Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Juni 2009

kata

Puisi Fachrin Azka

matahari berkata pada dunia
apa ada air di padang sahara
selain dari telaga cinta
yang penuh dengan duka
bumi berkata pada jiwa
apa arti sang pujangga
jika dia tak bisa lagi merangkai kata
karena perginya sang dewi ke nirwana
laut berkata pada samudera
saat senja tiba
sejuta pesona tercipta
pelipur, derita, duka
bulan berkata pada gerhana
tak ada yang menakutkan
daripada derita cinta
yang menghadirkan beribu rindu dan lara

Selasa, 26 Mei 2009

SEFI

(Untuk dia yang telah bahagia)

Puisi Fachrin Azka

Walau aku tak memilikimu
Akan aku tulis dalam kalbu
Hurufhuruf yang merangkai asmamu
Meski aku tak melihatmu
Sosokmu akan selalu ada dalam hayalku
Hidup bersama hembusan napas
Serta setiap bait puisiku
Setelah kau pergi dariku
Aku akan selalu mengingatmu
Meski itu perih bagiku
Dan aku akan coba melupakanmu
mesti itu akan terasa mustahil bagiku
Karena kau adalah nyawa yang mengisi ragaku
Serta huruf di setiap sajak puisiku

Senin, 25 Mei 2009

Melayang

Puisi Fachrin Azka

Melayang pergi
Tinggalkan kesenangan duniawi
Demi sebuah mimpi
Melayang pergi
Terbang membawa mimpi
Yang entah kapan akan terjadi
Melayang pergi
Menghapus sejuta memori
Dalam sebuah angan dalam hati
Melayang pergi
Berharap untuk kembali
Merasakan manisnya mimpi
Yang kemarin tertidur dalam hati

Sabtu, 16 Mei 2009

Janda

Puisi Iffah Nafi'ah

Kenapa kau tak minta cerai saja?
Kau bingung dengan alasan apa
Bilang saja, "aku sudah tak punya cinta"
mudahkan berkata
Seperti ia menyakitimu, melukaimu, mengkhianatimu,
dan memadumu
Lalu, buat apa kau setia
Kau tetap cantik jelita
Meskipun kini menjanda
Lihat, banyak orang yang ingin meminangmu
Kau harus memilih salah satu
Lihat logo itu...
"Bersama berantas Kemiskinan"
Tapi, tunggu dulu
Hei, apa kau miskin?!
Tidak kau ini kaya
Wah kau dihina
"Tingkatkan pendidikan Bebas Biaya"
Kau menerima itu
Agar generasimu bermutu
Benar, kau tak takut tertipu?
"Bersihkan KKN"
Aduh... aduh...
Ada-ada saja para pelamarmu
Semua itu palsu
Pertama, dikira kau miskin
Kau kaya budaya Nusantara
Kedua, dikira generasimu bodoh
Tidak! Para pemimpin yang salah asuh
Dana BOS diselewengkan, siapa suruh
Ketiga, dikira kaulah tikus itu
Padahal, mereka orang-orang yang tak tahu malu
Jadi, mana yang akan jadi pilihanmu?
Pertama, kedua, atau ketiga...
Sebentar tunggu dulu
Baca slogan itu
"Kejujuran Bagi Bangsaku"
Nah, kalau ini aku setuju

Minggu, 10 Mei 2009

Percakapan Tikus

Puisi Iffah Nafi'ah

O, dewi malam
Aku memang kejam
Saat kau bertanya : "mengapa?"
Aku penyebab segala penderitaan
Akulah pencipta kerusuhan
Akulah dalang kemiskinan
Akulah sang pencipta murka
Akulah penyulut api mahasiswa, juga rakyat
Akulah piaraan para pejabat
Rumah-rumah mewah itu, kandangku
Aku bertunggang mobil
Sedang jelata tanpa beralaskaki
Semua di negeri ini adalah kebejatan
Buatanku, kebengisan
Agar aku bisa menyoal
Agar aku buat Penelitian
Agar aku bisa makan enak di pertemuan
Sedang kalian mati kelaparan
O, dewi malam
Hebat, bukan?
Sekali lagi aku bertanya padamu
Aku marah padamu
Kau bisu!
Atau, kau menderita pun karena aku?
Namun, aku ngilu
Bakal ada kambing dan tikus-tikus baru
Selain aku
Ah, yang penting : semua baru

Kamis, 23 April 2009

Kacamata Perempuan (Jepara)

Puisi Iffah Nafi'ah

Ada wajah terpenjara dalam potret
Mengungkungnya dalam bingkai
Diamlah ...
Jiwanya memberontak pada ketidakadilan
Terkuburlah hidup-hidup mimpinya
Kalbu lembut itu selaksa tersayat belati
Menghunus meninggalkan luka menganga
Menangislah ...
Kerapuhan itu tersirat mata sayu
"Aku ingin bergumul dengan buku-buku!"
Begitu ia meluahkan doa pada sang Rama
Pun Sang rama bertitah bahwa ia hanya seorang wanita
Tak ada guna mengaji ilmu
Wanita simbol kebodohan
Bukan!
Wanita simbol pelecehan
Sudah kubilang, bukan!
Kau bilang, berpendidikan
Tapi, mengapa kau ditawar laiknya barang?
Apa karena dirimu yang binal
Andai saja aku punya jarit putri Kartini
Segera kuselimuti tubuh sintalmu
Agar kau berpunya reputasi (kembali)
Sia-sia ...
Tersematlah nama Jepara
Bukan Kartini, melainkan ratu Shima

Rabu, 22 April 2009

Ma'af...Kartini

Puisi Iffah Nafi'ah

Bela kaum hawa bercampur derita
Menekan pada relung jiwa
Mana hak wanita?
Tatkala aku masih balita
Aku tak mengerti jasanya
Aku tak mengerti sejarah bercerita
Aku telah dewasa
Aku menangis membaca pengabdianmu,
perjuanganmu...
Ma'af... aku wanita

Sabtu, 11 April 2009

Deritaku

Puisi Sri Wahyuni

aku terkatup
lamatlamat ku tatap wajah itu
tampak aku kenal
namun perasaan takut menderaku

perlahan aku dekati wajah itu
terbias luka
luka dari masa lalu yang mungkin mengerikan
ku pegang matanya
terasa merah berair
ku sentuh air mata itu terasa lembut dan hangat
sesaat
darah segar mengucur dijariku
aku seperti tak percaya wajah itu berlumuran darah

hampir berapa menit lamanya darah itu tak berhenti mengucur
penghianat
diriku tak lebih hanya sebagai korbanmu
kapan kalian akan melindungiku?
aku menunggu…

Langon, 11 Maret 2009

Jumat, 10 April 2009

Bercerminlah

Puisi Sri Wahyuni

apakah kita pernah menanyakan suatu hal
betapa munafiknya kita
entahlah terjawab

apakah kita pernah menanyakan
betapa bungkamnya kita akan kesalahan
entahlah terjawab

apakah pernah terbersit sebuah dosa?
hanya hati nurani setelah usai

apakah pernah merasa resah?
hanya pikiran otak yang mengurai
napas kegelisahan hati tak nampak
nasihat titik nadir kian tak layak
hampa dalam kegetiran bias tak pelak
semua retak dan tak terpetakpetak

bercerminlah atas otak yang tak lagi bisa diajak untuk bergerak

Langon, 12 Maret 2009

Kamis, 09 April 2009

Dalam Sebuah Sajak

Puisi Fachrin Azka
Lahir di Jepara 21 April 1990. Masih bergiat di Smart Institute Jepara

Semua telah pergi
Ketika aku ingin kembali
Pada masa yang penuh memori
Semua telah terjadi
Ketika aku tak peduli
Dengan apa yang ku alami
Semua terlanjur terlewati
Dan tak mungkin kembali
Walau hanya dalam mimpi
Kini tinggal pilu dan sepi
Karena bodohnya nurani
Dalam menjalani hidup ini

Jumat, 06 Maret 2009

Cerita Seorang Anak kepada Ibunya

Puisi Lasinta Ari Nendra Wibawa

Ibu, tak perlu kau mendongeng seperti dulu
atau kau nyanyikan sebuah lagu
sebab kutahu bola matamu sayu
terlalu lelah menatap tungku
perlahan-lahan mulai berdebu

Ibu, kemarin ayah pulang
kulihat beliau meradang
menggenggam amplop berisi uang
bukankah kita harusnya senang
mengapa pintu keras ditendang

Ibu, malam ini aku tak tidur
tak akan kau dengar lagi aku mendengkur
entah karena nasib tak lagi mujur
sebait mimpi pun enggan datang menghibur
ataukah lapar telah membunuhnya

Surakarta, 5 Mei 2008
[Harian SOLOPOS, 1 Juni 2008]

Senin, 02 Maret 2009

Berkelana di Negeri Tak Berwarna

Puisi Septina Nafiyanti

Beringsut menerka, setiap jejak sejarah
Talutan nada dari hidung yang kian panjang adalah tanda,
hayat masih kudekap

Saat konfoi ketajaman zaman,
bukanlagi isyarat kekuatan negeri
Hanya ada tuntutan yang jauh dari tuntunan
Mungkin ini pertautan oleh zaman

Merah, kuning, hijau yang semua berubah menjadi tak berwarna,
karena ketiadaan ikhlas dan kejujuran

Inilah awal robohnya bangunan yang kian tua,
Indonesia...

2 Juli 2008

Minggu, 01 Maret 2009

Binasa

Puisi Septina Nafiyanti

Senyap melonglong ruang kosong
Sejenak nafas tertarik dalm himpitan
lapar, dahaga, marah...
Meluluh sujudku yang tinggal menghitung detik

Terkoyak seluruh niat,
bukti kekerdilan iman terkatup zaman
Diantara rongga kemewahan,
dan bualan menguntungkan

Celah pun terisi hitam yang membahagiaan,
meski bertabur nista yang kasab mata

Minggu, 15 Februari 2009

Lupa

Puisi Nur Janah

Lupakah kita padanya
Setelah kita merdeka
Dan hidup bahagia
Lupakah kita padanya
Saat teknologi sudah berjaya
Untuk memudahkan manusia

Lupakah kita padannya
Sejak era globalisasi berkibar hembuskan sayapnya
Mengapa kita baru ingat padanya?
Waktu Malaysia mengakuinya
Bahwa dia itu miliknya

Padahal dia itu milik kita
Sejak kita masih balita
Karena dia adalah budaya Indonesia
Yang kerap kita lupakan
Keberadaannya

Selasa, 03 Februari 2009

Pungkas

Puisi Richa Miskiyya

Jangan lagi panggil aku
Dari sudut taman yang sama
Dalam ringkihan ringan tak beraturan
Serigala telah pergi
Hanya ada jejak kabur, juga raungan itu
Yang diredam hawa panas
Ceceran daun kuremas
Tertinggal dalam debu di sudut jendela
Redam sudah pucuk-pucuk edelweis
Didekap dingin peraduan yang garang
Tanah-tanah itu mulai marah
Ketika setengah tubuhku hilang
Ringkas sudah takdirku yang semu
Padam jua api di ujung rambutku
Menyisakan hitam, bukan putih, bukan pula merah

Laura at Shantytown 25/01/09

Kamis, 29 Januari 2009

Tanah Air

(Budaya dalam Sajak Air Mata)

Puisi Nur Janah

Kata manis terukir di kala
Kau bubuhkan suara
Sebuah janji berkibar di angkasa
Keserakahan...

Wahai sang penguasa...
Tidak puaskah engkau
Membuat sengsara dan menderita?

Sawah, ladang luas membentang
Lautan hasilkan berjuta kekayaan
Alam menandakan kesuburan dan kemakmuran

Mengapa masih terlihat segumpal penderitaan?
Karena...kemiskinan
kelaparan
pengangguran

Bahkan sulitnya dapatkan pendidikan
Lalu apa yang kau wariskan pada kami?
Kolusi...
Korupsi...
Nepotisme...
Yang menjadi budaya dalam sajak air mata
Hingga membuat sesak rakyat biasa

Bukankah mata...!
Tetaplah negeri kita...!
Bersama wujudkan cita-cita bangsa
Yang tercantum dalam Undang-undang '45

Minggu, 18 Januari 2009

Sekilas Bayangan Wayang

Puisi Nur Janah
Pegiat Smart Institute Jepara, masih studi di MA Nurul Islam Kriyan, Kalinyamatan


Bila waktu telah menua oleh tahun-tahun
Masihkah kau yang diseret ke tengah pertunjukan?
Yang disaksikan anak bangsa
Agar tahu budaya nenek moyangnya

Kau lahir dan membesar di tanah Jawa
Hingga namamu semerbak dimana-mana
Dengan suara khasmu
Kau dendangkan sejarah Jawa
Dengan alunan bahasa krama
Dengan lincah kau memperagakannya
Diringi melodi sederhana

Bila masa berjalan mengikuti arah zaman yang ada
Haruskah jiwamu terperangkap dalam kekaburan?

Masa yang lalu menjadi panutan
Masa sekarang menjadi landasan
Dan masa depan menjadi tantangan
Agar seni wayang tetap lestari
Di bumi pertiwi

Sabtu, 17 Januari 2009

Usai Hujan, Bertunas Pelangi

Puisi Lasinta Ari Nendra Wibawa

Apa arti hujan selain embun yang menyejukkan
rongga-rongga rindu, saat ladang kita dipenuhi gersang
kemenangan hingga hari menjelang keangkuhan
Musim mengajarkan alur kehidupan dari kemarau dan hujan
Berulang-ulang bagai harmoni yang tak terpisahkan
Laiknya alunan musik, terdengar indah dari nada yang berlainan

Hujan adalah serpihan warna yang tercerai
Saat hujanusai, akan kau dapati langit merangkainya menjadi sebuah
pelangi yang terbentuk dari warna yang beradu
Selalu, usai hujan tunas pelangi tumbuh
Serupa malam yang terkikis hangatnya subuh

Surakarta, 20 November 2007
[Majalah Annida, Edisi Juni 2008]

Minggu, 11 Januari 2009

Lelaki Malam dan Kejora Jingga



aku akan menulis puisi cinta terindah untukmu

tak perlu lagi kau menulis puisi
hadirmu adalah puisi
senyummu pun puisi
apalagi yang harus kau tulis
sedang semua tlah aku ukir?
aku mencatat semua tentangmu di lembar imajiku
dalam nyata aku takkan mampu

dan kau adalah puisi terindah yang tak mampu kutuliskan
setiap detik detak bersamamu adalah bait-bait sajak

aku takkan pernah selesai mengejamu
dari setiap kata yang kauucap
aku menemukan makna yang merangkap-rangkap

seperti halnya aku takkan pernah sempurna mengejamu
selalu saja ada yang luput kuraba
kabut itu demikian pekat. tak sanggup kuurai menjadi cahaya
menerangi seutuh sosokmu apa adanya

maknai aku dengan sederhana
maka kau akan menemukanku seutuhnya
bukan lewat ketinggian
bukan lewat kemegahan
aku hanya sekumpul kesederhanaan
yang tertampung dalam satu rupa

aku mengumpulkan seutas demi seutas
senyum yang berserak di tepian rindu
entah… adakah senyum itu milikmu salah satunya

senyum kerinduan pada sepenggal jiwa yang hilang
pada separuh hati yang pergi
mungkinkah di sini kutemukan setengahku

huruf demi huruf di tanganmu seolah saling menyahut
merangkai ucap laksana firman
yang kan kuhafal sebagai pedoman
hanya sebuah kemungkinan yang terentahkan

kita adalah baris demi baris puisi
terpaut ruang dan waktu imaji
sajak cinta yang paripurna
kebersatuan yg agung
dua garis yang kelak bertemu di penghujung

: di lingkaran itu kita kan bersatu

ruang maya, 301208

Kamis, 01 Januari 2009

Puisi-puisi Lasinta Ari Nendra Wibawa

Lasinta Ari Nendra Wibawa, lulusan SMAN 1 Jepara, kini masih studi di Universitas Negeri Surakarta (UNS)

Persaksian Langit

Segala tipu muslihat
Penyimpangan umat
Telah kulihat
Jeritan hambar
Jeritan samar
Telah kudengar
Pahitnya suka
Manisnya duka
Telah kurasa
Telah kulihat…sarat maksiat
Telah kudengar…sejuta dusta
Telah kurasa…tentang manusia

Jepara, 24 Februari 2005
[Harian Suara Merdeka, 20 Maret 2005]


Permintaan Langit

Maafkan aku…
jika aku tak seindah dulu
dan tak lagi berwarna biru
karena semua juga ulahmu
kau tebangi semua pilarku
untuk hiasan perabotanmu
Wahai makhluk berbudi
permintaanku hanya satu
jagalah sahabatku
bumi ini
seperti kau jaga dirimu
Andai kau sadari
sakit bumi ini adalah sakitmu
derita bumi adalah deritamu jua
sekali lagi, jagalah bumi

Jepara, 24 Februari 2005
[Majalah MOP, Edisi Mei 2005]