Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Oktober 2009

Dari yang Lirih Sampai yang Lantang

Sumber: Annida, 01 September 2009


Cerpen Adi Zam Zam


Apakah kalian pernah mendengar nama Negeri Kegelapan?

Negeri itu adalah tempat di mana kalian yang mengaku berani membela kebenaran dan keadilan diculik dan lalu disiksa hingga kelian menyerah. Apakah kalian benar-benar teguh pendirian, ataukah sekedar pandai memulas bibir dengan segala kalimat megah akan segera terlihat nanti. Jarang ada yang bisa melepaskan diri dari sana. Andai kau sanggup melepaskan diri dari mereka, kau pun tak kan bisa menikmati kehidupan normalmu dengan tenang dan nyaman. Hidupmu akan rusak dan bahkan mungkin kau akan bunuh diri jika imanmu tidak benar-benar karang.

Kalian ingin tahu di mana letak Negeri Kegelapan?

Jangan tanya aku. Sebenarnya aku hanya tahu sedikit dari cerita mereka yang berhasil meloloskan diridari Negeri Kegelapan. Aku dan teman-temanku bahkan sedang memburu letak tempat itu, karena ayahku adalah salah seorang yang disekap oleh mereka, dan hingga detik ini beliau telah benar-benar lenyap dari kehidupan ini. Bahkan kuburnya pun.


***


"Aku ndak bisa, Bu."
"Ndak bisa bagaimana? Pantang bagi seorang gadis menolak lamaran seseorang..." suara di ujung telepon meninggi.
"Pantang?" potongku.
"Maksud Ibu, kau tak boleh menolak jodoh yang diberikan Tuhan, Nduk. Teddy itu pemuda baik-baik, sudah mapan, anaknya juga kelihatannya bakti sama orang tua."
"Ibu tahu dari mana?"
"Pokoknya Ibu sudah mencari tahu semuanya. Menyesal kalau kamu sampai menolaknya."
"Aku lebih menyesal kalau sampai putus kuliah, Bu."
"Siapa bilang kamu akan samapai putus kuliah. Ini cuma pertunangan dulu, baru kemudian..."
"Berarti dia sanggup menunggu tiga tahun lagi? Lima tahun?"
"Lin!" suara diseberang naik beberapa oktaf. Marah besar kelihatannya.
"Sampai aku menyelesaikan sebuah buku sejarah."
"Buku sejarah?" Pasti beliau melongo.

Aku tersenyum mendengar reakasi Ibu. "Aku ingin mempersembahkan sesuatu untuk Ayah". Ayah adalah bagian yang tak terpisahkan dari masa lalu dan masa depanku. Aku tahu, jika kalimatku sudah sampai subjek Ayah, pasti kemudian Ibu akan melunak.
"Apakah menikah bagimu adalah hambatan?" Pelan tapi bermaksud menohok.
"Untuk minggu-minggu ini Lina ndak bisa, Bu."
"Kalau begitu kapan kmau bisanya?"
"Kenapa Ibu sampai mati-matian begitu sih?"
Terdengar tarikan nafas. "Kalau kamu punya dua atau tiga anak perempuan, nanti kau akan tahu bagaimana pikiran Ibumu saat ini."

Entah perlakuan macam apa yang telah diperolehnya hingga keadaannya menjadi mengenaskan begitu. Ia hanya menggambar, menggambar, dan menggambar seolah-olah ratusan kertas belum cukup. Ia seperti tak mau mengingat dan tak mau diingatkan tentang sebulan keberadaannya yang entah. "Saat itu dia hanya pamit ingin ke warnet," jawab ibunya saat pertama kami bertamu sesudah kabar kepulangannya kembali. Perempuan itu seumuran Ibuku. Sama-sama seorang janda pula, yang harus tegar untuk menghidupi anak-anaknya seorang diri. Padanya beliau punya tanggungan yang mungkin lebih berat. Ada lima perut yang masih setia meminta belas kasih dari jerih payahnya sebagai seorang pedagang pakaian. Sedang Ibuku hanya punya tiga tanggungan.

"Ternyata setelah pagi itu dia tak pulang-pulang," beliau meneruskan kalimatnya.
Kami bisa memahami perasaan beliau sama seperti memahami perasaan kami sendiri. Ti"ga-empat hari sekali bolak balik ke kantor polisi untuk menanyakan kabar pencarian mereka. Kesana-kemari bertanya ke "orang-orang pintar" itu juga bisa kami setarakan dengan jerih payah kami menghubungi berbagai LSM ke pelosok Kabupaten. Dan aku yakin, setiap malam pun beliau pasti terserang insomnia karena doa-doanya. Secara pribadi aku bahkan merasa berdosa kepada beliau karena akulah yang awal mula menyeret putra sulungnya itu ke ranah paling berbahaya ini.

Aku tahu dari setiap curhat anaknya kepadaku bahwa sang Ibu itu melarang keras anaknya untuk terjun di kancah peperangan ini. Saat ku pamerkan cerita bahwa Ayahku adalah salah seorang pejuang pembebas hak-hak orang tertindas. Tama langsung menyatakan kesediaannya meneyrahkan segala keberanian masa mudanya untuk bergabung dengan gerbong sepak terjangku. Aku yakin, saat itu si Ibu mengalah sejenak karena semangat Tama yang sulit dipadamkan. Dan sekarang pradugaku terbukti.

Si Ibu itu terkadang memperlihatkan raut masam saat kami berkali-kali bertamu. Meski aku tahu segala pransangka layaknya tak patut dipelihara, namun jika keadaan terus menerus semakin tak membaik, apakah harus diabaikan semua kekeliruan kecil itu? Tentu saja tidak. Maka kemudian kami beri pengertian kepada si Ibu bahwa segala tindakan kami sebenarnya memiliki tujuan mulia. Jika para orang tua kami selalu menanamkan benih-benih kemuliaan, bukankah pohonnya kelak akan berbuah kemuliaan pula?

Akhirnya kami ceritakan kepada si Ibu itu sampai sedetil-detilnya. Tentang bagaimana cara kami menggalang suara dan kekuatan. Tentang pergerakan-pergerakan bawah tanah yang kami rintis untuk sebuah masa depan yang sesuai dalam mimpi kami bersama. Juga tentang segala resiko karena kami telah nekat memilih dunia itu. Hingga si Ibu yang malang itu mulai memahami.

"Dia diantar seorang warga yang menemukannya tergeletak di teras rumahnya. Untung orang itu melihat foto Tama di koran. Kondisinya sangat menyedihkan," si Ibu itu terdiam sejenak untuk mengatur emosi. "Ada banyak bercak darah di pakaiannya. Bahkan saat itu dia tidak bisa bicara sepatah kata pun untuk minta tolong," suara si Ibu mengecil, menggiriskan siapa pun yang mendengar apalagi melihatnya. Air matanya telah menganak sungai.
"Apa dia cerita mengenai siapa orang-orang itu, Bu?" tanyaku.
"Aku malah ingin dia melupakan semuanya...," si Ibu mengusap air matanya.


***
Sebenarnya yang kami harapkan bukanlah kesembuhan fisiknya semata. Tapi kenangan dalam setiap mili memorinya adalah sangat penting untuk kami, karena Tegor dan Rusli juga hilang terkurung dalam ingatan itu. Jika ia tak berani mengingat, maka ke mana lagi kami harus mengendus jejak? "Kau harus mengingatnya, Tam. Kau harus bisa! Nasib Tegor dan Rusli ada di tanganmu!"

"Kau harus sabar, Jo!" sergah Ratna.
"Bersabar? Bahkan nyawa kita pun mungkin sekrang sedang terancam!" Pemuda asal Semarang itu terlihat setengah putus asa. Bolak-balik kesana-kemari seolah ruang kamar ini cukup luas untuk langkah gelisahnya.

Setiap kami paksa Tama untuk mengingat, maka tubuh yang seperti kehilangan ruh itu tiba-tiba saja marah. Mengamuk. Semua buku gambarnya ia sobek-sobek. Semua benda yang teraih dibanting. Menangis, meraung. Memukul-mukul kepalanya. Dan membuat kami harus berurusan dengan si Ibu lagi.

"Ada apa ini? Kalian sudah janji tak akan menyakitinya lagi kan?" Dan sialnya hanya si Ibu yang sanggup menenangkan pemuda yang kembali bocah itu.
"Huh! Percuma berkawan dengan pengecut yang takut siksaan!"
"Apa maksudmu?" Ratna menghadang Tarjo di pintu.
"Maksudku dia itu pengecut!" Tarjo menuding ke arah Tama.
Plakk!
"Jangan bertengkar di rumahku!"
"Apa berani kau menggantikannya menerima siksaan itu? Ini hanya soal keberuntungan saja bahwa bukan kau yang diambil!" Ratna meradang.
"Terserah! Tapi kenyataannya memang begitu kan?!" Tarjo menepis tangan Ratna yang mengahdang di pintu.

"Kalau tahu begini, tak akan kuijinkan kalian ke sini. Tak akan ku beritahu kalian tentang kepulangannya. Kalian semua memang anak-anak nakal...," hati si Ibu itu kembali pecah berkeping. Semenatar Tama seperti bocah yang tangisnya berdengung dalam dekapan induknya.
Aku rasa keegoisan memang selalu akan melukai.


***


Semula aku juga sangat egois seperti Tarjo, memaksa Tama untuk menggambar apa saja tentang ingatannya yang masih tersisa. Tapi kemudian aku tersadar saat aku menengok diriku sendiri. Saat semua kenangan indahku bersama Ayah kadang berubah menjadi sesuatu yang menyedihkan, aku mulai memahami kondisi Tama. Air mata selalu tak terkendali jika Ayah tiba-tiba tersenyum dalam khayalanku.

"Dia mengatakan sesuatu, Lin! Tama ingin mengatakan sesuatu!" Ratna seperti baru menang undian. Tapi saat kulihat Tama yang masih seperti kehilangan selera memandang kehidupan, hatiku kecut.

"Lihatlah apa yang digambarnya," tangan Ratna memanggilku dari buku-buku koleksi Tama.
Ah, masih tak ada kemajuan. Masih hanya coretan tak beraturan. Tapi emmang sudah ada yang hampir membentuk gambar. Manusia-manusia kurus? Siapa yang bisa menangkap isyaratnya?
"Apa? Ayo katakan. Jangan takut kepada kami, katakanlah." Ratna mendekatkan telinganya.
"Lari..." suara itu seperti hembusan angin.
"Lari?" aku turut mendekat. Selama beberapa detik aku bisa melihat cahaya di kedua matanya. Ruhnya telah kembalikah?
"Rusli...Tagor..." hembusan itu semakin jelas.
"Iya, Rusli dan Tagor. Di mana?" Ratna menggenggam tangan itu.
"Tembak..."
"Ditembak?" tanya Ratna.
Tapi percuma. Mata itu kembali kehilangan cahaya. Tubuhnya kembali berguncang. Tangisnya sulit ditenangkan.
"Sebaliknya kita tidak terlalu memaksanya," ujarku.
"Tapi tadi..."
"Biarkan dia yang menemukan caranya sendiri."


***
"Apa kau yang mengatur semuanya, Lin?" suara di seberang terdengar begitu sinis. "Mengatur apa, Rat?
"Jangan munafik! Kenapa kau tega berbuat demikian? Kau tahu apa akibatnya jika para wartawan sampai tahu musibah yang menimpa Tama kan? Apa kau lupa pesan Ibunya Tama bahwa dia tidak boleh diusik lagi oleh siapapun? Kau egois!"
"Itu ulah Tarjo."
"Tapi kau mengetahuinya kan?!" suara itu marah.
"Dia bilang ke aku sesudah dia menyebarkan cerita itu di millis, Rat."
"Kalau kau tak menyetujuinya, kenapa kau biarkan aku tak tahu apa-apa?! Kau kejam sekali, tega memanfaatkan teman demi..."
"Ketidakadilan harus dilawan, Rat!"
Hanya terdengar suara isak di seberang.

"Dan itu tidak cukup jika hanya pulau Jawa saja. Seluruhpelosok tanah air kita ini harus melawan, Rat. Mereka punya kekuasaan, kita juga punya kekuatan. Ini sudah resiko, Rat." Tanpa sadar aku terbius kalimat Tarjo.
"Dapat upah berpaa kamu dari stasiun televisi itu?"
"Apa?"
"Dibayar berapa kamu oleh reporter yang kemarin datang ke rumah Tama?!"
Telepon itu ditutup seketika. Menyisakan sesak yang datang tiba-tiba.


***

Jika kalian telah tahu atau pernah mendengar penyiksaan macam apa yang dilakukan oleh orang-orang Negeri Kegelapan, masih beranikah kalian bersuara meski lirih demi sebuah keyakinan? Seharusnnya jika kalian telah bulat memilih menjadi malaikat, aklaian harus berani berkata "ya" untuk tiada lelah apalagi gentar menantang mereka yang telah memilih menjadi setan.

Saat itu pukul satu dinihari tepat saat Ratna tersedu-sedu di ujung telepon.
"Tama telah pergi, Lin. Tama telah pergi. Ibunya baru saja meneleponku. Katakan ke Tarjo, buat yang lebih besar lagi, Lin. Gerakkan semua teman-teman kita agar mereka tak berani meremehkan kita lagi. Luka Tama harus kita balas, Lin. Luka Tama harus dibayar..."
"Inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun... Jam berapa, Rat? Kapan jenazahnya dimakamkan?"


***

Wajah lelah perempuan paruh baya itu semakin kentara saat dengan khidmatnya meneguk the hangat yang ku suguhkan. "Kenapa Ibu tak mengajak Nita dan Fida?"
"Mereka juga sama sibuknya seperti kamu, jadi biarlah. Oh ya, kemarin Nita menonton wawancara eksklusif kalian."

Tak ada yang bisa aku komentari tentang hal itu. Pada akhirnya kami telah melantangkan suara untuk menentang. Kami tahu semuanya pasti belum berakhir hanya sampai di sini.

"Kamu dan teman-temanmu harus berhati-hati, Lin."
"Ibu mau mie?" Aku coba rileks.
"Ayahmu dulu juga begitu, selalu tak kehabisan cara untuk melantangkan suara. Sampai-sampai kuliahnya terbengkalai. Apa kamu kira Ayahmu sudah sarjana? Dari kenal Ibu sampai beranak-pinak ternyata ayahmu tak pernah bisa menamatkan studinya. Dan begitulah kahirnya. Majalah yang dipimpinnya dibreidel, buku-bukunya diharamkan, bahkan ia dibungkam untuk selama-lamanya. Butuh kecerdasan sendiri untuk mengatur langkah, Lin."

"Pasti ada masalah penting sampai-sampai Ibu datang ke sini langsung." Kubawakan puding sisa praktek teman-temanku tadi malam.
"Iya, memang ada kabar penting untukmu." Perempuan itu menatapku lekat.
"Tentang...?"
"Teddy, dia tidak jadi melamarmu."
Gantian wajah itu yang kuamati lekat-lekat. Lalu aku memeluknya erat.

"Aku tidak apa-apa, Lin. Ibu pikir itu malah bagus kalau akhirnya dia mundur. Mungkin dia tidak setuju dengan sepak terjangmu. Ibu juga tak ingin kau mendapatkan pendamping yang tak bisa seia-sekata mendukungmu, mengayomimu. Jadi..."

Maafkan anakmu ini, Bu. Aku sungguh tak bermaksud mengecewakanmu. Aku tahu resiko jalan yang ku tempuh. Dari yang lirih dari hati nurani hingga menjadi yang lantang dan membahayakan, aku tahu ada harga yang mersti dibayar. Dan itu tak cukup hanya dengan air mata.

"...jadi jangan tajut berbuat kebaikan karena Ibu akan selalu berada disampingmu."
Kedua mataku menghangat.


***

Kalinyamatan-Jepara, 90780

Senin, 17 Agustus 2009

Lusuhnya Sang Sakaku

Cerpen Nur Halimah

Dikamar yang sempit dan pengap itu, Rano mengobrak-abrik seluruh isi lemari ibunya. Semua pakaian yang sudah tertata rapi pun kini berserakan dilantai rumah yang beralaskan tanah itu.

“Bu, benderanya dimana?” teriak Rano, sambil terus mencarinya diantara tumpukan pakaian yang masih tersisa dalam lemari.

Ibu yang mendengar teriakan Rano langsung beranjak dari duduknya dan menghentikan mengiris bawangnya. “Bendera apa Rano?” menyusul Rano yang ada dikamar.

“Ya ampun! Kamu ini apa-apaan?” tanya ibu heran dan melayangkan pandangannya kesemua sudut kamar. Ia sangat kaget dengan keadaan kamarnya yang berantakan. Ia belum sampai masuk kedalam kamar dan hanya berdiri didepan pintu kamarnya.

Rano hanya menoleh dan sama sekali tidak menggubris pertanyaan ibunya barusan. Ia masih sibuk mencari benderanya, “Benderanya mana bu? Bendera yang buat tujuh belasan,” ucapnya dengan wajah yang sangat kebingungan.

“Kamu cari dilemari yang paling bawah sana. Seingat ibu, dulu dia menaruhnya disitu,” lalu masuk dan memunguti semua pakaian yang berserakan ditanah.

Rano langsung jongkok dan mencari dibagian bawah lemari itu. Cukup lama sudah ia mengobrak-abrik seluruh lemari milik ibunya dan akhirnya setelah lama mencari ia bisa mendapatkan apa yang ia cari yaitu bendera.

Ternyata barang itu terselip diantara pakaian-pakaian yang sudah tidak layak pakai dan jelek.

“Ya! Ketemu bu benderanya!” teriak Rano kegirangan. Ia melompat-lompat diatas tempat tidur dan mengibar-ngibarkan benderanya.

Ibu yang melihat anaknya itu pun hanya bisa tersenyum sekaligus heran. Ia tak tahu kenapa anaknya itu tiba-tiba mencari-cari bendera merah putihnya, dan begitu senang ketika menemukannya.

Sejenak ia berpikir. Ia baru ingat kalau sekarang adalah bulan Agustus dan empat hari lagi adalah tanggal 17 Agustus yang artinya adalah hari kemerdekaan Indonesia. Setiap menjelang tanggal 17 itu, ada kebiasaan di desanya untuk memasang bendera di depan rumah sebagai tanda penghormatan pada para pahlawan.

Tiba-tiba Rano terdiam dan kembali duduk diatas tempat tidur, ia terlihat sedang memperhatikan benderanya dengan seksama. “Bu, benderanya kok bolong?” tanya Rano kecewa, ia menunjukkan bagian yang berlubang itu pada ibunya.

Lubangnya memang cukup besar untuk seukuran bendera milik Rano. Kondisinya juga kalau dilihat-lihat memang sudah sangat tidak layak pakai. Warnanya sudah pudar, bukannya merah dan putih lagi tapi sudah orange dan coklat. Selain itu juga ada banyak lubang-lubang kecil dibeberapa bagian.

Ibu meminta bendera yang sedang dipegang Rano itu, “Ya sudah, nanti ibu tambal yang bolong ini,” ucap ibu menenangkan Rano.

Tapi Rano masih belum bisa tenang dengan janji ibu barusan. Ia berlari dan keluar dari kamar ibunya dengan wajah yang murung. Ia pergi menuju kamarnya. Dikamar yang juga sangat sederhana dan berlantaikan tanah itu pula, Rano mengambil celengan semar kecil miliknya yang ia taruh didalam lemarinya. Ia mengangkatnya tinggi-tinggi, rasanya ringan sekali. Ia kemudian duduk diatas tempat tidurnya dan memangku celengan semarnya itu.

“Apa aku beli bendera yang baru saja ya? Pakai uang ini,” Rano bingung.

Ia sangat ingin sekali memasang bendera yang besar dan bagus didepan rumahnya, tapi bendera miliknya sudah tidak layak pakai. Tapi kalau ia membeli bendera dengan uang itu, ia harus merelakan uang tabungan yang seharusnya ia pakai untuk persiapan masuk SMA dua tahun lagi itu habis. Setelah cukup lama berpikir, akhirnya ia berdiri dan BRAK!. Suara bantingan benda yang jatuh dan sangat keras.

Ibu yang mendengar suara benda yang jatuh dan pecah itu langsung berlari dari kamarnya dan menuju asal suara yang didengarnya, yaitu kamar Rano. “Ada apa Rano?” tanya ibu bingung sekaligus panik dan berdiri didepan pintu.

Rano menoleh dan mengarahkan pandangan matanya kelantai, ibu mengikuti arah mata Rano yang hanya terdiam. Dan betapa kagetnya ibu ketika melihat serpihan-serpihan celengan semar milik anaknya itu dilantai. Disitu juga berserakan pula uang recehan dan beberapa lembar uang kertas.

“Buat apa kamu pecahkan celengan itu nak? Itukan satu-satunya uang tabungan yang kamu punya?” tanya ibu kecewa.

Sambil memunguti uangnya yang berserakan ditanah, dan suara yang sedikit ketakutan serta menunduk Rano menjawab “Buat beli bendera bu.”

“Ibu kan sudah bilang akan memperbaiki bendera itu, kenapa kamu korbankan si semar,” menyusul Rano kedalam kamar dan duduk diatas tempat tidur.

“Tapi benderanya sudah jelek bu, Rano kan malu,” jawab Rano yang duduk disamping ibunya.

“Malu sama siapa?” tanya ibu heran.

“Malu sama para pahlawan kemerdakaan bu. Rano malu dengan beliau-beliau itu,” ucap Rano berapi-api Ia sudah lupa dengan ketakutannya tadi dan kini ia tiba-tiba menjadi sangat bersemangat menjawab pertanyaan ibunya barusan.

“Mereka sudah mengorbankan seluruh tumpah darah mereka dengan kemerdekaan kita bu, demi terbebasnya Indonesia dari para penjajah, masak kita nggak mau menghargai jasa-jasa dan segala pengorbanan mereka itu bu?” sejenak Rano berhenti.
“Apalah arti sebuah uang kalau dengan Rano memasang bendera yang layak dan indah dilihat itu, kalau para pahlawan yang berada disurga itu bisa bahagia, mereka akan merasa dihargai dengan itu bu,” ucap Rano berapi-api dan berdiri didepan ibunya.

Ibu yang mendengar seluruh orasi anaknya itupun kagum sekaligus bangga dengan sikap anaknya yang sangat menghargai para pahlawannya itu. Ia sama sekali tak menyangka kalau anaknya yang biasanya cengengesan dan tak peduli dengan sekitar itu bisa sangat dewasa kali ini.

“Memangnya uangmu sudah cukup nak?” tanya ibu.

Rano lalu menghitung uang yang ada ditangannya, terlihat ada uang recehan lima ratusan dan beberapa lembar uang kertas ditangannya. “Ada tiga belas ribu dua ratus rupiah bu,” Rano menunjukkannya pada ibunya. “Kira-kira cukup apa nggak ya bu?” lanjutnya.

“Ibu juga tidak tahu Ran, tapi kalau yang ukuran kecil mungkin sudah bisa terbeli,” ucap ibu sambil berpikir.

“Yang kecil ya bu?” tanya Rano kecewa.

Ibu mengangguk, lalu tak lama kemudian Rano pamit pada ibu untuk pergi kepasar yang letaknya tak terlalu jauh dari rumahnya.

Rano menyusuri jalan dibawah teriknya matahari, ia sama sekali tak mempedulikannya.

Walaupun panas sangat menyengat dan menembus kulit, ia tetap bersemangat. Belum sampai Rano dipasar, ia sudah menemukan penjual bendera yang sedang berderet rapi di trotoar.

Ia menghentikan langkahnya didepan seorang penjual laki-laki yang sudah cukup tua usianya. Diantara pohon-pohon peneduh jalan diberinya tali untuk menaruh dan menggantung bendera-bendera yang dia jual.

Rano jongkok dan sibuk memilih-milih bendera merah putih yang ingin dia beli.

“Duh…yang mana ya yang harganya murah?” Rano bingung.

“Yang murah nak? Ini yang murah, sepuluh ribu sudah dapat,” ucap pak penjual tua itu memberi saran dan menunjukkan benderanya.

“Kok kecil ya mbah?” Rano kembali memilih dan mencari bendera yang berukuran besar.

Tak lama ia pun berhasil menemukannya. “Kalau yang ini berapa mbah?” menunjukkan bendera yang dipilihnya. Ukurannya sangat besar, kalau anda pernah melihat acara pengibaran bendera di Istana Merdeka, hampir sebesar itu ukurannya.

“Kalau yang itu ya lima puluh ribu nak, mbah tidak ambil untung. Buat kamu mbah sudah kasih diskon itu,” ucapnya dengan logat jawa yang medok.

Rano berpikir, dari mana ia bisa membeli bendera itu sedangkan uangnya hanya ada tiga belas ribu. “Ini nggak boleh ditawar mbah?” tanya Rano meyakinkan.

Lelaki itu menggeleng, lalu Rano kembali meneruskan memilih benderanya. Tak lama, tiba-tiba lelaki tua itu berkata pada Rano, “Titip dagangan kakek sebentar ya nak, mbah mau kencing kebelakang sana sebentar,” ucap si kakek lalu berdiri dan meninggalkan dagangannya.

Setelah agak lama kakek itu pergi meninggalkan dagangannya. Rano mulai memiliki pikiran yang jelek.

“Hei Rano, kamu ambil saja bendera yang kau inginkan,” entah dari mana ada suara itu, tiba-tiba saja terngiang ditelinganya.

Rano bingung, ia menoleh kekanan dan kekiri namun tak ada seorang pun yang berada disampingnya.

“Jangan Rano, itu tidak boleh. apa kamu mau mengecewakan para pahlawanmu itu?” terdengar suara yang serupa namun menyerukan hal yang berbeda.

Berulang kali ucapan serupa menghampiri Rano, ia sangat bingung dan juga bimbang.

Apakah ia akan mengikuti suara pertama ataukah suara yang kedua.

Tiba-tiba ditengah kebingungannya, ada seorang pria setengah baya yang menghampiri dan menepuk bahu kanannya. Rano menoleh, ia kaget karena ternyata yang menyapanya adalah pak Anton, ketua RT di daerah tempat tinggal Rano.

“Kamu mau ngapain Ran?” tanya pak Anton memulai pembicaraan.

“Ini pak, mau beli bendera.”

“Penjualnya mana?”

Tak berapa lama Rano dan pak Anton bercakap-cakap, datanglah kakek penjual bendera itu. Rano kemudian kembali menawar harga bendera yang ia inginkan itu, tapi kakek itu menolak harga yang diajukan Rano.

Mendengar perdebatan antara Rano dan penjual itu, pak Anton menjadi kasihan dan iba dengan keinginan Rano yang begitu menggebu-gebu untuk memiliki bendera yang dipilihnya.

Akhirnya Rano putus asa, ia berniat untuk pergi dan pindah pada penjual yang lain. Tapi tiba-tiba pak Anton mencegahnya. Rano tak jadi pergi dan ia kembali berdiri disamping pak Anton.

“Kamu benar-benar menginginkan bendera itu Rano?” tanya pak Anton.

Rano mengangguk, ia memang benar-benar menginginkan bendera itu. Dan tak begitu lama, ternyata pak Anton menyodorkan selembar uang lima puluh ribu dan menyerahkannya pada kakek penjual itu.

Betapa senangnya Rano ketika pak Anton menyerahkan bungkusan plastik hitam yang berisikan bendera yang dipilihnya. Ia tak henti-hentinya berucap terima kasih pada pak Anton, sang penolongnya.

Setelah pamit, ia langsung berlari pulang. Sesampainya ia dirumah, ia langsung menuju belakang rumah dan mengambil sebuah bambu panjang untuk mengibarkan benderanya. Ia langsung memasang bendera itu dengan segera. Setelah terpasang, ia memperhatikan dan tersenyum bangga melihatnya.

Ibu yang melihat dari dalam rumah, heran dengan bendera yang begitu besar berkibar didepan rumahnya. Ia menyusul Rano yang masih berdiri dibawah tiang bendera bambunya. Ibu tak bertanya dari mana Rano bisa membeli bendera yang begitu besarnya. Ia hanya menoleh dan terseyum bangga melihat bendera yang berkibar dengan anggunnya didepan rumahnya.

“Akhirnya Rano benar-benar bisa membuat para pejuang itu tersenyum bangga bu,” ucap Rano tanpa menoleh pada ibu dan tetap memperhatikan benderanya.
Ibu yang mendengar perkataan anaknya pun ikut tersenyum.

*Cerpenis muda asal Madrasah Aliyah (MA) Walisongo Pecangaan Jepara

Jumat, 05 Juni 2009

Cinta Tak Berujung

Cerpen Azzah

19 November,
Ry, hujan lebat mengguyur bumi, angin berhembus menggoyangkan tirai jendela, menambah dingin suasana malam, sebatang lilin menyala redup, kembang kempis terbuai sepoi nyanyian malam. Dingin, sunyi, menikam kalbu. Luapan tangis terus mengalir, sedihku tak kunjung padam, bak hujan malam ini yang tak kunjung reda.

5 Desember,
Aku belum bisa membuka mulut, aku tetap diam seribu bahasa, aku sadar, bila semua ini menyiksa sekelilingku, bahkan diriku sendiri. Aku bak patung batu di tengah musim penghujan. Gurauan, hiburan, canda tawa teman-teman mencoba melunakkan hatiku yang beku, melemahkan tubuh nan kaku, namun...aku tetap tak bergeming...

1 Februari,
Seberkas asa menyelinap pelan, seulas senyum tersungging di sudut bibirku yang telah lama kaku, mentari menyapaku dengan benderang, seterang hatiku saat ini.

Ry, kesedihanku berangsur luntur, entah kena sihir apa... Apa malaikat telah mengirimnya tuk menyeka air mataku? Kebahagiaan baru, peristiwa bersejarah dalam hidupku, pertemuanku dengan Lidya...

9 Februari,
Ry, hari-hariku penuh warna, kutemukan kembali pengganti bungaku yang telah menghilang. Ry, jantungku terus berdetak kencang bila mengingat parasnya, Lidya... begitu anggun menawan, buatku tergila-gila, Lidya...ingin aku mengenalnya lebih jauh...

14 Februari,
Sebelum malam terlalu kelam
Izinkan aku mengucap salam
Salam dari hati terdalam
Teruntuk bunga yang buatku tenggelam
Lidya...
Keelokanmu bak batu pualam
Tak kuasa aku tuk menyelam
Lidya...
Happy Valentine Day
Salam....

Kuberanikan diri melayangkan sepucuk surat merah jambu teruntuk pujaan hatiku, Lidya.... Bingung, ragu, cemas merundung perasaanku. Tubuh lemas, hati berdebar, harap-harap cemas. Ry, apa bungaku juga merasakan hal ini? Aku memang penakut, aku benar-benar tak punya kekuatan tuk bertatap muka dengannya, apalagi mengucapkan sepatah kata. Kupikir dan berharap, melalui surat ini mampu mewakili diriku....


21 Februari,
Tuhan...dia begitu indah.... Ry, dia tersenyum padaku, bayangan itu melekat di pelupuk mataku, hatiku terlalu hanyut bersama kegilaanku padanya, walau suratku belum terbalas, seulas senyumnya cukup menenangkan hatiku...

7 Maret,
Ry, apa aku terlalu pecundang? Aku masih belum kuasa tuk menatap matanya, melihatnya dari kejauhan saja, gemetar tubuhku begitu hebat.... Surat kedua, kembali kutitipkan pada Eka, sahabat karib Lidya.
Lidya...
Hatiku terpasung
Oleh harapan yang menggantung
Lidya...
Sudikah kau buka sedikit celah
Dalam relung hatimu...
Tuk menyambut lambaian tanganku
Adakah tempat untukku
Tuk singgah
Dalam tahta kalbumu?
Lidya...
Pesonamu begitu menawan...
Salam...

15 April
Sebulan berlalu, Lidya tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Aku semakin gila dibuatnya. Melamun, merenung, menangis, mondar-mandir, kesana-kemari, layaknya agen pelacak, itulah aktivitasku sehari-hari. Mengingat senyumnya, semangatku begitu membara, terpikir akan keberadaannya.... Aku semakin gelisah, rinduku membuncah, air mataku meleleh.

Lidya...
Dimanapun engkau berada
Cintaku padamu tetap ada
Kapanpun engkau kembali
Cintaku padamu tak kan pernah basi
Lidya...
Tahukah kau...
Aku benar-benar gila!!!!

09 Mei,
Sepasang pengantin berpose mesra, kamera terus mengintai, tak rela kehilangan sedetikpun, dekorasi bernuansa putih menambah kesan natural, taburan mawar merah menghujani dua sejoli diatas tahta. Rentetan acara berjalan sakral, merci merah marun berhiaskan bunga siap mengantar sang mempelai ke istana impian.
Ry, aku tak kuasa menghadapi realita, kegilaanku makin menjadi. Inikah suratan takdir illahi yang tertulis dalam catatan jalan hidupku? Kedua kalinya aku lewati jalan terjal dalam pencarianku...

Tuhan...
Inikah jalanku?
Cintaku tak pernah berlabuh...
Cintaku tak pernah berujung...

Sabtu, 30 Mei 2009

Kesedihan Sularsih

Cerpen Ita Azizah
penggiat ekstrakulikuler jurnalistik MA Walisongo Pecangaan Jepara

SULARSIH adalah gadis keturunan keraton. Dia sangat cantik, imut dan pandai bernyanyi. Suaranya pun bagus. Sejak umur 6 tahun gadis itu sudah di ajari nyinden dan menari oleh ibunya. Seluruh keturunan neneknya, mempunyai tradisi yang sama. Yakni, dalam tradisi keraton, perempuan harus memakai pakaian adat jarik dan kebaya. Kalau tidak, perempuan harus selalu tertutup dan di larang memakai baju ketat, berrambut panjang, juga tidak diperbolehkan berpacaran.

Suatu hari Sularsih mendapat usul dari teman-temannya untuk ikut audisi menyanyi di Jakarta. Sularsih akhirnya tertarik. Gadis itu memang menginginkannya. Dia juga merasa bosan di rumah karena selalu di kurung. Jalan–jalan pun harus di kawal.

Sampai rumah Sularsih berbicara kepada orang tuanya soal audisi itu, akan tetapi orang tuanya tidak mengizinkan. Dan dalam budaya keraton, seorang perempuan tidak boleh pergi kemana-mana, tugasnya hanya di rumah membantu orangtua, bagi perempuan yang masih muda harus di kawal kemana pun ia pergi.

Gadis itu ngambek tidak mau ngomong dan mogok makan. Akhirnya orang tuanya menyetujuinya, tapi dengan satu syarat yaitu di kawal. Sularsih menyetujuinya yang terpenting dia bisa bebas.

Esok harinya gadis itu pergi ke Jakarta dengan empat pengawal, dua perempuan dua laki-laki. Di sana mereka mengontrak sebuah rumah besar yang sangat mewah dan indah.
Orang tuanya mengurusi surat-surat pindah sekolah Sularsih, dan gadis itu pindah sekolah di Jakarta. Esoknya Sularsih daftar ke SMA 74 jakarta.
***
Ini adalah hari pertama dia sekolah di Jakarta. Gadis itu sangat senang sekali. Banyak cowok-cowok yang menaksirnya karena kecantikannya, tetapi gaya berpakaiannya masih sangat kuno, cupu dan lucu. Sehingga gadis itu di kucilkan oleh teman- teman perempuannya.
Di situ Sularsih mendapat teman yang bandel, yang akhirnya merubah semua sikapnya dari baik menjadi buruk.

Sorenya dia mengirimkan formulir-formulir pendaftaran audisi itu, ternyata tak di sangka-sangka, Sularsih lolos audisi dan di terima. Gadis keraton itu sangat senang sekali. Anak itu langsung memberikan kabar di rumah. Semua keluarganya sangat senang.

Namun apa yang terjadi, setelah dia masuk acara itu, gadis itu di suruh memakai pakaian yang tidak sopan, tadinya Sularsih tidak mau tapi anak keraton itu di marahi.

"Kalau tidak mau di atur ya sudah, mendingan kamu pulang dan tidak usah ikut acara ini," kata pelatihnya.

Sularsih sangat takut ketika di marahi. Dia tidak mau mundur begitu saja, karena menyanyi adalah salah satu cita-citanya. Akhirnya gadis itu mau menuruti perintahnya, apapun akan dia lakukan asalkan bisa menjadi penyanyi.

Tadinya para pengawal Sularsih tidak setuju dengan keputusannya, karena anak keraton itu sudah melanggar budayanya sendiri. Tapi akhirnya mereka menyetujui permohonannya.
Malam itu penampilan Sularsih sangat bagus dan lancar. Dia mendapat dukungan dari banyak kalangan. Namun saat keluarganya melihat di TV mereka semua kaget dan kecewa dengan perubahan yang terjadi pada anaknya.

Setelah acara itu selesai, ibunya langsung menelponnya.

"Sularsih, bunda izinkan kamu mengikuti audisi itu bukan untuk merubah diri dengan cara berpakaian seperti itu dan juga bukan untuk pamer, apa kata orang–orang Djogja?" ucap ibunya dengan nada marah-marah.

"Bunda maafkan saya, tadinya Sularsih juga tidak mau tapi…masak Sularsih mundur begitu saja? Lagi pula ini kan cita-cita saya. Sesuatu yang sudah di depan mata jangan di sia-siakan begitu saja Bun…, Bunda kok tidak mendukung anaknya tapi malah memarahi", kata Sularsih dengan merayu bundanya.

"Ya Bunda tahu, tapi tadi itu ayah kamu marah–marah pada bunda dan kamu kan juga tahu, kalau kamu itu puteri keraton, seharusnya kamu itu bisa memberi contoh yang baik, tapi apa nyatanya kamu malah tenar di TV dengan berpakaian yang seperti itu, sudahlah terserah kamu. Bunda capek, mau tidur," lanjut bunda dengan rasa kecewa.

Pagi-pagi Sularsih sudah berangkat ke sekolah di antar pak Joko (pengawal sekaligus supir Sularsih).

Sejak beberapa hari gadis itu mulai merasa malu karena terus-terusan di kawal. Teman-temannya jarang yang mau berteman dengannya. Dikatain manjalah, kekanak-kanakanlah, kampunganlah dan lain sebagainya. Dia pun merasa tertekan dengan ejekan-ejekan temannya.
Anak keraton itu minta bantuan kepada teman sebangkunya, Andien supaya merubah dirinya menjadi seperti anak-anak yang lain.

Sejak saat itulah Sularsih menjadi anak yang bandel karena salah pergaulan. Sepulang sekolah dia tidak langsung pulang, tetapi pergi ke mall dengan Andien. Mereka lewat pintu belakang, karena pengawalnya sedang menunggu di depan. Mereka melarikan diri tanpa sepengetahuan pengawalnya. Pengawal telah menunggunya sampe berjam-jam tetapi Sularsih tidak muncul-muncul, pak Joko sangat khawatir dengannya.

"Jam segini kok neng Sularsih belum pulang-pulang ya? perasaan teman-temannya sudah pada pulang dari tadi, mengapa dia belum juga keluar," kata pak Joko dengan nada cemas.

Pak Joko bertanya kepada guru yang mengajar Sularsih di akhir pelajaran tadi, tetapi katanya, Sularsih sudah pulang sekolah dari tadi, bersama teman-temannya. Pak Joko merasa bersalah karena tidak melihat Sularsih keluar dari kelas.

Akhirnya pak Joko pulang, dikiranya Sularsih sudah sampai rumah, tapi ternyata di rumah tidak ada.
***
Di mall Sularsih dan Andien bersenang-senang. Mereka membeli baju, aksesories sekaligus jalan-jalan menikmati udara luar.

Sularsih memotong rambutnya dengan gaya seperti rambut Andien. Selain itu dia juga mengecat rambutnya. Sepulang dari mall mereka nongkrong di jalan; depan rumah Andien.

Sampai di rumah pak Joko mencari Sularsih, tetapi kata mbak Atik (pengawal dan pembantu Sularsih di keraton), belum pulang.

"Mbak, tadi neng Sularsih sudah sampe rumah kan?" tanya pak Joko kepada mbak Atik.
"Lho bukannya neng Sularsih belum pulang? kan sama pak Joko. Terus neng Sularsih-nya mana?" kata mbak Atik dengan nada kebingungan.

"Lho mbak Atik ini gimana sih, ditanya kok malah balik nanya. Kalau seandainya saya tahu, pasti saya tidak akan tanya kepada mbak, gimana tho?" tanya pak Joko.

“Lha terus kemana? Kok sampe jam segini belum pulang juga? pak Joko ini gimana sih, di suruh ngejagain kok malah di biarin," kata mbak Atik.

"Saya sendiri juga tidak tahu, berjam–jam saya nunggu neng Sularsih tetapi tidak nongol-nongol ya sudah saya tinggal pulang, kata gurunya sudah pulang ya sudah saya tinggal pulang saja," jawab pak Joko.

Setelah maghrib tiba, Sularsih baru pulang. Dia menyelundup supaya tidak ketahuan, tapi akhirnya ketahuan sama pak Joko, pak Karyamin, mbak Atik dan mbak Ani. Mereka semua melihat Sularsih dengan tatapan yang sangat tajam, seolah-olah mereka semua ingin marah kepadanya.

"Dari mana saja neng? Jam segini baru pulang," tanya pak Joko.

"Tahu tidak neng? Tadi itu tuan mancari neng lewat telpon, terpaksa saya bohong kepadanya. Saya bilang kalau neng sudah tidur, padahal saya bohong, rasanya itu tidak enak banget karena saya bohong," kata mbak Ani.

"Ya tidak apa-apa sekali-kali bohong," jawab Sularsih dengan nada cuek.

Setelah itu dia langsung mandi. Para pengawalnya bingung dengan sikapnya yang berubah drastis. Malam itu Sularsih di telpon Reza, cowok yang dikenalkan Andien kepada Sularsih. Semalaman dia tidak tidur, tetapi telpon–telponan.

Paginya Sularsih bangun kesiangan, sampai sekolah dia telat, dan di hukum oleh guru piket, di suruh lari mengelilingi lapangan basket hingga 10 kali.

Sularsih sangat capek sekali. Dia beristirahat di bawah tiang bendera, lalu reza menyusulnya dengan membawakan minuman.

"Kamu haus banget ya? Ini aku bawakan minum untuk mu," kata Reza seraya memberikan minuman kepadanya.

"Makasih ya," kata Sularsih.

Pada Jam berikutnya Sularsih baru boleh mengikuti pelajaran, meski dengan napas ngos-ngosan.

"Tumben telat, kenapa?" tanya Andien kepada Sularsih.

"Bangun kesiangan, capek banget, tahu tidak gue tadi di suruh lari mengelilingi lapangan basket sampe 10 kali, laper banget nih," kata Sularsih.

"Aku tahu, ya maklumlah anak mama and papa kan tidak pernah lari sejauh itu. Ya kan…," ledek Andien.

"Kok kamu ngomongnya gitu sih?" kata Sularsih dengan sewotnya.

"Sudahlah tidak usah dibahas, kamu laparkan? Ke kantin yuk!" kata Andien dengan memegang tangan Sularsih.

"Ngapain? kan ini belum istirahat," tanya Sularsih.

"Ya makanlah, katanya lapar, ayo! Mumpung tidak ada gurunya," kata Andien.

Setelah itu mereka langsung menuju kantin, tak sengaja di situ mereka bertemu dengan Reza yang lagi makan. mereka gabung dengan reza, cowok itu mengajak Sularsih untuk ikut acara balapan motor setelah pulang sekolah. Tadinya dia tidak mau tapi gadis itu dipaksa temannya, sehingga anak keraton itu menerima ajakannya.

Sepulang sekolah Reza sudah menunggu Sularsih di jalan. Sularsih melarikan diri lagi dari pak Joko. Dia lewat pintu belakang dengan Andien. Pak Joko menunggu berjam-jam tapi anak itu belum keluar juga. Akhirnya pak supir itu tanya pada penjaga kantin yang berada di belakang, katanya "sudah pulang dari tadi lewat sini bersama neng Andien."

Pak Joko sangat kecewa dengannya, "kali ini saya tidak takut lagi, saya akan melaporkannya kepada tuan," kata pak Joko.

Sampai rumah pak Joko melapor kapada orang tuanya. Orang tua Sularsih sangat marah sekali mendengar berita itu. Ayahnya mengirim beberapa orang dari keraton untuk menjemput Sularsih.
***
Sularsih, Reza dan Andien sudah sampai di tempat tujuan. Kini balapan sudah dimulai. Sularsih berboncengan dengan Reza. Reza ngebut, gadis itu pun sangat takut, dia berpegangan erat, akhirnya Reza menang balapan itu.

Setelah dari situ, mereka punya rencana makan-makan untuk merayakan kemenangannya. Mereka mampir di sebuah restoran yang tak jauh dari situ, tak sengaja mereka bertemu para pengawal dari keraton yang sedang makan.

Sularsih di ajak pulang oleh para pengawal dari keraton dengan cara halus, tapi dia tidak mau, akhirnya mereka memaksanya untuk pulang dengan menyeretnya ke luar.

Reza beserta Andien menyelamatkan Sularsih, dengan menyerang mereka, akhirnya anak keraton itu berhasil lolos dari mereka dan cowok itu membawanya kabur.

Orang–orang keraton itu mengejar mereka, Reza semakin mengebut, tak taunya di depan ada orang yang mau nyebrang, cowok itu bermaksud untuk menghindarinya dengan membelokkan arah .tapi apa yang terjadi? Mereka malah tabrakan. Sularsih dan Reza terluka parah sedangkan Andien tidak kenapa-kenapa, karena waktu itu Andien mengemudi motor sendiri.
Nyawa Reza dan Sularsih tidak tertolong. Mereka pun meninggal seketika. []

__Cerpen ini memenangi Juara III lomba cipta cerpen 2009 yang diselenggarakan LPM Paradigma STAIN Kudus.

Selasa, 14 April 2009

Sekuntum Edelweiss, Setangkai Mimosa pudica

Cerpen Mezzalena

“Terima kasih ya,” akhirnya klausa ini yang aku pilih untuk memulai pembicaraan kita.

“Buat?” Kau pura-pura tidak tahu.

“Buat sekuntum Edelweiss kemarin,” kataku. Hendak bertanya, apa maksudmu? Tapi aku tahan. Harusnya aku sudah tahu.

“Suka?” tanyamu pendek. Pasti kau berharap aku mengangguk. Tapi, apakah aku belum pernah bercerita padamu kalau aku tidak begitu suka bunga? Lantas, kalo aku memilih tersenyum untuk menjawab pertanyaanmu itu, apakah akan menyinggungmu?

“Kok senyum aja sih?” tanyamu lagi.

“Jangan bertanya aku suka atau tidak, aku sangat senang menerimanya,” lega rasanya menemukan kalimat ini.

“Makasih ya,” ucapmu.

“Hey, kamu yang memberi kok bilang terima kasih?”

“Iya, terima kasih sudah menerimanya,” ucapmu lalu tertawa, begitu juga tawaku meyusul, kita tertawa bersama.

“Za?” panggilmu tiba-tiba. Seperti serius.

“Hmm,” jawabku pendek. Aku menoleh ke arahmu. Mencari-cari maksud dari wajahmu.

“Apa?” tanyaku akhirnya ketika tidak menemukan jawaban dari rautmu.

“Engga,“ kamu melengos, menghindar dari tebakanku. “Hanya ingin memanggilmu,” lanjutmu lagi, mengerling.

Aku diam, pura-pura tidak peduli. Padahal, aku bahkan sangat tahu, iya aku juga merasakannya. Sudah sangat lama, tak ada pertemuan seperti ini. Duduk-duduk tanpa acara. Bicara ke sana ke mari tanpa tema. Tanpa menyesali waktu yang ternyata berlalu searah, irreversible. Seringkali aku memang sengaja, tak melihat jam karena tak mau waktu mengambil jeda. Tapi, kita memang tak pernah bisa memungkiri, bahwa perpisahan adalah syarat pasti dari pertemuan. Iya, iya aku tahu, sangat tahu. Ada kata yang tertahan, dari hatimu. Tentang rasa yang sama-sama kita sembunyikan.

“Mmm,” desismu perlahan.

“Apa?” hanya pura-pura bertanya. Aku tahu kau sedang kebingungan mencairkan suasana. Mencari-cari cerita apa yang bisa mewakili hatimu. Lalu aku tersenyum.

“Kamu ga suka bunga ya?” tanyamu hati-hati kemudian, Aku tersenyum.

“Seperti yang kamu lihat dari penampilanku yang tak pernah anggun. Aku hanya cemburu sama bunga-bunga yang anggun dan cantik. Itu makanya aku ga suka bunga. Aku iri,” jawabku beserta alasan lengkap.

“Halah, bilang aja kamu ga telaten merawat bunga, pake ngeles cemburu-cemburu segala,” candamu sambil tertawa kecil.

“Tumben tebakanmu benar,” lalu tawaku ikut pecah.

“Jadi benar kamu ga suka bunga?” Ih, kenapa sih kau suka mendesakku dengan pertanyaan yang menurutku sudah cukup aku jawab.

“Dari pada bunga aku lebih suka pada rumput liar,” jawabku.

“Mereka bisa tumbuh di mana saja tanpa manja. Mencari kehidupannya sendiri dengan menanamkan akarnya kuat-kuat dalam tanah. Walaupun kemarau seperti membunuhnya, tapi nyatanya itu hanya hibernasi sesaat,” lanjutku panjang.

“Terus?” tanyamu.

“Iya gitu, saya lebih menyukai rumput dari pada bunga,” jawabku.

“Itu makanya kamu sedikit liar,” kelakarmu. Aku tersenyum kecut. Aku tahu kau sedang bercanda. Aku tak marah, karena aku tahu yang kau maksud liar bukanlah sinonim dari amoral yang mirip dengan asusila atau tuna susila. Juga, kau tak pernah meninggalkanku meski kau tahu aku tak sempurna. Jadi aku tak perlu marah walaupun menurutku kau bercanda kelewatan.

“Maaf-maaf, aku cuma becanda,” maafmu menangkap air mukaku yang berubah kecut tadi.

“iya gpp, lupakan. Mmm, kamu tahu ga rumput apa yang paling aku suka?” tanyaku kembali ke topik awal, hanya tak hendak memperpanjang pekara yang sensitif.

“Rumput itu macem-macem ya? dan bernama juga?” tanyamu.

“Ya iya lah, karena manusia berkepentingan terhadap nama-nama itu untuk membedakan jenis-jenis rumput, jadilah rumput itu bernama,” selintas terpikir tentang ujaran masyhur, apalah arti sebuah nama.

“Rumput apa yang paling kamu suka? Aku tidak pernah kenalan sama rumput-rumput, jadi ga tahu,” tanyamu. Jika aku penggemar Ebiet G Ade, maka aku akan menjawab “silahkan bertanya pada rumput yang bergoyang”.

“Mimosa pudica,” jawabku singkat.

“Apa itu? saya pernah dengar deh, apa sih? emang ada gitu nama rumput yang cantik?” tanyamu.

“Kalau kamu pernah lulus SMP pasti tahu, dulu di pelajaran biologi kita mempelajari tentang binomial nomenclature kan?,” tampak kau sedang berpikir.

“Apa sih? aku hanya ingat Oryza sativa,” serahmu.

“Si kejut,” jawabku.

“What? Putri Malu? apanya yang kamu sukai?” tanggapmu.

Aku tak menjawab. Aku tahu, kau tahu bahwa aku tak sempurna. Ketika kau menginginkan aku seanggun Edelweiss, tetap tangguh, abadi dan mempesona di mana pun berada. Kenyataannya aku hanyalah sebatang Putri Malu. Iya, hanya rumput liar yang sesekali terjebak pada kemarau. Hibernasi yang seperti mati. Bahkan pada rangsang-rangsang yang halus, aku pun kalap. Menutup diri. Tapi sebagaimana kau tahu, Putri Malu yang liar itu juga ingin berbunga, begitu pun aku. Kau juga tahu, tak ada Putri Malu yang bisa berevolusi jadi Edelweiss. Apakah kau keberatan?

Tak terasa Ta, matahari telah maghrib. Langit menggelap. Jeda lagi. Berpisah lagi. Sampai jumpa, aku pasti merindukan hari ini lagi. Sayang, tak akan pernah ada lagi, jadi ijinkan aku menuliskannya.

---diunduh dari http://mezzalena.wordpress.com

Selasa, 24 Maret 2009

(Jangan) Panggil Aku Susi

Cerpen Iffah Nafi'ah
Penggiat Smart Institute Jepara
ini lahir di Jepara, 09 November 1991. Pernah studi di MA Tasywiqul Banat Robayan hingga kelas XI, setelah itu drop out karena terbentur masalah ekonomi. Masih mukim di Brantak Sekarjati RT. 04 RW. 01 Welahan Jepara Jawa Tengah.

BUKAN asing lagi buatku. Di perempatan jalan, aku dan teman-teman mengais uang. Muda-mudi berjubel memadati taman, tentunya mereka berpasang-pasangan. Apalagi ini malam minggu. Mereka bermadu kasih dibawah siraman lampu-lampu gemerlap kota metropolitan. Mobil dan sepeda motor parkir tak jauh dari pemiliknya berada.

Aku dan keempat teman seperjuanganku: Bunga, Wita, Rossa, dan Lia masih duduk-duduk di tepian taman. Semua nama mereka hanyalah nama samaran. Sedangkan aku (Susi): tentu saja penyamaran ini hanya berlaku tatkala malam menjelang.

Satu persatu diantara kami pergi. Itu artinya dapat rejeki. Tapi, sial bagiku belum juga laku. Pelangganku belum datang menjemput. Sedang koran bekas yang kubeli sebagai tikar nanti, kini sudah kumal. Sebal! Kupukul-pukulkan gulungan kertas itu ke telapak tangan kiriku. Samar-samar, telingaku mendengar suara mesin mobil berhenti. Seorang lelaki gagah turun dan melangkah ke arahku.

"Maaf ya, telat,” rayunya meraih dagu lancipku. Aku berpura-pura marah. Tuli mendengar suaranya, buta melihat kehadirannya. Pura-pura. Tapi dalam hati, aku bahagia. Bukan bahagia karena bertemu orang layaknya pacar. Melainkan, karena besok bisa makan.

"Sayang, kamu marah ya?” Dia memelukku. Perlahan, aku tersenyum menahan geli akibat ulahnya.

“Ah, tidak. Kok, lama banget sih?” balasku manja.

Mahasiswa itu hanya tersenyum, “Biasa, ada urusan sebentar.” Setelah itu, kami memilih area yang kosong. Kebetulan di dekat kolam sepi.

Aku dan lelaki itu duduk berdekatan di kursi panjang. Malam itu, bulan susut. Mega-mega hitam menutupi wajahnya. Sinar bintang mulai meredup.

Tangan kekar itu membelai rambutku. Aku cemas. Membayangkan jika nanti rambut palsuku lepas. Syukurlah, cuma sebentar. Wajah tampannya mendekat dengan wajahku, yang tersapu make up. Semakin dekat, mendekat, dan …

Ciuman yang lama di bibir tipisku. Nafas bersatu. Tangannya meraba seluruh tubuhku. Mulai dari dagu, leher, berhenti sejenek. Ke dada, meremasnya. Aku tak menggelinjang, bahkan sakitpun tidak. Lalu perut rampingku, semakin ke bawah, dan …

"Auw…belutku…,” rintihku menggelinjang.

“Sayang, apa ini?” tangannya masih menggenggam belut itu. Punyaku. Ia menarik rambutku, “Ikut aku ke kantor polisi!” dan dibuangnya benda itu. Diseretnya aku menuju mobil kijang berwarna silver. Semua orang melihatku. Betapa malunya. Apa dia sengaja mempertontonkanku di hadapan semua orang? Hingga akhirnya mereka menghinaku, mengutukku, menertawai caraku menyambung hidup, atau justru kasihan padaku? Aku tak peduli!

Tubuhku terhempas di jok mobilnya. Mobil mulai berjalan. Pelan.

"Kau kira aku bodoh, mbak Susi?” Ia masih memegang setir. "Sialan, ternyata dia seorang polisi yang mengaku mahasiswa," hujatku dalam hati.

"Sekilas kau memang cantik. Body langsing, putih, mulus, dan tidak buruk”. Aku hanya diam. “Tapi, ketika aku memegang payudaramu, Eit…lebih tepatnya spon. Apalagi, ketika kau juga punya belut seperti aku. Aku semakin yakin kalau kau…”

"Seorang waria!” selaku. Dia tersenyum kecut. Aku pun sama. Menggigit bibir menahan kegetiran hidup. ”Semua orang pasti menghina profesiku. Termasuk kau!” mataku tertimbun berkaca-kaca, hampir tak bisa melihat.

"Tangkap saja aku. Lebih baik aku hidup dalam bui. Daripada harus menggeluti pekerjaan ini,” nadaku lirih.

"Asal kau tahu, aku juga jijik dengan diriku. Aku terpaksa melakukannya karena dunia semakin angkuh. Untuk makan saja susah. Apalagi, biaya kuliah.” Benar-benar pilu. Dia hanya melirikku sebentar. Pura-pura acuh. Tapi aku yakin, dia ingin mendengarkan kalimatku selanjutnya.

"Kau beruntung, bisa makan enak, mengenyam pendidikan, sering jalan-jalan. Dan semua itu, kau hanya bisa menghabiskan harta orang tuamu. Sedangkan aku? Aku tak bisa sepertimu. Orang tuaku saja tak tahu, kalau anaknya seperti ini. Lalu, harus bagaimana lagi aku menghidupi diriku sendiri dan keluargaku di desa?” seperti aku memakinya. Matanya tetap lurus ke depan.

“Kenapa kau bicara seperti itu padaku? Aku hanya seorang oknum yang diberi amanat untuk menangkap orang-orang sepertimu.”

“Hanya seorang oknum? Apa untungnya kau bekerja hanya seorang oknum?” Aku menirukan katanya.

Kami hanya terdiam. Lama.

“Dari pada kita hanya bisu, kau mau mendengar cerita hidupku?” tawarku seraya membersihkan make up dengan tissue. Dia masih diam. Tapi aku tahu, dia ingin mendengar ceritaku.

Aku mulai berkisah, “Sebenarnya, aku merasa jijik atas diriku sendiri. Tapi mau bagaimana lagi, aku hanya mengikuti takdir Illahi. Sudah setahun aku tenggelam dalam dunia ini. Itu berawal, ketika temanku, Ali, sudah dua tahun nyemplung menjadi waria. Dia menyamar dengan nama, Lia. Alasannya, agar tak jauh beda dengan nama aslinya. Aku tertawa. Menertawai kekerdilanku.

“Aku kasihan dengan keluargaku. Aku menafkahi mereka dengan uang hasil penjualan martabatku. Aku berdosa. Tapi kenapa Tuhan menakdirkanku seperti ini? Apa ini sebuah dosa? Kenyataannya aku memang seperti ini. Sungguh aku masih lelaki sejati. Aku punya pacar, cantik. Dia tidak tahu diriku seperti apa. Yang dia tahu, aku seorang mahasiswa jurusan sastra, tampan, dan berwibawa. Sengaja aku menyembunyikan realita hidup darinya. Aku terlalu mencintainya. Sekali lagi, ini terpaksa,” air mata begitu kekal di pelupuk. Sesekali, aku menyisipkan seulas senyum.

“Pacarmu kuliah juga sepertimu?” tanya oknum yang bernama Dentri itu. Aku sempat tak percaya mencengar pertanyaannya, yang menurutku sangat bersahabat. Rupanya, dia menyimak pembicaraanku.

“Tidak. Dia gadis desa. Berjilbab, lembut, dan seorang santri," balasku.

“Kau bilang, pacarmu itu seorang santri. Lalu kenapa kau seperti ini? Seharusnya kau malu padanya, karena dia wanita suci yang pandai mengaji,” seperti ia memarahi ketololanku.

“Hei, kau tak dengar alasanku, kenapa aku menjadi manusia terkutuk?” aku sedikit geram.

“Iya, iya. Aku mendengarnya. Bung, kau mau menjadi temanku?” ia mengulurkan tangannya. Aku menjabatnya.

Kemudian, aku menceritakan hobiku yang tak bisa lepas dari nafasku. Menulis di media massa. Ternyata, Dentri adalah salah satu penyuka buah karyaku. Katanya, aku berbakat dalam bidang jurnalistik.

“Menulis itu, tidak harus mengandalkan bakat,” tukasku menanggapi komentarnya tentang menulis.

“Bung susi, eh, maaf maksudku, Susilo. Aku mempunyai teman, dia pemilik penerbitan terkenal. Sekarang, dia sedang mencari seorang jurnalis profesional dan handal. Sepertinya kau cocok. Kalau kau mau, aku bisa memasukkanmu disana. Bagaimana?” mobil mulai sedikit berjalan.

“Benarkah? kau tak jadi menangkapku?” Dia mengangguk. Mataku berbinar. Aku membayangkan, jika nantinya aku tak harus menjadi seorang waria. Menjadi lelaki sejati. Joko Susilo.
** *

Hampir genap satu tahun aku berkecimpung di penerbitan ini. Gajiku lumayan besar. Bahkan, lebih untuk kuliah dan menghidupi keluargaku di desa.

Bulan depan, aku akan melangsungkan pernikahanku dengan Laili, gadis pujaanku. Aku mengundang Dentri untuk menghadiri pesta yang akan diselenggarakan di kampung halamanku. Tapi sayang, sekarang dia pindah tugas di luar kota . Tak apalah, yang penting dia sudah merestuiku, meski dengan nada berat. Aku tak tahu mengapa.

***

Pesta pernikahan berlangsung meriah. Semeriah apapun, rasanya hambar tanpa kehadiran Dentri. Entah mengapa aku merindukannya.

Para tamu undangan silih berganti, pergi.

Malam semakin pekat. Aku dan istriku duduk di bibir balai pengantin. Aku mencumbunya. Ia rebahkan tubuhnya di atas kasur yang bertabur bunga-bunga. Pakaian tipis transparan membalut tubuh moleknya. Perlahan, aku menindihnya. Ia menggigit bibirnya, perih katanya. Baguslah kalau begitu, berarti ia masih perawan, pikirku.

Bicara soal perawan membuatku teringat pada Dentri dan kehidupanku dulu. Aku pernah bertanya padanya, “Apa aku masih bisa disebut jejaka?” Dia malah terkekeh.

"Apa kau pernah melakukan ini dengan perempuan? Tidakkan.”

Selama aku bersamanya, kami selalu bertemu. Pergi berdua, keluar malam, dan melakukan misi utama. Adalah hubungan badani. Mungkin kami memang benar-benar sudah tak waras.

Entah mengapa aku begitu rindu. Aku membayangkan, kalau seakan-akan yang kini di bawahku adalah dia. "Dentri…," desahku pelan.

"Ada apa, mas?” ternyata Laili mendengarnya.

Aku segera membalas, “Tidak. Tak ada apa-apa.” Dia hanya percaya dan tersenyum manja padaku. Kasihan Laili, desisku dalam hati.

Seandainya suatu waktu dia tahu, bahwa aku sudah tak jejaka. Sudah tak ting-ting lagi. Apa dia akan memarahiku, meminta cerai, merasa jijik, dan akhirnya pergi meninggalkanku? Kurasa dia tidak akan pernah tahu.

Yang penting, aku bisa membikin anak.

Kamis, 19 Maret 2009

Cinta Itu Menggerakkanku

Cerpen Zakki Amali

Menjelang
Rahmat, adikku, dikhitan, sepenggal pesan singkat datang dari Ais. “Al, bisa ngak kamu jemput aku di Kediri?.” Sebentar ku baca, terbersit pikiran itu hanya gurauan. Ku biarkan saja lewat. Ais dan aku telah bersahabat lama. Persahabatan itu terbit di saat kelas tiga Aliyah. Persahabatan itu terawat dan erat terjaga. Saling cerita dan tukar pengalaman mengiringi langkah kami. Bukan hal aneh jika ia meminta bantuanku pada sebuah masalah yang terkadang menyulitkan. Tetapi, pesan itu diulanginya sampai tiga kali dengan susunan kata yang berbeda namun intinya satu, minta tolong dijemput di Kediri. Pesan itu menohok kesadaranku akan sebuah tempat yang belum pernah ku tapaki.

Tidak berapa lama hp ku berdenting, terlihat di layar nama Ais memanggil. “Assalamual’aikum, bagaimana al, mau jemput ku di Kediri,” tanyanya sendu. “Di sana ngak ada yang ngantar to?,” jawabku mengelak halus. “Omku kakinya sakit, maunya sih dianter pake mobil, tapi gimana,” “Ya, dah nanti ku jemput,” jawabku spontan. Ku baru merasa jawaban itu penuh resiko, setelah merenung sejenak selepas sms—an. Sejujurnya keputusan itu ku ambil dengan berat hati. Ku hanya mempunyai sedikit uang untuk biaya transportasi ke sana, hanya lima puluh ribu rupiah. Ku perkirakan uang itu hanya dapat membawaku berangkat. Biaya pulangnya, entah ku tak tahu. Ku juga tak tahu kenapa kata itu meluncur tanpa ku pertimbangkan dengan matang. Ada apa ini semua! Sepertinya Tuhan telah menggariskan kata itu untuknya.

Lima hari lagi adikku dikhitan. Aku sebagai kakak lelaki satu-satunya mau tidak mau harus membantu. Ya benar, ada keluarga lain berdatangan membantu. Namun, sebagai seorang anak pertama yang telah dewasa alangkah tidak sepantasnya ku tinggalkan acara penting itu, minimal hari-hari menjelang acara. Tradisi di daerah Jawa memang seperti itu. Ketika ada gawe, anggota keluarga bahu-membahu menyukseskan acara. Bahkan keluarga yang berada di lain daerah pun datang, gotong royong. Pikiranku galau tak mampu menangkap sesuatu yang menggerakkanku. Aku tak tahu. Seperti ada yang mendorongku, kuat sekali. Jasadku kelu menolak permintaannya. Ku putuskan untuk menjemputnya.

Keberangkatan dari Kudus ke Kediri kupersiapkan matang. Alamat rumah Pak Amir Faruq di Kediri, Om Ais, ku minta sedetail mungkin kepada Ais. Mulai dari bus yang harus ku naiki dari Kudus ke Kediri, sampai bertanya ke teman-teman yang pernah berdomisili di sana. Sungguh perjalanan yang mendebarkan.

Sabtu pukul 8 pagi, empat hari sebelum adikku dikhitan, ku berangkat dari Kudus menuju Kediri. Terminal pertama yang kusinggahi adalah terminal Induk Kudus. Sesuai petunjuk aku harus naik bus jurusan Tuban Jawa Timur. Setelah itu naik bus jurusan Jombang, berhenti di terminal Jombang, dan terakhir naik bus jurusan Kediri, lalu turun di Papar Pancasila, begitu arahan yang ku terima dari Ais.

Uch… Siang itu udara terasa panas sekali, bus menitik lamat roda demi roda di jalur Pantura. Kebetulan bus yang ku naiki tidak ber-ac. Terkadang rasa muntah menyembul seketika. Guncangan bus membuat perutku mual. Ditambah dengan aroma asin laut yang menyengat. Puncaknya, ketika melewati bibir laut di daerah Rembang, isi diperutku meluncur naik. Ku tahan pelan, dan weaaakkk…, cairan mirip bubur itu tumpah ruah di dalam plastik hitam yang telah ku siapkan. Cairan itu kugeletakkan di bawah tempat duduk. ”Biasanya kernet akan membersihkan bus, termasuk cairan tadi,” pikirku.

Delapan jam ku duduk di bus. Kenyang rasanya ku duduk, terkadang tidur dan termangu, atau memerhatikan pemberhentian berikutnya dengan teliti. Panas dan pengap ku lahap, hingga sampai di Papar Pancasila, entah tepatnya kabupaten apa aku tak tahu, yang ku ingat hanya pesan Ais untuk turun di situ, lalu mencari sungai Brantas dan menyebrang.

Perjalananku akhirnya menerbitkan kelegaan. Delapan jam ku terombang ambing, di atas bus, pindah dari terminal satu ke terminal lain, cemas, was-was mengiringi di sana. Apakah ku dapat sampai di sana? Janji tlah ku lafalkan dan Ais pasti menunggu. Yang paling ku khawatirkan adalah keluarga di rumah. Bapak yang menata rumah sendirian siang malam. Karena hanya beliau yang paham penempatan kain yang berserakan dan yang berada dikarung. Pekerjaan keluargaku adalah konveksi. Wajar bila banyak kain, benang, mesin jahir, bordir, berada di dalam rumahku. Sementara Ibu usianya telah lanjut, tidak mampu mengangkat sesuatu yang berar. Hatiku berkecamuk membayangkannya. Ada tarikan untuk kembali dan meneruskan langkahku ke Kediri. Ketika ku ingat orang tua, ingin segera kembali, membantunya dan memersiapkan acara itu. Tetapi aku selalu tak berdaya untuk membalikkan langkahku. Seperti boneka. Itulah yang kurasakan. Ku merasa bersalah pada mereka semua. Dengan berat hati ku tetap melaju menjemputnya. Mungkin ku berdoa saja agar mereka dimudahkan Allah dalam semua urusan dan mengampuni dosa-dosanya. Semoga doaku itu menjadi penebus kesalahanku itu. Amin.

Pukul empat sore ku sampai di rumah Pak Amir. Lengkap dengan Ais dan adik sepupunya, Diana, menjemputku di pinggir sungai. Terpancar kekagetan dari wajah Ais, melihat ku datang. Ku terka, ia hendak berkata tak percaya melihatku sampai di Kediri. Agak malu ia menyambutku. Kita berjalan beriringan sembari bercakap dan berkenalan dengan sepupunya. Rumah Pak Amir ternyata tak jauh dari sungai, sekitar 100 M.

Tak percaya! Kata itu membaur di setiap gerakku di rumah Pak Amir. Dan memang tak hanya aku yang merasa begitu. Fraira, teman sekelasku ketika Aliyah pun demikian. Ia mengirim sms kepadaku dan Ais. Fraira terperangah mengetahui keberadaanku di Kediri. Tak hanya itu, aku yang telah mejemput seorang teman sampai di Kediri, tak pernah dipercayai teman-temanku. Sungguh tak pernah percaya. Fraira dan teman-temanku hanya percaya, bahwa Ais adalah pacarku. Ia menilai ku susah payah ke Kediri menjemput seorang kekasih, bukan teman.

***
Senin Pagi, setelah dua hari di sana, ku dan Ais beranjak pulang. Percakapan semalam dengan Pak Amir, benar-benar membuatku gelisah. Ia mencecarku dengan pertanyaan tajam dan mendalam, layaknya seorang tersangka. “Awakmu ke sini ada keperluan apa,” tanya Pak Amir terasa menguji. Ku kira hanya basa-basi, “Bade silaturrahim,” jawabku. Ternyata ia tidak menyukai sikapku yang berbasa-basi ala orang Jawa. “Ogak salah mas, jujur saja awakmu ke sini karena Ais kan?” Pertanyaan itu membangunkan kesadaranku dan merenungi apa tujuanku ke sini. Pertanyaan itu bak sebuah hakikat. Menyikap makna dibalik realitas. Pertanyaan itu tak pernah ku duga meluncur di hadapanku dan Ais. Yang ku rasakan, hanya berazam menjemput Ais, tidak berlebih dan kurang. Tapi kenapa Pak Amir berkata demikian.

Hingga Sulton, temanku yang akrab dengan dunia mistis menjelaskannya. Dia seorang yang sangat ku percaya. Solusi yang diberikannya selalu membuatku lega. Dunia pesantren telah menjadikannya mengetahui banyak hal tentang hal tentang dunia sufi. ”Aku yakin kamu sebenarnya cinta sama Ais, tetapi kamu mengabaikan rasa itu. Kamu suka tetapi tidak sadar. Seseorang pasti akan menuju sekuat tenaga sesuatu yang dicintainya.”

Pak Amir dan Sulton seakan berkata bahwa aku mencintai Ais. Tapi, aku mengelak. Ia hanya teman. Belum saatnya memandang ia sebagai pendamping hidup . Mimpi-mimpiku belum terkejar. Entah kenapa hatiku merasa itu benar. Ku belum ingin melihat rona merah cinta Ais. Tapi rasa itu kian kuat. Apakah itu yang menggerakkanku sampai di Kediri. Semakin ku mejauhinya, ia semakin kuat menguasai hatiku, menggerakkanku. Aku tak tahu. Apa ini Tuhan!

Kudus, 27 Oktober 2008

[diunduh dari http://sastraparadigma.blogspot.com]

Jumat, 20 Februari 2009

Duri-Duri Cinta Eza

Cerpen Hesti Setianingsih

Setengah tahun yang lalu Eza dan Febri bertemu di hari ulang tahun Lila, sahabat Eza. Tiga bulan kemudian, Eza dan Febri jadian. Waktu tiga bulan pacaran merupakan waktu yang indah, tenang, nyaman dan dramatis bagi mereka.

Kesenangan, kesedihan, dan kebimbangan telah mereka lalui bersama. Berawal dari SMS romantis yang dikirim oleh Febri untuk Eza, dan Febri adalah kakak Lila satu-satunya, serta berawal dari kebersamaan Lila dan Eza-lah yang menjadikan Febri jatuh hati pada Eza.

Setelah jam sekolah selesai, Eza masih setia menunggui sahabatnya, Lila yang sedang berlatih upacara untuk persiapan tanggal tujuh belas tahun depan. Latihan upacara pun telah berakhir, mereka beranjak untuk pulang.

Tak disangka, mobil sedan warna hitam yang melaju cukup kencang dari arah kiri, berhenti tepat di depan mereka berdua, ternyata Febri dengan temannya Doni, yang konon ceritanya mulai jatuh hati pada Lila.

“Siang Za…!” sapaan manis untuk Eza dari pacarnya. “Saya antar pulang yuk Za…!” pinta Febri dengan penuh harap. Seketika, Donni yang duduk disamping Febri, keluar dari mobil dan mempersilakan Eza untuk masuk ke dalam mobil dan duduk disamping Febri, sedangkan Lila dan Donni duduk di belakang.
***
Malam Minggu ini tak seperti malam Minggu sebelumnya, kali ini Febri tidak mengajak Eza pergi keluar. Pikir Eza mungkin karena Febri sedang sibuk dengan kuliahnya, sebagai pacar yang baik sudah tentu Eza harus bisa memakluminya. Meski demikian, hal ini tetap saja membuat Eza bete alias booring time. Terpikir oleh Eza untuk pergi nonton walau tanpa mas Febri.

Setelah dua menit berlalu, Eza sampai di depan bioskop, tapi nasib tak berpihak padanya, semua tiket telah habis terjual. “Daripada langsung pulang, lebih baik aku jalan-jalan dulu sambil lihat barang-barang yang dijual di mall ini,” pikir Eza.

Ketika sampai di lantai dua, pandangan matanya tertuju pada laki-laki berbaju hitam yang sedang asyik menyantap makanan bersama seorang cewek cantik bermata sipit. “Apa aku tidak salah lihat? Itukan Febri. Tapi…cewek yang bersamanya bukan Lila. Lalu itu siapa? Setahuku, Febri tidak mempunyai saudara perempuan selain Lila,” seribu Tanya menghantui pikiran Eza.

Spontan Eza langsung menuju ke hadapan mereka untuk menyapanya. “Mas Febri! Makan malam kok gak ngajak-ngajak?” sapa Eza dengan ketus dan sewot. “Ooo…iy…iya Za, kamu mau gabung?” jawab Febri kaku. “Oh…enggak Feb, terima kasih, aku sudah mau pulang kok, mari mbak, Feb…?” dengan tebaran senyum pahit, Eza beranjak pulang.
***
Setelah kejadian malam itu, Eza jarang sekali bertemu dengan Febri. Memang Febri selalu berusaha untuk menemui Eza, tetapi Eza selalu menghindar. Bahkan Febri meminta bantuan Lila untuk mempertemukannya dengan Eza. Namun, karena Lila menghargai perasaan Eza, Lila selalu menolak ketika kakaknya itu meminta bantuan.

Febri tetap tidak mau putus asa, dia berusaha untuk menelfon Eza, tapi tidak pernah diangkat, SMS tidak pernah dibalas, karena Eza benar-benar marah pada Febri, Eza pun tidak percaya lagi pada Febri.

Febri selalu menunggu Eza pada jam-jam pulang sekolah, pada hari itu kebutuhan Febri melihat Eza berjalan sendirian, ia langsung mengejar Eza, dan Eza pun tidak bisa lagi menghindar dari Febri. “Mengapa sangat sulit bagiku untuk bertemu dan berbicara denganmu Za…? Selalu saja kau menghindar dariku.” Tapi Eza tak menjawab sepatah kata pun.

Lama sekali rasa hening menyelimuti mereka berdua. “Sudah saatnya kita akhiri permainan ini Feb,” jawab Eza. “Permainan…! Maksud kamu apa sih Za…?” tanya Febri yang tidak mengerti akan pertanyaan Eza. Eza hanya diam membisu tanpa kata, seakan membiarkan Febri dalam kebingungan.

“Oke…, sekarang kita omongin masalah ini disitu, kita duduk sebentar disitu,” telunjuk Febri menunjuk ke sebuah kursi yang berada di bawah pohon besar dan rindang. Akhirnya Eza hanya bisa mengikuti langkah Febri, walaupun dengan penuh keterpaksaan.

Hampir lima belas menit Eza dan Febri hanya diam, tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut mereka berdua. Febri hanya merobek-robek daun yang berguguran sembari sesekali melihat wajah Eza yang terlihat kecut dan tertunduk lesu.

“Za…, maksud kamu mengakhiri permainan ini, apa sih?” tanya Febri kemudian. “Aku sudah mengerti semuanya Feb, dan sekarang aku ingin mengakhirinya, aku tidak mau menjadi tokoh dalam sandiwara kamu dan mbak Fanny lagi.”

“Ngerti apa? Mengakhiri apa? Aku masih bener-bener tidak mengerti maksud kamu. Fanny…? Apa hubungannya dengan Fanny?” “Alah…enggak usah pura-pura dech Feb, mbak Fanny itu pacar kamu di kampus ini kan?”

Tidak terasa butiran-butiran air mata jatuh di pipi Eza dan Eza mulai bercerita, “beberapa hari yang lalu, mbak Fanny berkunjung ke rumahku dan bercerita panjang lebar tentang kisah cinta mbak Fanny dan kamu. Pada malam itu mbak Fanny berkata kalau aku tidak boleh mengganggu hubunganmu dengan mbak Fanny lagi.”

“Tapi Za…aku bisa jelasin semuanya ke kamu. Please…aku mohon dengerin penjelasanku.” “Feb, aku rasa tidak ada yang perlu dijelasin lagi, sori aku harus buru-buru pulang,” ucap Eza seraya berdiri meninggalkan Febri.

“Za…,” Febri menarik tangan Eza yang mulai beranjak dari kursi. “Aku mohon Za, dengarkan dulu penjelasanku, please,” bujuk Febri menghentikan langkah Eza. “Apa yang masih bisa kamu jelaskan Feb, belum maukah kamu jujur kalau semua yang aku certain ini benar,” ucap Eza menegas, sementara Febri tetap membisu,

“Ini permintaanku yang terakhir Feb, aku mohon sekarang kamu jujur padaku. Tatap mataku, terus kamu jawab apa kamu mempunyai hubungan dengan mbak Fanny? Itu benar kan Feb?” lagi-lagi Febri hanya diam.

Dengan emosi, Eza mengucapkan perkataan yang sebenarnya tidak ingin diucapkan oleh Eza, “makasih Feb…diamnya kamu sudah menjelaskan semuanya,” ucap Eza sembari beranjak meninggalkan Febri.

Akhirnya Febri mulai membuka mulutnya, ketika setelah tiga langkah Eza beranjak meninggalkan dirinya, “tunggu Za…, itu semua memang benar, aku memang pernah mempunyai hubungan yang spesial dengan Fanny. Namun itu dulu sebelum kita berhubungan, hubungan kami telah berakhir semenjak dia pergi ke London.”

Febri berhasil menuntun Eza untuk kembali duduk di kursi, rasa hening kembali menyelimuti mereka berdua. Eza tertekuk bingung harus mempercayai perkataan mbak Fanny yang baru saja ia kenal, atau Febri yang selama ini berada di hati Eza.

“Begini Za, kamu harus mempercayai aku,” pinta Febri penuh harap. “Mengapa aku harus mempercayaimu?” Eza semakin penasaran dengan perkataan yang telah terucap dari bibir pacarmu itu.

“Sebenarnya yang makan malam bersamaku, dan orang yang dating ke rumahku itu bukan Fanny, dia adalah Fian, adik kandung Fanny.” Eza semakin dibuat bingung oleh penjelasan Febri. “Lalu, Fanny dimana? Mengapa orang itu mengaku bahwa dirinya adalah Fanny dan menyuruhku untuk menjauhimu?”

Setelah menghela nafas panjang, Febri mulai bercerita kembali, “Fanny telah meninggal setahun yang lalu karena kecelakaan, pesawat yang dinaikinya tergelincir dan jatuh di lautan. Sampai sekarang jasadnya belum ditemukan, kami hanya mendapatkan informasinya saja tanpa melihat jasadnya.”

“Terus mengapa Fian pergi ke rumahku dan menyuruhku menjauhimu.” Pertanyaan itu kembali melantun dari bibir tipis Eza yang begitu merah dan menggoda.

Fian mengalami depresi setelah kematian kakaknya, dia tidak rela kalau orang yang sangat dicintai kakaknya dimiliki oleh wanita lain, dan dia masih belum percaya kalau kakaknya telah meninggal, serta dia berharap kalau kakaknya dapat kembali pulang.

“Sungguh aku sangat mencintaimu Za…, apa kamu rela kehilangan cintaku hanya karena masalah yang maya ini? Aku tidak mau kehilangan kamu Za dan aku akan berusaha agar aku tidak kehilangan kamu.”

Eza masih terteguk bingung, kejadian yang sulit untuk di mengerti ini, malah datang menghampiri tali kasih mereka berdua, rasanya mulut Eza sulit untuk digerakkan, sesungguhnya Eza juga tidak ingin kehilangan Febri dan hubungan yang telah mereka rajut bersama.

Akhirnya Eza mulai membuka mulutnya dan berkata, “Aku juga tidak mau kehilanganmu Feb, aku akan membantumu mempertahankan cinta kita. Kini kita hanya bisa berhati-hati, berharap dan berdoa agar hubungan kita jauh dari bencana,” ucap Eza. “Terima kasih Za, karena kamu mau mengerti,” kata akhir yang keluar dari bibir Febri.

Karena jalinan tali kasih antara Eza dan Febri sangat kuat, serta kepercayaan yang telah ditanam sejak lahirnya hubungan cinta mereka, membuat bencara apa pun yang mengancam, sulit untuk ke tengah-tengah hubungan cinta mereka. []

Rabu, 04 Februari 2009

Yang Tak Pernah Kembali

Cerpen Murwanti Larosa

KU PANDANGI wajah kakakku yang pucat. Badannya yang terbujur dihadapanku kini, semakin hari semakin kurus. Selang infuse seakan menjadi sahabat setia yang menemaninya. Aku tak tega melihat keadaannya yang seperti itu. Entah sudah berapa hari dia menginap di ruangan yang serba steril itu.

Tak terasa air mataku menetes ketika mengingat saat-saat indah bersamanya. Aku tak tahu apa yang terjadi padaku jika aku telah kehilangan dirinya. Bagiku, dia bukan hanya sekedar seorang kakak tapi, sahabat serta guru terbaikku.

“Dinda, sudah sore sayang. Apa kamu nggak pulang?” suara mama membuyarkan lamunanku. Buru-buru kuusap air mataku. Sebenarnya aku belum mau pulang tapi aku juga nggak mau dianggap sebagai anak yang tidak mau mendengarkan perkataan orang tua. Akhirnya aku pulang bersama papa tapi, sebelum pulang aku berkata pada mama kalau sepulang sekolah besok aku akan datang lagi.

Dalam perjalanan pulang, yang terbayang di benakku hanyalah wajah kak Ivan. Aku takut jika keadaannya semakin parah. Aku nggak mau jika dia meninggalkanku sebelum kelulusanku. Tiba-tiba air mataku menetes lagi.

Sepertinya papa mengerti akan kesedihanku. “Dinda, kamu nggak usah terlalu memikirkan tentang keadaan kakakmu. Papa telah memilihkan dokter yang terbaik untuknya,” hibur papa. “Makasih ya pa,” jawabku dengan sedikit senyuman.

Aku tahu bahwa kanker otak yang dideritanya telah kronis, sulit untuk disembuhkan bahkan mungkin tidak dapat disembuhkan. Tapi, meskipun kami tahu akan hal itu, kami tidak putus asa untuk berikhtiar dan memohon kepada Allah untuk kesembuhannya.

***
Tet…tet…tet…Alhamdulillah, akhirnya bel pulang pun berbunyi. Aku bergegas merapikan buku-bukuku dan keluar kelas.

“Dinda…Dinda,” sepertinya ada suara yang memanggilku. Kucari-cari sumber suara itu, ternyata Lusy sahabatku yang telah memanggil. Dia memprotesku karena aku tidak menunggunya ketika keluar kelas. Aku minta maaf padanya karena aku sedang buru-buru. Kemudian aku menjelaskan padanya kalau aku mau ke rumah sakit untuk menjenguk kakakku. Mendengar kakakku masuk rumah sakit, Lusy malah panik dan langsung menarikku untuk pergi ke rumah sakit.

Sesampainya disana, aku langsung menuju ruangan tempat kakakku dirawat. Ku dapati mama sedang duduk disudut ruangan. Wajahnya kelihatan begitu lelah.

“Ma, lebih baik mama pulang dan istirahat saja dulu. Biar Dinda dan Lusy yang jagain kak Ivan,” kulihat Lusy mengangguk setuju. Sepertinya mama menyetujui saranku. Kemudian mama pulang tanpa meninggalkan pesan.

Beberapa saat setelah mama pulang, kudengar rintihan kak Ivan. “Aduh…kepalaku sakit sekali,” aku dan Lusy langsung mendekatinya. “Kak, kenapa kak?” tanyaku panik. “Kepalaku, kepalaku rasanya sakit sekali,” jawabnya.

Aku meminta tolong pada Lusy untuk memanggilkan dokter. Tak lama kemudian, Lusy datang bersama dokter dan seorang suster. Dokter itu memeriksa kak Ivan dan memberikan sebuah suntikan. Ku lihat kak Ivan tak lagi merasakan sakit di kepalanya.

“Dok, gimana keadaan kakakku?” tanyaku menyelidik. “Anda tenang saja, mungkin ini hanya rasa sakit yang biasa. Nanti, setelah istirahat pasti akan hilang,” jelas dokter. Lalu dokter itu pergi dan meninggalkan kami bertiga.
***
Hari sudah sore tapi Lusy belum mau pulang meskipun aku sudah menyuruhnya pulang. Katanya dia nggak mau aku sendirian.

Ba’da Maghrib, mama dan papa datang dengan membawa kantong plastik yang berisi makanan. Ku ajak Lusy makan bersamaku karena dia juga belum makan dari tadi. Setelah selesai makan, aku mengutarakan keinginanku pada mama kalau aku mau menginap di rumah sakit. Karena besok hari libur, mama mengizinkanku.

Malam semakin larut, Lusy akhirnya mohon pamit dan aku minta tolong pada papa untuk mengantarkan Lusy pulang. Papa kembali ke rumah sakit untuk menemani mama dan aku.

Ku lihat mama dan papa telah tertidur pulas dan waktu telah menunjukkan tengah malam. Tapi, mataku tak mau dipejamkan. Akhirnya, ku ambil air wudhu dan melaksanakan shalat malam. Aku mengenakan mukena yang dibawa oleh mama dan shalat di ruangan itu. Setelah berdoa ku dengar kak Ivan memanggilku.
Kulipat mukena yang kukenakan kemudian menghampirinya. “Din, kakak minta bekal yang banyak karena kakak mau pergi jauh,” katanya dengan suara yang lemah. “Pergi kemana kak?” tanyaku tak mengerti.

Dia tidak menjawab pertanyaanku tapi malah berpesan kalau aku harus menjadi orang yang baik dan tidak boleh mengecewakan mama dan papa. Tiba-tiba kak Ivan tersenyum dan melihat kea rah pintu. Dia menyuruhku untuk membukakan pintu. Aku tak tahu mengapa dia menyuruhku membuka pintu. Sebelum kubuka, kak Ivan menyuruhku menyingkir dari sampingnya.

Setelah aku menyingkir, dia berkata, “tamu-tamu itu mengajak kakak pergi Din.” Aku tercengang mendengar perkataannya. Aliran darahku seperti berhenti sehingga aku tidak dapat bergerak.

“Dadaku berdebar kencang, aku merasakan sesuatu yang janggal padanya. Tiba-tiba kudengar dia mengucapkan, “Asyhaduallailahaillallah wa asyhaduannaa Muhammadarrasulullah.” Ku lihat cahaya terang yang menyilaukan mata keluar dari ubun-ubun kakakku.

Aku tak dapat lagi membendung air mataku karena aku telah ditinggal jauh pergi oleh kakakku dan tak akan pernah kembali selamanya. Aku tak dapat berkata-kata kecuali mengucapkan, “Innaalillahi wainna ilahi raaji’un.” []

Selasa, 06 Januari 2009

Karena Kuingin

Cerpen Wahyu Arzetha
www.arzetha.blogspot.com

Purnama
terbit tanpa gairah. Meski sudah hampir tengah malam, tapi hangatnya belum juga terasa. Bahkan kabut pun turun sejak senja, selepas hujan yang mengguyur siang hari. Malam semakin beku tanpa kehangatan. Entah mengapa? Semua terasa hambar. Aku sendiri hanya berdiam, tanpa melakukan apa-apa. Semuanya tak menggairahkan untuk beraktifitas. Sekedar imajinasipun tak kunjung melintas di pikiran yang terus galau.

Sejenak kupejamkan mata untuk temukan sesuatu, yang mungkin akan menenangkan jiwa. Namun semua itu tetap tak mampu membantu meringankan pikiranku. Tak ada yang mengisi pikiran ini, selain dirinya. Semua tampak menghilang, saat dia hadir dalam anganku.

Dia bukan bidadari, bukan juga sang putri yang akan menghipnotis setiap laki-laki yang melihatnya. Tapi, kehadirannya telah merubah cara pandang hidupku. Cara pandang tentang cinta yang selama ini kuanggap tlah tiada. Dan kini, dia menghadirkannya untukku. Cara pandang tentang hidup, yang selama ini hanya kukenal hampa, kini kembali berwarna.

Dia bukan permaisuri yang selalu tampil jelita saat mendampingi sang pangeran dalam pesta-pesta kerajaan. Tapi dia punya kecantikan yang tak setiap orang menyadarinya. Dia yang miliki kecantikan jiwa. Kemuliaan jiwa yang masih terus terjaga. Sehingga dia pun mampu menjaga cintanya untuk satu mimpi kebahagiaan. Dan ketika orang yang dicintainya tlah meninggalkannya untuk memilih cinta yang lain. Dia pun tetap menjaga mimpi itu. Tak lain untuk satu bahagia.

Kabut yang turun semakin pekat. Bahkan batu-batu yang berserak di tanah pun tlah basah dibuatnya. Sepi pun kian mencekat. Tak ada lolong anjing, serangga malam pun enggan berderik. Semua seolah mengamini kesedihan dan kegelisahan sang rembulan.

Aku tak bisa menghilangkan bayangnya dari angan ini. Tak bisa, dan juga tak ingin kuhapus semua bayangnya. Ku biarkan semuanya membayangi anganku. Mengikuti setiap tapak langkah yang ku susuri. Karena kuingin, dia yang mendampingi hidupku. []

Jepara, 14-18 November ‘08

Rabu, 19 November 2008

Seperti Bulan dan Bintang

Cerpen Lasinta Ari Nendra Wibawa


Seperti bulan dia mendekap tubuhku
Membawaku ke dalam mimpi terindahku
Mampukah aku berpaling jauh darinya
Tanpa dustai cintaku untuk diriNya

Seperti bintang dia membelai hatiku
Merasuki tiap bilik dalam sukmaku
Mampukah aku meraih cinta kasihnya
Tanpa lukai cinta kasihku untukNya *

Seandainya kisahku dikemas dalam sebuah cerita, kuingin lagu "Seperti Bulan dan Bintang" karya Ari Nendra yang menjadi sound-tracknya. Kau tahu kenapa? Tidak lain karena reffrain lagu ini cukup mewakili kisah nyata yang aku jalani. Anehnya, kejadiannya sama dengan saat pembuatan lagu ini.

Saat itu, aku ditawari cinta oleh hari-hari yang lewat seperti biasa. Aku menyebutnya cinta kedua karena menurutku cinta pertama adalah dari sesosok wanita anggun yang senantiasa memberikan bunga kasih sayang dalam setiap denyut napasnya, menyambut kehadiran kita untuk pertama kalinya di muka bumi yang mulai renta, dan di bawah kakinya tercium aroma surga.

Tapi jujur, aku tak tahu itu cinta atau bukan karena cinta dan birahi hampir tak nampak tapal batasnya. Sama saja membedakan areal di tengah hutan yang dipisahkan oleh benang hitam jam dua belas malam. Meski hati kecilku mengatakan, "Cinta itu seperti jalinan antara daun dan
akar pepohonan. Jika suatu saat daun gugur, akar pepohonan akan merengkuhnya menjadi tunas-tunas sewarna harapan. Bukan malah membusukkan diri lalu terurai di perut bumi."

Entah kenapa saat itu waktu enggan mengulurkan tangan untuk semakin mengenalkanku pada aroma parfum yang dipakainya. Atau sekedar mengabadikan momen-momen penting
di mana ia mewarnai angkasa dengan senyumnya yang bermuatan cinta dan pesona.

"Aduh, manisnya", teriaknya saat ia mengamati kupu-kupu yang hinggap di atas kelopak bunga mawar di taman sekolah. Ia mengagumi sentuhan kupu-kupu yang lembut dan penuh cinta tanpa merusak putiknya. Ia tak menyadari kalau aku sedang mengamatinya lekat-lekat di atas balkon, di lantai dua dengan memendam rindu yang membukit dan mulai membatu.

"Wahai, kupu-kupu! Seandainya kau menjelma menjadi seorang manusia yang bersahaja sekalipun. Aku akan tetap berhasrat untuk merebahkan segenap kasihku kepadamu", ucapnya penuh makna. "Karena aku yakin kau pasti akan menjaga ikatan cinta tanpa menodainya seperti halnya lelaki di dunia ini. Aku telah menyaksikan nafsu-nafsu yang membara dalam diri
lelaki yang takkan mampu diredam oleh akal sehat manapun."

"Seandainya kau juga tahu akan kesunyianku di belantara kehidupan ini, kau pasti akan rela memberikan sepasang sayapmu untuk melepaskanku dari kenyataan yang menghampiriku dan membawaku terbang ke angkasa. Betapa kesunyian telah melekat dalam urat-urat nadiku,
kupu-kupu!. Aku telah kehilangan kasih sayang dari seorang bunda yang dulu tak pernah usai mengalirkan mata air cinta membasuh kepedihan-kepedihanku. Sedang ayah yang masih
tersisa untukku telah lalai dan larut dalam bisnis yang digelutinya. Mungkin, ayah berpikir bila harta mampu meniupkan kedamaian bagiku", ucapnya sambil menahan isak
yang hampir membuatku ikut menangis.

Sejenak ia mendongak ke arah barat. Matahari hendak berkemas untuk menghilang dari batas cakrawala, malam akan kembali bertahta. Aura sunyi pun bertiup penuh luka.

"Malam hampir memijakkan kakinya, kupu-kupu! Aku harus pulang sekarang. Tapi kamu janji, ya! Akan menemuiku lagi di taman ini."

"Mungkin, aku akan seperti matahari itu. Pernah berpendar di atas bumi namun akhirnya akan tenggelam dalam mimpi keabadian", bisiknya lirih. "Demikian juga denganmu, kupu-kupu". Setelah mengatakan kalimat itu, ia kemudian bergegas meninggalkan taman dengan langkah yang agak berat. Aku masih sempat melihat derum mobilnya menderu meninggalkan areal kampus.

Setelah peristiwa sore itu, aku tak pernah bersua lagi dengannya. Sampai kemudian aku mendengar burung gagak meniupkan sepenggal berita duka pada para kafilah bumi. Dan nama itu, nama yang dipilihnya adalah nama yang hampir terpahat indah dalam semenanjung hatiku.

Cukup lama mendung bergelayut di mataku. Hingga aku bisa memetik seuntai bias pelangi di antara hujan yang mewarnai hari-hariku. Mungkin, jika aku sempat mengajak mawar itu dalam pendakianku, durinya pasti akan merenggangkan pegangan tanganku. Seandainya kutinggalkan, pendakianku takkan nikmat karena wajahku akan selalu kutolehkan ke
belakang.

***

Sore itu, aku mendatangi taman di mana dulu ia bercakap-cakap dengan kupu-kupu. Kulihat kupu-kupu itu masih berkeliaran di sekitar taman. Ia kelihatan resah karena gadis yang dulu pernah bercakap-cakap dengannya tidak memenuhi janjinya. "Aku tahu aku bukan lelaki sebaik
yang ia mau. Namun, aku juga bukan lelaki seburuk yang ia tahu. Sampaikan salam hangatku untuknya', ucapku pada kupu-kupu itu. []

Lasinta Ari Nendra Wibawa (Ari Nendra). Selain menulis cerpen juga menulis puisi, artikel, esai, dan lirik lagu. Karya-karyanya pernah dimuat di berbagai media massa baik lokal maupun nasional, antara lain: Pena, MOP, Puitika, SOLOPOS, Suara Merdeka, ANNIDA, Kompas, dan puluhan website. Masih menjabat sebagai Redaktur majalah Teknik EUREKA dan majalah Teknik Mesin. Mahasiswa Semester 3 Prodi Teknik Mesin Universitas Sebelas Maret, Solo ini beralamat di Jln. Kerinci No. 5 RT 4 RW VI Demaan, Jepara 59419.

Jumat, 14 November 2008

Secuil Asa

Cerpen Syaiful Mustaqim
Pembina ekstrakulikuler Jurnalistik Madrasah Aliyah (MA) Walisongo Pecangaan

KISAH ini menceritakan sekelumit perjalanan seorang manusia dalam menggapai cita-cita. Dia berusaha melawan arus yang ada di masyarakat untuk meraihnya. Ada hal penting yang bisa kita ambil di sini.

Jam di dinding kamarku menunjukkan pukul 05.3o. Aku bergegas bersiap-siap pergi ke sekolah. Sekolahku lumayan jauh, kira-kira ditempuh dalam waktu seperempat jam. Bangun pagi-pagi menjadi jadwal harianku. Semenit telat bisa-bisa aku kena hukuman, entah berdiri didepan tiang bendera, bersih-bersih toilet siswa, dan seabrek hukuman yang lain. Begitulah keseharianku.

Hari ini aku sangat gelisah, pelajaran hari ini adalah pelajaran yang paling ku benci, sulit, dan tak akan pernah aku pahami. Selain itu, guru-gurunya pun terkenal killer. Aku bertambah takut. Berderet pelajaran hari ini, Bahasa Inggris, Matematika, Fisika, Kimia. Ah, aku nggak tahan, jika setiap hari aku harus mengkonsumsi sarapan pelajaran yang mengerikan itu.

Saat masuk kelas XI, aku tak punya impian untuk memilih salah satu jurusan. Ilmu Bahasa, Ilmu Alam, dan Ilmu Sosial. Semuanya tak ada yang cocok denganku. Akhirnya, aku hanya ikut-ikutan dengan temen-temenku kelas X dulu. Jurusan ilmu alam-lah yang aku pilih, walaupun sebenarnya aku sangat muak dengan pelajaran-pelajaran itu. Setiap hari bisa dipastikan akan ketemu dengan pelajaran-pelajaran eksak.

Aku paling kontra dengan guru-guruku, walau hanya dengan suara hati. Aku tak berani mengungkapkannya terang-terangan. Bagaimana tidak? Masa rumus-rumus dan segala tetek bengeknya itu harus dihafal semua. Belum lagi, setiap hari aku harus menghafal kosakata-kosakata Inggris maksimal 10 kata tiap hari. “Untuk apa semua itu?” hujatku.

Banyak para pengangguran di negeri ini, adalah hasil dari produk-produk pendidikan yang belum siap pakai. Pendidikan selama ini hanya berkutat untuk mencari nilai, nilai, dan nilai, tanpa memikirkan hal lain. Hasilnya, setelah dapat nilai bagus dan ijazah, mau cari pekerjaan kemana? Sedangkan lapangan susah didapatkan. Tak mungkin, setelah lulus SMA, bagi yang tak mampu melanjutkan studi, tetek bengek itu akan bisa berguna.

Kalaupun berguna, bisa dipastikan hanya satu persen, lainnya berupa skill dan ketrampilan. Namun, selama ini guru tak pernah mengomongkan itu, sejak menginjak dua tahun di bangku SMA aku tak pernah diajari dengan ketrampilan yang memadai. Aku sering dijejali dengan seabrek rumus-rumus. Apalagi aku, setelah lulus nanti, tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi.

Ya, aku malu dengan orang tuaku. Hampir belasan tahun aku telah menghabiskan sebagian hasil jerih payah mereka untuk biaya sekolah, namun hasilnya masih saja nol. Aku belum bisa membalas semua jasa-jasanya yang selama ini mereka berikan. Apalagi ayahku seorang buruh pabrik, dan bundaku seorang penjahit. Usia mereka sudah semakin senja. Sekarang di gubukku, aku hanya sendiri ditemani ayah dan bunda. Mereka hanya mempunyai penghasilan sangat pas-pasan. Malah kadang-kadang kurang.

Sejak dulu, aku memang sudah tak ingin sekolah, namun mereka memaksaku untuk tetap sekolah dengan biaya yang pas-pasan. Mereka berharap aku bercita-cita setinggi langit, tidak seperti mereka. Bagiku, sekolah hanya akan mencetak calon-calon pengangguran intelek. Lihat saja mayoritas penduduk negeri ini, mereka adalah pengangguran-pengangguran terdidik. Tak banyak mereka yang mempunyai pekerjaan yang layak. “Apa bedanya sekolah dan tidak?” pikirku.

Aku tak ingin mengecewakan mereka. Masuklah aku ke bangku SMA. Apa yang terjadi? Otakku yang serba pas-pasan sulit memahami pelbagai pelajaran. Setiap kali pelajaran, sulit aku memahaminya. Aku sering tak sanggup menjawab pertanyaan-pertanyaan guruku, aku hanya diam seribu bahasa.

***

Satu keinginanku. Aku ingin menjadi penulis. Namun, pelajaran bahasa Indonesia yang berhubungan erat, tak pernah menyinggung tentang profesi itu. Pelajaran bahasa Indonesia hanya sebatas teori, praktiknya nol. Tapi apa daya, jika aku protes guru pasti marah besar, bisa dipastikan nilaiku merah, dan aku akan di black list.

Tak banyak sosok Soe Hok Gie yang berani memprotes guru karena takut tidak dinaikkan. Begitu juga guru, tak sedikit yang mau menerima protes dari anak didiknya.

Tanpa pikir panjang, cita-citaku ingin menjadi penulis harus dijalani secara otodidak. Namun, aku yakin suatu saat akan berhasil dengan gemilang. Tak pernah terlewatkan aku sering membaca edisi remaja mingguan di pelbagai macam jenis koran di koran dinding yang ditempel di perempatan kecamatan. Selain itu, karena uang sakuku yang serba pas-pasan, jadi hanya mampu membaca majalah di loper koran tanpa membelinya. Aku terkagum-kagum dengan siswa sekolah lain yang karya-karyanya sering nongol di media.

Aku iri. Kapan aku bisa laiknya mereka? Apalagi tak pernah ku jumpai penulis asli dari daerahku. Padahal, konon daerahku mempunyai ribuan sekolah. Hampir di setiap desa, dan kecamatan bisa ditemukan sekolah berdiri. Tapi tak satupun ku dapati mereka yang asli daerahku, tulisannya nongol di media.

Aku sedih, aku pun semangat. Sedih karena tak ada guru yang memberikan support anak didiknya agar bisa menulis, padahal itu lebih manfaat. Semangat. “Ini adalah tantanganku, agar aku bisa menjadi seorang penulis.” Inginku.

Berderet alamat redaksi tertata rapi di salah satu buku tulisku. Aku berharap suatu saat tulisanku akan dimuat, seperti mereka. Aku ingin mengharumkan nama sekolah, dan daerahku, walaupun nantinya pemkab tidak memberiku apa-apa. Tapi tak apa. Aku tetap semangat untuk selalu menulis.

Jika ku ingat, berulang kali aku telah mengirim tulisan ke pelbagai media, namun tak pernah ada jawaban dari redaksi kalau tulisanku hendak dimuat. Kusimpan rapi naskah-naskah yang pernah ku kirimkan ke media. Barangkali aku bisa belajar dari kegagalan-kegagalan itu, dan aku pun bisa memperbaikinya.

Kadang aku sudah putus asa. Lha wong aku tidak pernah di ajari pelajaran jurnalistik (tulis menulis) secara kontinyu, apa aku mampu berkompetisi dengan mereka? Kebanyakan dari mereka, di sekolahnya diajari ilmu jurnalistik yang memadai, selain itu setiap kali menghadirkan wartawan dari pelbagai media untuk menambah wawasan, dan turut mengisi tentang ilmu jurnalistik.

***

Pagi ini, kembali aku menulis kembali dari sebuah asa untuk barpartisipasi membangun daerah lewat menulis. Aku hanyalah insan yang tak pernah belajar bagaimana cara menulis yang baik dan benar maupun yang sesuai EYD. Aku anak dari kalangan menengah kebawah. Aku yakin, yakin dan yakin kalau suatu saat akan berhasil.

Ini adalah karyaku yang ke sembilan puluh sembilan kali. Aku tak banyak berharap tulisanku akan dimuat. “Semoga karyaku dimuat,” do’aku. Namun ini adalah bagian dari ikhtiarku. Sehingga secuil asaku benar-benar menjadi kenyataan. Amin.

[Cerpen, Kartunet.com, 05 Maret 2008]