagaimana cara kami menggalang suara dan kekuatan. Tentang pergerakan-pergerakan bawah tanah yang kami rintis untuk sebuah masa depan yang sesuai dalam mimpi kami bersama. Juga tentang segala resiko karena kami telah nekat memilih dunia itu. Hingga si Ibu yang malang itu mulai memahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia diantar seorang warga yang menemukannya tergeletak di teras rumahnya. Untung orang itu melihat foto Tama di koran. Kondisinya sangat menyedihkan," si Ibu itu terdiam sejenak untuk mengatur emosi. "Ada banyak bercak darah di pakaiannya. Bahkan saat itu dia tidak bisa bicara sepatah kata pun untuk minta tolong," suara si Ibu mengecil, menggiriskan siapa pun yang mendengar apalagi melihatnya. Air matanya telah menganak sungai.&lt;br /&gt;"Apa dia cerita mengenai siapa orang-orang itu, Bu?" tanyaku.&lt;br /&gt;"Aku malah ingin dia melupakan semuanya...," si Ibu mengusap air matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Sebenarnya yang kami harapkan bukanlah kesembuhan fisiknya semata. Tapi kenangan dalam setiap mili memorinya adalah sangat penting untuk kami, karena Tegor dan Rusli juga hilang terkurung dalam ingatan itu. Jika ia tak berani mengingat, maka ke mana lagi kami harus mengendus jejak? "Kau harus mengingatnya, Tam. Kau harus bisa! Nasib Tegor dan Rusli ada di tanganmu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau harus sabar, Jo!" sergah Ratna.&lt;br /&gt;"Bersabar? Bahkan nyawa kita pun mungkin sekrang sedang terancam!" Pemuda asal Semarang itu terlihat setengah putus asa. Bolak-balik kesana-kemari seolah ruang kamar ini cukup luas untuk langkah gelisahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kami paksa Tama untuk mengingat, maka tubuh yang seperti kehilangan ruh itu tiba-tiba saja marah. Mengamuk. Semua buku gambarnya ia sobek-sobek. Semua benda yang teraih dibanting. Menangis, meraung. Memukul-mukul kepalanya. Dan membuat kami harus berurusan dengan si Ibu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada apa ini? Kalian sudah janji tak akan menyakitinya lagi kan?" Dan sialnya hanya si Ibu yang sanggup menenangkan pemuda yang kembali bocah itu.&lt;br /&gt;"Huh! Percuma berkawan dengan pengecut yang takut siksaan!"&lt;br /&gt;"Apa maksudmu?" Ratna menghadang Tarjo di pintu.&lt;br /&gt;"Maksudku dia itu pengecut!" Tarjo menuding ke arah Tama.&lt;br /&gt;Plakk!&lt;br /&gt;"Jangan bertengkar di rumahku!"&lt;br /&gt;"Apa berani kau menggantikannya menerima siksaan itu? Ini hanya soal keberuntungan saja bahwa bukan kau yang diambil!" Ratna meradang.&lt;br /&gt;"Terserah! Tapi kenyataannya memang begitu kan?!" Tarjo menepis tangan Ratna yang mengahdang di pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau tahu begini, tak akan kuijinkan kalian ke sini. Tak akan ku beritahu kalian tentang kepulangannya. Kalian semua memang anak-anak nakal...," hati si Ibu itu kembali pecah berkeping. Semenatar Tama seperti bocah yang tangisnya berdengung dalam dekapan induknya.&lt;br /&gt;Aku rasa keegoisan memang selalu akan melukai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula aku juga sangat egois seperti Tarjo, memaksa Tama untuk menggambar apa saja tentang ingatannya yang masih tersisa. Tapi kemudian aku tersadar saat aku menengok diriku sendiri. Saat semua kenangan indahku bersama Ayah kadang berubah menjadi sesuatu yang menyedihkan, aku mulai memahami kondisi Tama. Air mata selalu tak terkendali jika Ayah tiba-tiba tersenyum dalam khayalanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia mengatakan sesuatu, Lin! Tama ingin mengatakan sesuatu!" Ratna seperti baru menang undian. Tapi saat kulihat Tama yang masih seperti kehilangan selera memandang kehidupan, hatiku kecut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lihatlah apa yang digambarnya," tangan Ratna memanggilku dari buku-buku koleksi Tama.&lt;br /&gt;Ah, masih tak ada kemajuan. Masih hanya coretan tak beraturan. Tapi emmang sudah ada yang hampir membentuk gambar. Manusia-manusia kurus? Siapa yang bisa menangkap isyaratnya?&lt;br /&gt;"Apa? Ayo katakan. Jangan takut kepada kami, katakanlah." Ratna mendekatkan telinganya.&lt;br /&gt;"Lari..." suara itu seperti hembusan angin.&lt;br /&gt;"Lari?" aku turut mendekat. Selama beberapa detik aku bisa melihat cahaya di kedua matanya. Ruhnya telah kembalikah?&lt;br /&gt;"Rusli...Tagor..." hembusan itu semakin jelas.&lt;br /&gt;"Iya, Rusli dan Tagor. Di mana?" Ratna menggenggam tangan itu.&lt;br /&gt;"Tembak..."&lt;br /&gt;"Ditembak?" tanya Ratna.&lt;br /&gt;Tapi percuma. Mata itu kembali kehilangan cahaya. Tubuhnya kembali berguncang. Tangisnya sulit ditenangkan.&lt;br /&gt;"Sebaliknya kita tidak terlalu memaksanya," ujarku.&lt;br /&gt;"Tapi tadi..."&lt;br /&gt;"Biarkan dia yang menemukan caranya sendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;"Apa kau yang mengatur semuanya, Lin?" suara di seberang terdengar begitu sinis. "Mengatur apa, Rat?&lt;br /&gt;"Jangan munafik! Kenapa kau tega berbuat demikian? Kau tahu apa akibatnya jika para wartawan sampai tahu musibah yang menimpa Tama kan? Apa kau lupa pesan Ibunya Tama bahwa dia tidak boleh diusik lagi oleh siapapun? Kau egois!"&lt;br /&gt;"Itu ulah Tarjo."&lt;br /&gt;"Tapi kau mengetahuinya kan?!" suara itu marah.&lt;br /&gt;"Dia bilang ke aku sesudah dia menyebarkan cerita itu di millis, Rat."&lt;br /&gt;"Kalau kau tak menyetujuinya, kenapa kau biarkan aku tak tahu apa-apa?! Kau kejam sekali, tega memanfaatkan teman demi..."&lt;br /&gt;"Ketidakadilan harus dilawan, Rat!"&lt;br /&gt;Hanya terdengar suara isak di seberang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan itu tidak cukup jika hanya pulau Jawa saja. Seluruhpelosok tanah air kita ini harus melawan, Rat. Mereka punya kekuasaan, kita juga punya kekuatan. Ini sudah resiko, Rat." Tanpa sadar aku terbius kalimat Tarjo.&lt;br /&gt;"Dapat upah berpaa kamu dari stasiun televisi itu?"&lt;br /&gt;"Apa?"&lt;br /&gt;"Dibayar berapa kamu oleh reporter yang kemarin datang ke rumah Tama?!"&lt;br /&gt;Telepon itu ditutup seketika. Menyisakan sesak yang datang tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kalian telah tahu atau pernah mendengar penyiksaan macam apa yang dilakukan oleh orang-orang Negeri Kegelapan, masih beranikah kalian bersuara meski lirih demi sebuah keyakinan? Seharusnnya jika kalian telah bulat memilih menjadi malaikat, aklaian harus berani berkata "ya" untuk tiada lelah apalagi gentar menantang mereka yang telah memilih menjadi setan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu pukul satu dinihari tepat saat Ratna tersedu-sedu di ujung telepon.&lt;br /&gt;"Tama telah pergi, Lin. Tama telah pergi. Ibunya baru saja meneleponku. Katakan ke Tarjo, buat yang lebih besar lagi, Lin. Gerakkan semua teman-teman kita agar mereka tak berani meremehkan kita lagi. Luka Tama harus kita balas, Lin. Luka Tama harus dibayar..."&lt;br /&gt;"Inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun... Jam berapa, Rat? Kapan jenazahnya dimakamkan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah lelah perempuan paruh baya itu semakin kentara saat dengan khidmatnya meneguk the hangat yang ku suguhkan. "Kenapa Ibu tak mengajak Nita dan Fida?"&lt;br /&gt;"Mereka juga sama sibuknya seperti kamu, jadi biarlah. Oh ya, kemarin Nita menonton wawancara eksklusif kalian."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang bisa aku komentari tentang hal itu. Pada akhirnya kami telah melantangkan suara untuk menentang. Kami tahu semuanya pasti belum berakhir hanya sampai di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu dan teman-temanmu harus berhati-hati, Lin."&lt;br /&gt;"Ibu mau mie?" Aku coba rileks.&lt;br /&gt;"Ayahmu dulu juga begitu, selalu tak kehabisan cara untuk melantangkan suara. Sampai-sampai kuliahnya terbengkalai. Apa kamu kira Ayahmu sudah sarjana? Dari kenal Ibu sampai beranak-pinak ternyata ayahmu tak pernah bisa menamatkan studinya. Dan begitulah kahirnya. Majalah yang dipimpinnya dibreidel, buku-bukunya diharamkan, bahkan ia dibungkam untuk selama-lamanya. Butuh kecerdasan sendiri untuk mengatur langkah, Lin."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasti ada masalah penting sampai-sampai Ibu datang ke sini langsung." Kubawakan puding sisa praktek teman-temanku tadi malam.&lt;br /&gt;"Iya, memang ada kabar penting untukmu." Perempuan itu menatapku lekat.&lt;br /&gt;"Tentang...?"&lt;br /&gt;"Teddy, dia tidak jadi melamarmu."&lt;br /&gt;Gantian wajah itu yang kuamati lekat-lekat. Lalu aku memeluknya erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak apa-apa, Lin. Ibu pikir itu malah bagus kalau akhirnya dia mundur. Mungkin dia tidak setuju dengan sepak terjangmu. Ibu juga tak ingin kau mendapatkan pendamping yang tak bisa seia-sekata mendukungmu, mengayomimu. Jadi..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maafkan anakmu ini, Bu. Aku sungguh tak bermaksud mengecewakanmu. Aku tahu resiko jalan yang ku tempuh. Dari yang lirih dari hati nurani hingga menjadi yang lantang dan membahayakan, aku tahu ada harga yang mersti dibayar. Dan itu tak cukup hanya dengan air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"...jadi jangan tajut berbuat kebaikan karena Ibu akan selalu berada disampingmu."&lt;br /&gt;Kedua mataku menghangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalinyamatan-Jepara, 90780&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-4836199313622620403?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/4836199313622620403/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=4836199313622620403' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/4836199313622620403'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/4836199313622620403'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/10/dari-yang-lirih-sampai-yang-lantang.html' title='Dari yang Lirih Sampai yang Lantang'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/SwFHQYqKxzI/AAAAAAAAALk/tUiASj--wIA/s72-c/yang-lirih-dan-yang-lantang.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-2932138892822807492</id><published>2009-09-28T02:14:00.000-07:00</published><updated>2009-10-28T02:17:33.767-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Makna Simbolik Syawalan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Sumber: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;a href="http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/09/28/81833/Makna.Simbolik.Syawalan."&gt;Suara Merdeka, 28 September 2009&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Prof Dr Mudjahirin Thohir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;antropolog Undip&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ungkapan&lt;/span&gt; meminta dan memberi maaf secara massif menandai makna Bada Kupat, dan secara simbolik diilustrasikan dengan penyediaan dan penyajian&lt;br /&gt;kupat-lepet kepada tamu yang berkunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Jawa mengenal tiga ’’hari raya’’, yaitu Bada Besar, Bada Gedhe, dan Bada Kupat. Bada Besar. Kadang disebut juga Hari Raya Haji, menunjuk pada Idhul Adha (10 Dzulhijjah). Bada Gedhe, atau terkadang disebut Hari Raya Lebaran, adalah istilah lain dari Idul Fitri. Sementara Bada Kupat disebut juga Bada Syawal adalah hari raya yang  merujuk pada tanggal 8 Syawal. Seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata ’’bada’’ sinonim dengan kata ’’lebar’’. Bada adalah pelafalan lidah Jawa atas kata ”bakda” (bhs. Arab).  Namun demikian, istilah  ’’lebaran’’ hanya diacukan pada Idul Fitri. Mengapa? Karena orang Islam secara massif  berlebaran atau menyudahi  atau ’’selesai dari’’ menjalankan puasa Ramadan selama sebulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam praktiknya, istilah bakda (baca: bada) menunjuk pada waktu yang besar atau yang dibesarkan yang perlu diperingati terutama oleh orang Islam. Karena itu, secara sosiologis, istilah itu diduga muncul pertama kalinya dari komunitas santri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada komunitas santri, terdapat tiga sel yang saling menghidupi, yaitu santri dalam arti pelajar di pesantren; kiai (guru di pesantren); dan pranata keagamaan yang disosialisasikan dalam dunia pesantren. Di komunitas pesantren itulah kiai men-sunnahmuaqqod-kan para santri untuk melakukan tambihus-syiam, yaitu puasa syawal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau puasa Syawal itu dikerjakan, maka kepadanya dijanjikan ampunan atas kesalahan (dosa) yang dilakukan setahun lalu. Ampunan Tuhan adalah urusan hablum minallah. Urusan sesamanya, yang disebut hablum minan-nas, juga harus diselesaikan. Jika keduanya dapat dijangkau dengan sempurna, maka ungkapkan kata: ’’Minal a’idin wal faidzin’’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata ’’sempurna’’ atau ’’penyempurnaan’’ dalam bahasa Arab disebut kaffaat atau kaffatan.  Dalam lidah Jawa, kata itu dilafalkan ’’kupat’’ atau ’’kupatan’’. Ini adalah dugaan awal mengapa pada tanggal 8 Syawal disebut Bada Kupat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerabat dan Guru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pada saat Bada Kupat ini, mereka baru bersilaturrahim kepada kerabat dan gurunya. Dari ujung ke ujung atau berkunjung sehingga kegiatan bersillaturahim ini diberi istilah ’’ujung’’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua tujuan inti dari Ujung. Yang pertama, meminta maaf atau berharap untuk bisa saling memaafkan. Yang kedua, memohon (ngalap  berkah) terutama dari guru atau kiai dan dari kerabat yang dituakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan meminta dan memberi maaf secara massif menandai makna Bada Kupat, dan secara simbolik diilustrasikan dengan penyediaan dan penyajian kupat-lepet kepada tamu yang berkunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks ini, kupat-lepet sebagai ungkapan mengaku lepat atau luput. Pengakuan demikian penting karena itu kata kupat jika ditarik ke ranah filosofi Jawa bisa bermakna  ’’nyukupke kang papat’’ (melengkapi empat hal), atau ’’laku kang papat’’ (melakukan empat hal). Keempat hal itu ialah (1) puasa Ramadan selama sebulan, (2) membayar zakat fitri, (3) shalat Id, dan (4) puasa enam hari pada bulan syawal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alur kognitif seperti itu dilakukan pada tanggal 8 Syawal sehingga untuk menandai semua hajat simbolik demikian disebut Syawalan. Di berbagai daerah, terutama di Jawa Pesisiran Utara, terdapat dua model bagaimana mengekspresikan ’’hari kemenangan’’ Syawalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, dalam bentuk pesta yang tidak terkait dengan napas keagamaan seperti pesta lomban di laut sebagaimana yang ditradisikan di Demak, Jepara, dan Rembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan  yang kedua justru dinapasi oleh aura keagamaan, dengan melakukan berkunjung (baca: ziarah) ke makam leluhur seperti ke makam Kiai Sholeh Darat di Semarang, atau ke makam Kiai Asy’ari (dikenal Kiai Guru)  di Kaliwungu Kendal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ziarah ke makam penyiar Islam seperti itu, tidak didasarkan atas kesamaan waktu  haul (ulang tahun kematian) tokoh yang bersangkutan, melainkan secara antropologis lebih didasarkan pada kewajiban etis santri berkunjung kepada Sang Guru usai menjalankan puasa tambahan (puasa Syawal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kewajiban berziarah seperti itu bertolak pada konsep guru di kalangan santri itu sendiri. Di kalangan santri, istilah guru, tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Karena itu, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, tetap ditempatkan sebagai ’’gurunya’’. Karena itu pula, di kalangan santri, tidak ada dan tidak dikenal istilah ’’mantan’’ guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para santri yang kemudian membangun pesantren di daerah asal, yang berarti pula yang bersangkutan kemudian menjadi kiai sekaligus tokoh agama, memiliki santri dan umat seputarnya. Mereka, mengajak santri-santrinya untuk berziarah ke makam guru atau kiainya dalam waktu yang bersamaan, yaitu pada sekitar tanggal 8 Syawal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola seperti itu, lambat laun berjalan secara massal, dan diikuti oleh puluhan ribu orang sebagaimana yang terjadi pada acara Syawalan di Kaliwungu Kendal. Inilah awal dari tradisi berziarah dan ziarah yang ditradisikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efek seperti itu, tentu saja mengundang berbagai pihak (seperti para pedagang musiman dan penjaja permainan dengan segala hiruk-pikuknya). Syawalan menjadi semacam ’’pasar akbar’’ ketika masing-masing orang melakukan sejumlah transaksi, baik transaksi ekonomi, transaksi sosial, transaksi budaya, dan keberagamaan. (80)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-2932138892822807492?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/2932138892822807492/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=2932138892822807492' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/2932138892822807492'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/2932138892822807492'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/09/makna-simbolik-syawalan.html' title='Makna Simbolik Syawalan'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-4991526650962827765</id><published>2009-09-10T02:21:00.000-07:00</published><updated>2009-10-28T02:23:37.217-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Lebaran Ke Pantai Teluk Awur Jepara, Duh Asyiknya!</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Sumber: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;a href="http://citizennews.suaramerdeka.com/?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=1002"&gt;Suara Merdeka, 10 September 2009&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Oleh&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-weight: bold;font-size:85%;" &gt;&lt;span class="small"&gt;Fatkhul Muin     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;      &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Salah&lt;/span&gt; satu pantai di kabupaten Jepara yang cukup indah dan menarik untuk di kunjungi adalah Pantai Teluk Awur. Disebut Teluk memang kondisi lautnya yang menjorok ke daratan, sehingga panjang pantai kalau dilihat tidak lurus memanjang namun mendekati bentuk setengah elips.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam situs pemerintah kabupaten Jepara pantai Teluk Awur ini belum masuk pada daerah tujuan wisata kabupaten Jepara, namun demikian jika dilihat pantai ini tidak kalah menariknya dengan pantai Kartini Jepara ataupun pantai Tirto Samudra Bandengan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hari Minggu atau libur pantai ini cukup ramai dikunjungi oleh pelancong baik dari sekitar Jepara sendiri, ada pula warga luar kota Jepara yang juga mampir mencoba melihat keindahan pantai yang masih alami ini. Dikatakan alami pantai ini sama sekali belum terpoles oleh unsur pariwisata, tidak ada tempat parkir. Karcis tanda masuk  maupun  rumah-rumahan tempat untuk berteduh. Namun demikian pengunjung tidak akan kepanasan karena sepanjang pantai ini penuh dengan tanaman hijau yang dapat digunakan untuk berteduh. Wisatawan yang datang cukup dengan menggelar tikar dibawah rimbunnya tanaman sembari menikmati semilirnya angin pantai , indahnya ombak yang bergulung tak lupa menikmati bekal dari rumah sungguh nikmat rasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan itu saja sebagian pantai ini juga rimbun dengan tanaman mangrove yang ditanam oleh kamunitas pecinta alam dan pantai sebagai pilot proyek penanggulangan abrasi pantai yang saat ini telah menggerus pantai di Jepara khususnya bagian selatan. Mangrove ini tumbuh cukup rimbun sehingga cukup nyaman untuk tempat berteduh, Namun sayang saking rimbunnya kadang-kadang tempat ini digunakan pacaran para muda-mudi yang sedang dimabuk cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berenang sepuasnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Untuk fasilitas pendukung meskipun cukup sederhana warga sekitar telah menyediakannya untuk kenyamanan para pengunjung. Tempat parkir misalnya untuk mobil tidak masalah disana tenpatnya cukup luas tinggal memilih ditempat mana kita mau parkir, untuk kendaraan roda dua bisa langsung diparkir di bibir pantai sehingga jika ramai Sepeda motor kelihatan berjajar rapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk yang mempunyai hobi berenang Pantai Teluk awur kondisi airnya cukup bersih karena jauh dari lalu lalangnya perahu dan kapal, sehingga aman jika digunakan untuk mandi dan berenang. Bagi yang tidak bisa berenang warga sekitar telah menyediakan ban-ban mobil yang besar sehingga bisa digunakan untuk berenang dipinggir pantai, biaya sewanyapun relatif murah sekali pakai Rp 1.000-Rp 2.000. Begitu pula tempat mandi bilas, warga sekitar juga telah menyediakannya meskipun kondisinya sederhana namun bisa digunakan untuk membersihkan badan dari asinnya air laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga sayang jika kita telah sampai di pantai ini tidak nyebur ke laut, jadi bila pembaca mencoba datang jangan lupa membawa baju renang dan peralatan untuk mandi bila tidak ingin menyesal jika pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mempunyai hobi memancing pengunjung juga bisa menuntaskan kesenangannya di pantai ini. Selain ikannya cukup lumayan, juga kita bisa menyewa perahu jika ingin ke tengah laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal makanan, bagi pengunjung yang tidak membawa bekal warga menyediakan berbagai macam menu yang bisa dipilih, dari makanan kecil, minuman ringan sampai dengan nasi beserta lauk pauknya. Harganyapun relatif murah, sehingga bagi wisatawan yang kantongnya pas-pasan tidak ada halangan untuk mengunjungi pantai ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus untuk Liburan hari lebaran, tempat ini juga menyediakan hiburan yang menarik misalnya pentas music atau kesenian lainnya. Oleh karenanya untuk liburan lebaran nanti tidak ada ruginya bila Anda menyempatkan mengunjungi obyek wisata pantai yang murah meriah ini. Selamat mencoba.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-4991526650962827765?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/4991526650962827765/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=4991526650962827765' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/4991526650962827765'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/4991526650962827765'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/09/lebaran-ke-pantai-teluk-awur-jepara-duh.html' title='Lebaran Ke Pantai Teluk Awur Jepara, Duh Asyiknya!'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-9076546834117660773</id><published>2009-08-29T06:37:00.000-07:00</published><updated>2009-09-03T06:40:46.271-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Jejak Urwah, Buron Terorisme</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/Sp_HPr5n5mI/AAAAAAAAALM/yi9pTXNaZa8/s1600-h/urwah.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 212px; height: 136px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/Sp_HPr5n5mI/AAAAAAAAALM/yi9pTXNaZa8/s200/urwah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5377235552400041570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;&lt;span class="judul"&gt;Ponpes Al-Muttaqin: Kami Tidak Mengajarkan Kekerasan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rosidi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ponpes Al-Muttaqin di Sowan Kidul, Kabupaten Jepara disorot, karena salah satu buron kasus terorisme, Bagus Budi Pranoto alias Urwah, pernah nyantri di sekolah itu. Pengapus ponpes menegaskan ponpes Al Muttaqin tidak mengajarkan kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami tidak mengajarkan kekerasan," kata KH Sartono Munadi, pengasuh Ponpes Al-Muttaqin saat ditemui detikcom Selasa (25/8/2009) lalu di rumahnya yang teduh di kompleks pesantren. Ustad Sartono tampak santun dan bersahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan rumah Kiai Sartono sederhana, namun cukup teduh. Rumah&lt;br /&gt;bercat putih berpagar merah itu memiliki halaman samping yang cukup luas.&lt;br /&gt;Sebuah mobil Suzuki Carry terparkir di halaman rumahnya. Sementara di dalam rumah, terdapat lima kursi dan sebuah meja bundar, yang di atasnya, terletak empat kitab yang cukup tebal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiai Sartono menceritakan perihal pesantren yang dirintisnya sekitar 20 tahun lalu. "Kami sama dengan pesantren pada umumnya. Hanya dalam penyampaian, kami menggunakan bahasa pengantar Bahasa Arab, Inggris dan Indonesia, agar santri yang dari luar Jawa juga bisa memahami," ujar dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara kitab-kitab yang diajarkan, antara lain Aisarut Tafaasir, Silsilah Tafsir, Fikih Sunnah dan Minhajul Muslim. "Tidak ada yang beda. Sementara untuk tauhid, kita memakai kitab Qidah Thahawiyah karya Dr. Sholeh Fauzan," terang Kiai Sartono yang sehari-hari juga berprofesi sebagai petani dan berdagang konveksi kecil-kecilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan isu terorisme saat ini yang lagi jadi perbincangan hangat, Kiai Sartono mengaku tidak pernah merasa mengajari santrinya menjadi teroris atau melakukan tindak kekerasan lain. "Kalau ada alumnus ponpes saya, mungkin karena setelah lulus, ia terbawa arus dengan teman atau ia belajar dengan siapa. Pergaulan sekarang kan kompleks," tutur dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada prinsipnya, menurut dia, pihaknya mendirikan pesantren dengan bekerja dan ikhlas, agar bisa membantu pemerintah menyiapkan generasi yang cerdas dan berkahlaq. "Kalau pemerintah mencari-cari kejelekannya saja, pasti dapat. Di manapun. Tetapi apakah pemerintah memperhatikan dan memberi apresiasi kepada pesantren sebagai lembaga pendidikan yang notabene wajah Islam Indonesia," tegas Kiai yang mengaku ponpesnya tidak ada sangkut paut atau hubungan apa pun dengan Abu Bakar Ba'asyir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga Sabtu (29/8/2009) polisi belum bisa menangkap Urwah, yang menjadi buron kasus bom Marriott dan Ritz-Carlton. Jejak terakhirnya, Urwah tinggal di sebuah rumah di RT 01 RW 04 di kampung Buntarejo, Kadokan, Grogol, Sukoharjo. Dia masih terlihat pada 7 Agustus 2009, beberapa jam sebelum polisi melakukan penggerebekan di Jatiasih da Temanggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Detik.com, 29 Agustus 2009&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-9076546834117660773?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/9076546834117660773/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=9076546834117660773' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/9076546834117660773'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/9076546834117660773'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/08/jejak-urwah-buron-terorisme.html' title='Jejak Urwah, Buron Terorisme'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/Sp_HPr5n5mI/AAAAAAAAALM/yi9pTXNaZa8/s72-c/urwah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-4857688487728664879</id><published>2009-08-28T06:45:00.000-07:00</published><updated>2009-09-03T06:48:24.050-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>2 Pulau di Karimunjawa Dikelola Asing</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/Sp_JCboN4KI/AAAAAAAAALc/bgSa4bhQEfQ/s1600-h/Pulau-dijual-dalam.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 243px; height: 152px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/Sp_JCboN4KI/AAAAAAAAALc/bgSa4bhQEfQ/s200/Pulau-dijual-dalam.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5377237523717021858" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Oleh&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Rosidi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di&lt;/span&gt; tengah kontroversi penjualan pulau di internet, ternyata ada fakta pulau-pulau di Indonesia sudah biasa dikelola asing. Di kepulauan Karimunjawa saja, ada dua pulau yang dikelola oleh orang berkewarganegaraan asing (WNA).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan data dari Balai Taman Nasional Karimunjawa, saat ini ada 8 pulau di Karimunjawa yang dikuasai oleh perorangan. Dua pulau yang dikelola WNA adalah Pulau Menyawakan dan Pulau Kumbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulau Menyawakan tercatat dikuasai oleh Mr Lak dan Mr Hands. Sementara Pulau Kumbang dikelola oleh nama Mr Jell. Ketiganya memperoleh izin pengelolaan pulau karena mereka menikah dengan perempuan berkewarganegaraan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pengelolaan lahan Karimunjawa oleh pihak asing hanya bersifat penanam modal di bidang pariwisata dan pembangunan resort," kata Ketua Balai Taman Nasional Karimun Jawa Hariyanto, Jumat (28/8/2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu juga dibenarkan oleh Bupati Jepara Hendro Martojo. Dia memastikan, meski dikelola pihak asing, pulau-pulau tersebut masih di bawah pengawasan Pemerintah Kabupaten Jepara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pulau-pulau itu masih di bawah pengawasan kami," tandas Hendro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh jadi pulau-pulau tersebut memang tidak 'dijual', namun tokoh masyarakat di kepulauan Karimunjawa khawatir, pulau-pulau yang masih indah tersebut akan rusak karena pengelola hanya mementingkan sisi bisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karimunjawa harus diselamatkan dari tangan orang-orang yang hendak mengeruk kekayaan alamnya tanpa peduli terhadap kelestarian lingkungannya," kata Kepala Sekolah di Madrasah Safinatul Huda, Karimunjawa, Hisyam Zamroni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia pun berharap, pemerintah dapat mengawasi sehingga perusakan lingkungan di Karimunjawa tidak terjadi. "Kearifan lokal di Karimunjawa harus dijaga, jangan sampai tergerus oleh zaman dan hilang. Kearifan lokal itu kan identitas masyarakat," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini, penjualan pulau yang berada di kawasan Indonesia ramai dibicarakan. Terbaru, tiga pulau di kepulauan Mentawai diiklankan 'for sale' di situs Private Islands Online.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iklan itu tentu saja mengundang kontroversi. Departemen Dalam Negeri pun akan meminta klarifikasi pada Gubernur Sumatera Barat tentang hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Detik.com, 28 Agustus 2009&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-4857688487728664879?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/4857688487728664879/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=4857688487728664879' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/4857688487728664879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/4857688487728664879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/08/2-pulau-di-karimunjawa-dikelola-asing.html' title='2 Pulau di Karimunjawa Dikelola Asing'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/Sp_JCboN4KI/AAAAAAAAALc/bgSa4bhQEfQ/s72-c/Pulau-dijual-dalam.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-7568133729868547555</id><published>2009-08-27T06:41:00.000-07:00</published><updated>2009-09-03T06:44:46.935-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berita'/><title type='text'>Melongok Ponpes Al Muttaqin Jepara</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/Sp_IHnAIaCI/AAAAAAAAALU/VJO-WEf_1A4/s1600-h/urwah2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 128px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/Sp_IHnAIaCI/AAAAAAAAALU/VJO-WEf_1A4/s200/urwah2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5377236513157834786" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="judul"  style="font-size:100%;"&gt;Tak Ada Yang Perlu Dicurigai di Ponpes Urwah &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rosidi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu&lt;/span&gt; Ponpes Al Mukmin Ngruki Sukoharjo dan Ponpes Daarussyahadah Boyolali disorot karena beberapa tersangka terorisme pernah belajar di pondok ini. Kini, setelah Bagus Budi Pranoto alias Urwah menjadi buron, Ponpes Al Muttaqin Jepara juga disorot. Urwah alumnus ponpes ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana sebenarnya aktivitas di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Muttaqin? Detikcom telah berkunjung ke Pondok Pesantren ini pada Selasa (25/8/2009) lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ponpes ini terletak relatif jauh dari pusat kota Jepara, Jawa Tengah. Namun, untuk menemukan ponpes yang terletak di Desa Sowan Kidul, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara ini, tidaklah sulit. Nama Ponpes ini dikenal oleh warga di Kecamatan Kedung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berada di lahan sekitar 2 hektar, saat ini Ponpes tersebut memiliki sekitar 750 santri yang berasal dari kabupaten atau kota dari berbagai pelosok nusantara, termasuk NTB dan NTT. "Santri ada yang datang dari NTB, NTT, Lampung, Bekasi dan lain sebagainya," kata Abdurrohman, ustad kelahiran Kota Gudeg, Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usia pondok ini tidak setua Ponpes Ngruki. Pondok ini baru berdiri tahun 1988 dan sudah mengantongi izin secara sah sebagai lembaga pendidikan. Ponpes ini terdiri dari dua jenjang pendidikan, yaitu Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang setara SMP dan Madrasah Aliyah (MA), setara dengan SMA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemantauan detikcom, suasana ponpes ini tidak berbeda dengan Ponpes lainnya. Di bagian depan, terdapat sebuah gerbang terbuat dari bambu. Di dalamnya, terdapat pos jaga, dengan lima orang yang sedang berjaga sembari membaca kitab maupun buku pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan pos jaga, ada ruang tamu terbuat dari kayu yang cukup sangat unik. Plang di depan ruangan bertuliskan 'Ruang Tamu' itulah yang menandaskan tempat merupakan tempat untuk menyambut orang luar pondok yang hendak bersilaturrahmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping ruang tamu, ada masjid yang cukup bersih. Beberapa santri nampak membaca al-Qur'an. Maklum, di bulan puasa ini, mereka diminta oleh ustadnya untuk memperbanyak amal sholeh, baik dengan membaca al-Qur'an maupun berdzikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Ramadan ini, kegiatan mengaji, selain kegiatan rutin, ditambah. "Setiap sore ada kegiatan mengaji kitab dan al-Qur'an. Sementara habis shubuh, diadakan kuliah pagi yang diisi oleh santri secara bergantian," terang Abdurrohman, alumnus Ponpes Al-Muttaqin yang sudah tiga tahun ikut membantu mengajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara kasat mata, tidak ada yang perlu dicurigai terhadap ponpes ini. Namun, menurut sumber detikcom di kepolisian, karena salah satu alumnusnya, Bagus alias Urwah, menjadi tersangka kasus bom JW Marriott Jakarta dan The Ritz-Carlton, maka ponpes ini pun dipantau aparat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi seperti sorotan terhadap Ponpes Ngruki dan Daarussyahadah sebelumnya, biasanya para tersangka terorisme itu tak melibatkan lembaga pendidikan tempat dia belajar. Demikian pula yang terjadi pada Ponpes Al Muttaqin. Apalagi, para pelaku terorisme sudah lama meninggalkan ponpes dan bergumul dengan komunitas, jamaah, organisasi, kelompok, atau jaringan-jaringan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Detik.com, 27 Agustus 2009&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-7568133729868547555?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/7568133729868547555/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=7568133729868547555' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/7568133729868547555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/7568133729868547555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/08/melongok-ponpes-al-muttaqin-jepara.html' title='Melongok Ponpes Al Muttaqin Jepara'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/Sp_IHnAIaCI/AAAAAAAAALU/VJO-WEf_1A4/s72-c/urwah2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-1095502989334460285</id><published>2009-08-19T06:29:00.000-07:00</published><updated>2010-02-14T06:32:17.234-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>PLTN Muria Dan Problem Keseimbangan</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;a href="http://regional.kompas.com/read/2009/08/19/15594958/PLTN.Muria.Dan.Problem.Keseimbangan"&gt;(KOMPAS, 19 AGUSTUS 2009)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;M Abdullah Badri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lama&lt;/span&gt; tak tersiar kabar, bukan berarti rencana Pembangunan Listrik Tenaga Nuklir Balong, Semenanjung Muria Jepara, berhenti. Proyek yang dimotori Badan Tenaga Atom Nasional itu, pada tahun 2007 sempat menjadi isu nasional, bahkan internasional. Lembaga Bahtsul Masa’il Nahdlatul Ulama Cabang Jepara bahkan pernah mengeluarkan fatwa haram terhadap rencana tersebut. Alasannya, mudarat yang ditimbulkan lebih terang daripada manfaat yang bisa diambil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski rencana tersebut menurut pemerintah dimaksudkan sebagai langkah mengatasi krisis energi yang akan terjadi pada 2025, toh demikian reaksi warga terhadap rencana pembangunannya, ketika itu, masih tegas menolak. Bahkan, ketika penulis berkunjung ke sana, terpampang banyak spanduk di jalan-jalan setapak kampung yang menyatakan penolakan keras. ”Hidup Mati Warga Balong Tolak PLTN,” demikian salah satu bunyi spanduk itu. Apakah penolakan itu masih terdengar nyaring?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tidak diekspos media secara besar-besaran selama kurang lebih dua tahun, penolakan rencana seperti ditelan bumi. Bahkan, beberapa waktu lalu, Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menneg Ristek) Kusmayanto Kadiman menegaskan bahwa tak ada perubahan dalam rencana pembangunan PLTN Muria. Megaproyek yang mengacu pada UU No 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) itu bahkan ditargetkan beroperasi pada 2016.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi tersebut berbeda dengan kabar yang saya terima dari seorang sarjana nuklir dari Jepara. Dia pernah mengatakan kepada saya bahwa setelah mendengar penolakan PLTN dari warga Balong, yang berbuntut pada keluarnya fatwa haram PLTN dari LBM NU Cabang Jepara, presiden memutuskan untuk menunda keputusan jalan dan tidaknya PLTN Muria hingga 2015.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara ideal, PLTN adalah perwujudan dari mimpi untuk membangun bangsa. Kita yakin pemerintah mencanangkan program itu untuk kepentingan rakyat banyak. Sumber energi yang diprediksi menelan biaya hingga Rp12 triliun itu rencananya dibangun dengan kekuatan hingga 6.000 mega watt (MW). Siapa pun akan mendukung rencana mulia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dalam praktik, untuk mendapatkan dukungan itu harus melewati negosiasi agar tercapai apa yang disebut kesetimbangan sosial dan kultural. Terjadinya penolakan tegas dari warga Balong karena belum adanya kesetimbangan kepentingan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tiga kesetimbangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Warga yang daerahnya dijadikan lokasi proyek merasa khawatir akan bahaya PLTN sebagaimana kecelakaan yang terjadi di Chernobyl, Ukraina, 25 April 1986, yang menewaskan ratusan korban. Sementara itu, pemerintah tetap bersikukuh bahwa PLTN yang akan dibangun itu berbeda dengan yang dulu ada di negara pecahan Uni Soviet tersebut. Jelas tidak akan terjadi kesetimbangan sosial, manakala mekanisme yang ditempuh adalah petak umpet, sembunyi-sembunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika penulis berkunjung ke Balong, banyak warga yang pada awalnya mengaku tidak mengetahui adanya rencana pembangunan PLTN, padahal bangunan untuk melakukan kegiatan penelitian proyek tersebut sudah berdiri kokoh. Mereka mengetahui rencana tersebut setelah ada wartawan asing yang datang meliput ke desa. Jika cara ini yang ditempuh, jelas tidak akan menemukan kesetimbangan sosial, justru keriuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali pemerintah merasa perlu membangun PLTN untuk memenuhi keseimbangan energi di masa depan. Sebuah harapan yang optimistis. Secara filosofis, Tuhan memang menciptakan alam ini dengan kesetimbangan ekologis yang pasti. Dunia dan alam ini adalah titipan Tuhan yang diberikan sepenuhnya untuk kesejahteraan manusia di muka bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika manusia memanfaatkannya dengan baik, kebutuhan manusia akan tercukupi. Tidak akan ada kekurangan energi. Yang membuat bumi rusak adalah kerakusan. Mahatma Gandhi pernah berkata: bumi ini bisa menampung segala apa yang ada di atasnya, kecuali kerakusan dan keserakahan manusia. Apakah pembangunan PLTN berangkat dari kerakusan atau kesadaran mengelola amanat Tuhan, tidak ada yang tahu, kecuali orang-orang yang berkepentingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiadanya kesetimbangan etis dalam pengelolaan PLTN pascapembangunan juga menyisakan problem. Banyak orang yang menyangsikan kualitas sumber daya manusia Indonesia untuk mengelola megaproyek yang akan menyedot biaya besar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mental masyarakat kita masih belum bisa dianggap mandiri, bersih dari korupsi, dan kecurangan politik. Banyak unsur human error yang dijadikan alasan beberapa pihak menolak ambisi pemerintah itu. Ada kekhawatiran, bila PLTN Muria benar-benar direalisasikan, bukan kesetimbangan energi dalam negeri yang tercipta, melainkan pengangkutan energi ke luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga problem kesetimbangan tersebut, yakni kesetimbangan sosial, ekologis, dan etis perlu diselesaikan pemerintah bila ingin memuluskan rencana tersebut. Pemerintah, yang terutama diwakili Pemerintah Kabupaten Jepara, harus berani menghadapi masyarakat yang menolak. Jangan sampai masyarakat terus dirundung kekhawatiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, media juga harus memantau secara simultan perkembangan proses menuju kesetimbangan itu, agar berjalan sesuai dengan mekanisme yang berlaku serta ketentuan-ketentuan hukum yang telah distandardisasi dunia internasional. Ini terutama berkaitan dengan proses negosiasi antara pemerintah dan warga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan Menneg Ristek yang terus melanjutkan rencana pembangunan PLTN Muria akan menemukan kebenarannya jika bisa menyelesaikan ketiga problem kesetimbangan tersebut. Pendekatan politik an sich, tanpa ada upaya-upaya mencapai kesetimbangan secara kultural hanya akan melahirkan ketidakpuasan massa di mana-mana.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-1095502989334460285?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/1095502989334460285/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=1095502989334460285' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/1095502989334460285'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/1095502989334460285'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/08/pltn-muria-dan-problem-keseimbangan.html' title='PLTN Muria Dan Problem Keseimbangan'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-8122110557724014873</id><published>2009-08-19T02:11:00.000-07:00</published><updated>2009-08-25T02:30:48.880-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Meratapi Pers Sekolah Jepara</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;M Saifuddin Alia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Konsultan di Smart Institute Jepara dan Sekretaris Forum Nasional Pers Pesantren (FNPP) Wilayah Jawa Tengah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Harus&lt;/span&gt; diakui perkembangan pers sekolah di Jepara masih jauh dari keinginan. Berbeda dari pers sekolah di Kudus yang meningkat cukup tajam. Saat ini mayoritas sekolah atau madrasah di Kota Keretek itu telah memiliki majalah ataupun buletin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja Madrasah Aliyah (MA) Banat dengan El-Banat, SMA Al-Ma’ruf dengan majalah Suara Al-Ma’ruf, MA Qudsiyyah Menara dengan El-Qudsy, MA TBS Kudus dengan At-Thullab dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, mengingat pers sekolah kian hari semakin urgen, maka mau tidak mau mulai sekarang pers sekolah di Jepara harus kita tata, bangun dan kembangkan bersama-sama. Memang untuk merintis dan membangun pers sekolah di Jepara tidaklah mudah, namun bila ada kesadaran seluruh komponen, niscaya membangun pers sekolah bukanlah pekerjaan yang sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi bila ada kesadaran dan dukungan dari kepala sekolah, guru dan wali murid secara total. Niscaya tidak lama lagi pers sekolah di Jepara dari aspek kuantitas dan kualitas akan mampu bersaing dengan pers sekolah di Kudus.&lt;br /&gt;Dukungan Pertama, dukungan kepala sekolah. Dukungan kepala sekolah se-Kabupaten Jepara sangatlah penting mengingat peranan kepala sekolah dalam konteks ini nyaris tidak ada bandingannya. Karena sesungguhnya pers sekolah ada maupun tidak ada di suatu sekolah atau madrasah sepenuhnya tergantung kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kepala sekolah menyetujui dan mendukung keberadaannya, maka terwujudlah pers sekolah. Tapi sebaliknya bila kepala sekolah tidak mengizini bahkan melarang, maka mustahil pers sekolah dapat terwujud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat begitu besarnya peranan kepala sekolah dalam menentukan ada dan tidak ada pers sekolah, maka setiap kepala sekolah di Jepara dituntut memiliki pemahaman dan kesadaran akan pentingnya pers sekolah. Dengan tercipta kesadaran ini, diharapkan ke depan seluruh kepala sekolah di Jepara mendukung secara total keberadaan dan kemajuan pers sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan lebih dari itu, setiap kepala sekolah juga diharapkan lebih bangga bila sekolahnya memunyai pers sekolah. Apalagi sampai mampu mengelola dan menerbitkan mading, buletin, tabloid, ataupun majalah secara konsisten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, dukungan guru. Dukungan guru dalam hal ini tidak kalah urgen, sebab pada hakikatnya peranan guru dalam membangun pers sekolah sangatlah menentukan. Sebab bila kepala sekolah telah memberi izin atas keberadaan pers sekolah, maka eksistensi selanjutnya sepenuhnya tergantung pada guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah pers sekolah dalam perjalanannya produktif atau tidak, bermutu atau tidak, maju atau stagnan, semua tergantung pada peranan guru. Maka guru dituntut untuk selalu proaktif dan konsisten dalam ikut membangun dan membesarkan pers sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permasalahannya adalah saat ini baru sedikit guru yang mengerti, paham dan menguasai jurlistik serta mau dengan serius membimbing siswa. Inilah problem krusial bagi sekolah. Kebanyakan sekolah di Jepara tidak memunyai guru yang menguasai jurnalistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu wajar bila sering pihak sekolah dan siswa justru kebingungan dalam mengelola pers sekolah, karena sama sekali tidak memiliki guru yang mampu mendampingi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, bila keadaannya memang seperti itu, kepala sekolah harus sigap dengan menugasi salah seorang guru, terutama guru bahasa Indonesia segera belajar jurnalistik. Bila dengan cara yang demikian dinilai kurang tepat, maka kepala sekolah bisa mencari tenaga (baca: orang) yang benar-benar mempunyai kemampuan jurnalistik untuk membimbing mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira sekarang sudah banyak tersedia orang yang kemampuan jurnalistik. Utamanya para aktivis pers mahasiswa, baik yang telah memperoleh gelar sarjana maupun yang masih aktif kuliah. Mereka dapat dimintai bantuan membangun pers sekolah secara profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, dukungan wali murid. Dukungan wali murid dalam hal ini sangatlah menentukan. Sebab se-usia tingkat SMP dan SMA umunya masih patuh pada orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat begitu penting peranannya, segenap wali murid diharapkan dapat memberi nasihat pada anak-anaknya untuk masuk menjadi anggota pers sekolah. Hal seperti inilah yang seharusnya dilakukan oleh para wali murid di Jepara secara konsisten dan totalitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, itulah strategi untuk membangun pers sekolah. Bila hal tersebut mendapat dukungan totalitas dari Pemda dan seluruh perusahaan di Jepara serta dilaksanakan dengan konsisten dan berkesinambungan, niscaya pers sekolah di Jepara akan tumbuh dengan subur, berkualitas dan dapat memberi manfaat sebanyak-banyaknya bagi siswa. (35)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Suara Merdeka, 19 Agustus 2009&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-8122110557724014873?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/8122110557724014873/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=8122110557724014873' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/8122110557724014873'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/8122110557724014873'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/08/meratapi-pers-sekolah-jepara.html' title='Meratapi Pers Sekolah Jepara'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-7043457468825715475</id><published>2009-08-17T00:20:00.000-07:00</published><updated>2009-08-23T00:26:50.398-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Lusuhnya Sang Sakaku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/SpDvAEnzTwI/AAAAAAAAALE/2NbTFFRbi5Y/s1600-h/5640_1108490558754_1421527116_30305220_6874227_a.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 190px; height: 123px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/SpDvAEnzTwI/AAAAAAAAALE/2NbTFFRbi5Y/s200/5640_1108490558754_1421527116_30305220_6874227_a.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5373057139972722434" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Cerpen &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nur Halimah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dikamar&lt;/span&gt; yang sempit dan pengap itu, Rano mengobrak-abrik seluruh isi lemari ibunya. Semua pakaian yang sudah tertata rapi pun kini berserakan dilantai rumah yang beralaskan tanah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu, benderanya dimana?” teriak Rano, sambil terus mencarinya diantara tumpukan pakaian yang masih tersisa dalam lemari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu yang mendengar teriakan Rano langsung beranjak dari duduknya dan menghentikan mengiris bawangnya. “Bendera apa Rano?” menyusul Rano yang ada dikamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya ampun! Kamu ini apa-apaan?” tanya ibu heran dan melayangkan pandangannya kesemua sudut kamar. Ia sangat kaget dengan keadaan kamarnya yang berantakan. Ia belum sampai masuk kedalam kamar dan hanya berdiri didepan pintu kamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rano hanya menoleh dan sama sekali tidak menggubris pertanyaan ibunya barusan. Ia masih sibuk mencari benderanya, “Benderanya mana bu? Bendera yang buat tujuh belasan,” ucapnya dengan wajah yang sangat kebingungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu cari dilemari yang paling bawah sana. Seingat ibu, dulu dia menaruhnya disitu,” lalu masuk dan memunguti semua pakaian yang berserakan ditanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rano langsung jongkok dan mencari dibagian bawah lemari itu. Cukup lama sudah ia mengobrak-abrik seluruh lemari milik ibunya dan akhirnya setelah lama mencari ia bisa mendapatkan apa yang ia cari yaitu bendera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata barang itu terselip diantara pakaian-pakaian yang sudah tidak layak pakai dan jelek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya! Ketemu bu benderanya!” teriak Rano kegirangan. Ia melompat-lompat diatas tempat tidur dan mengibar-ngibarkan benderanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu yang melihat anaknya itu pun hanya bisa tersenyum sekaligus heran. Ia tak tahu kenapa anaknya itu tiba-tiba mencari-cari bendera merah putihnya, dan begitu senang ketika menemukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak ia berpikir. Ia baru ingat kalau sekarang adalah bulan Agustus dan empat hari lagi adalah tanggal 17 Agustus yang artinya adalah hari kemerdekaan Indonesia. Setiap menjelang tanggal 17 itu, ada kebiasaan di desanya untuk memasang bendera di depan rumah sebagai tanda penghormatan pada para pahlawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Rano terdiam dan kembali duduk diatas tempat tidur, ia terlihat sedang memperhatikan benderanya dengan seksama. “Bu, benderanya kok bolong?” tanya Rano kecewa, ia menunjukkan bagian yang berlubang itu pada ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lubangnya memang cukup besar untuk seukuran bendera milik Rano. Kondisinya juga kalau dilihat-lihat memang sudah sangat tidak layak pakai. Warnanya sudah pudar, bukannya merah dan putih lagi tapi sudah orange dan coklat. Selain itu juga ada banyak lubang-lubang kecil dibeberapa bagian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu meminta bendera yang sedang dipegang Rano itu, “Ya sudah, nanti ibu tambal yang bolong ini,” ucap ibu menenangkan Rano.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Rano masih belum bisa tenang dengan janji ibu barusan. Ia berlari dan keluar dari kamar ibunya dengan wajah yang murung. Ia pergi menuju kamarnya. Dikamar yang juga sangat sederhana dan berlantaikan tanah itu pula, Rano mengambil celengan semar kecil miliknya yang ia taruh didalam lemarinya. Ia mengangkatnya tinggi-tinggi, rasanya ringan sekali. Ia kemudian duduk diatas tempat tidurnya dan memangku celengan semarnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa aku beli bendera yang baru saja ya? Pakai uang ini,” Rano bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sangat ingin sekali memasang bendera yang besar dan bagus didepan rumahnya, tapi bendera miliknya sudah tidak layak pakai. Tapi kalau ia membeli bendera dengan uang itu, ia harus merelakan uang tabungan yang seharusnya ia pakai untuk persiapan masuk SMA dua tahun lagi itu habis. Setelah cukup lama berpikir, akhirnya ia berdiri dan BRAK!. Suara bantingan benda yang jatuh dan sangat keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu yang mendengar suara benda yang jatuh dan pecah itu langsung berlari dari kamarnya dan menuju asal suara yang didengarnya, yaitu kamar Rano. “Ada apa Rano?” tanya ibu bingung sekaligus panik dan berdiri didepan pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rano menoleh dan mengarahkan pandangan matanya kelantai, ibu mengikuti arah mata Rano yang hanya terdiam. Dan betapa kagetnya ibu ketika melihat serpihan-serpihan celengan semar milik anaknya itu dilantai. Disitu juga berserakan pula uang recehan dan beberapa lembar uang kertas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buat apa kamu pecahkan celengan itu nak? Itukan satu-satunya uang tabungan yang kamu punya?” tanya ibu kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil memunguti uangnya yang berserakan ditanah, dan suara yang sedikit ketakutan serta menunduk Rano menjawab “Buat beli bendera bu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu kan sudah bilang akan memperbaiki bendera itu, kenapa kamu korbankan si semar,” menyusul Rano kedalam kamar dan duduk diatas tempat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi benderanya sudah jelek bu, Rano kan malu,” jawab Rano yang duduk disamping ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Malu sama siapa?” tanya ibu heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Malu sama para pahlawan kemerdakaan bu. Rano malu dengan beliau-beliau itu,” ucap Rano berapi-api Ia sudah lupa dengan ketakutannya tadi dan kini ia tiba-tiba menjadi sangat bersemangat menjawab pertanyaan ibunya barusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka sudah mengorbankan seluruh tumpah darah mereka dengan kemerdekaan kita bu, demi terbebasnya Indonesia dari para penjajah, masak kita nggak mau menghargai jasa-jasa dan segala pengorbanan mereka itu bu?” sejenak Rano berhenti.&lt;br /&gt;“Apalah arti sebuah uang kalau dengan Rano memasang bendera yang layak dan indah dilihat itu, kalau para pahlawan yang berada disurga itu bisa bahagia, mereka akan merasa dihargai dengan itu bu,” ucap Rano berapi-api dan berdiri didepan ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu yang mendengar seluruh orasi anaknya itupun kagum sekaligus bangga dengan sikap anaknya yang sangat menghargai para pahlawannya itu. Ia sama sekali tak menyangka kalau anaknya yang biasanya cengengesan dan tak peduli dengan sekitar itu bisa sangat dewasa kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya uangmu sudah cukup nak?” tanya ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rano lalu menghitung uang yang ada ditangannya, terlihat ada uang recehan lima ratusan dan beberapa lembar uang kertas ditangannya. “Ada tiga belas ribu dua ratus rupiah bu,” Rano menunjukkannya pada ibunya. “Kira-kira cukup apa nggak ya bu?” lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu juga tidak tahu Ran, tapi kalau yang ukuran kecil mungkin sudah bisa terbeli,” ucap ibu sambil berpikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang kecil ya bu?” tanya Rano kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu mengangguk, lalu tak lama kemudian Rano pamit pada ibu untuk pergi kepasar yang letaknya tak terlalu jauh dari rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rano menyusuri jalan dibawah teriknya matahari, ia sama sekali tak mempedulikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun panas sangat menyengat dan menembus kulit, ia tetap bersemangat. Belum sampai Rano dipasar, ia sudah menemukan penjual bendera yang sedang berderet rapi di trotoar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menghentikan langkahnya didepan seorang penjual laki-laki yang sudah cukup tua usianya. Diantara pohon-pohon peneduh jalan diberinya tali untuk menaruh dan menggantung bendera-bendera yang dia jual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rano jongkok dan sibuk memilih-milih bendera merah putih yang ingin dia beli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Duh…yang mana ya yang harganya murah?” Rano bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang murah nak? Ini yang murah, sepuluh ribu sudah dapat,” ucap pak penjual tua itu memberi saran dan menunjukkan benderanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok kecil ya mbah?” Rano kembali memilih dan mencari bendera yang berukuran besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama ia pun berhasil menemukannya. “Kalau yang ini berapa mbah?” menunjukkan bendera yang dipilihnya. Ukurannya sangat besar, kalau anda pernah melihat acara pengibaran bendera di Istana Merdeka, hampir sebesar itu ukurannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau yang itu ya lima puluh ribu nak, mbah tidak ambil untung. Buat kamu mbah sudah kasih diskon itu,” ucapnya dengan logat jawa yang medok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rano berpikir, dari mana ia bisa membeli bendera itu sedangkan uangnya hanya ada tiga belas ribu. “Ini nggak boleh ditawar mbah?” tanya Rano meyakinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki itu menggeleng, lalu Rano kembali meneruskan memilih benderanya. Tak lama, tiba-tiba lelaki tua itu berkata pada Rano, “Titip dagangan kakek sebentar ya nak, mbah mau kencing kebelakang sana sebentar,” ucap si kakek lalu berdiri dan meninggalkan dagangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah agak lama kakek itu pergi meninggalkan dagangannya. Rano mulai memiliki pikiran yang jelek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei Rano, kamu ambil saja bendera yang kau inginkan,” entah dari mana ada suara itu, tiba-tiba saja terngiang ditelinganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rano bingung, ia menoleh kekanan dan kekiri namun tak ada seorang pun yang berada disampingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan Rano, itu tidak boleh. apa kamu mau mengecewakan para pahlawanmu itu?” terdengar suara yang serupa namun menyerukan hal yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berulang kali ucapan serupa menghampiri Rano, ia sangat bingung dan juga bimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ia akan mengikuti suara pertama ataukah suara yang kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba ditengah kebingungannya, ada seorang pria setengah baya yang menghampiri dan menepuk bahu kanannya. Rano menoleh, ia kaget karena ternyata yang menyapanya adalah pak Anton, ketua RT di daerah tempat tinggal Rano.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu mau ngapain Ran?” tanya pak Anton memulai pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini pak, mau beli bendera.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Penjualnya mana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berapa lama Rano dan pak Anton bercakap-cakap, datanglah kakek penjual bendera itu. Rano kemudian kembali menawar harga bendera yang ia inginkan itu, tapi kakek itu menolak harga yang diajukan Rano.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar perdebatan antara Rano dan penjual itu, pak Anton menjadi kasihan dan iba dengan keinginan Rano yang begitu menggebu-gebu untuk memiliki bendera yang dipilihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Rano putus asa, ia berniat untuk pergi dan pindah pada penjual yang lain. Tapi tiba-tiba pak Anton mencegahnya. Rano tak jadi pergi dan ia kembali berdiri disamping pak Anton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu benar-benar menginginkan bendera itu Rano?” tanya pak Anton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rano mengangguk, ia memang benar-benar menginginkan bendera itu. Dan tak begitu lama, ternyata pak Anton menyodorkan selembar uang lima puluh ribu dan menyerahkannya pada kakek penjual itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa senangnya Rano ketika pak Anton menyerahkan bungkusan plastik hitam yang berisikan bendera yang dipilihnya. Ia tak henti-hentinya berucap terima kasih pada pak Anton, sang penolongnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pamit, ia langsung berlari pulang. Sesampainya ia dirumah, ia langsung menuju belakang rumah dan mengambil sebuah bambu panjang untuk mengibarkan benderanya. Ia langsung memasang bendera itu dengan segera. Setelah terpasang, ia memperhatikan dan tersenyum bangga melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu yang melihat dari dalam rumah, heran dengan bendera yang begitu besar berkibar didepan rumahnya. Ia menyusul Rano yang masih berdiri dibawah tiang bendera bambunya. Ibu tak bertanya dari mana Rano bisa membeli bendera yang begitu besarnya. Ia hanya menoleh dan terseyum bangga melihat bendera yang berkibar dengan anggunnya didepan rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akhirnya Rano benar-benar bisa membuat para pejuang itu tersenyum bangga bu,” ucap Rano tanpa menoleh pada ibu dan tetap memperhatikan benderanya.&lt;br /&gt;Ibu yang mendengar perkataan anaknya pun ikut tersenyum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cerpenis muda asal Madrasah Aliyah (MA) Walisongo Pecangaan Jepara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-7043457468825715475?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/7043457468825715475/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=7043457468825715475' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/7043457468825715475'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/7043457468825715475'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/08/lusuhnya-sang-sakaku.html' title='Lusuhnya Sang Sakaku'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/SpDvAEnzTwI/AAAAAAAAALE/2NbTFFRbi5Y/s72-c/5640_1108490558754_1421527116_30305220_6874227_a.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-3248953565435183393</id><published>2009-06-30T01:41:00.000-07:00</published><updated>2009-06-30T01:43:27.764-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>kata</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Puisi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fachrin Azka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;matahari berkata pada dunia&lt;br /&gt;apa ada air di padang sahara&lt;br /&gt;selain dari telaga cinta&lt;br /&gt;yang penuh dengan duka&lt;br /&gt;bumi berkata pada jiwa&lt;br /&gt;apa arti sang pujangga&lt;br /&gt;jika dia tak bisa lagi merangkai kata&lt;br /&gt;karena perginya sang dewi ke nirwana&lt;br /&gt;laut berkata pada samudera&lt;br /&gt;saat senja tiba&lt;br /&gt;sejuta pesona tercipta&lt;br /&gt;pelipur, derita, duka&lt;br /&gt;bulan berkata pada gerhana&lt;br /&gt;tak ada yang menakutkan&lt;br /&gt;daripada derita cinta&lt;br /&gt;yang menghadirkan beribu rindu dan lara&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-3248953565435183393?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/3248953565435183393/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=3248953565435183393' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/3248953565435183393'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/3248953565435183393'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/06/kata.html' title='kata'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-406003292251586174</id><published>2009-06-05T19:37:00.000-07:00</published><updated>2009-06-05T19:38:23.374-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Cinta Tak Berujung</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Cerpen &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Azzah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19 November,&lt;br /&gt;Ry, hujan lebat mengguyur bumi, angin berhembus menggoyangkan tirai jendela, menambah dingin suasana malam, sebatang lilin menyala redup, kembang kempis terbuai sepoi nyanyian malam. Dingin, sunyi, menikam kalbu. Luapan tangis terus mengalir, sedihku tak kunjung padam, bak hujan malam ini yang tak kunjung reda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 Desember,&lt;br /&gt;Aku belum bisa membuka mulut, aku tetap diam seribu bahasa, aku sadar, bila semua ini menyiksa sekelilingku, bahkan diriku sendiri. Aku bak patung batu di tengah musim penghujan. Gurauan, hiburan, canda tawa teman-teman mencoba melunakkan hatiku yang beku, melemahkan tubuh nan kaku, namun...aku tetap tak bergeming...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1 Februari,&lt;br /&gt;Seberkas asa menyelinap pelan, seulas senyum tersungging di sudut bibirku yang telah lama kaku, mentari menyapaku dengan benderang, seterang hatiku saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ry, kesedihanku berangsur luntur, entah kena sihir apa... Apa malaikat telah mengirimnya tuk menyeka air mataku? Kebahagiaan baru, peristiwa bersejarah dalam hidupku, pertemuanku dengan Lidya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9 Februari,&lt;br /&gt;Ry, hari-hariku penuh warna, kutemukan kembali pengganti bungaku yang telah menghilang. Ry, jantungku terus berdetak kencang bila mengingat parasnya, Lidya... begitu anggun menawan, buatku tergila-gila, Lidya...ingin aku mengenalnya lebih jauh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14 Februari,&lt;br /&gt;Sebelum malam  terlalu kelam&lt;br /&gt;Izinkan aku mengucap salam&lt;br /&gt;Salam dari hati terdalam&lt;br /&gt;Teruntuk bunga yang buatku tenggelam&lt;br /&gt;Lidya...&lt;br /&gt;Keelokanmu bak batu pualam&lt;br /&gt;Tak kuasa aku  tuk menyelam&lt;br /&gt;Lidya...&lt;br /&gt;Happy Valentine Day&lt;br /&gt;Salam....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuberanikan diri melayangkan sepucuk surat merah jambu teruntuk pujaan hatiku, Lidya.... Bingung, ragu, cemas merundung perasaanku. Tubuh lemas, hati berdebar, harap-harap cemas. Ry, apa bungaku juga merasakan hal ini? Aku memang penakut, aku benar-benar tak punya kekuatan tuk bertatap muka dengannya, apalagi mengucapkan sepatah kata. Kupikir dan berharap, melalui surat ini mampu mewakili diriku....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;21 Februari,&lt;br /&gt;Tuhan...dia begitu indah.... Ry, dia tersenyum padaku, bayangan itu melekat di pelupuk mataku, hatiku  terlalu hanyut bersama kegilaanku padanya, walau suratku belum terbalas, seulas senyumnya cukup menenangkan hatiku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7 Maret,&lt;br /&gt;Ry, apa aku terlalu pecundang? Aku masih belum kuasa tuk menatap matanya, melihatnya dari kejauhan saja, gemetar tubuhku begitu hebat.... Surat kedua, kembali kutitipkan pada Eka, sahabat karib Lidya.&lt;br /&gt;Lidya...&lt;br /&gt;Hatiku terpasung&lt;br /&gt;Oleh harapan yang menggantung&lt;br /&gt;Lidya...&lt;br /&gt;Sudikah kau buka sedikit celah&lt;br /&gt;Dalam relung hatimu...&lt;br /&gt;Tuk menyambut lambaian tanganku&lt;br /&gt;Adakah tempat untukku&lt;br /&gt;Tuk singgah&lt;br /&gt;Dalam tahta kalbumu?&lt;br /&gt;Lidya...&lt;br /&gt;Pesonamu begitu menawan...&lt;br /&gt;Salam...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15 April&lt;br /&gt;Sebulan berlalu, Lidya tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Aku semakin gila dibuatnya. Melamun, merenung, menangis, mondar-mandir, kesana-kemari, layaknya agen pelacak, itulah aktivitasku sehari-hari. Mengingat senyumnya, semangatku begitu membara, terpikir akan keberadaannya.... Aku semakin gelisah, rinduku membuncah, air mataku meleleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lidya...&lt;br /&gt;Dimanapun engkau berada&lt;br /&gt;Cintaku padamu tetap ada&lt;br /&gt;Kapanpun engkau kembali&lt;br /&gt;Cintaku padamu tak kan pernah basi&lt;br /&gt;Lidya...&lt;br /&gt;Tahukah kau...&lt;br /&gt;Aku benar-benar gila!!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;09 Mei,&lt;br /&gt;Sepasang pengantin berpose mesra, kamera terus mengintai, tak rela kehilangan sedetikpun, dekorasi bernuansa putih menambah kesan natural, taburan mawar merah menghujani dua sejoli diatas tahta. Rentetan acara berjalan sakral, merci merah marun berhiaskan bunga siap mengantar sang mempelai ke istana impian.&lt;br /&gt;Ry, aku tak kuasa menghadapi realita, kegilaanku makin menjadi. Inikah suratan takdir illahi yang tertulis dalam catatan jalan hidupku? Kedua kalinya aku lewati jalan terjal dalam pencarianku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan...&lt;br /&gt;Inikah jalanku?&lt;br /&gt;Cintaku tak pernah berlabuh...&lt;br /&gt;Cintaku tak pernah berujung...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-406003292251586174?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/406003292251586174/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=406003292251586174' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/406003292251586174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/406003292251586174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/06/cinta-tak-berujung.html' title='Cinta Tak Berujung'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-2196052465100461681</id><published>2009-06-04T00:15:00.000-07:00</published><updated>2009-06-06T00:21:29.640-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Mengurai Kendala Bisnis Ukir Jepara</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/SioYu5_DZRI/AAAAAAAAAK8/iesc285NwBM/s1600-h/IMG1090A.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 99px; height: 124px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/SioYu5_DZRI/AAAAAAAAAK8/iesc285NwBM/s200/IMG1090A.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5344111101946848530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;M Abdullah Badri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Warga Jepara &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;KABUPATEN&lt;/span&gt;  Jepara terkenal dengan sebutan sebagai kota ukir. Bukan hanya di tingkat lokal, sebutan itu juga meluas hingga di tingkat nasional, bahkan internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dikata, ukiran Jepara memiliki kekhususan dan menjadi ikon. Ketika menyebutkan kota ukir, orang akan menyebut Jepara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena dikenal hingga mancanegara, banyak investor beramai-ramai ”menyerbu” kota petilasan kerajaan Ratu Shima tersebut. Anda akan mudah menemukan ”orang-orang kompeni” yang mendirikan gudang-gudang atau pabrik-pabrik besar di sana, terutama di Kecamatan Tahunan yang menjadi pusat bisnis kayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak penduduk sekitar yang kemudian mendapatkan penghasilan hidup dari bisnis kayu. Bagi pemilik modal cukup, ia bisa membuka bisnis jual kayu dan mebel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi masyarakat ekonomi bawah, ia bisa menjadi buruh di gudang-gudang produksi kayu, menggunakan otot. Bagi buruh laki-laki, biasanya bekerja angkat-junjung, sedangkan bagi buruh perempuan biasanya menjadi tenaga ”pengamplas”, yakni menghaluskan hasil produksi kayu setengah jadi dengan amplas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhasil, banyak orang Jepara bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari dengan bisnis yang berkaitan dengan kayu. Bahkan, ada yang mendadak menjadi kaya dari bisnis itu.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Anda akan menemukan sedikit orang Jepara yang berhasil menjalankan bisnis kayu tersebut. Setelah tahun 2000, banyak pengusaha kayu di Jepara, pribumi maupun asing, yang gagal alias gulung tikar. Bahkan ketika dulu sempat menjadi milyarder, kini nasibnya berada di titik nadir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aset yang dimiliki ludes untuk menutup kerugian bisnis yang pernah ia bangun. Hal itu terjadi karena ukiran kini bukan lagi menjadi bisnis yang menjanjikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pasal? Para pengusaha mebel yang memproduksi perabot rumah tangga semisal kursi, meja dan almari kini jarang menggunakan ukiran sebagai motif khusus untuk memperindah hasil produksinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, banyak pengukir (pengrajin ukiran kayu) yang kehilangan lahan penghasilan. Selain itu, harga jual ukiran pun turun secara drastis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dulu seseorang dapat membeli tanah sepetak hanya dengan membuat satu-dua buah kayu ukiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya bermotif ular naga, burung garuda atau motif bunga khas Jepara. Kini untuk dapat melakukan itu harus membuat hingga sepuluh kali lipat karena harga ukiran semakin merosot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, Anda akan jarang menjumpai pengrajin ukir Jepara yang digolongkan mampu secara ekonomi sebagaimana pernah terjadi pada era tahun 1980-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa Depan Setelah banyak para pengukir Jepara yang beralih profesi, masa depan ukiran Jepara kian memudar. Ikon yang pernah dijadikan tanda pengenal Jepara kini tak tampak lagi dalam kehidupan ekonomi Jepara. Orang Jepara sendiri akhirnya tidak begitu memedulikan, melestarikan hasil karya nenek moyang yang konon belajar ukir dari China.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apatisme semacam itu mengakibatkan kekayaan intelektual Jepara dicuri oleh bangsa lain. Australia dengan angkuhnya kemudian mendaku sebagai pemilik ”sah” hak intelektual ukiran itu. Harga diri dipertaruhkan. Ini tentu menjadi pengalaman berharga yang tak akan pernah dilupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mau jujur, ”pencurian” yang dilakukan oleh negara Kanguru itu sebenarnya juga disebabkan oleh kelalaian masyarakat Jepara sendiri. Mereka enggan mengoptimalkan pengembangan karya ukirnya.&lt;br /&gt;Pemerintah juga ikut bertanggungjawab atas peristiwa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salama ini, iklim investasi yang diciptakan pemerintah Jepara terkesan lebih memihak kepada ”para kompeni” daripada warga pribumi. Seharusnya, pemerintah bisa mengembangkan sektor ekonomi riil kelas bawah yang menjadi tumpuan hidup banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikata Pemerintah Jepara membuat mekanisme bisnis mebel yang mewajibkan kepada setiap pengusaha untuk selalu menyertakan motif ukiran Jepara dalam hasil-hasil produksinya, tentu para pengrajin ukir tidak akan kehilangan lapangan pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sendirinya ukiran Jepara akan selalu terpelihara. Tidak akan dicuri oleh lain. Bahkan, pesona ukir Jepara akan tetap bersinar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu standardisasi ukiran Jepara, baik dalam hal kualitas maupun harga. Tujuannya, ukiran Jepara tidak mengalami apa yang dinamakan dengan gap developing (pembangunan yang timpang). Para investor asing juga tidak akan seenaknya membuat kebijakan perusahaan yang merugikan bisnis penduduk lokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi yang perlu diperhatikan adalah masalah kelangkaan persediaan kayu. Kayu yang tidak cukup membuat harganya semakin naik. Lagi-lagi, para pengusaha lokal banyak yang tercekik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengrajin ukiran juga terkena imbas. Karenanya, sistem distribusi kayu juga perlu mendapatkan perbaikan. (80)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Suara Merdeka, 04 Juni 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-2196052465100461681?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/2196052465100461681/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=2196052465100461681' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/2196052465100461681'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/2196052465100461681'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/06/mengurai-kendala-bisnis-ukir-jepara.html' title='Mengurai Kendala Bisnis Ukir Jepara'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/SioYu5_DZRI/AAAAAAAAAK8/iesc285NwBM/s72-c/IMG1090A.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-1599338257152183066</id><published>2009-06-01T20:07:00.000-07:00</published><updated>2009-06-04T02:09:53.598-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Pembangkitan Olahraga Bahari</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/SiePPztt9GI/AAAAAAAAAK0/XwsKUsI8Dg8/s1600-h/n1221953685_3123.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 91px; height: 121px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/SiePPztt9GI/AAAAAAAAAK0/XwsKUsI8Dg8/s200/n1221953685_3123.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5343396984641156194" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Muh Khamdan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Peneliti Paradigma Institute dan bekerja di BPSDM Depkumham RI&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;POTRET&lt;/span&gt; Kota Jepara dalam olahraga nasional sementara baru tampak dari cabang olahraga sepak bola setelah Persijap saat ini ikut bertengger dalam Indonesia Super League (ISL) serta Copa Indonesia. Sangat mengejutkan karena secara realitas meninggalkan kota-kota sekitar yang baru merebut divisi utama atau divisi di bawahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun betapa akan lebih memberi implikasi baik jika segmen olahraga bahari juga dibangkitkan dan menjadi target pemberdayaan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan saja, Jepara daratan memiliki 72 km bentangan pantai berpasir putih, belum termasuk gugusan 27 pulau dari Kepulauan Karimun Jawa yang memiliki karakteristik beragam. Hal demikian membuat Jepara berpotensi menjadikan olahraga bahari sebagai salah satu industri olahraga raksasa di wilayah Pantai Utara (Pantura) Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penetapan olahraga bahari sebagai salah satu industri olahraga raksasa bukan tidak mungkin terwujud. Tidak perlu ada pembangunan stadion yang mewah sebagaimana stadion Gelora Bumi Kartini (GBK), tetapi model olahraga bahari justru menghubungkan antara kealamian lingkungan dengan nilai-nilai sportivitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi penikmat olahraga bahari, salah satu kebutuhan pertandingan adalah kebutuhan kepuasan batin dengan panorama kebaharian, baik terkait daratan laut seperti pantai atau angin laut maupun perairan berupa ombak, flora, dan fauna laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagasan pemberdayaan olahraga bahari ini juga telah menjadi program pemberdayaan oleh Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), sebagaimana dikemukakan MB Zubakhrum Tjenreng, Deputi Pengembangan Industri Olahraga, bahwa sport fishing akan dikampanyekan sebagai industri kreatif di bidang olahraga bahari (MI, 22/5).&lt;br /&gt;Pemberdayaan Ekonomi&lt;br /&gt;Dalam keterikatan aspek olahraga ini, sport fishing yang identik dengan memancing akan mampu mendukung pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir karena terkait pada penyediaan perahu atau kapal sewaan sekaligus pemandu daerah pembiakan ikan, sehingga membuka lapangan kerja baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemiskinan yang masih diidentikkan pada masyarakat nelayan atau masyarakat pesisir secara umum sangat terkait dengan kualitas pengelolaan sumber daya kelautan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam paparan Riza Damanik, Sekjend Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan, dalam hari nelayan (Kompas, 6/4), kebijakan perikanan dan kelautan belum menempatkan nelayan sebagai elemen penting perekonomian nasional sehingga terkesan membiarkan nelayan mencari penghidupannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini masyarakat pesisir lebih terfokus pada pencarian sumber daya ikan sebagai konsumsi, padahal pada masa tertentu justru tidak bisa melaut yang berakibat pada munculnya masa paceklik dan menempatkan 90 persen nelayan tetap hidup miskin. Kualitas pengelolaan itu mesti diubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja untuk keperluan tersebut, diperlukan adanya perencanaan terpadu atas tahapan pembangunan di wilayah pesisir dan lautan. Perencanaan demikian mesti memperhatikan pemahaman potensi wilayah sehingga dapat dilanjutkan pada tahapan kegiatan konstruksi karena ekosistem pesisir merupakan ekosistem yang dinamis dan mudah berubah secara sporadis karena alam dan perbuatan manusia.&lt;br /&gt;Ada tiga potensi pembangunan bahari yang nantinya dapat dirancang secara berkesinambungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, sumber daya dapat pulih (renewable resource) yang terkait flora dan fauna serta unsur pendukung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, sumber daya tidak dapat pulih (non-renewable resource) yang terdiri atas unsur-unsur bahan mineral, seperti pasir bijih besi termasuk pasir putih. Ketiga, jasa lingkungan (environmental services) yang mengedepankan kreativitas pengelolaan sehingga tidak berhenti pada konsumsi ‘’mentah’’ dari laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu substansi yang menjadi konsiderans Manado Ocean Declaration (MOD) sebagai hasil dari 75 negara yang hadir di World Ocean Conference (WOC) pada 11-15 Mei, adalah agar terjadi partisipasi untuk tidak melakukan eksploitasi berlebihan terhadap laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, pemberdayaan olahraga bahari menjadi keniscayaan karena ramah lingkungan dan justru mampu memberikan hasil optimal dalam pengelolaannya. Karena itu perlu ada pendekatan interdisiplin ilmu melibatkan berbagai bidang ilmu, seperti ekologi, ekonomi, teknik, sosiologi, hukum, antropologi, dan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kampanye sport fishing yang dilakukan oleh Kemenpora, tercatat pada 2009 ini akan dilaksanakan kegiatan lomba memancing di berbagai daerah, dari Makasar (Sulawesi Selatan), Tanjung Pinang (Kepulauan Riau), Lombok (Nusa Tenggara Barat), dan Manado (Sulawesi Utara).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengimbangi pelaksanaan kegiatan tersebut, tentu bukan suatu hal yang sulit dilaksanakan di Jepara karena memancing hampir sudah menjadi budaya masyarakat, terutama menyangkut promosi Kepulauan Karimunjawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara dari aspek olahraga fisik, Pantai Bondo yang juga dikenal sebagai Pantai Ombak Mati layak dikembangkan sebagai gelanggang olahraga bahari Jepara. Bukan rahasia lagi, pasir putih yang dimiliki dengan hamparan daratan yang cukup datar secara luas mendukung keterwujudan lapangan voli pantai dan cabang-cabang olahraga yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan bahari sebagai potensi yang besar di Jepara mesti diberdayagunakan agar bermunculan atlet-atlet daerah yang bisa berkontribusi dalam mengembalikan supremasi olahraga Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efek sampingan dengan adanya gelanggang olahraga bahari di Jepara tentu menjadikan kota ini diperhitungkan. Alangkah majunya jika Pemkab Jepara   mampu mengembangkan sektor olahraga bahari guna menyambut kampanye Kemenpora tentang sport fishing, terlebih dengan telah dilaksanakannya Festival Internasional Pemuda dan Olahraga bahari (FIPOB). Sebelum terlambat mari berbenah bersama. (35)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Suara Merdeka, 01 Juni 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-1599338257152183066?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/1599338257152183066/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=1599338257152183066' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/1599338257152183066'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/1599338257152183066'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/06/pembangkitan-olahraga-bahari.html' title='Pembangkitan Olahraga Bahari'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/SiePPztt9GI/AAAAAAAAAK0/XwsKUsI8Dg8/s72-c/n1221953685_3123.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-5834777438092177625</id><published>2009-05-30T08:29:00.000-07:00</published><updated>2009-05-30T08:33:04.483-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Kesedihan Sularsih</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/SiFRX0o8_rI/AAAAAAAAAKs/ncqv_XZnOjs/s1600-h/Ita+Azizah.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 104px; height: 139px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/SiFRX0o8_rI/AAAAAAAAAKs/ncqv_XZnOjs/s200/Ita+Azizah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5341640102747373234" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Cerpen &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ita Azizah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;penggiat ekstrakulikuler jurnalistik MA Walisongo Pecangaan Jepara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SULARSIH&lt;/span&gt; adalah gadis keturunan keraton. Dia sangat cantik, imut dan pandai bernyanyi. Suaranya pun bagus. Sejak umur 6 tahun gadis itu sudah di ajari nyinden dan menari oleh ibunya. Seluruh keturunan neneknya, mempunyai tradisi yang sama. Yakni, dalam tradisi keraton, perempuan harus memakai pakaian adat jarik dan kebaya. Kalau tidak, perempuan harus selalu tertutup dan di larang memakai baju ketat, berrambut panjang, juga tidak diperbolehkan berpacaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari Sularsih mendapat usul dari teman-temannya untuk ikut audisi menyanyi di Jakarta. Sularsih akhirnya tertarik. Gadis itu memang menginginkannya. Dia juga merasa bosan di rumah karena selalu di kurung. Jalan–jalan pun harus di kawal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai rumah Sularsih berbicara kepada orang tuanya soal audisi itu, akan tetapi orang tuanya tidak mengizinkan. Dan dalam budaya keraton, seorang perempuan tidak boleh pergi kemana-mana, tugasnya hanya di rumah membantu orangtua, bagi perempuan yang masih muda harus di kawal kemana pun ia pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu ngambek tidak mau ngomong dan mogok makan. Akhirnya orang tuanya menyetujuinya, tapi dengan satu syarat yaitu di kawal. Sularsih menyetujuinya yang terpenting dia bisa bebas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esok harinya gadis itu pergi ke Jakarta dengan empat pengawal, dua perempuan dua laki-laki. Di sana mereka mengontrak sebuah rumah besar yang sangat mewah dan indah.&lt;br /&gt;Orang tuanya mengurusi surat-surat pindah sekolah Sularsih, dan gadis itu pindah sekolah di Jakarta. Esoknya Sularsih daftar ke SMA 74 jakarta.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Ini adalah hari pertama dia sekolah di Jakarta. Gadis itu sangat senang sekali. Banyak cowok-cowok yang menaksirnya karena kecantikannya, tetapi gaya berpakaiannya masih sangat kuno, cupu dan lucu. Sehingga gadis itu di kucilkan oleh teman- teman perempuannya.&lt;br /&gt;Di situ Sularsih mendapat teman yang bandel, yang akhirnya merubah semua sikapnya dari baik menjadi buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sorenya dia mengirimkan formulir-formulir pendaftaran audisi itu, ternyata tak di sangka-sangka, Sularsih lolos audisi dan di terima. Gadis keraton itu sangat senang sekali. Anak itu langsung memberikan kabar di rumah. Semua keluarganya sangat senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun apa yang terjadi, setelah dia masuk acara itu, gadis itu di suruh memakai pakaian yang tidak sopan, tadinya Sularsih tidak mau tapi anak keraton itu di marahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau tidak mau di atur ya sudah, mendingan kamu pulang dan tidak usah ikut acara ini," kata pelatihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sularsih sangat takut ketika di marahi. Dia tidak mau mundur begitu saja, karena menyanyi adalah salah satu cita-citanya. Akhirnya gadis itu mau menuruti perintahnya, apapun akan dia lakukan asalkan bisa menjadi penyanyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadinya para pengawal Sularsih tidak setuju dengan keputusannya, karena anak keraton itu sudah melanggar budayanya sendiri. Tapi akhirnya mereka menyetujui permohonannya.&lt;br /&gt;Malam itu penampilan Sularsih sangat bagus dan lancar. Dia mendapat dukungan dari banyak kalangan. Namun saat keluarganya melihat di TV mereka semua kaget dan kecewa dengan perubahan yang terjadi pada anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah acara itu selesai, ibunya langsung menelponnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sularsih, bunda izinkan kamu mengikuti audisi itu bukan untuk merubah diri dengan cara berpakaian seperti itu dan juga bukan untuk pamer, apa kata orang–orang Djogja?" ucap ibunya dengan nada marah-marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bunda maafkan saya, tadinya Sularsih juga tidak mau tapi…masak Sularsih mundur begitu saja? Lagi pula ini kan cita-cita saya. Sesuatu yang sudah di depan mata jangan di sia-siakan begitu saja Bun…, Bunda kok tidak mendukung anaknya tapi malah memarahi", kata Sularsih dengan merayu bundanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya Bunda tahu, tapi tadi itu ayah kamu marah–marah pada bunda dan kamu kan juga tahu, kalau kamu itu puteri keraton, seharusnya kamu itu bisa memberi contoh yang baik, tapi apa nyatanya kamu malah tenar di TV dengan berpakaian yang seperti itu, sudahlah terserah kamu. Bunda capek, mau tidur," lanjut bunda dengan rasa kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi-pagi Sularsih sudah berangkat ke sekolah di antar pak Joko (pengawal sekaligus supir Sularsih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak beberapa hari gadis itu mulai merasa malu karena terus-terusan di kawal. Teman-temannya jarang yang mau berteman dengannya. Dikatain manjalah, kekanak-kanakanlah, kampunganlah dan lain sebagainya. Dia pun merasa tertekan dengan ejekan-ejekan temannya.&lt;br /&gt;Anak keraton itu minta bantuan kepada teman sebangkunya, Andien supaya merubah dirinya menjadi seperti anak-anak yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itulah Sularsih menjadi anak yang bandel karena salah pergaulan. Sepulang sekolah dia tidak langsung pulang, tetapi pergi ke mall dengan Andien. Mereka lewat pintu belakang, karena pengawalnya sedang menunggu di depan. Mereka melarikan diri tanpa sepengetahuan pengawalnya. Pengawal telah menunggunya sampe berjam-jam tetapi Sularsih tidak muncul-muncul, pak Joko sangat khawatir dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jam segini kok neng Sularsih belum pulang-pulang ya? perasaan teman-temannya sudah pada pulang dari tadi, mengapa dia belum juga keluar," kata pak Joko dengan nada cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Joko bertanya kepada guru yang mengajar Sularsih di akhir pelajaran tadi, tetapi katanya, Sularsih sudah pulang sekolah dari tadi, bersama teman-temannya. Pak Joko merasa bersalah karena tidak melihat Sularsih keluar dari kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya pak Joko pulang, dikiranya Sularsih sudah sampai rumah, tapi ternyata di rumah tidak ada.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Di mall Sularsih dan Andien bersenang-senang. Mereka membeli baju, aksesories sekaligus jalan-jalan menikmati udara luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sularsih memotong rambutnya dengan gaya seperti rambut Andien. Selain itu dia juga mengecat rambutnya. Sepulang dari mall mereka nongkrong di jalan; depan rumah Andien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di rumah pak Joko mencari Sularsih, tetapi kata mbak Atik (pengawal dan pembantu Sularsih di keraton), belum pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mbak, tadi neng Sularsih sudah sampe rumah kan?" tanya pak Joko kepada mbak Atik.&lt;br /&gt;"Lho bukannya neng Sularsih belum pulang? kan sama pak Joko. Terus neng Sularsih-nya mana?" kata mbak Atik dengan nada kebingungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho mbak Atik ini gimana sih, ditanya kok malah balik nanya. Kalau seandainya saya tahu, pasti saya tidak akan tanya kepada mbak, gimana tho?" tanya pak Joko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lha terus kemana? Kok sampe jam segini belum pulang juga? pak Joko ini gimana sih, di suruh ngejagain kok malah di biarin," kata mbak Atik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya sendiri juga tidak tahu, berjam–jam saya nunggu neng Sularsih tetapi tidak nongol-nongol ya sudah saya tinggal pulang, kata gurunya sudah pulang ya sudah saya tinggal pulang saja," jawab pak Joko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah maghrib tiba, Sularsih baru pulang. Dia menyelundup supaya tidak ketahuan, tapi akhirnya ketahuan sama pak Joko, pak Karyamin, mbak Atik dan mbak Ani. Mereka semua melihat Sularsih dengan tatapan yang sangat tajam, seolah-olah mereka semua ingin marah kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari mana saja neng? Jam segini baru pulang," tanya pak Joko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tahu tidak neng? Tadi itu tuan mancari neng lewat telpon, terpaksa saya bohong kepadanya. Saya bilang kalau neng sudah tidur, padahal saya bohong, rasanya itu tidak enak banget karena saya bohong," kata mbak Ani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya tidak apa-apa sekali-kali bohong," jawab Sularsih dengan nada cuek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu dia langsung mandi. Para pengawalnya bingung dengan sikapnya yang berubah drastis. Malam itu Sularsih di telpon Reza, cowok yang dikenalkan Andien kepada Sularsih. Semalaman dia tidak tidur, tetapi telpon–telponan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paginya Sularsih bangun kesiangan, sampai sekolah dia telat, dan di hukum oleh guru piket, di suruh lari mengelilingi lapangan basket hingga 10 kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sularsih sangat capek sekali. Dia beristirahat di bawah tiang bendera, lalu reza menyusulnya dengan membawakan minuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu haus banget ya? Ini aku bawakan minum untuk mu," kata Reza seraya memberikan minuman kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Makasih ya," kata Sularsih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Jam berikutnya Sularsih baru boleh mengikuti pelajaran, meski dengan napas ngos-ngosan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tumben telat, kenapa?" tanya Andien kepada Sularsih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bangun kesiangan, capek banget, tahu tidak gue tadi di suruh lari mengelilingi lapangan basket sampe 10 kali, laper banget nih," kata Sularsih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tahu, ya maklumlah anak mama and papa kan tidak pernah lari sejauh itu. Ya kan…," ledek Andien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kok kamu ngomongnya gitu sih?" kata Sularsih dengan sewotnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudahlah tidak usah dibahas, kamu laparkan? Ke kantin yuk!" kata Andien dengan memegang tangan Sularsih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ngapain? kan ini belum istirahat," tanya Sularsih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya makanlah, katanya lapar, ayo! Mumpung tidak ada gurunya," kata Andien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu mereka langsung menuju kantin, tak sengaja di situ mereka bertemu dengan Reza yang lagi makan. mereka gabung dengan reza, cowok itu mengajak Sularsih untuk ikut acara balapan motor setelah pulang sekolah. Tadinya dia tidak mau tapi gadis itu dipaksa temannya, sehingga anak keraton itu menerima ajakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepulang sekolah Reza sudah menunggu Sularsih di jalan. Sularsih melarikan diri lagi dari pak Joko. Dia lewat pintu belakang dengan Andien. Pak Joko menunggu berjam-jam tapi anak itu belum keluar juga. Akhirnya pak supir itu tanya pada penjaga kantin yang berada di belakang, katanya "sudah pulang dari tadi lewat sini bersama neng Andien."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Joko sangat kecewa dengannya, "kali ini saya tidak takut lagi, saya akan melaporkannya kepada tuan," kata pak Joko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai rumah pak Joko melapor kapada orang tuanya. Orang tua Sularsih sangat marah sekali mendengar berita itu. Ayahnya mengirim beberapa orang dari keraton untuk menjemput Sularsih.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Sularsih, Reza dan Andien sudah sampai di tempat tujuan. Kini balapan sudah dimulai. Sularsih berboncengan dengan Reza. Reza ngebut, gadis itu pun sangat takut, dia berpegangan erat, akhirnya Reza menang balapan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dari situ, mereka punya rencana makan-makan untuk merayakan kemenangannya. Mereka mampir di sebuah restoran yang tak jauh dari situ, tak sengaja mereka bertemu para pengawal dari keraton yang sedang makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sularsih di ajak pulang oleh para pengawal dari keraton dengan cara halus, tapi dia tidak mau, akhirnya mereka memaksanya untuk pulang dengan menyeretnya ke luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reza beserta Andien menyelamatkan Sularsih, dengan menyerang mereka, akhirnya anak keraton itu berhasil lolos dari mereka dan cowok itu membawanya kabur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang–orang keraton itu mengejar mereka, Reza semakin mengebut, tak taunya di depan ada orang yang mau nyebrang, cowok itu bermaksud untuk menghindarinya dengan membelokkan arah .tapi apa yang terjadi? Mereka malah tabrakan. Sularsih dan Reza terluka parah sedangkan Andien tidak kenapa-kenapa, karena waktu itu Andien mengemudi motor sendiri.&lt;br /&gt;Nyawa Reza dan Sularsih tidak tertolong. Mereka pun meninggal seketika. []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;__Cerpen ini memenangi Juara III lomba cipta cerpen 2009 yang diselenggarakan LPM Paradigma STAIN Kudus.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-5834777438092177625?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/5834777438092177625/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=5834777438092177625' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/5834777438092177625'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/5834777438092177625'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/05/kesedihan-sularsih.html' title='Kesedihan Sularsih'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/SiFRX0o8_rI/AAAAAAAAAKs/ncqv_XZnOjs/s72-c/Ita+Azizah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-1474291977478821155</id><published>2009-05-26T06:04:00.000-07:00</published><updated>2009-05-27T06:07:27.105-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>SEFI</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Untuk dia yang telah bahagia)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fachrin Azka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau aku tak memilikimu&lt;br /&gt;Akan aku tulis dalam kalbu&lt;br /&gt;Hurufhuruf yang merangkai asmamu&lt;br /&gt;Meski aku tak melihatmu&lt;br /&gt;Sosokmu akan selalu ada dalam hayalku&lt;br /&gt;Hidup bersama hembusan napas&lt;br /&gt;Serta setiap bait puisiku&lt;br /&gt;Setelah kau pergi dariku&lt;br /&gt;Aku akan selalu mengingatmu&lt;br /&gt;Meski itu perih bagiku&lt;br /&gt;Dan aku akan coba melupakanmu&lt;br /&gt;mesti itu akan terasa mustahil bagiku&lt;br /&gt;Karena kau adalah nyawa yang mengisi ragaku&lt;br /&gt;Serta huruf di setiap sajak puisiku&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-1474291977478821155?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/1474291977478821155/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=1474291977478821155' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/1474291977478821155'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/1474291977478821155'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/05/sefi.html' title='SEFI'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-3639080056998868639</id><published>2009-05-25T06:01:00.000-07:00</published><updated>2009-05-27T06:02:20.195-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Melayang</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Puisi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fachrin Azka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melayang pergi&lt;br /&gt;Tinggalkan kesenangan duniawi&lt;br /&gt;Demi sebuah mimpi&lt;br /&gt;Melayang pergi&lt;br /&gt;Terbang membawa mimpi&lt;br /&gt;Yang entah kapan akan terjadi&lt;br /&gt;Melayang pergi&lt;br /&gt;Menghapus sejuta memori&lt;br /&gt;Dalam sebuah angan dalam hati&lt;br /&gt;Melayang pergi&lt;br /&gt;Berharap untuk kembali&lt;br /&gt;Merasakan manisnya mimpi&lt;br /&gt;Yang kemarin tertidur dalam hati&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-3639080056998868639?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/3639080056998868639/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=3639080056998868639' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/3639080056998868639'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/3639080056998868639'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/05/melayang.html' title='Melayang'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-4620716859986873431</id><published>2009-05-16T06:05:00.000-07:00</published><updated>2009-05-18T06:14:17.551-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Janda</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Puisi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Iffah Nafi'ah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa kau tak minta cerai saja?&lt;br /&gt;Kau bingung dengan alasan apa&lt;br /&gt;Bilang saja, "aku sudah tak punya cinta"&lt;br /&gt;mudahkan berkata&lt;br /&gt;Seperti ia menyakitimu, melukaimu, mengkhianatimu,&lt;br /&gt;dan memadumu&lt;br /&gt;Lalu, buat apa kau setia&lt;br /&gt;Kau tetap cantik jelita&lt;br /&gt;Meskipun kini menjanda&lt;br /&gt;Lihat, banyak orang yang ingin meminangmu&lt;br /&gt;Kau harus memilih salah satu&lt;br /&gt;Lihat logo itu...&lt;br /&gt;"Bersama berantas Kemiskinan"&lt;br /&gt;Tapi, tunggu dulu&lt;br /&gt;Hei, apa kau miskin?!&lt;br /&gt;Tidak kau ini kaya&lt;br /&gt;Wah kau dihina&lt;br /&gt;"Tingkatkan pendidikan Bebas Biaya"&lt;br /&gt;Kau menerima itu&lt;br /&gt;Agar generasimu bermutu&lt;br /&gt;Benar, kau tak takut tertipu?&lt;br /&gt;"Bersihkan KKN"&lt;br /&gt;Aduh... aduh...&lt;br /&gt;Ada-ada saja para pelamarmu&lt;br /&gt;Semua itu palsu&lt;br /&gt;Pertama, dikira kau miskin&lt;br /&gt;Kau kaya budaya Nusantara&lt;br /&gt;Kedua, dikira generasimu bodoh&lt;br /&gt;Tidak! Para pemimpin yang salah asuh&lt;br /&gt;Dana BOS diselewengkan, siapa suruh&lt;br /&gt;Ketiga, dikira kaulah tikus itu&lt;br /&gt;Padahal, mereka orang-orang yang tak tahu malu&lt;br /&gt;Jadi, mana yang akan jadi pilihanmu?&lt;br /&gt;Pertama, kedua, atau ketiga...&lt;br /&gt;Sebentar tunggu dulu&lt;br /&gt;Baca slogan itu&lt;br /&gt;"Kejujuran Bagi Bangsaku"&lt;br /&gt;Nah, kalau ini aku setuju&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-4620716859986873431?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/4620716859986873431/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=4620716859986873431' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/4620716859986873431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/4620716859986873431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/05/janda.html' title='Janda'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-2498735954613252455</id><published>2009-05-10T03:28:00.000-07:00</published><updated>2009-05-10T03:30:52.977-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Percakapan Tikus</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Puisi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Iffah Nafi'ah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O, dewi malam&lt;br /&gt;Aku memang kejam&lt;br /&gt;Saat kau bertanya : "mengapa?"&lt;br /&gt;Aku penyebab segala penderitaan&lt;br /&gt;Akulah pencipta kerusuhan&lt;br /&gt;Akulah dalang kemiskinan&lt;br /&gt;Akulah sang pencipta murka&lt;br /&gt;Akulah penyulut api mahasiswa, juga rakyat&lt;br /&gt;Akulah piaraan para pejabat&lt;br /&gt;Rumah-rumah mewah itu, kandangku&lt;br /&gt;Aku bertunggang mobil&lt;br /&gt;Sedang jelata tanpa beralaskaki&lt;br /&gt;Semua di negeri ini adalah kebejatan&lt;br /&gt;Buatanku, kebengisan&lt;br /&gt;Agar aku bisa menyoal&lt;br /&gt;Agar aku buat Penelitian&lt;br /&gt;Agar aku bisa makan enak di pertemuan&lt;br /&gt;Sedang kalian mati kelaparan&lt;br /&gt;O, dewi malam&lt;br /&gt;Hebat, bukan?&lt;br /&gt;Sekali lagi aku bertanya padamu&lt;br /&gt;Aku marah padamu&lt;br /&gt;Kau bisu!&lt;br /&gt;Atau, kau menderita pun karena aku?&lt;br /&gt;Namun, aku ngilu&lt;br /&gt;Bakal ada kambing dan tikus-tikus baru&lt;br /&gt;Selain aku&lt;br /&gt;Ah, yang penting : semua baru&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-2498735954613252455?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/2498735954613252455/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=2498735954613252455' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/2498735954613252455'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/2498735954613252455'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/05/percakapan-tikus.html' title='Percakapan Tikus'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-6322919247062427878</id><published>2009-05-07T03:39:00.000-07:00</published><updated>2009-05-08T06:37:42.693-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Memahami Kasus Sabu-sabu Jepara</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/SgQ1jvjYY0I/AAAAAAAAAKk/-EFRGbp7yyc/s1600-h/n1221953685_3123.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 83px; height: 110px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/SgQ1jvjYY0I/AAAAAAAAAKk/-EFRGbp7yyc/s200/n1221953685_3123.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5333446746890068802" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Muh Khamdan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;peneliti Paradigma Institute dan bekerja di BPSDM Depkumham RI. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENGAGETKAN.  Demikian perasaan sebagian masyarakat Jepara perkotaan setelah pembongkaran pabrik sabu-sabu di kawasan Pantai Kartini (3/5). Pabrik sabu-sabu di Kelurahan Kauman RT 4 RW 5, Kecamatan Jepara merupakan pabrik yang pertama kali terbongkar di wilayah Jawa Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat segera bertanya, ada apa dengan Jepara? Mengapa kota santri sekaliber Jepara menjadi pusat produksi sabu-sabu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pemberitaan selama ini dinyatakan bahwa pabrik di Jepara adalah bagian dari jaringan mafia pabrik ekstasi Depok dan terkait jaringan internasional. Sebuah fakta yang lebih mengkhawatirkan berupa terbongkarnya pangsa pasar yang merambah lintas provinsi dan antarnegara, seperti Hongkong dan Thailand ketika omset penjualannya mencapai 30 miliar (SM, 4/5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari bagaimana kasus  ini akhirnya terungkap, yang perlu disesalkan adalah keterlambatan jaringan intelijen Polres Jepara membongkar sendiri. Sebagai aparatur keamanan yang membawahkan Kota Jepara, tentunya bisa mencium kasus tersebut lebih awal mengingat lokasinya berada di kawasan Pantai Kartini, sekitar 2 km dari Mapolres Jepara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak dua pekan kemarin muncul kekhawatiran di antara masyarakat bahwa Jepara akan diterpa bencana tsunami akibat ramalan Mama Lauren. Masyarakat pada akhirnya berduyun-duyun melihat kura-kura yang ingin dimandikan sehingga berimbas pada peningkatan kunjungan wisata domestik di Pantai Kartini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itulah yang membuat kaget dengan munculnya kasus yang melibatkan jaringan ekstasi internasional sekarang ini. Kalau  Jepara sudah menjadi kota pilihan untuk produksi sabu-sabu, maka ibaratnya tidak ada lagi yang ditakuti oleh sindikat narkoba tersebut.&lt;br /&gt;Tentunya masyarakat Jepara berharap bahwa keberadaan pabrik sabu-sabu di kawasan Pantai Kartini tidak berimbang dengan banyaknya pengguna sabu-sabu di masyarakat Jepara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidak-tidaknya masyarakat masih memiliki harapan bahwa masyarakat ini masih ada counter  pengawasan yang tetap dibanggakan. Mereka masih andil dalam kegiatan keagamaan dan keterbukaan interaksi sosialnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anita Retno Lestari pernah mengingatkan bahwa kehidupan masyarakat santri bisa hilang ketika sudah berinteraksi dengan industri. Ditambahkan bahwa daerah industri selalu ditandai oleh kemunculan pabrik-pabrik di banyak tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pabrik-pabrik itu menghasilkan berbagai produk yang diolah dengan cara manual maupun mesin tanpa dibatasi oleh waktu atau sepanjang siang sepanjang malam (SM, 6/4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deddy Halim dalam Psikologi Lingkungan Perkotaan  (2008) menjelaskan bahwa dalam pembentukan sebuah budaya ada lima fungsi kultural yang senantiasa menyertai kelahiran budaya baru. Representasi, identitas, produksi, konsumsi, dan regulasi. Namun, lahirnya sebuah budaya pun bisa dilahirkan oleh satu fungsi saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait pada fungsi konsumsi suatu produk misalnya, tentu masyarakat akan terpengaruh representasi simbol dan slogan, identitas sosial yang diemban, sampai pada aturan-aturan tertentu. Ibaratnya, fungsi kultural menjadi jejaring laba-laba dalam masyarakat yang memaksa untuk mengatur perilaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Masyarakat Industri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi demikian, Comenius melalui buku legendaris The Labyrinth of the World and the Paradise of the Heart  (1623) pernah menyindir masyarakat industri dengan sebutan manusia yang terasing dari lingkungannya sendiri karena perilaku yang dikondisikan oleh selera pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat Jepara sudah seharusnya mengambil pelajaran dan mulai menata kembali hubungan interaksi sosial yang terbuka agar tidak terasing dari lingkungan.&lt;br /&gt;Perilaku masyarakat selalu terkait dengan lingkungan hunian ketika masyarakat itu berinteraksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persepsi tentang hunian dan komunitasnya dipengaruhi faktor perbedaan individual yang dapat menimbulkan efek yang menguntungkan atau merugikan dalam berinteraksi dengan komunitasnya. Persepsi ini dipengaruhi dua hal, kongruensi individu dengan lingkungan dan kontrol terhadap lingkungan hunian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilihan rumah milik Andreas Widodo yang terletak di Jalan Cik Lanang, Kelurahan Kauman dan rumah di Kelurahan Mulyoharjo Kecataman Kota tentu bukan tanpa alasan. Rumah yang langsung berbatasan dengan laut dan berdekatan dengan permukiman penduduk nelayan serta tempat penambatan perahu-perahu yang tidak berlayar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedekatan dengan laut jelas akan menghilangkan bau produksi sabu-sabu yang terkalahkan oleh aroma asin dari laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang tidak mudah mengurai praktik haram yang berlokasi semacam itu. Namun hal itu membuktikan bahwa peran kongruensi individu dalam berinteraksi serta adanya kontrol sosial atau kontrol regulasi dan keamanan sangat dibutuhkan untuk mengurangi bahkan menghilangkan kasus serupa di Jepara atau di daerah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan tentunya akan ditujukan kepada pihak kepolisian di berbagai tingkatan daerah. Sejak awal masyarakat berharap bahwa lembaga ini dapat menjalankan tugasnya untuk memberantas penyakit masyarakat, terutama narkoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wacana tentang evaluasi terhadap implementasi Undang-Undang Otonomi Daerah Nomor 22/ 1999 tidak seharusnya berhenti, khususnya yang terkait dengan masalah desentralisasi di bidang kelautan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isu kelautan ini semakin relevan ketika kasus narkoba terbongkar di Jepara dan berada di pinggiran Pantai Kartini. Maklum, selama ini pantai yang memiliki simbol patung kura-kura terasa sepi kecuali dalam momentum tertentu semacam Syawalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itulah alokasi dan kontrol pengelolaan sumber daya kelautan bisa dimanfaatkan Pemda Jepara dengan cara terpusat di masyarakat lokal. Hal ini dapat mendukung kemampuan memfasilitasi kemunculan tanggung jawab dari pengguna oleh masyarakat itu sendiri terhadap lingkungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, upaya meramaikan kembali kelautan Jepara dengan alternatif pengelolaan berdasarkan kebersamaan pemerintah dan masyarakat, menjadi penting dan mendesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor  identitas Jepara sebagai kota bahari dan salah satu kota santri di kawasan Pantai Utara Jawa mesti dipertahankan agar tidak muncul pabrik sabu-sabu yang baru. (80)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Suara Merdeka, 07 Mei 2009&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-6322919247062427878?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/6322919247062427878/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=6322919247062427878' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/6322919247062427878'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/6322919247062427878'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/05/memahami-kasus-sabu-sabu-jepara.html' title='Memahami Kasus Sabu-sabu Jepara'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/SgQ1jvjYY0I/AAAAAAAAAKk/-EFRGbp7yyc/s72-c/n1221953685_3123.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-610422591125714121</id><published>2009-04-27T07:52:00.000-07:00</published><updated>2009-04-28T08:07:02.877-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Pelajaran dari Kura-kura Jepara</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/SfcbKAvgHOI/AAAAAAAAAKc/-y2p7aT01ns/s1600-h/n1221953685_3123.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 71px; height: 94px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/SfcbKAvgHOI/AAAAAAAAAKc/-y2p7aT01ns/s200/n1221953685_3123.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329758542828149986" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Muh Khamdan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;peneliti di Paradigma Institute dan mantan Ketua IPNU Nalumsari Jepara&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SEKITAR &lt;/span&gt;3000-an orang memenuhi pelataran patung kura-kura raksasa yang berada di Pantai Kartini. Mereka berkumpul untuk acara berdoa bersama yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Anshor NU Jepara dan Majlis Zikir Wa Syifa (SM, 23/4).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Acara yang didukung oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jepara, secara tersirat merupakan respons kekhawatiran atas ramalan Mama Lauren yang menjadi ‘’buah bibir’’ masyarakat. Kendati berdalih tasyakuran atas pemilu, momentum dan tempat pelaksanaan jelas mempertontonkan kalangan agamawan Jepara terbawa persepsi bencana tsunami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tsunami memang sebuah bencana yang telah merusak wilayah Provinsi Nangroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara dengan wilayah patahan gempa sekitar 600 km (26/12/04).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tsunami juga telah menerjang wilayah Pangandaran yang didukung adanya gempa berskala 6,8 Skala Richter yang dirasakan sampai Jakarta, serta melanda pesisir pantai selatan Jawa, seperti Ciamis, Kebumen, Bantul, dan Ponorogo (Walhi, 18/7/06). Tak heran banyak masyarakat pesisir lain merasa ketakutan dengan isu tsunami, termasuk Jepara.&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/Sfca3TLwOXI/AAAAAAAAAKU/tg7y5jk_tx4/s1600-h/3079_1172615715190_1221953685_30493749_6108417_a.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 0pt 10px 10px; float: right; cursor: pointer; width: 235px; height: 181px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/Sfca3TLwOXI/AAAAAAAAAKU/tg7y5jk_tx4/s200/3079_1172615715190_1221953685_30493749_6108417_a.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5329758221360970098" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan katalog gempa (1629-2002) di Indonesia pernah terjadi tsunami sebanyak 109 kali, yakni satu kali akibat longsoran (landslide), sembilan kali akibat gunung berapi dan 98 kali akibat gempa tektonik. Khusus di wilayah Jepara, setidaknya kestabilan dari gempa telah menjadi alasan kuat akan dibangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini karena letaknya jauh dari zona subduksi lempeng Sunda dan Australia di lepas pantai selatan Jawa. Belum lagi adan massa Pegunungan Kendeng di sisi Selatan dan massa batuan granit yang melandasi Kepulauan Karimunjawa di utara. Keduanya dikenal massif meredam pengaruh getaran gempa (Migas Indonesia online).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seberapa tingkat kebenaran ramalan dan kajian geologi tersebut, masyarakat mesti diberi pemahaman. Kenyataannya isu tsunami telah menjadi dasar kegiatan organisasi keagamaan seperti GP Anshor dan MUI, yang pada akhirnya justru melegitimasi ramalan Mama Lauren. Sebab, tidak ada relevansi antara doa bersama dengan bertempat di bawah patung kura-kura raksasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekadar membuka memori masa lalu, pada pertengahan 2002 bersamaan dengan dimulai proyek pembangunan patung kura-kura raksasa oleh Pemda Jepara, muncul isu selendang penguasa Laut Selatan, Nyi Roro Kidul hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat memanipulasi ketakutan dengan menghias depan rumah melalui pemasangan air berwarna-warni yang dibungkus plastik. Hampir sebulan langkah tersebut dilakukan dengan keyakinan dan harapan sang Ratu tidak marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dicermati, terdapat hubungan keyakinan mistik masyarakat dengan proses pendampingan dan pemberdayaan masyarakat yang diperankan oleh kalangan akademis dan agamawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Auguste Comte melalui Cours de Philosophi Positive menjelaskan, perkembangan nalar manusia melalui tiga tahap, yaitu teologis, metafisik, dan positif. Dinamika perkembangan pemikiran ini tergantung intensitas manusia berinteraksi satu sama lain (DW Hamlyn, 1990). Dan kalangan akademis serta agamawan menjadi bagian di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahap teologis manusia percaya bahwa di belakang gejala-gejala alam terdapat kuasa-kuasa adikodrati yang mengatur fungsi dan gerak gejala-gejala tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran demikian menimbulkan pemikiran tentang animisme (benda berjiwa), politeisme (kekuatan dewa-dewa sebagai penggerak), dan monoteisme (keesaan pengatur).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahap metafisika merupakan keberlanjutan dari tahap teologis yang mengganti kekuatan-kekuatan secara abstrak berupa perpaduan serta kesatuan benda-benda saling terkait yang disebut alam. Jadi, kekuatan benda dapat terjadi jika di dukung keberadaan benda lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahap positif manusia tidak lagi memedulikan kekuatan di balik benda, melainkan mencari hukum-hukum benda berdasarkan fakta-fakta yang tersaji, yaitu melalui pengamatan dan kebenaran akal. Dengan demikian, positivisme membatasi pemikiran pada hal-hal yang bias dilihat, diukur, dianalisa, dan bisa dibuktikan kebenarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Immanuel Kant, sebagai usaha pemerolehan pengetahuan yang bersifat positif, manusia mesti mengumpulkan pengalaman inderawi dan teknik pengolahan sebab dan akibat (G Nuchelmans, 1984).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, ketika muncul isu akan terjadi tsunami di Jepara, masyarakat mesti mengetahui sebab dan akibat terjadinya tsunami, bukan sekadar menerima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpijak di atas data dan fakta itu, kita berharap isu tsunami justru menjadikan pemerintah lebih proaktif mengenalkan ilmu-ilmu terapan yang bersumber dari kelautan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini masyarakat hanya disuguhi objek wisata pantai sebagai tempat hiburan, belum menyentuh pada aspek pengembangan teknologi kebaharian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Badan Riset Kelautan dan Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan, Gellwyn Yusuf, mengakui, riset energi dan pemberdayaan bahan pangan dari sektor kelautan masih minim (Kompas, 13/4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan ini dapat dimanfaatkan Pemda Jepara sebagai peluang pengembangan daerah setelah mebel ukir terpuruk. Apalagi isu terjadi tsunami di Jepara bersamaan dengan akan diselenggarakan Konferensi Kelautan Dunia pertama di Manado, Sulawei Utara (11-15/5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarlah isu tsunami menjadi pelajaran bagi semua elemen masyarakat Jepara untuk tidak terlalu gampang percaya terhadap ramalan, tetapi memunculkan semangat kekritisan untuk menyelidiki hubungan sebab akibat gejala alam itu terjadi. Secara geologi, Jepara memang dinyatakan bebas dari getaran gempa, tetapi tidak lantas menawarkan diri sebagai tempat pembangunan PLTN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih di dalam Konferensi Kelautan mendatang, wacana pemanfaatan energi dari kandungan air laut, perbedaan suhu, dan salinitas serta energi gelombang dan arus akan menjadi bahasan utama. Ini tinggal menunggu kearifan semua pihak. (35)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Suara Merdeka, 27 April 2009&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-610422591125714121?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/610422591125714121/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=610422591125714121' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/610422591125714121'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/610422591125714121'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/04/pelajaran-dari-kura-kura-jepara.html' title='Pelajaran dari Kura-kura Jepara'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/SfcbKAvgHOI/AAAAAAAAAKc/-y2p7aT01ns/s72-c/n1221953685_3123.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-8093056440706669393</id><published>2009-04-23T03:24:00.000-07:00</published><updated>2009-04-23T03:27:22.736-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Kacamata Perempuan (Jepara)</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Puisi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Iffah Nafi'ah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada wajah terpenjara dalam potret&lt;br /&gt;Mengungkungnya dalam bingkai&lt;br /&gt;Diamlah ...&lt;br /&gt;Jiwanya memberontak pada ketidakadilan&lt;br /&gt;Terkuburlah hidup-hidup mimpinya&lt;br /&gt;Kalbu lembut itu selaksa tersayat belati&lt;br /&gt;Menghunus meninggalkan luka menganga&lt;br /&gt;Menangislah ...&lt;br /&gt;Kerapuhan itu tersirat mata sayu&lt;br /&gt;"Aku ingin bergumul dengan buku-buku!"&lt;br /&gt;Begitu ia meluahkan doa pada sang Rama&lt;br /&gt;Pun Sang rama bertitah bahwa ia hanya seorang wanita&lt;br /&gt;Tak ada guna mengaji ilmu&lt;br /&gt;Wanita simbol kebodohan&lt;br /&gt;Bukan!&lt;br /&gt;Wanita simbol pelecehan&lt;br /&gt;Sudah kubilang, bukan!&lt;br /&gt;Kau bilang, berpendidikan&lt;br /&gt;Tapi, mengapa kau ditawar laiknya barang?&lt;br /&gt;Apa karena dirimu yang binal&lt;br /&gt;Andai saja aku punya jarit putri Kartini&lt;br /&gt;Segera kuselimuti tubuh sintalmu&lt;br /&gt;Agar kau berpunya reputasi (kembali)&lt;br /&gt;Sia-sia ...&lt;br /&gt;Tersematlah nama Jepara&lt;br /&gt;Bukan Kartini, melainkan ratu Shima&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-8093056440706669393?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/8093056440706669393/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=8093056440706669393' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/8093056440706669393'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/8093056440706669393'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/04/kacamata-perempuan-jepara.html' title='Kacamata Perempuan (Jepara)'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-9156793967256746822</id><published>2009-04-22T03:18:00.000-07:00</published><updated>2009-04-23T03:23:20.157-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Ma'af...Kartini</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Puisi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Iffah Nafi'ah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bela kaum hawa bercampur derita&lt;br /&gt;Menekan pada relung jiwa&lt;br /&gt;Mana hak wanita?&lt;br /&gt;Tatkala aku masih balita&lt;br /&gt;Aku tak mengerti jasanya&lt;br /&gt;Aku tak mengerti sejarah bercerita&lt;br /&gt;Aku telah dewasa&lt;br /&gt;Aku menangis membaca pengabdianmu,&lt;br /&gt;perjuanganmu...&lt;br /&gt;Ma'af... aku wanita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-9156793967256746822?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/9156793967256746822/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=9156793967256746822' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/9156793967256746822'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/9156793967256746822'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/04/maafkartini.html' title='Ma&apos;af...Kartini'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-3790252065878419543</id><published>2009-04-21T03:13:00.000-07:00</published><updated>2009-04-23T03:18:12.537-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dari Redaksi'/><title type='text'>Nur Janah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/SfA_ktmQDFI/AAAAAAAAAKM/wDJrTbYSXEU/s1600-h/Nur+Janah.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/SfA_ktmQDFI/AAAAAAAAAKM/wDJrTbYSXEU/s200/Nur+Janah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5327828259127168082" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-3790252065878419543?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/3790252065878419543/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=3790252065878419543' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/3790252065878419543'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/3790252065878419543'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/04/nur-janah.html' title='Nur Janah'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/SfA_ktmQDFI/AAAAAAAAAKM/wDJrTbYSXEU/s72-c/Nur+Janah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-2032860882204105559</id><published>2009-04-21T03:06:00.000-07:00</published><updated>2009-04-23T03:12:44.785-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dari Redaksi'/><title type='text'>Iffah Nafi'ah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/SfA-3bG2j8I/AAAAAAAAAKE/3zIOGkYdnAs/s1600-h/Iffah+Nafi%27ah.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/SfA-3bG2j8I/AAAAAAAAAKE/3zIOGkYdnAs/s200/Iffah+Nafi%27ah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5327827481069522882" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-2032860882204105559?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/2032860882204105559/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=2032860882204105559' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/2032860882204105559'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/2032860882204105559'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/04/iffah-nafiah.html' title='Iffah Nafi&apos;ah'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/SfA-3bG2j8I/AAAAAAAAAKE/3zIOGkYdnAs/s72-c/Iffah+Nafi%27ah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-8470897876848248589</id><published>2009-04-21T03:02:00.000-07:00</published><updated>2009-04-23T03:06:34.471-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dari Redaksi'/><title type='text'>Ella Izzatin Nada</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/SfA80TpSOVI/AAAAAAAAAJ8/Zv0pw3IryAE/s1600-h/Ella+Izzatin+Nada.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/SfA80TpSOVI/AAAAAAAAAJ8/Zv0pw3IryAE/s200/Ella+Izzatin+Nada.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5327825228503595346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-8470897876848248589?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/8470897876848248589/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=8470897876848248589' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/8470897876848248589'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/8470897876848248589'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/04/ella-izzatin-nada.html' title='Ella Izzatin Nada'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/SfA80TpSOVI/AAAAAAAAAJ8/Zv0pw3IryAE/s72-c/Ella+Izzatin+Nada.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-5826383270451579630</id><published>2009-04-21T02:45:00.000-07:00</published><updated>2009-04-23T02:59:11.317-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dari Redaksi'/><title type='text'>Atina Rizanatul Fahriyah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/SfA7KWxTn_I/AAAAAAAAAJ0/nMf8rKWkwvU/s1600-h/100_5032.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 150px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/SfA7KWxTn_I/AAAAAAAAAJ0/nMf8rKWkwvU/s200/100_5032.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5327823408276414450" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-5826383270451579630?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/5826383270451579630/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=5826383270451579630' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/5826383270451579630'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/5826383270451579630'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/04/atina-rizanatul-fahriyah.html' title='Atina Rizanatul Fahriyah'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/SfA7KWxTn_I/AAAAAAAAAJ0/nMf8rKWkwvU/s72-c/100_5032.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-7906882521810242177</id><published>2009-04-21T02:35:00.000-07:00</published><updated>2009-04-23T02:42:46.848-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dari Redaksi'/><title type='text'>Selamat dan Sukses</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Atina Rizanatul Fahriyah, Ella Izzatin Nada, Iffah Nafi’ah&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nur Janah&lt;/span&gt; sebagai nominator 30 besar dari 73 peserta Lomba Tulis dan Baca Puisi Kartini 2009 yang diselenggarakan Radio Idola FM Jepara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teruslah berkarya untuk mengharumkan Smart Institute Jepara!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-7906882521810242177?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/7906882521810242177/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=7906882521810242177' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/7906882521810242177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/7906882521810242177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/04/selamat-dan-sukses.html' title='Selamat dan Sukses'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-3951177102118020692</id><published>2009-04-17T05:17:00.000-07:00</published><updated>2009-04-17T05:21:04.326-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Menata Lagi Bahari Jepara</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/Seh0E8dw8PI/AAAAAAAAAJk/OmX0wusUHfg/s1600-h/n1221953685_3123.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 82px; height: 109px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/Seh0E8dw8PI/AAAAAAAAAJk/OmX0wusUHfg/s200/n1221953685_3123.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5325634187664879858" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Muh Khamdan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;peneliti Paradigma Institute &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;JEPARA&lt;/span&gt; adalah kota kecil di wilayah pantai utara (pantura). Lahir berdasarkan tanggal pelantikan Ratu Retna Kencana yang bergelar Nimas Ratu Kalinyamat, 10 April 1549. Penetapan hari tersebut dikukuhkan melalui Peraturan Daerah Tingkat II Jepara Nomor 6 Tahun 1988.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heroisme sang Ratu dalam usaha melawan campur tangan asing kiranya menjadi rujukan pemilihan hari ulang tahun untuk mengonstruksi sejarah perjuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah tentang Ratu Kalinyamat mengalir deras dalam cerita masyarakat Jepara. Sekian lama beliau dikisahkan bahkan selalu disendratarikan dalam peringatan hari jadi Jepara di pendapa kabupaten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, sejarah patriotismenya dalam pengiriman armada laut membantu Raja Alaudin (1551) dan Sultan Mansyur Syah (1574) mengusir Portugis dari Malaka, mendorong Pemerintah Daerah (Pemda) Jepara mengusulkan adanya gelar pahlawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana negara-negara maju, sejarah masa lalu adalah legitimasi klaim kemajuan peradabannya. Untuk itulah orang Yunani memiliki prinsip ”Historia Vitae Magistra” yang bermakna bahwa sejarah adalah guru kehidupan, seperti ditulis Heni Purwono ”Menyelematkan Kesempurnaan Sejarah Kita” (6/4). Bila Jepara sudah mengetahui sejarahnya sendiri, ini adalah pelajaran yang baik bagi perkembangan daerah dan pembangunan kultur budaya masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kisah perlawanan Ratu Kalinyamat terhadap Portugis sampai mendapatkan gelar Senora de Rica dengan 300 kapal perang yang dikirim ke Malaka, menunjukkan bahwa Jepara adalah pelabuhan besar di Jawa masa kepemimpinan istri Sultan Hadirin tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sultan Hadirin sendiri adalah salah satu keturunan dari kerajaan Aceh yang pernah migrasi ke China dan bersahabat dengan pemahat China bernama Ci Wi Gwan atau dikenal dengan Patih Badar Duwung. Dari sinilah muncul identitas lokal bagi Jepara berupa ukiran dan kelautan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain ukiran yang telah melalangbuana di dunia, Jepara tergolong kota bahari dengan adanya deretan pantai pesisir sepanjang 72 kilometer, terhampar pasir putih yang menawan seperti di Kuta Bali. Tidak kurang 27 pulau sebagai gugusan kepulauan karimunjawa terdapat koloni-koloni terumbu karang, beragam spesies ikan tropis, serta tanaman mangrove.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Heroisme&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kisah heroisme Ratu Kalinyamat perlu digali dan disosialisasikan. Fakta bahwa Jepara adalah kota yang memiliki laut, tak ada yang memungkiri. Namun, keberadaan pelabuhan yang sempat mengirimkan armada laut yang tangguh dan bervisi strategik mesti dipertanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika penyematan nama maritim atau bahari hanya berdasarkan ada tidaknya laut, ini bukanlah visi pengembangan daerah yang baik. Hilangnya pamor pelabuhan Jepara yang sudah terjadi dapat dimungkinkan terjadi pada ukiran juga, jika tidak siap mengantisipasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Pemda Jepara, terdapat kemungkinan yang bisa dilakukan untuk menunjukkan kembali pelabuhan laut yang pernah jaya pada masa silam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, penyediaan kapal yang melayani penyeberangan daratan Jepara dengan kepulauan Karimunjawa secara lebih cepat dan murah. Selama ini, untuk mencapai Karimunjawa masyarakat hanya diberikan dua jadwal saja sehingga belum optimal mendukung pariwisata Karimunjawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, penyediaan perahu-perahu wisata guna memberikan pelayanan masyarakat untuk berkeliling di laut atau menyusuri pesisir Jeoara. Dalam hal ini, perlu dibuatkan regulasi khusus tentang perahu wisata sebagaimana meniru di Kabupaten Kudus dengan beroperasinya becak dan andong wisata religi Makam Sunan Kudus. Ketiga, format pelabuhan transit kebutuhan masyarakat guna mengurangi beban kemacetan jalan raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja skenario di atas membutuhkan dana besar, maka kemungkinan yang paling dapat direalisasikan adalah penyediaan perahu-perahu wisata yang terorganisasi dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain membuka lapangan kerja baru, hal yang sangat penting adalah berkembangnya wisata bahari sebagai upaya optimalisasi pantai-pantai di Jepara yang belum terurus, seperti Pantai Bondo dan Pantai Teluk Awur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini tidak perlu membutuhkan banyak modal karena dalam wisata bahari daya tarik bagi wisatawan adalah pesona alam yang masih alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rangkaian penataan wisata bahari tersebut dapat terhambat mengingat wacana polemik yang tiba-tiba mengemuka beriringan dengan hari jadi Jepara ke-460.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya menghadirkan Badan Atom Dunia atau International Atomic Energy Agency (IAEA) untuk melegitimasi keabsahan pembangunan PLTN melalui penelitian, secara sporadis akan menghadirkan konflik di masyarakat. Mengingat ulama Nahdlatul Ulama (NU) Jepara telah merumuskan keharamannya lewat Bahtsul Masa’il pada 1-2 September 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar pemerintah daerah telah memberikan perhatian pada objek wisata kelautan, namun itu belum menunjukkan keterpaduan. Apalagi kalau proses pengelolaan hanya ditujukan pada Pantai Kartini dan Tirta Samudra Bandengan. Masyarakat memerlukan perluasan objek pantai, sebuah pilihan yang mampu mengurangi potensi penghilangan pasir putih secara ilegal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekaranglah pada usia yang semakin dewasa, menjadi momentum yang relevan bagi pemda untuk lebih memikirkan pengembangan wisata bahari yang telah menjadi kebanggaan sejak Ratu Kalinyamat berkuasa sampai sekarang, daripada mengambil kebijakan tidak populis apalagi menciderai ekosistem dan demokrasi berupa pembangunan PLTN. (35)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Suara Merdeka, 17 April 2009&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-3951177102118020692?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/3951177102118020692/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=3951177102118020692' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/3951177102118020692'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/3951177102118020692'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/04/menata-lagi-bahari-jepara.html' title='Menata Lagi Bahari Jepara'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/Seh0E8dw8PI/AAAAAAAAAJk/OmX0wusUHfg/s72-c/n1221953685_3123.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-6144921827297576909</id><published>2009-04-16T05:46:00.000-07:00</published><updated>2009-04-16T05:47:57.955-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dari Redaksi'/><title type='text'>KSMW Gelar Lomba Penulisan Artikel Ilmiah</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Kelompok Studi Mahasiswa Walisongo (KSMW), salah satu unit kegiatan mahasiswa di kampus IAIN Walisongo Semarang menggelar Lomba Penulisan Artikel Ilmiah tingkat MA/SMA atau sederajat Se-Jawa Tengah. Kegiatan ini diadakan dalam rangka peringatan HUT KSMW ke-23.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;M Royani, ketua panitia menyatakan tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menumbuhkan budaya membaca dan menulis di kalangan pelajar khususnya di Jawa Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pelajar di Jawa Tengah perlu menumbuhkan kultur membaca dan menulis, salah satunya dengan partisipasi aktif dalam lomba penulisan artikel ilmiah," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun tema lomba, kata Royani meliputi Hedonisme dan Remaja, Seni Yes Narkoba No, Internet bagi Pelajar, Membangkitkan Jiwa Nasionalisme, dan Menjadi Pelajar Kreatif.    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menambahkan, ketentuan lomba yang harus diperhatikan: 1) tulisan karya asli, belum pernah dipublikasikan di media massa ataupun buku. 2) panjang tulisan 8-17 halaman (A4, spasi: 1,5) menggunakan font Garamond. 3) tulisan ilmiah: menggunakan bahasa Indonesia baik dan benar, terdapat referensi dan kutipan (foot note atau end note) disertai analisis kritis, obyektif dan aktual: bukan normatif-deskriptif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) karya dikirim dalam bentuk print out dan soft file ke Sekretariat KSMW: Jl. Prof. Dr. Hamka Km 02 Gedung PKM, Lantai II, Kampus III, IAIN Walisongo, Ngaliyan Semarang 50185 dan via email: ksmwali9@gmail.com. Paling lambat 3 Juni 2009, pukul 16.00 wib. Sedangkan pengumuman pemenang: 10 Juni 2009 mendatang. 5) identitas penulis (nama lengkap, asal sekolah, kelas, jurusan, alamat surat, telepon dan email) hendaknya ditulis terpisah dengan naskah tulisan yang dikirim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6) peserta boleh mengirim lebih dari satu naskah, dengan tema yang sama ataupun tidak. 7) keputusan dewan juri tidak bisa diganggu gugat. 8) naskah yang masuk dan tidak masuk nominasi, akan mendapatkan penilaian dan komentar balik dari panitia via email. 8) pengirim masih berstatus pelajar, terhitung sejak pengiriman, dibuktikan dengan cetak scan Kartu Tanda Siswa (KTS) madrasah/ sekolah yang bersangkutan. 9) yang tidak memenuhi kriteria, akan didiskualifikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lomba ini memperebutkan hadiah senilai Rp. 500.000,- untuk juara pertama, Rp. 350.000,- bagi juara dua, Rp. 250.000,- untuk juara ketiga, sedangkan&lt;br /&gt;Tujuh juara harapan lain akan mendapatkan setifikat dan uang pembinaan dari panitia penyelenggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sepuluh finalis terbaik akan dihubungi panitia, diundang untuk mepresentasikan karyanya di hadapan dewan juri dan panitia. 60 persen penilaian diambil dari kualitas karya tulis, sementara 40 persen lebihnya dari presentasi" tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk informasi lengkap mengenai lomba ini bisa menghubungi M Abdullah Badri (085 226 228 507) dan M Royani (085 223 526 953).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-6144921827297576909?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/6144921827297576909/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=6144921827297576909' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/6144921827297576909'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/6144921827297576909'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/04/ksmw-gelar-lomba-penulisan-artikel.html' title='KSMW Gelar Lomba Penulisan Artikel Ilmiah'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-1662515243634930789</id><published>2009-04-15T05:12:00.000-07:00</published><updated>2009-04-17T05:16:34.467-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>"Aku Mau" Kartini Saja</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/SehzA2CdSxI/AAAAAAAAAJc/GETEMsO2ieA/s1600-h/n1054486976_30350267_348640.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 99px; height: 106px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/SehzA2CdSxI/AAAAAAAAAJc/GETEMsO2ieA/s200/n1054486976_30350267_348640.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5325633017708628754" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Oleh&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: verdana; font-weight: bold;font-size:85%;" &gt; Eros Rosidi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;Berbicara&lt;/span&gt; tentang feminisme atau perjuangan kesetaraan gender di Indonesia, kita tidak akan bisa lepas dari sosok fenomenal dan sangat menarik: RA Kartini. Bukan lantaran setiap tanggal 21 April ada peringatan Hari Kartini, melainkan karena pemikirannya yang jauh melampaui batas-batas teritorial dan sudah sangat modern untuk ukuran zamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RADEN Ajeng (RA) Kartini, meski seorang bangsawan, tidak mengenyam pendidikan yang tinggi. Dia hanya sekolah di ELS (Europese Lagere Schools) di Jepara, dan sudah meninggalkan bangku sekolah ketika berumur 12 tahun.&lt;br /&gt;Vissia Ita Yulianto (2004) mencatat, Kartini adalah salah satu bukti sejarah yang menunjukkannya sebagai manusia kritis dan pribadi yang peka terhadap kondisi sosial waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Goenawan Mohamad (2004) menulis, Kartini adalah epik dan tragis sekaligus. Dalam berbagai segi, Kartini adalah perempuan rupawan, cerdas, perspektif, pemberontak, sekaligus anak bupati Jawa, penuh cita-cita pengabdian, tapi juga lemah hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari berbagai penilaian yang muncul, Kartini tetaplah seorang tokoh yang sangat brillian: perempuan yang mula-mula mengembuskan perjuangan feminisme di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa sederhana, Goenawan Mohamad mengatakan, ’’Bukan karena gagasan feminisme maka Kartini ada, tetapi karena Kartini ada, maka ia seorang feminis’’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan keterbatasannya, pemikiran-pemikiran Kartini tentang feminisme dan perjuangannya agar perempuan Jawa pada khususnya dan Indonesia pada umumnya mendapatkan pendidikan layak, merupakan hal terbesar yang tak boleh dilupakan bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati perjuangan para pahlawannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;’’Aku Mau’’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lalu, spirit apakah yang menggerakkan Kartini dalam berjuang? Nukilan surat yang dikirimnya kepada Stella Zeehandelaar, sahabat penanya di Eropa, pada 13 Januari 1900 barangkali bisa menjadi cermin bagi kita tentang motto hidup yang menjadi spirit Kartini dan menggerakkannya dalam berpikir dan berjuang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;’’Kamu mau tahu motto hidupku? ’Aku mau!’ Dan dua kata sederhana ini telah membawaku melewati gemunung kesulitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak mampu menyerah. ’Aku mau’ mendaki gunung itu. Aku tipe orang yang penuh harapan, penuh semangat. Stella, jagailah selalu api itu! Jangan biarkan dia padam. Buatlah aku selalu bergelora, biarkan aku bersinar, kumohon. Jangan biarkan aku terlepas’’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kartini meninggal dunia dengan mimpi-mimpinya tentang perubahan paradigma masyarakat. Ia ingin melihat kaum dan bangsanya maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para feminis modern di Tanah Air memiliki tanggung jawab besar untuk meneruskan cita-citanya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para aktivis feminisme di Indonesia saat ini memang telah melakukan upaya-upaya yang signifikan bagi terwujudnya kesetaraan harkat dan martabat perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara lain ditandai dengan lahirnya UU Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT), dan yang saat ini lagi gencar dan menjadi pembicaraan hangat adalah pelarangan nikah siri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendidikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Namun, hal lain yang tidak boleh dilupakan untuk selalu diperjuangkan adalah masalah pendidikan. Pendidikan, terutama bagi perempuan, adalah salah satu hal yang menjadi perhatian Kartini. Menurut dia, perempuan yang kelak pasti menjadi ibu, mempunyai tanggung jawab besar dalam mendidik anak-anaknya. Ibu sebagai orang yang paling dekat dengan anak memiliki kesempatan dan peran paling besar untuk ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa dipahami, sesungguhnya kesetaraan yang didengungkan Kartini bukanlah agar perempuan bersaing dengan laki-laki, tetapi agar saling mengisi dan saling berbagi.&lt;br /&gt;Isyarat ini bisa ditangkap dari fakta bahwa perempuanlah yang pertama kali mendidik anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini berarti tanggung jawab kaum hawa dalam mengurus rumah tangga tidak harus dilupakan, meski ia seorang feminis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi seorang feminis adalah hal luar biasa yang harus dihargai. Tetapi hal itu selayaknya tidak menjadikan anak-anaknya telantar dan kurang mendapatkan kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, pengetahuan dan pemahaman terhadap feminisme juga tak boleh dipahami setengah-setengah. Feminis bukan perempuan yang hanya ingin sama dengan laki-laki, melainkan orang yang menjadi motor kesetaraan tanpa meninggalkan kewajiban-kewajiban dalam keluarga dan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat ’’aku mau’’ yang merupakan motto hidup Kartini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua, untuk menjadi seorang feminis di abad modern dengan baik dan benar. Bukan yang sok feminis. (32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Suara Merdeka, 15 April 2009&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-1662515243634930789?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/1662515243634930789/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=1662515243634930789' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/1662515243634930789'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/1662515243634930789'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/04/aku-mau-kartini-saja.html' title='&quot;Aku Mau&quot; Kartini Saja'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/SehzA2CdSxI/AAAAAAAAAJc/GETEMsO2ieA/s72-c/n1054486976_30350267_348640.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-9219358060506164999</id><published>2009-04-14T05:13:00.000-07:00</published><updated>2009-04-17T05:11:23.434-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Sekuntum Edelweiss, Setangkai Mimosa pudica</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Cerpen &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mezzalena&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih ya,” akhirnya klausa ini yang aku pilih untuk memulai pembicaraan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buat?” Kau pura-pura tidak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buat sekuntum Edelweiss kemarin,” kataku. Hendak bertanya, apa maksudmu? Tapi aku tahan. Harusnya aku sudah tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Suka?” tanyamu pendek. Pasti kau berharap aku mengangguk. Tapi, apakah aku belum pernah bercerita padamu kalau aku tidak begitu suka bunga? Lantas, kalo aku memilih tersenyum untuk menjawab pertanyaanmu itu, apakah akan menyinggungmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok senyum aja sih?” tanyamu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan bertanya aku suka atau tidak, aku sangat senang menerimanya,” lega rasanya menemukan kalimat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Makasih ya,” ucapmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hey, kamu yang memberi kok bilang terima kasih?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, terima kasih sudah menerimanya,” ucapmu lalu tertawa, begitu juga tawaku meyusul, kita tertawa bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Za?” panggilmu tiba-tiba. Seperti serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmm,” jawabku pendek. Aku menoleh ke arahmu. Mencari-cari maksud dari wajahmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa?” tanyaku akhirnya ketika tidak menemukan jawaban dari rautmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Engga,“ kamu melengos, menghindar dari tebakanku. “Hanya ingin memanggilmu,” lanjutmu lagi, mengerling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam, pura-pura tidak peduli. Padahal, aku bahkan sangat tahu, iya aku juga merasakannya. Sudah sangat lama, tak ada pertemuan seperti ini. Duduk-duduk tanpa acara. Bicara ke sana ke mari tanpa tema. Tanpa menyesali waktu yang ternyata berlalu searah, irreversible. Seringkali aku memang sengaja, tak melihat jam karena tak mau waktu mengambil jeda. Tapi, kita memang tak pernah bisa memungkiri, bahwa perpisahan adalah syarat pasti dari pertemuan. Iya, iya aku tahu, sangat tahu. Ada kata yang tertahan, dari hatimu. Tentang rasa yang sama-sama kita sembunyikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mmm,” desismu perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa?” hanya pura-pura bertanya. Aku tahu kau sedang kebingungan mencairkan suasana. Mencari-cari cerita apa yang bisa mewakili hatimu. Lalu aku tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu ga suka bunga ya?” tanyamu hati-hati kemudian, Aku tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seperti yang kamu lihat dari penampilanku yang tak pernah anggun. Aku hanya cemburu sama bunga-bunga yang anggun dan cantik. Itu makanya aku ga suka bunga. Aku iri,” jawabku beserta alasan lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Halah, bilang aja kamu ga telaten merawat bunga, pake ngeles cemburu-cemburu segala,” candamu sambil tertawa kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tumben tebakanmu benar,” lalu tawaku ikut pecah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi benar kamu ga suka bunga?” Ih, kenapa sih kau suka mendesakku dengan pertanyaan yang menurutku sudah cukup aku jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari pada bunga aku lebih suka pada rumput liar,” jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka bisa tumbuh di mana saja tanpa manja. Mencari kehidupannya sendiri dengan menanamkan akarnya kuat-kuat dalam tanah. Walaupun kemarau seperti membunuhnya, tapi nyatanya itu hanya hibernasi sesaat,” lanjutku panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terus?” tanyamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya gitu, saya lebih menyukai rumput dari pada bunga,” jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu makanya kamu sedikit liar,” kelakarmu. Aku tersenyum kecut. Aku tahu kau sedang bercanda. Aku tak marah, karena aku tahu yang kau maksud liar bukanlah sinonim dari amoral yang mirip dengan asusila atau tuna susila. Juga, kau tak pernah meninggalkanku meski kau tahu aku tak sempurna. Jadi aku tak perlu marah walaupun menurutku kau bercanda kelewatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf-maaf, aku cuma becanda,” maafmu menangkap air mukaku yang berubah kecut tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“iya gpp, lupakan. Mmm, kamu tahu ga rumput apa yang paling aku suka?” tanyaku kembali ke topik awal, hanya tak hendak memperpanjang pekara yang sensitif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rumput itu macem-macem ya? dan bernama juga?” tanyamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya iya lah, karena manusia berkepentingan terhadap nama-nama itu untuk membedakan jenis-jenis rumput, jadilah rumput itu bernama,” selintas terpikir tentang ujaran masyhur, apalah arti sebuah nama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rumput apa yang paling kamu suka? Aku tidak pernah kenalan sama rumput-rumput, jadi ga tahu,” tanyamu. Jika aku penggemar Ebiet G Ade, maka aku akan menjawab “silahkan bertanya pada rumput yang bergoyang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mimosa pudica,” jawabku singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa itu? saya pernah dengar deh, apa sih? emang ada gitu nama rumput yang cantik?” tanyamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kamu pernah lulus SMP pasti tahu, dulu di pelajaran biologi kita mempelajari tentang binomial nomenclature kan?,” tampak kau sedang berpikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa sih? aku hanya ingat Oryza sativa,” serahmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Si kejut,” jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“What? Putri Malu? apanya yang kamu sukai?” tanggapmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak menjawab. Aku tahu, kau tahu bahwa aku tak sempurna. Ketika kau menginginkan aku seanggun Edelweiss, tetap tangguh, abadi dan mempesona di mana pun berada. Kenyataannya aku hanyalah sebatang Putri Malu. Iya, hanya rumput liar yang sesekali terjebak pada kemarau. Hibernasi yang seperti mati. Bahkan pada rangsang-rangsang yang halus, aku pun kalap. Menutup diri. Tapi sebagaimana kau tahu, Putri Malu yang liar itu juga ingin berbunga, begitu pun aku. Kau juga tahu, tak ada Putri Malu yang bisa berevolusi jadi Edelweiss. Apakah kau keberatan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa Ta, matahari telah maghrib. Langit menggelap. Jeda lagi. Berpisah lagi. Sampai jumpa, aku pasti merindukan hari ini lagi. Sayang, tak akan pernah ada lagi, jadi ijinkan aku menuliskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---diunduh dari &lt;a href="http://mezzalena.wordpress.com/"&gt;http://mezzalena.wordpress.com &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-9219358060506164999?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/9219358060506164999/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=9219358060506164999' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/9219358060506164999'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/9219358060506164999'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/04/sekuntum-edelweiss-setangkai-mimosa.html' title='Sekuntum Edelweiss, Setangkai Mimosa pudica'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-6772897829754877039</id><published>2009-04-11T05:09:00.000-07:00</published><updated>2009-04-17T05:10:50.675-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Deritaku</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Puisi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sri Wahyuni&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku terkatup&lt;br /&gt;lamatlamat ku tatap wajah itu&lt;br /&gt;tampak aku kenal&lt;br /&gt;namun perasaan takut menderaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;perlahan aku dekati wajah itu&lt;br /&gt;terbias luka&lt;br /&gt;luka dari masa lalu yang mungkin mengerikan&lt;br /&gt;ku pegang matanya&lt;br /&gt;terasa merah berair&lt;br /&gt;ku sentuh air mata itu terasa lembut dan hangat&lt;br /&gt;sesaat&lt;br /&gt;darah segar mengucur dijariku&lt;br /&gt;aku seperti tak percaya wajah itu berlumuran darah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hampir berapa menit lamanya darah itu tak berhenti mengucur&lt;br /&gt;penghianat&lt;br /&gt;diriku tak lebih hanya sebagai korbanmu&lt;br /&gt;kapan kalian akan melindungiku?&lt;br /&gt;aku menunggu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Langon, 11 Maret 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-6772897829754877039?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/6772897829754877039/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=6772897829754877039' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/6772897829754877039'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/6772897829754877039'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/04/deritaku.html' title='Deritaku'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-1056881596879127064</id><published>2009-04-10T05:06:00.000-07:00</published><updated>2009-04-17T05:08:56.571-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Bercerminlah</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Puisi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sri Wahyuni&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apakah kita pernah menanyakan suatu hal&lt;br /&gt;betapa munafiknya kita&lt;br /&gt;entahlah terjawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apakah kita pernah menanyakan&lt;br /&gt;betapa bungkamnya kita akan kesalahan&lt;br /&gt;entahlah terjawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apakah pernah terbersit sebuah dosa?&lt;br /&gt;hanya hati nurani setelah usai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apakah pernah merasa resah?&lt;br /&gt;hanya pikiran otak yang mengurai&lt;br /&gt;napas kegelisahan hati tak nampak&lt;br /&gt;nasihat titik nadir kian tak layak&lt;br /&gt;hampa dalam kegetiran bias tak pelak&lt;br /&gt;semua retak dan tak terpetakpetak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bercerminlah atas otak yang tak lagi bisa diajak untuk bergerak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Langon, 12 Maret 2009 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-1056881596879127064?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/1056881596879127064/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=1056881596879127064' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/1056881596879127064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/1056881596879127064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/04/bercerminlah.html' title='Bercerminlah'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-4761745599386716384</id><published>2009-04-09T20:18:00.000-07:00</published><updated>2009-04-09T20:21:48.792-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Dalam Sebuah Sajak</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;font-size:85%;" &gt;Puisi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fachrin Azka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lahir di Jepara 21 April 1990. Masih bergiat di Smart Institute Jepara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua telah pergi&lt;br /&gt;Ketika aku ingin kembali&lt;br /&gt;Pada masa yang penuh memori&lt;br /&gt;Semua telah terjadi&lt;br /&gt;Ketika aku tak peduli&lt;br /&gt;Dengan apa yang ku alami&lt;br /&gt;Semua terlanjur terlewati&lt;br /&gt;Dan tak mungkin kembali&lt;br /&gt;Walau hanya dalam mimpi&lt;br /&gt;Kini tinggal pilu dan sepi&lt;br /&gt;Karena bodohnya nurani&lt;br /&gt;Dalam menjalani hidup ini&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-4761745599386716384?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/4761745599386716384/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=4761745599386716384' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/4761745599386716384'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/4761745599386716384'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/04/dalam-sebuah-sajak.html' title='Dalam Sebuah Sajak'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-7706478543830917618</id><published>2009-04-02T19:56:00.000-07:00</published><updated>2009-04-03T19:43:23.137-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Berwisata Pendidikan ke Museum Kartini</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/SdbJIAxozAI/AAAAAAAAAJU/dFvkEm-zxIE/s1600-h/Syaiful+Mustaqim.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 94px; height: 126px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/SdbJIAxozAI/AAAAAAAAAJU/dFvkEm-zxIE/s200/Syaiful+Mustaqim.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5320661149269150722" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Syaiful Mustaqim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;direktur Smart Institute Jepara, Jawa Tengah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;MUSEUM &lt;/span&gt;Kartini merupakan peninggalan bersejarah RA Kartini yang terletak di sebelah utara alun-alun Kota Jepara. Museum yang dikelola oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jepara ini didirikan pada 30 Maret 1975, masa pemerintahan Bupati Soewarno Djojomardowo. Adapun peresmiannya dilakukan oleh Bupati Soedikto pada 21 April 1977.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum Kartini berdiri di atas tanah seluas 5.210 meter persegi dengan luas bangunan 890 meter persegi. Di dalamnya terdapat penyimpanan benda-benda peninggalan Kartini dan kakaknya, Sosrokartono serta benda-benda kuno dan hasil budaya temuan Kabupaten Jepara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum ini terbagi menjadi empat ruangan: 1) ruangan yang berisi koleksi peninggalan Kartini, 2) ruangan untuk benda-benda peninggalan Sosrokar-     tono, kakaknya, 3) ruang berisi koleksi benda-benda yang bernilai sejarah dan 4) ruangan yang berisi kerajinan Jepara: ukir-ukiran, keramik, anyaman bambu dan rotan serta alat transportasi pada zaman dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum Kartini yang berdiri kokoh di pusat kota, ternyata belum menarik minat masyarakat. Keengganan masyarakat berkunjung ditengarai pemerintah kabupaten (pemkab) minim menyosialisasi dan mempromosikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Museum hanya dikunjungi oleh masyarakat saat banyak orang mengenang hari lahir Kartini dan hari libur saja. Pada hari dan bulan lain kondisinya sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Wisata Pendidikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan museum ini semestinya dijadikan sebagai salah satu tujuan wisata. Popularitas museum ini masih ketinggalan jauh jika dibandingkan dengan pamor Kepulauan Karimunjawa, Pantai kartini, Pantai Bandengan maupun Benteng Portugis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi, meski sudah sering disosialisasikan namun hasilnya masih nihil. Barangkali sosialisasi tersebut belum memberikan stimulus bagi masyarakat yang akan berwisata dan menjadikan Museum Kartini sebagai tujuan utama. Karena itu, menyikapi hal ini perlu digagas Wisata Pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wisata pendidikan merupakan proses kegiatan belajar yang dilakukan didalam ruangan peninggalan sejarah. Misalnya belajar sejarah dari peninggalan Kartini dan kakaknya RM Panji Sosrokartono, mengamati tulang ikan raksasa Joko Tuwo (ditemukan April 1989) yang panjangnya sekitar 16 meter, tinggi 2 meter dan berumur 220 tahunan. Juga bisa belajar dari peninggalan bersejarah lain yang berkaitan dengan Kabupaten Jepara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan wisata pendidikan ini diharapkan kaum terdidik (Pelajar dan mahasiswa) di Jepara maupun masyarakat secara tertarik menyambangi. Wisata pendidikan merupakan paket wisata yang memang ditujukan bagi masyarakat terdidik dengan memberikan buku panduan disertai guide (pemandu) khusus yang menjelaskan keberadaan Museum Kartini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menerima buku panduan dan pemaparan dari pemandu peserta wisata pendidikan bisa berdiskusi ataupun bertanya pada pemandu. Pada tahap ini nanti akan kita didapatkan temuan-temuan brilian kaum terpelajar baik berupa karya tulis (laporan hasil berwisata) dan karya ilmiah (analisis) sehingga karya-karya tersebut dapat dijadikan referensi akademik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bukan Sekadar Gagasan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Wisata pendidikan bukan hanya sekadar gagasan yang dibiarkan begitu saja. Akan tetapi dibutuhkan kerja sama semua pihak. Pemerintah kabupaten dalam hal ini perlu bekerja sama dengan peneliti sejarah untuk menerbitkan buku panduan mengenai Museum Kartini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu pemkab juga memberikan akses kepada pelajar untuk mengunjungi wisata tersebut. Boleh dikata, jika selama ini materi pelajaran sejarah nasional hanya diterima di bangku sekolah, sudah saatnya mereka melakukan observasi langsung ke tempat bersejarah, sehingga pelajaran sejarah nasional tidak terkesan membosankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudahnya, pemerintah bekerja sama dengan lembaga pendidikan menyelenggarakan paket wisata pendidikan yang bertujuan menarik minat pelajar untuk lebih mencintai sejarah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu pemerintah juga lebih getol melakukan promosi. Promosi bisa dilakukan khusus bagi masyarakat Jepara terlebih bagi masyarakat secara luas. Ini akan membuat Museum Kartini populer di hadapan khalayak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gagasan wisata pendidikan di Museum Kartini tentu diperlukan kerja sama dengan berbagai pihak. Tidak hanya pemerintah melulu yang dituntut memberikan fasilitas yang memadai akan tetapi masyarakat pun juga perlu sadar akan pentingnya menghargai warisan sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menghargainya secara tidak langsung akan belajar dari manuskrip masa silam yang tak lekang dimakan oleh waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelak dengan memopulerkan Museum Kartini sebagai wisata pendidikan akan Jepara selain dikenal sebagai kota ukir juga dianggap menghargai warisan sejarah masa silam. (35)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Suara Merdeka, 02 April 2009&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-7706478543830917618?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/7706478543830917618/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=7706478543830917618' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/7706478543830917618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/7706478543830917618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/04/berwisata-pendidikan-ke-museum-kartini.html' title='Berwisata Pendidikan ke Museum Kartini'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/SdbJIAxozAI/AAAAAAAAAJU/dFvkEm-zxIE/s72-c/Syaiful+Mustaqim.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-7141987402221485682</id><published>2009-03-30T21:07:00.000-07:00</published><updated>2009-03-31T21:18:41.615-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Opini'/><title type='text'>Jangan Kau Gadaikan Pulauku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/SdLqWGp-CqI/AAAAAAAAAJE/Y8CHitjeosA/s1600-h/n1221953685_8158.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 93px; height: 124px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/SdLqWGp-CqI/AAAAAAAAAJE/Y8CHitjeosA/s200/n1221953685_8158.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5319571775342643874" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-family:verdana;font-size:85%;"&gt;Oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Muh Khamdan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Peneliti Paradigma Institute&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BUPATI &lt;/span&gt;Jepara bersama jajaran telah mengusulkan upaya pencabutan status Taman Nasional atas Kepulauan Karimunjawa langsung di hadapan Gubernur Jateng, Bibit Waluyo (17/3). Sebagaimana dikemukakan Doddy Imron Cholid, ketua BPN Jateng, langkah tersebut dilakukan agar gugusan pulau yang berada di Laut Jawa tersebut mengundang investor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini mengingatkan kita pada promosi penjualan pulau-pulau Karimunjawa sekitar  2004 lewat internet (Suara Pembaruan, 28/3/06). Pada saat itu, para pejabat Pemda Jepara membantah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di lapangan, sebuah perusahaan properti asing, VA Real Estate telah menguasai tujuh dari 27 pulau. Alih-alih pembelaan,  perusahaan properti asing itu dianggap menyelamatkan dari kemubaziran pulau tak bertuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar lima tahun kasus tersebut tiada kunjung kabar. Tiba-tiba saja itu dimunculkan kembali dengan kenyataan sudah banyak penguasaan masyarakat atas pulau-pulau yang semula masih perawan, baik sebagai tempat domisili maupun kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian ini bisa jadi adalah upaya sistematis untuk mengesahkan perusahaan-perusahaan properti dalam melakukan ekspansi wilayah kepulauan secara legal dengan dalih menyejahterakan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan kesejahteraan bukan semena-mena mesti mencabut status Taman Nasional. Mengacu pada Keppres 32/1990, wilayah kepulauan Karimunjawa dibedakan menjadi beberapa zona, yakni zona inti, perlindungan, pemanfaatan pariwisata, permukiman, rehabilitasi, budi daya, dan zona pemanfaatan perikanan tradisional. Dari pembagian zona tersebut maka akan didapatkan arah pengembangan wilayah yang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keseluruhan pulau yang ada memiliki tipe ekosistem beragam, yaitu hutan hujan, dataran rendah, padang lamun, algae, hutan pantai, hutan mangrove, dan terumbu karang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari 27 pulau, hanya lima yang memiliki keberagaman ekosistem kompleks, sedangkan yang 22 tak berpenghuni dan hanya ditumbuhi aneka tanaman serta karang. Dari sinilah kemudian diterbitkan SK Menhut Nomor 74/KPTS/III/2001 tertanggal 15 Pebruari 2001, bahwa ke-22 pulau tersebut berstatus Taman Nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam upaya membenahi peningkatan kesejahteraan masyarakat Karimunjawa, Pemda Jepara berpikir secara pragmatis dalam masalah yang tidak mendasar. Jika pencabutan status Taman Nasional berhasil, jangan heran jika akan terjadi ketimpangan sosial. Pertama, sebagai pulau yang dibeli atau disewa oleh perusahaan dan perseorangan, ditetapkanlah biaya bersandar bagi perahu-perahu nelayan setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu muncullah sentimen bahwa penduduk asli tidak memiliki hak atas pulau yang disewa itu. Kasus hak cipta ukir oleh oknum warga asing,&lt;br /&gt;Christopher Harrison melalui perusahaannya Harrison &amp;amp; Gil sebagai kelalaian seluruh komponen masyarakat Jepara (2006), setidaknya dapat menjadi pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelalaian atas ukir tersebut agar tidak melupakan tugas kita untuk menjaga kelestarian ekosistem Karimunjawa yang memiliki tanaman khas berupa dewodaru (Crystocalyx macrophyla) serta dengan kekayaan jenis terumbu karang mencapai 51 genus disertai 242 jenis ikan hias dan 40 jenis burung (Dephut online).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesejahteraan masyarakat Karimunjawa memang harus dibenahi supaya tidak dianggap sebagai penduduk yang diduakan. Pariwisata sebagai pintu gerbang perekonomian Karimunjawa harus ditangani dengan serius dan mendasar, tidak saja oleh Pemda tetapi juga masyarakat setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling tidak masyarakat dan Pemda harus memikirkan bagaimana menciptakan lapangan pekerjaan atau sentra ekonomi di kawasan tersebut. Persoalan besar yang dihadapi masyarakat nelayan Karimunjawa atas hal itu adalah ketersediaan terminal bahan bakar solar serta pabrik es. Dengan dua komponen ini, para nelayan dapat bekerja dan menyimpan hasil tangkapan dengan baik.&lt;br /&gt;Istimewa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jepara memang kota yang dianugerahi banyak keistimewaan dibanding kota lainnya di jalur Pantura. Bentangan pesisir yang berupa pantai sepanjang 72 kilometer merupakan kekayaan yang mesti dibenahi pengelolaannya. Ini karena dalam Visit Jepara 2008 kemarin, program tersebut tidak mampu memberikan hasil yang optimal bagi dunia pariwisata Jepara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maklum, pelaksanaan terkesan tanpa persiapan matang dan masih diperparah dengan ’’kemandulan’’ spirit kreativitas, baik tampilan kegiatan maupun esensi muatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekadar membuka ingatan, konsep kegiatan pariwisata yang digelar Pemda Jepara pada 15 September sampai 31 Oktober tahun kemarin, hanyalah momen-momen yang telah menjadi rutinitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba saja lihat Pesta Lomban, wisata bahari, pekan syawalan, prosesi pelarungan kerbau, festival kupat lepet, gebyar kain Troso, dan pameran pembangunan, semua terasa garing dari kreativitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana pendapat Heindrich Gossen yang menyebutkan bahwa jika pemuas terhadap suatu benda berlangsung terus menerus, maka kenikmatan akan mencapai titik nol atau ketidaksukaan. Dan inilah yang terjadi dengan masyarakat Jepara dalam menghadapi kemandegan pariwisata daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penataan wisata pesisir Jepara dapat dilakukan dengan mengintegralkan antara pasar pameran kerajinan tangan masyarakat di tengah lokasi wisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, barang-barang kerajinan yang dijajakan di Pantai Kartini atau Gelanggang Tirta Samudra adalah hasil kerajinan dari bahan baku kerang, karang, ikan hias, kura-kura, dan aneka tongkat kayu yang didatangkan dari Karimunjawa. Mestinya, disepanjang jalan pantai dibuatlah pasar kesenian rakyat berupa miniatur kayu berukir, monel, sampai kain tenun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wisata pesisir  yang digabungkan dengan konsep wisata bahari dapat diterapkan guna menambah variasi kegiatan wisata. Langkah tersebut semisal dengan pembuatan trayek perahu wisata antara Pulau Panjang dan Pantai Kartini. Desain ulang arena permainan anak dan wahan santai juga menjadi salah satu prasyarat pengunjung selalu rindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, kebaharian merupakan sejarah tersendiri bagi Jepara karena pernah menjadi pelabuhan ternama era Kerajaan Demak. Dengan demikian, tidak ada alasan bagi kita menyerahkan wilayah kepada asing walau hanya satu pulau. (35)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Suara Merdeka, 30 Maret 2009&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-7141987402221485682?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/7141987402221485682/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=7141987402221485682' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/7141987402221485682'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/7141987402221485682'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/03/jangan-kau-gadaikan-pulauku.html' title='Jangan Kau Gadaikan Pulauku'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_9gPHxzXMNag/SdLqWGp-CqI/AAAAAAAAAJE/Y8CHitjeosA/s72-c/n1221953685_8158.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-9165805343685943</id><published>2009-03-24T04:08:00.001-07:00</published><updated>2009-03-25T21:19:44.461-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>(Jangan) Panggil Aku Susi</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;Cerpen &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Iffah Nafi'ah&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Penggiat Smart Institute Jepara &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;ini lahir di Jepara, 09 November 1991. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Pernah studi di MA Tasywiqul Banat Robayan hingga kelas XI, setelah itu drop out karena terbentur masalah ekonomi. Masih mukim di Brantak Sekarjati RT. 04 RW. 01 Welahan Jepara Jawa Tengah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BUKAN&lt;/span&gt; asing lagi buatku. Di perempatan jalan, aku dan teman-teman mengais uang. Muda-mudi berjubel memadati taman, tentunya mereka berpasang-pasangan. Apalagi ini malam minggu. Mereka bermadu kasih dibawah siraman lampu-lampu gemerlap kota metropolitan. Mobil dan sepeda motor parkir tak jauh dari pemiliknya berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan keempat teman seperjuanganku: Bunga, Wita, Rossa, dan Lia masih duduk-duduk di tepian taman. Semua nama mereka hanyalah nama samaran. Sedangkan aku (Susi): tentu saja penyamaran ini hanya berlaku tatkala malam menjelang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu persatu diantara kami pergi. Itu artinya dapat rejeki. Tapi, sial bagiku belum juga laku. Pelangganku belum datang menjemput. Sedang koran bekas yang kubeli sebagai tikar nanti, kini sudah kumal. Sebal! Kupukul-pukulkan gulungan kertas itu ke telapak tangan kiriku. Samar-samar, telingaku mendengar suara mesin mobil berhenti. Seorang lelaki gagah turun dan melangkah ke arahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf ya, telat,” rayunya meraih dagu lancipku. Aku berpura-pura marah. Tuli mendengar suaranya, buta melihat kehadirannya. Pura-pura. Tapi dalam hati, aku bahagia. Bukan bahagia karena bertemu orang layaknya pacar. Melainkan, karena besok bisa makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sayang, kamu marah ya?” Dia memelukku. Perlahan, aku tersenyum menahan geli akibat ulahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, tidak. Kok, lama banget sih?” balasku manja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa itu hanya tersenyum, “Biasa, ada urusan sebentar.” Setelah itu, kami memilih area yang kosong. Kebetulan di dekat kolam sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan lelaki itu duduk berdekatan di kursi panjang. Malam itu, bulan susut. Mega-mega hitam menutupi wajahnya. Sinar bintang mulai meredup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan kekar itu membelai rambutku. Aku cemas. Membayangkan jika nanti rambut palsuku lepas. Syukurlah, cuma sebentar. Wajah tampannya mendekat dengan wajahku, yang tersapu make up. Semakin dekat, mendekat, dan …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciuman yang lama di bibir tipisku. Nafas bersatu. Tangannya meraba seluruh tubuhku. Mulai dari dagu, leher, berhenti sejenek. Ke dada, meremasnya. Aku tak menggelinjang, bahkan sakitpun tidak. Lalu perut rampingku, semakin ke bawah, dan …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Auw…belutku…,” rintihku menggelinjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sayang, apa ini?” tangannya masih menggenggam belut itu. Punyaku. Ia menarik rambutku, “Ikut aku ke kantor polisi!” dan dibuangnya benda itu. Diseretnya aku menuju mobil kijang berwarna silver. Semua orang melihatku. Betapa malunya. Apa dia sengaja mempertontonkanku di hadapan semua orang? Hingga akhirnya mereka menghinaku, mengutukku, menertawai caraku menyambung hidup, atau justru kasihan padaku? Aku tak peduli!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhku terhempas di jok mobilnya. Mobil mulai berjalan. Pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau kira aku bodoh, mbak Susi?” Ia masih memegang setir. "Sialan, ternyata dia seorang polisi yang mengaku mahasiswa," hujatku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekilas kau memang cantik. Body langsing, putih, mulus, dan tidak buruk”. Aku hanya diam. “Tapi, ketika aku memegang payudaramu, Eit…lebih tepatnya spon. Apalagi, ketika kau juga punya belut seperti aku. Aku semakin yakin kalau kau…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Seorang waria!” selaku. Dia tersenyum kecut. Aku pun sama. Menggigit bibir menahan kegetiran hidup. ”Semua orang pasti menghina profesiku. Termasuk kau!” mataku tertimbun berkaca-kaca, hampir tak bisa melihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tangkap saja aku. Lebih baik aku hidup dalam bui. Daripada harus menggeluti pekerjaan ini,” nadaku lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Asal kau tahu, aku juga jijik dengan diriku. Aku terpaksa melakukannya karena dunia semakin angkuh. Untuk makan saja susah. Apalagi, biaya kuliah.” Benar-benar pilu. Dia hanya melirikku sebentar. Pura-pura acuh. Tapi aku yakin, dia ingin mendengarkan kalimatku selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau beruntung, bisa makan enak, mengenyam pendidikan, sering jalan-jalan. Dan semua itu, kau hanya bisa menghabiskan harta orang tuamu. Sedangkan aku? Aku tak bisa sepertimu. Orang tuaku saja tak tahu, kalau anaknya seperti ini. Lalu, harus bagaimana lagi aku menghidupi diriku sendiri dan keluargaku di desa?” seperti aku memakinya. Matanya tetap lurus ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kau bicara seperti itu padaku? Aku hanya seorang oknum yang diberi amanat untuk menangkap orang-orang sepertimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hanya seorang oknum? Apa untungnya kau bekerja  hanya seorang oknum?” Aku menirukan katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami hanya terdiam. Lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari pada kita hanya bisu, kau mau mendengar cerita hidupku?” tawarku seraya membersihkan make up dengan tissue. Dia masih diam. Tapi aku tahu, dia ingin mendengar ceritaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai berkisah, “Sebenarnya, aku merasa jijik atas diriku sendiri. Tapi mau bagaimana lagi, aku hanya mengikuti takdir Illahi. Sudah setahun aku tenggelam dalam dunia ini. Itu berawal, ketika temanku, Ali, sudah dua tahun nyemplung menjadi waria. Dia menyamar dengan nama, Lia. Alasannya, agar tak jauh beda dengan nama aslinya. Aku tertawa. Menertawai kekerdilanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku kasihan dengan keluargaku. Aku menafkahi mereka dengan uang hasil penjualan martabatku. Aku berdosa. Tapi kenapa Tuhan menakdirkanku seperti ini? Apa ini sebuah dosa? Kenyataannya aku memang seperti ini. Sungguh aku masih lelaki sejati. Aku punya pacar, cantik. Dia tidak tahu diriku seperti apa. Yang dia tahu, aku seorang mahasiswa jurusan sastra, tampan, dan berwibawa. Sengaja aku menyembunyikan realita hidup darinya. Aku terlalu mencintainya. Sekali lagi, ini terpaksa,” air mata begitu kekal di pelupuk. Sesekali, aku menyisipkan seulas senyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pacarmu kuliah juga sepertimu?” tanya oknum yang bernama Dentri itu. Aku sempat tak percaya mencengar pertanyaannya, yang menurutku sangat bersahabat. Rupanya, dia menyimak pembicaraanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak. Dia gadis desa. Berjilbab, lembut, dan seorang santri," balasku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau bilang, pacarmu itu seorang santri. Lalu kenapa kau seperti ini? Seharusnya kau malu padanya, karena dia wanita suci yang pandai mengaji,” seperti ia memarahi ketololanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, kau tak dengar alasanku, kenapa aku menjadi manusia terkutuk?” aku sedikit geram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, iya. Aku mendengarnya. Bung, kau mau menjadi temanku?” ia mengulurkan tangannya. Aku menjabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, aku menceritakan hobiku yang tak bisa lepas dari nafasku. Menulis di media massa. Ternyata, Dentri adalah salah satu penyuka buah karyaku. Katanya, aku berbakat dalam bidang jurnalistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Menulis itu, tidak harus mengandalkan bakat,” tukasku menanggapi komentarnya tentang menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bung susi, eh, maaf maksudku, Susilo. Aku mempunyai teman, dia pemilik penerbitan terkenal. Sekarang, dia sedang mencari seorang jurnalis profesional dan handal. Sepertinya kau cocok. Kalau kau mau, aku bisa memasukkanmu disana. Bagaimana?” mobil mulai sedikit berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benarkah? kau tak jadi menangkapku?” Dia mengangguk. Mataku berbinar. Aku membayangkan, jika nantinya aku tak harus menjadi seorang waria. Menjadi lelaki sejati. Joko Susilo.&lt;br /&gt;**    *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir genap satu tahun aku berkecimpung di penerbitan ini. Gajiku lumayan besar. Bahkan, lebih untuk kuliah dan menghidupi keluargaku di desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan depan, aku akan melangsungkan pernikahanku dengan Laili, gadis pujaanku. Aku mengundang Dentri untuk menghadiri pesta yang akan diselenggarakan di kampung halamanku. Tapi sayang, sekarang dia pindah tugas di luar kota . Tak apalah, yang penting dia sudah merestuiku, meski dengan nada berat. Aku tak tahu mengapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesta pernikahan berlangsung meriah. Semeriah apapun, rasanya hambar tanpa kehadiran Dentri. Entah mengapa aku merindukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para tamu undangan silih berganti, pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam semakin pekat. Aku dan istriku duduk di bibir balai pengantin. Aku mencumbunya. Ia rebahkan tubuhnya di atas kasur yang bertabur bunga-bunga. Pakaian tipis transparan membalut tubuh moleknya. Perlahan, aku menindihnya. Ia menggigit bibirnya, perih katanya. Baguslah kalau begitu, berarti ia masih perawan, pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara soal perawan membuatku teringat pada Dentri dan kehidupanku dulu. Aku pernah bertanya padanya, “Apa aku masih bisa disebut jejaka?” Dia malah terkekeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa kau pernah melakukan ini dengan perempuan? Tidakkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama aku bersamanya, kami selalu bertemu. Pergi berdua, keluar malam, dan melakukan misi utama. Adalah hubungan badani. Mungkin kami memang benar-benar sudah tak waras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah mengapa aku begitu rindu. Aku membayangkan, kalau seakan-akan yang kini di bawahku adalah dia. "Dentri…," desahku pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada apa, mas?” ternyata Laili mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku segera membalas, “Tidak. Tak ada apa-apa.” Dia hanya percaya dan tersenyum manja padaku. Kasihan Laili, desisku dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya suatu waktu dia tahu, bahwa aku sudah tak jejaka. Sudah tak ting-ting lagi. Apa dia akan memarahiku, meminta cerai, merasa jijik, dan akhirnya pergi meninggalkanku? Kurasa dia tidak akan pernah tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang penting, aku bisa membikin anak.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2234738426326543767-9165805343685943?l=smartjepara.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://smartjepara.blogspot.com/feeds/9165805343685943/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2234738426326543767&amp;postID=9165805343685943' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/9165805343685943'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2234738426326543767/posts/default/9165805343685943'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://smartjepara.blogspot.com/2009/03/jangan-panggil-aku-susi.html' title='(Jangan) Panggil Aku Susi'/><author><name>smart institute jepara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06083329201211914079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2234738426326543767.post-3460224444296449194</id><published>2009-03-19T20:19:00.000-07:00</published><updated>2009-03-19T20:24:09.524-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>Cinta Itu Menggerakkanku</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:85%;"  &gt;&lt;span&gt;Cerpen &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Zakki Amali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang&lt;/span&gt; Rahmat, adikku, dikhitan, sepenggal pesan singkat datang dari Ais. “Al, bisa ngak kamu jemput aku di Kediri?.” Sebentar ku baca, terbersit pikiran itu hanya gurauan. Ku biarkan saja lewat. Ais dan aku telah bersahabat lama. Persahabatan itu terbit di saat kelas tiga Aliyah. Persahabatan itu terawat dan erat terjaga. Saling cerita dan tukar pengalaman mengiringi langkah kami. Bukan hal aneh jika ia meminta bantuanku pada sebuah masalah yang terkadang menyulitkan. Tetapi, pesan itu diulanginya sampai tiga kali dengan susunan kata yang berbeda namun intinya satu, minta tolong dijemput di Kediri. Pesan itu menohok kesadaranku akan sebuah tempat yang belum pernah ku tapaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berapa lama hp ku berdenting, terlihat di layar nama Ais memanggil. “Assalamual’aikum, bagaimana al, mau jemput ku di Kediri,” tanyanya sendu. “Di sana ngak ada yang ngantar to?,” jawabku mengelak halus. “Omku kakinya sakit, maunya sih dianter pake mobil, tapi gimana,” “Ya, dah nanti ku jemput,” jawabku spontan. Ku baru merasa jawaban itu penuh resiko, setelah merenung sejenak selepas sms—an. Sejujurnya keputusan itu ku ambil dengan berat hati. Ku hanya mempunyai sedikit uang untuk biaya transportasi ke sana, hanya lima puluh ribu rupiah. Ku perkirakan uang itu hanya dapat membawaku berangkat. Biaya pulangnya, entah ku tak tahu. Ku juga tak tahu kenapa kata itu meluncur tanpa ku pertimbangkan dengan matang. Ada apa ini semua! Sepertinya Tuhan telah menggariskan kata itu untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima hari lagi adikku dikhitan. Aku sebagai kakak lelaki satu-satunya mau tidak mau harus membantu. Ya benar, ada keluarga lain berdatangan membantu. Namun, sebagai seorang anak pertama yang telah dewasa alangkah tidak sepantasnya ku tinggalkan acara penting itu, minimal hari-hari menjelang acara. Tradisi di daerah Jawa memang seperti itu. Ketika ada gawe, anggota keluarga bahu-membahu menyukseskan acara. Bahkan keluarga yang berada di lain daerah pun datang, gotong royong. Pikiranku galau tak mampu menangkap sesuatu yang menggerakkanku. Aku tak tahu. Seperti ada yang mendorongku, kuat sekali. Jasadku kelu menolak permintaannya. Ku putuskan untuk menjemputnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberangkatan dari Kudus ke Kediri kupersiapkan matang. Alamat rumah Pak Amir Faruq di Kediri, Om Ais, ku minta sedetail mungkin kepada Ais. Mulai dari bus yang harus ku naiki dari Kudus ke Kediri, sampai bertanya ke teman-teman yang pernah berdomisili di sana. Sungguh perjalanan yang mendebarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu pukul 8 pagi, empat hari sebelum adikku dikhitan, ku berangkat dari Kudus menuju Kediri. Terminal pertama yang kusinggahi adalah terminal Induk Kudus. Sesuai petunjuk aku harus naik bus jurusan Tuban Jawa Timur. Setelah itu naik bus jurusan Jombang, berhenti di terminal Jombang, dan terakhir naik bus jurusan Kediri, lalu turun di Papar Pancasila, begitu arahan yang ku terima dari Ais.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uch… Siang itu udara terasa panas sekali, bus menitik lamat roda demi roda di jalur Pantura. Kebetulan bus yang ku naiki tidak ber-ac. Terkadang rasa muntah menyembul seketika. Guncangan bus membuat perutku mual. Ditambah dengan aroma asin laut yang menyengat. Puncaknya, ketika melewati bibir laut di daerah Rembang, isi diperutku meluncur naik. Ku tahan pelan, dan weaaakkk…, cairan mirip bubur itu tumpah ruah di dalam plastik hitam yang telah ku siapkan. Cairan itu kugeletakkan di bawah tempat duduk. ”Biasanya kernet akan membersihkan bus, termasuk cairan tadi,” pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Delapan jam ku duduk di bus. Kenyang rasanya ku duduk, terkadang tidur dan termangu, atau memerhatikan pemberhentian berikutnya dengan teliti. Panas dan pengap ku lahap, hingga sampai di Papar Pancasila, entah tepatnya kabupaten apa aku tak tahu, yang ku ingat hanya pesan Ais untuk turun di situ, lalu mencari sungai Brantas dan menyebrang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalananku akhirnya menerbitkan kelegaan. Delapan jam ku terombang ambing, di atas bus, pindah dari terminal satu ke terminal lain, cemas, was-was mengiringi di sana. Apakah ku dapat sampai di sana? Janji tlah ku lafalkan dan Ais pasti menunggu. Yang paling ku khawatirkan adalah keluarga di rumah. Bapak yang menata rumah sendirian siang malam. Karena hanya beliau yang paham penempatan kain yang berserakan dan yang berada dikarung. Pekerjaan keluargaku adalah konveksi. Wajar bila banyak kain, benang, mesin jahir, bordir, berada di dalam rumahku. Sementara Ibu usia
