Tampilkan postingan dengan label Sosok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosok. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 September 2008

Sosok

ALEXANDER MONGOT JAYA
Guru NU dengan Karya Empat Buku Berbahasa Inggris

Jepara, NU Online
Di lingkungan madrasah tempat ia mengajar, ia akrab disapa Pak Mongot. Namanya, Alexander Mongot Jaya. Tapi, itu bukan nama asli, melainkan hanya nama pena. Nama aslinya, Agus Siswanto. Ia kini mengajar di Madrasah Aliyah (MA) Walisongo, Pecangaan, Jepara, Jawa Tengah.

Menjadi guru swasta, pilihan kedua baginya. Sebab, mayoritas para guru menginginkan jabatan Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan gaji yang layaknya bisa mencukupi kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Sebaliknya, gaji guru swasta tidaklah cukup untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari. Namun, hal itu bukan jadi penghalang baginya.

Menjadi guru di madrasah dengan gaji yang pas-pasan bukan menjadi penghalang, sebaliknya dia terus berkarya sesuai bidang keahliannya, yakni menulis buku-buku berbahasa Inggris.

Sejak 2005 lalu, tercatat buku bahasa Inggris telah ditulisnya: English Revolution, Genre in Use, Listening Hand Book, dan English Smart Book. Hasilnya luar biasa. Buku karya alumnus madrasah ini, pada 2001 lalu, seakan menjadi magnet bagi kalangan sekolah swasta maupun negeri di Jepara dan sekitarnya. Sehingga ketika terbit, beberapa waktu kemudian buku-bukunya laris manis bak kacang goreng.

Unik memang melihat buku-buku karya Pak Mongot, sebab mulai isi buku hingga tata letak adalah garapan tangan kreatifnya. "Buku-buku yang saya terbitkan memang aneh dan sangat berbeda dengan buku-buku yang lain," kata lelaki kelahiran Jepara, 24 April 1982 itu.

Agus Siswanto yang berprofesi sebagai guru dan interpreter ini berharap agar guru yang bernaung di Lembaga Pendidikan Maarif Nahdlatul Ulama (NU) lebih kreatif. Sehingga pandangan miring tentang lembaga tersebut bisa dkurangi. Selain itu, guru swasta jangan pernah merasa minder dengan guru negeri.

Kreatif bisa diartikan melakukan inovasi terhadap mata pelajaran yang ditekuni. Salah satunya, menulis buku yang lain daripada yang lain. Artinya, meski substansinya sama, namun harus ada hal yang menarik yang perlu ditonjolkan.

Tampaknya hasil kerja kreatif lulusan Akademi Bahasa (AKABA) 17 Semarang itu telah menuai hasil. Setidaknya, guru negeri telah menjadikan buku karya Agus sebagai referensi bagi para peserta didik.

"Jika setiap guru mata pelajaran dapat menerbitkan buku, niscaya guru Maarif NU bisa saja menjadi kiblat yang layak diperhitungkan," tegas Sekretaris Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Inggris LP Maarif NU Jepara itu kepada kontributor NU Online, Syaiful Mustaqim, Rabu (24/09) kemarin.

Kini, Pak Mongot sedang mempersiapkan buku Genre in Use kolaborasi dengan Branti, guru SMAN 1 Jepara. Rencananya, buku itu akan diterbitkan pada semester genap mendatang. Kita berharap kerja kreatif Pak Mongot layak diteladani, sehingga para guru Maarif NU segera meniru jejak langkahnya. (rif)

[Warta NU Online 25 September 2008]

Senin, 11 Agustus 2008

Mustaqim, Pewarta Terbaik Juli 2008

Kali ini, predikat pewarta warga terbaik tersandang kepada seorang mahasiswa. Syaiful Mustaqim, mahasiswa semester akhir IAIN Walisongo ini tergolong rajin mengirimkan tulisannya ke Suara Warga. Salah satu tulisannya, Mesum Area, bahkan telah 'merajai' blog ini selama hampir satu bulan.


Semua butuh proses, prinsip Mustaqim, sehingga tidak masalah baginya bila hingga kini ia belum juga lulus dari kuliahnya. "Lulus berlama-lama di kampus, bukanlah menjadi kendala," ujarnya. "Saya memiliki banyak obsesi!"

Bagi Mustaqim, sebagian obsesinya ternyata sudah terealisasi. Satu di antaranya, berwirausaha. Kini mahasiswa fakultas Tarbiyah angkatan 2003 ini mengelola Asa Computer (biro pengetikan) secara pribadi di dekat kampusnya. Meski hasilnya belum seberapa, namun baginya itu tak menjadi masalah.

Obsesi yang lain, menjajal kemampuan di dunia penulisan. Sejak awal 2008, Mustaqim telah menekuni dunia penulisan secara otodidak.

Tak beberapa lama, beberapa tulisannya telah mewarnai berbagai media. Tabloid Yunior, Suara Merdeka, Wawasan, Kompas, memuat karyanya.

Meski terhitung cepat, ternyata tidak semudah itu usahanya menembus media. Tulisannya tidak serta merta langsung dimuat dan mendapatkan honor dari redaksi, namun dia mengawali dengan menulis SMS Pembaca. Setelah beberapa SMS Pembacanya dimuat, dia berpindah menulis Surat Pembaca. "Kedua hal itulah yang memberikan spirit, dan akhirnya beberapa tulisan saya kini benar-benar mewarnai berbagai media," akunya.

Di sesela kesibukannya kuliah, menulis, dan mengelola usahanya, mahasiswa yang mengambil prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) ini menyempatkan diri mendampingi jurnalis pelajar di kota kelahirannya, Jepara, sejak dua tahun lalu. Dan kini, dia dipercaya sebagai pembina program ekstra kulikuler jurnalistik di almamaternya, MA Walisongo Jepara. Setiap pekan, mantan sekretaris umum Keluarga Mahasiswa Jepara Semarang (KMJS) ini harus bolak-balik Jepara-Semarang.

Meski memiliki banyak obsesi, pegiat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) di kampungnya ini tidak mematok target. "Yang terpenting adalah saya mampu mengelola bisnis, memberikan upah bulanan kepada karyawan. Berlatih bagaimana menjalankan bisnis yang benar."

Secuil asa darinya, profesi menulis tetap akan dia geluti, meski nantinya bisnis rental, sablon dan pengetikannya bertambah besar. "Dan terakhir, semoga saya cepat menjadi sarjana!" Lho, bukannya tadi kamu bilang tidak masalah lama-lama di kampus?

[Suara Warga Suara Merdeka 10 Agustus 2008]