Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 April 2011

Rombongan Srikandi Tiba di Jepara

Suara Merdeka, 20 April 2011

Jepara, CyberNews
. Sepuluh Srikandi Bike to Work yang tiba Jepara pada Selasa (12/4) melanjutkan aktivitas di Bumi Kartini dengan mengunjungi lokasi-lokasi pariwisata yang ada di Kota Jepara kemarin.

Para anggota Srikandi adalah Lucy Iskandar (29), Tense Manalu (38), Rahma Anggraeni (30), Aristi Majid (30), Rahmi Diyarti (35), Rifa Ilyasa (35), Meika Manullang (27), Evie Permatasari (39), Seklie Patyuniestri (31), dan Rini Rismiati (35)

Setibanya di Jepara, mereka mengunjungi Pendopo Jepara dimana RA Kartini dipingit, Museum Kartini, Sentra Kerajinan Mulyoharjo, Pantai Bandengan dan diakhiri pada Kura-kura Ocean Park di Pantai Kartini.

Evie Permatasari, salah satu anggota mengaku, "Saya yang paling terkesan memang keberaniaan Kartini saat berusia 12 tahun yang berani mengatakan kepada perajin untuk tetap mengukir dan tidak usah takut dosa. Sikap itu bisa dibilang kenakalan dalam tanda kutip, tetapi menunjukkan perhatian Kartini atas masyarakat luar biasa," ucap Evie.

Menurutnya, keberanian Kartini kecil bersikap seperti itu memiliki andil memajukan ukir Jepara. "Saya juga salut dengan rasa seni yang dimiliki Kartini karena ada beberapa peninggalan Kartini yang memiliki seni," ucapnya.

Sementara itu, Meika Manullang dan Aristi Majid menjelaskan terkesan dengan kebersihan dan kerapian Kota Jepara yang berkali-kali mendapatkan penghargaan Adipura berkali-kali. Ia berharap soal transportasi ke Pulau Karimunjawa agar bisa dibenahi.

Sementara itu, Bupati Hendro Martojo kegiatan yang dilakukan sepuluh perempuan itu merupakan salah satu cara meuwujudkan cita-cita Kartini. Dengan bersepeda, lanjutnya, Srikandi berkampanye pentingnya menjaga lingkungan. "Sungguh perkasa, kota demi kota dilalui sambil mengajak masyarakat mencintai lingkungan yang hijau sekaligus napak tilas Kartini," jelasnya.

Sebagai ungkapan terima kasih, Bupati atas dana Pemkab Jepara dan seluruh masyarakat memberikan piagam penghargaan dan cendera mata kepada segenap awak Srikandi. ( Akhmad Efendi / CN26 / JBSM )

Senin, 04 April 2011

Seni Kentrung Jepara Di Ambang Kepunahan

Klik: http://www.for-mass.blogspot.com/

JEPARA
- Makin banyak saja kesenian tradisional di Jepara yang terancam punah. Akibat tidak berjalannya proses regenerasi, kesenian tradisonal kentrung juga mengalami ancaman itu. Para seniman kentrung sendiri bahkan tak yakin sampai kapan kesenian bisa bertahan. Seni kentrung adalah seni pentas yang melibatkan 2 -3 orang dengan cara membacakan lakon yang dalam pementasannya diiringi dengan pantun atau joke-joke yang lucu . Sehingga para penonton yang melihat dan mendengar akan terpesona oleh olah kata sang dalang , bahkan jika tak kuat bisa membuat terbahak-bahak orang yang mendengarkannya.

Selain bercerita dalam seni kentrung ini juga menggunakan alat music tabuh berupa rebana yang suaranya jika didengar bersahutan-sahutan, sehingga dalam bercerita sanga dalang sekaligus pemain music memadukannya sehingga enak didengarkan. Selain orang tua yang menjadi penggemar utama , anak muda satu dua juga senang akan kesenian kentrung ini oleh karena itu meskipun tidak seperti dahulu pada jaman kejayaannya puluhan tahun yang lalu , kini seni kentrung masih bisa kita saksikan. Biasanya seni kentrung ini didatangkan untuk memeriahkan acara semisal melekan bayi , acara 17 agustusan juga untuk melekan menyambut tahun baru hijriah.

“ Ya seperti di Radio Kartini FM Jepara setiap pergantian tahun baru hijriah pasti ada siaran langsung Kentrung di Studio, selain untuk nguri-nguri seni ini juga sebagai tanda syukuran datangnya tahun baru “, ujar Odie Melankolis seniman dari Jepara pada local.detik.com

Di Jepara dulu desa Ngasem kecamatan Batealit di kenal sebagai gudangnya dalang kentrung , namun seiring dengan merebaknya kesenian modern seni kentrung ini lambat laun makin hilang dari pededaran . Meski demikian saat ini masih dapat kita temukan dalang kentrung walaupun jumlahnya bisa dihitung dengan jari hal itu disebabkan tidak adanya regenerasi dari mereka. Penerus dari dalang kentrung ini tidak bisa mewariskan keahlian mereka pada anak-anak mereka yang tidak mau menekuni seni ini , justru mereka memilih pekerjaan lainnya

Seni kentrung sendiri syarat muatan ajaran kearifan lokal. Dalam pementasannya, seorang seniman menceritakan urutan pakem dengan rangkaian parikan. Joke-joke segar sering diselipkan di tengah-tengah pakem, tetap dengan parikan yang seolah di luar kepala. Parikan berirama ini dilantunkan dengan iringan dua buah rebana yang ditabuh sendiri.

Beberapa lakon yang dipentaskan di antaranya Amat Muhammad, Anglingdarma, Joharmanik, Juharsah, Mursodo Maling, dan Jalak Mas. Selama seniman kentrung masih ada tradisi rutin untuk mementaskan seni kentrung ini pada awal tahun baru hijriah tetap dilaksanakan oleh pemerintah daerah Jepara lewat Radio Kartini. Selain nambani kangen untuk penggemar seni kentrung di Jepara juga sebagai ajang pelestarian seni tradisional Jepara . (FM/Oedy)

Minggu, 06 Maret 2011

Dangdut di Jepara Tak Mati-mati

Suara Merdeka, 06 Maret 2011

Oleh Akhmad Efendi

MUSIK dangdut yang memiliki ciri khas pada alat musik kendang dan seruling sudah menjadi bagian dalam hidup masyarakat Jepara.

Sejak era 60-an dangdut sudah akrab di telinga publik Kota Ukir dengan beberapa grup musik yang cukup populer, seperti Bintang Pagi, Surya Pagi, dan Merah Delima. Bahkan, menurut Aris Isnandar, Ketua Persatuan Artis Melayu Indonesia (PAMI) Jepara, dangdut di Jepara merupakan barometer di Jawa Tengah.

Saat ini, ada sekitar 156 grup musik dangdut di Jepara. Pemain musik yang terlibat di dalamnya sekitar 780 orang dengan rata-rata satu grup musik beranggotakan lima orang. Sementara jumlah penyanyi sekitar 80 orang.
Perkembangan itu menunjukkan potensi musik dangdut di Jepara yang tidak ada matinya.

”Apa yang saya sampaikan mengenai dangdut Jepara merupakan barometer Jawa Tengah adalah ucapan langsung dari Rhoma Irama. Saya dengar langsung dari mulut beliau. Salah satu bentuknya memang nuansa atau perkembangan dangdut di Jepara memang luar biasa dibandingkan daerah lain. Artis level nasional, seperti Jamal Mirdad dan Susi KDI juga dari Jepara,” kata Aris.

Menurutnya, perkembangan awal dangdut di Jepara adalah hobi. Berangkat dari hal itu, bermunculan grup-grup musik dangdut.
Soal inovasi, jenis musik dangdut Jepara sangat cepat beradaptasi. Jenis dangdut koplo merupakan salah satu jenis aliran yang menjadi penghilang dahaga maniak dangdut meskipun tidak lantas menghilangkan jenis musik dangdut yang asli.

”Adanya dangdut koplo merupakan respons terhadap pasar,” terang Aris.
Hal yang sama juga disampaikan Susi Indrias Tanti, alias Susi KDI. Dia merasa perkembangan musik dangdut di Jepara, terutama dalam up date lagu-lagu populer yang beredar di masyarakat, sangat cepat. ”Yang saya rasakan memang begitu. Di bandingkan dengan daerah lain, Jepara ini cepat banget soal lagu-lagu baru yang diolah menjadi musik dangdut. Saya sendiri juga lebih enjoy dengan dangdut jenis koplo karena bisa langsung menjiwai,” tuturnya.
Menjanjikan Selain soal kreativitas dalam musik yang tidak ada matinya, aspek bisnis musik dangdut di Jepara juga menjanjikan. Menurut Aris, sekali manggung rata-rata bisa meraup pendapatan sebesar Rp 5 juta.

Dalam sebulan, ketika musim pernikahan, bisa belasan kali manggung. ”Memang cukup besar, tetapi harga itu tidak lantas harga mati. Karena tinggal paketannya dan banyaknya penyanyi yang ada. Tapi, memang cukup bagus potensi di Jepara,” terang Aris.

Persaingan pun tak dapat terelakkan. ”Dalam menghadapi persaingan ini, antara grup satu dengan yang lain saling beradu kreativitas. Grup musik yang mampu memenuhi selera pasarlah yang akan bertahan. Jadi, kondisi persaingan yang ada, saya lihat baik. Dalam kesempatan ini, saya juga berharap koordinasi pelaku musik dangdut bisa lebih ditingkatkan,” sambungnya.

Susi KDI bahkan ketika masih berkutat di lokal Jepara pada 2004 hingga 2007 dalam sebulan libur manggung hanya dua kali. Sekali manggung rata-rata mendapatkan honor Rp 250 ribu.

”Saat itu saja jumlahnya sudah lumayan. Kondisi itu memungkinkan karena penyanyi tidak melekat pada salah satu grup, sehingga bisa manggung bersama banyak grup. Tapi, ada juga penyanyi yang menjadi anggota grup tertentu sehingga ketika grupnya tampil wajib ikut. Tapi, ketika tidak manggung, bisa ikut grup dangdut yang lain,” terang Susi.

Namun, musik dangdut bukan tanpa problem. Hal itu pun dialami jenis musik yang lain. Dangdut dalam beberapa kasus tak jarang menjadi pemicu perkelahian.

”Dangdut adalah seni, yang seharusnya dinikmati. Jangan kemudian menjadi ajang tawuran. Joget juga ada etikanya, sehingga jangan berlebihan. Kalau ini bisa dimengerti para pecinta dangdut, tentu citra yang muncul di masyarakat adalah positif,” kata H Subangun, pecinta dangdut yang juga Wakil Ketua DPRD Jepara. (24)

Minggu, 13 Februari 2011

Trafficking ibarat Gunung Es

Suara Merdeka, 13 Februari 2011

Kita
dikejutkan oleh adanya berita mengenai kasus perdagangan manusia (trafficking) di Jepara, beru-baru ini. Untung, Polres Jepara berhasil membongkar jaringannya.

Senin petang, 24 Januari 2011, aparat keamanan berhasil meng­hentikan mobil di pertigaan Gotri, Kecamatan Kalinyamatan, pukul 13.30, yang berpenumpang empat pe­rempuan yang rencananya dipe­ker­jakan sebagai pekerja seks ko­mersial (PSK) di Palembang, Sumatera Selatan. Keempat perempuan itu, dan sepasang suami istri yang diduga sebagai penyalur, diamankan polisi.

Kasus trafficking juga terjadi beberapa hari sebelumnya di Kudus. Bahkan yang memperihatinkan, korbannya adalah dua anak yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Jajaran Polres Kudus berhasil membongkar jaringannya pada 19 Januari. Petu­gas me­nang­kap korban dan kliennya saat se­dang ngamar di salah satu hotel di Kudus, sekitar pukul 16.00 WIB. Seorang induk semang dan dua orang pe­rantaranya juga ditangkap.

Pembongkaran dua kasus tersebut bisa jadi merupakan fenomena kecil dari fenomena besar perdagangan manusia di daerah ini, karena jaringan ini selalau bergerak dengan cara tersembunyi. Ibarat gunung es, kasus yang terbongkar oleh polisi mungkin baru sebagian kecil dari keadaan yang se­nya­ta­nya.

Hal ini bisa terjadi mengingat kasus serupa juga sudah pernah terbongkar dua tahun se­belumnya. Waktu itu, 18 Januari 2009, Polres Kudus berhasil menyelamatkan lima perempuan yang dipekerjakan sebagai PSK di lokalisasi Pang­kalan Bun, Kali­mantan Tengah.
Enam pelaku diamankan, empat di antaranya berasal dari Kudus, yang berperan sebagai pencari korban dan dua orang berperan sebagai otak pela­ku yang berasal dari Kali­mantan.

Sementara itu, Pada 5 Mei 2008, Polres Jepara juga berhasil menggagalkan perdagangan perempuan sebagai pekerja seks komersial (PSK) di Jambi, tepatnya di lo­kalisasi Kota Baru. Empat perempuan menjadi korban. Polisi meng­amankan seorang tersangka saat membawa para korban ke daerah tujuan di jalur Keling-Kelet. Para korban dinaikkan Isuzu Panther. Tersangka tertangkap setelah polisi menerima laporan dari keluarga korban. Selanjutnya, anggota Pol­res Jepara berkoordinasi dengan Polsek Keling untuk mengejar dan menangkap mereka.
Para korban mengaku tidak tahu akan diperkerjakan sebagai PSK, sebab dijanjikan sebagai pekerja di sebuah kafe di Jambi.

Mereka juga mengaku tidak begitu mengenal tersangka, sebab keempatnya hanya ditawari mendapatkan pekerjaan dan diberi upah Rp 500.000 tiap bulannya.

Sebelum direkrut, korban di­datangi perantara dengan mena­wari pekerjaan di luar Jawa. Setelah satu per satu setuju, mereka dijemput hari Minggu untuk bertemu dengan pelaku. Namun, dalam perjalanan menuju Pati, laju mobil yang membawa para korban berhasil dihentikan polisi, tepatnya di Pasar Keling.

Waspada
Terungkapnya beberapa kasus trafficking itu, baik yang terjadi di Kudus, maupun di Jepara, telah mengundang keprihatinan berbagai pihak. Para orang tua, terutama yang memiliki anak gadis, diminta waspada dari tindak kejahatan perdagangan orang, lewat modus ta­waran kerja, dengan gaji tinggi.

”Untuk melancarkan aksinya, pelaku biasanya mendatangi rumah calon korbannya dengan menawar­kan pekerjaan. ” Pada saat pembe­rangkatan, mereka tanpa dilengkapi surat keterangan dari pemerintah desa setempat,kata Kabid Per­lin­dungan Perempuan dan Anak pada Jaringan Perlindungan Pe­rempuan dan Anak (JPPA) Kudus, Endang Erowati.
Menurutnya, hal itu untuk meng­hilangkan kecurigaan sejumlah pihak, termasuk memberi ke­mudahan kepada keluarga korban untuk dapat diterima kerja tanpa harus mengurus sejumlah surat kelengkapan kerja di luar daerah.

Berdasarkan penelusuran tim JPPA terhadap korban trafficking, ternyata orang tua korban memang termakan bujukan pelaku untuk tidak memedulikan aturan atau kelengkapan surat-surat kerja. ”Se­bagian besar, orang tua juga meng­ikuti saja kehendak pelaku,” ujar­nya.

Endang mengimbau kepada orang tua untuk tidak mudah terbujuk pada tawaran kerja dengan gaji tinggi. Selain itu, kalaupun ada tawaran pekerjaan bagi anaknya, setidaknya memberitahukan kepada pemerintahan desa setempat.
”Setidaknya, jika terjadi hal-hal yang tidak baik, mudah diusut,” ujarnya.

Ketika jaringan perdagangan anak di Kudus terbongkar Januari lalu, Kapolres Kudus AKBP R. Slamet Santoso didampingi Kasat­reskrim AKP Suwardi mengungkapkan bahwa jaringan ini terstruktur dan rapi.
Pihaknya mengimbau agar orang tua selalu memantau keberadaan anaknya, baik di sekolah, maupun sepulang sekolah.

”Kami mengindikasikan, masih banyak kasus seperti ini yang belum tercium petugas. Untuk itu, kami berharap kepada masyarakat yang mengetahui kasus seperti ini, langsung melaporkannya ke petugas yang berwenang supaya segera ditindaklanjuti,” imbaunya.

Kadisdikpora Kabupaten Ku­dus, Sudjatmiko, mengharapkan semua pihak agar tidak melihat kasus perdagangan anak di Kudus sebagai sebuah gambaran umum wajah edukasi di Kota Keretak ini. Satu hal yang pasti, melalui kejadian tersebut diharapkan menjadi pembelajaran bagi semua pihak agar kejadian serupa tidak terulang lagi.

”Kepada setiap sekolah, kami sudah menginstruksikan agar dapat memberikan tambahan kegiatan agar siswa dapat disibukkan dengan hal-hal yang sifatnya positif,” ung­kap­nya.
Hal senada juga dikemukakan salah seorang pendidik SMP, Basuki Sugita. Menurutnya, semua pihak tentu tidak dapat cuci tangan begitu saja pada kasus tersebut.

Pemerhati masalah sosial dari Universitas Muria Kudus (UMK), Mochamad Widjanarko, menyebut kasus perdagangan anak perempuan yang masih duduk di bangku SMK itu tidak dapat diselesaikan secara sepotong-sepotong. Banyak pihak yang harus memberikan kontribusinya, mulai dari orang tua, pen­didik dan masyarakat. (Anton W Hartono, Mauham­mad Ali -24)

Rabu, 26 Januari 2011

Kasus Trafficking, Jaringan Sumarti Diburu

Suara Merdeka, 26 Januari 2011

Jepara, CyberNews
. Polisi masih terus mengembangkan penyelidikan atas kasus perdagangan perempuan (trafficking) di Jepara yang dikirim ke Palembang, Sumatra Selatan untuk dijadikan pekerja seks komersial (PSK).

Dua tersangka utama, Sumarti (41) dan Ruli Setiawan (38) warga Desa Jlegong RT 2 RW 1, Keling, hingga kini masih ditahan di Maporles Jepara dan dimintai keterangan.

Kapolres Jepara AKBP Ruslan Ependi mengemukakan, pihaknya masih memperdalam jaringan Sumarti dan suaminya untuk tenaga perekrutan ke Palembang. Pada pemeriksaan awal, Sumarti mengaku bekerja sendirian dan empat korban tersebut datang ke rumahnya untuk meminta pekerjaan. Keterangan Sumarti ini belum bisa membuat polisi percaya. Pasalnya, disinyalir Sumarti dan Ruli tidak bekerja sendirian.

"Kami masih memburu tangan kanan Sumarti atau biasa disebut calo atau pencari perempuan yang dipekerjakan kepada tersangka," ujar Ruslan, Rabu (26/1).

Pengembangan ini bekerja sama dengan kepolisian Palembang, mencari informasi berapa perempuan dari Jepara yang direkrut Sumarti untuk menjadi PSK.

Sebelumnya, Polres Jepara berhasil membongkar jaringan perdagangan wanita (trafficking) yang dipekerjakan ke Palembang, Sumatra Selatan, Senin (24/1) petang. Polisi berhasil menghentikan mobil berpenumpang empat perempuan yang rencananya dipekerjakan sebagai pekerja seks komersial (PSK) di pertigaan Gotri, Kecamatan Kalinyamatan, pukul 13.30.

Dari pengejaran itu, polisi mengamankan empat perempuan, yakni Win (28) warga Desa Cepogo, Kecamatan Kembang, Mar (25) warga Desa Sumber Rejo, Donorojo, Sof (25) warga Sowan Kidul, Kedung dan Sol (29) warga Bumiharjo Keling. Keempatnya hendak diberangkatkan ke Palembang melalui jalur darat mengendarai Kijang Inova hitam BG-2934-NL

Sementara itu, di salah satu ruang pemeriksaan reskrim Mapolres Jepara, pjs Kasat Reskrim Iptu Rismanto masih memintai keterangan Sumarti terkait jaringannya tersebut. Namun, ia tetap bersikeras tidak mau membuka mata rantai komplotannya.

Di hadapan Rismanto, Sumarti mengaku bekerja sendiri bersama suaminya untuk perekrutan perempuan. Bahkan, dia menjelaskan, bukan dirinya yang menawari pekerjaan, melainkan para korban yang mendatangi dirinya untuk meminat pekerjaan.

Salah satu pekerjaan yang ditawarkannya yakni menjadi pelayan di Kafe Monalisa di Palembang dengan iming-iming bayaran tinggi. Tersangka juga mengaku, sebelumnya, keempatnya pernah bekerja sebagai PSK di Semarang, Pati, dan Bangka Belitung. Namun, karena penghasilannya sedikit, akhirnya memilih mencoba ikut Sumarti. ( Budi Cahyono / CN16 / JBSM )

Selasa, 25 Januari 2011

Dibongkar, Jaringan Traficking Jepara

Suara Merdeka, 25 Januari 2011

Jepara, CyberNews
. Kepolisian Resor (Polres) Jepara berhasil membongkar jaringan perdagangan wanita (traficking) yang dipekerjakan ke Palembang, Sumatera Selatan, Senin (24/1) petang. Polisi berhasil menghentikan mobil yang mengangkut empat wanita yang rencananya dipekerjakan sebagai pekerja seks komersial (PSK) di pertigaan Gotri, Kecamatan Kalinyamatan, pukul 13.30.

Dalam pengejaran dengan sandi Operasi Bunga yang dipimpin langsung Kapolres Jepara AKBP Ruslan Ependi dan sejumlah anggota termasuk pejabat sementara Kasat Reskrim Iptu Rismanto.

Dari pengejaran itu, polisi berhasil mengamankan empat wanita masing-masing berinisal Win (28) warga Desa Cepogo, Kecamatan Kembang, Mar (25) warga Desa Sumber Rejo, Donorojo, Sof (25) warga Sowan Kidul, Kedung dan Sol (29) warga Bumiharjo Keling.

Keempatnya hendak diberangkatkan ke Palembang melalui jalur darat mengendarai Kijang Inova hitam BG-2934-NL. Selain mengamankan empat wanita, polisi juga berhasil meringkus pasangan suami istri sebagai tersangka yakni Sumarti (41) dan Ruli Setiawan (38) warga Desa Jlegong RT 2 RW 1, Keling.

Pengungkapan jaringan Sumarti ini setelah ada informasi yang masuk ke Polres Jepara beberapa waktu lalu Untuk memastikan jaringan Sumarti, polisi melakukan penyelidikan selama sepekan terakhir dan menghubungi anggota di Palembang dimana lokasi kafe milik Sumarti mempekerjakan wanita ini sebagai PSK.

"Setelah kami mendapatkan informasi dan tersangka pulang ke Jepara, penangkapan pun akhirnya dilakukan di tengah jalan saat korban hendak dibawa ke Palembang," tegas Kapolres Jepara Ruslan Ependi saat gelar perkara, Selasa (25/1).

Bayaran Tinggi
Sebelumnya, polisi mendapatkan informasi jika Sumarti dan suaminya Ruli kembali ke Jepara untuk merekrut tenaga wanita untuk dipekerjakan di kafe dengan iming-iming bayaran tinggi. Empat wanita tersebut sudah diberi uang panjar sebesar Rp 500.000. Saat pemberangkatan, mereka dijemput satu per satu oleh tersangka di rumah masing-masing.

"Sebagian korban ini tahunya bekerja di kafe atau rumah makan di Palembang. Tetapi sampai di sana dipekerjakan sebagai PSK untuk melayani hidung belang. Tarifnya berkisar antara Rp 150.000-Rp 300.000 sekali kencan," tandas Kapolres.

Di Palembang, mereka ini dipekerjakan di Kafe Monalisa yang menyediakan live musik bersanding dengan deretan kafe lainnya. Para wanita ini untuk kedoknya dipekerjakan sebagai kafe. Jika ada lelaki yang minat menyewanya, Sumarti yang bertindak sebagai mami menyediakan kamar untuk kencan para tamunya dengan anak buahnya.

Sumarti dijerat dengan pasal 2 ayat 1 UU nomor 21 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang dengan ancaman hukuman minimal tiga tahun penjara, maksimal 15 tahuh penjara dan denda paling sedikit Rp 120 juta, paling banyak Rp 600 juta.

Sementara Ruli dijuntokan pasal 10 turut membantu perekrutan dengan ancaman setahun penjara, paling lama enam tahun dan denda paling sedikit Rp 40 juta, paling banyak Rp 240 juta.

"Untuk empat korban kami pulangkan ke rumah masing-masing. Sedangkan barang bukti satu unit mobil, dan dua tersangka masih kami mintai keterangan. Kami akan kembangkan jaringannya, apakah hanya berdua atau melibatkan orang lain," imbuh Ruslan. ( Budi Cahyono / CN26 / JBSM )

Cabuli Anak Bawah Umur, Enam Pemuda Diprodeokan

Suara Merdeka, 25 Januari 2011

Jepara, CyberNews
. Enam pemuda, satu di antaranya masih kelas tiga SMP, diamankan polisi karena mencabuli anak dibawah umur. Sebut saja Mawar (16), warga Kecamatan Pecangaan yang mengaku dicabuli enam pemuda, masing-masing Teg (20), Ris (25), Bok (25), ketiganya warga Desa/Kecamatan Tahunan.

Tiga tersangka lainnya yakni Rud (23) Guf (18), dan Dik (16). Mereka warga Desa Somosari, Kecamatan Batealit. Dik, masih duduk di kelas tiga di sebuah SMP di Kabupaten Jepara.

Keenam tersangka ini diciduk polisi dan dimasukkan hotel prodeo, Sabtu (22/1) siang setelah dijemput di rumah masing-masing. Sebelumnya polisi menerima laporan dari orang tua Mawar 12 Januari lalu.

Kapolres Jepara AKBP Ruslan Ependi didampingi pjs Kasat Reskrim Iptu Rismanto, mengungkapkan kronologis peristiwa yang berakhir pada pencabulan Mawar. Pencabulan ini terjadi di rumah Dik, Jumat (7/1) lalu. Sebelumnya, korban dijemput sekitar pukul 14.00 oleh tersangka Teg dan Ris dan diajak pesta minuman oplosan yang terbuat dari dextro, suplemen dan dicampur air putih di rumah Ris.

Kondisi Mawar dan rekan-rekannya tersebut setengah mabuk. Kemudian diajak ke Pantai Teluk Awur untuk melanjutkan pesta minuman keras (miras) jenis ginseng hingga mabuk berat. Sekitar pukul 16.30, mereka berangkat menuju Somosari bersama korban ke rumah Rud. "Saat itu kondisi korban mabuk berat, bahkan muntah-muntah akibat miras berlebihan. Karena tak sadar akibat mabuk, korban dipaksa Bok masuk kamar dan lalu dicabuli, setelah itu gantian rekan-rekan lainnya," kata Rismanto, Selasa (25/1).

Di situlah secara bergantian tersangka Bok, Teg dan Ris mencabuli korban. Setelah ketiga tersangka pulang ke rumahnya, pagi harinya giliran Rud, Guf dan Dik yang mencabuli secara bergantian. Saat diperiksa penyidik, para tersangka ini mengaku yang mengajak berbuat mesum adalah Mawar. Tetapi setelah dikonfrontir keterangan para tersangka, Mawar dipaksa oleh keenamnya dan dicabuli bergantian.

Rismanto menjelaskan, sebelum dibawa ke ranah hukum, pihak keluarga Mawar dengan para tersangka berusaha mengupayakan penyelesaian secara kekeluargaan. Keluarga Mawar meminta uang damai sebesar Rp 12 juta, namun tidak disanggupi para tersangka. Keenamnya hanya sanggup membayar Rp 1 juta. Karena mengalami jalan buntu, akhirnya kasus ini dilaporkan ke Polres Jepara.

"Para tersangka akan dijerat dengan pasal 82 pada Undang-undang No 23/2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman kurungan penjara maksimal 15 tahun. Saat ini para tersangka sudah ditahan di Mapolres Jepara," tegas Rismanto. ( Budi Cahyono / CN16 / JBSM )

Jumat, 07 Januari 2011

Bayi Dibuang di Tempat Sampah

Suara Merdeka, 07 Januari 2011

Jepara, CyberNews
. Seorang bayi perempuan yang diperkirakan berusia enam bulan dalam kandungan ditemukan sudah tak bernyawa di tempat sampah sebelah barat terminas Kota Jepara, Kamis (6/1) sekitar pukul 23.30.

Mayat bayi tersebut ditemukan oleh seorang pemulung, Yuliasih (50) warga Desa Lebak, Kecamtan Pakis Aji saat mencari sampah di lokasi tersebut. Diduga, bayi tersebut dibuang oleh orang tuanya karena hasil dari hubungan gelap.

Yuliasih menuturkan, saat itu dia tengah beraktivitas mencari sampah di sekitar jalan dekat Terminal Kota. Saat mendekat, dia kaget karena di dalam tempat sampah ada sesosok bayi yang sudah tak bernyawa.

Karena panik, dia pun menginformasikan ke warga sekitar tempat kejadian perkara (TKP). Kondisi mayat memprihatinkan, karena bayi tersebut dibungkus kantung plastik warna putih dan kuning secara berlapis.

Selanjutnya, warga menghubungi Mapolsek Kota dan diteruskan ke Mapolres Jepara. Tak berselang lama, anggota satreskrim dan unit identifikasi tiba di TKP. Sedangkan bayi tersebut langsung dibawa ke kamar mayat RSU RA Kartini setelah olah TKP sekitar pukul 01.20

Kapolres Jepara AKBP Ruslan Ependi didampingi Kapolsek Kota AKP Sarwo Edi Santosa di TKP mengatakan, dari olah TKP sementara diduga bayi tersebut sengaja dibuang oleh orang tuanya karena hasil hubungan gelap. "Bisa jadi karena takut aibnya terbongkar, akhirnya bayi yang dilahirkan dibuang di tempat sampah dengan maksud agar tidak diektahui identitasnya," ungkapnya, Jumat (7/1) dini hari.

Sementara itu, dari visum di RSU RA Kartini, dokter Sumadi mengungkapkan, mayat bayi tersebut diperkirakan berusia enam bulan dalam kandungan. Hal itu diketahui dari bentuk dan ukuran tubuh bayi.

"Dengan usia bayi yang prematur, ada indikasi bayi dilahirkan dengan paksa atau sengaja digugurkan," tegasnya usai visum di kamar mayat RSU RA Kartini, Jumat dini hari.

Terpisah, pejabat sementara Kasat Reskrim Polres Jepara, Iptu Rismanto menjelaskan, polisi sudah meminta keterangan saksi Yuliasih si penemu pertama. Kasus ini masih proses penyelidikan dan mencari informasi di sekitar tempat kejadian terkait wanita hamil. ( Budi Cahyono / CN26 )

Senin, 25 Januari 2010

Pelatihan Jurnalistik SMA dan Santri se-Jepara*

Keluarga Mahasiswa Jepara Semarang (KMJS) Cabang IAIN Walisongo Semarang bekerjasama dengan Smart Institute Jepara menyelenggarakan Pelatihan Jurnalistik SMA dan Santri se-Jepara 2010 yang akan dilaksanakan pada:
Hari : Sabtu
Tanggal : 06 Februari 2010
Waktu : 08.00 wib - selesai
Tempat : Aula SMAN 1 Jepara
Pembicara: Arif Darmawan (Majalah Pena, Inkom Jepara)
Muhammadun Sanomae (Kabiro Suara Muria)
M Saifuddin Alia (konsultan Smart Institute Jepara)

*) Setiap peserta mendapatkan majalah Pena, Inkom Jepara secara cuma-cuma.

INFO LANJUT:
085226200477 (Muhammad Shoim| ketua KMJS IAIN Walisongo)
085640033625 (Syaiful Mustaqim| direktur Smart Institute Jepara)

Sabtu, 29 Agustus 2009

Jejak Urwah, Buron Terorisme

Ponpes Al-Muttaqin: Kami Tidak Mengajarkan Kekerasan

Oleh Rosidi

Ponpes Al-Muttaqin di Sowan Kidul, Kabupaten Jepara disorot, karena salah satu buron kasus terorisme, Bagus Budi Pranoto alias Urwah, pernah nyantri di sekolah itu. Pengapus ponpes menegaskan ponpes Al Muttaqin tidak mengajarkan kekerasan.

"Kami tidak mengajarkan kekerasan," kata KH Sartono Munadi, pengasuh Ponpes Al-Muttaqin saat ditemui detikcom Selasa (25/8/2009) lalu di rumahnya yang teduh di kompleks pesantren. Ustad Sartono tampak santun dan bersahabat.

Bangunan rumah Kiai Sartono sederhana, namun cukup teduh. Rumah
bercat putih berpagar merah itu memiliki halaman samping yang cukup luas.
Sebuah mobil Suzuki Carry terparkir di halaman rumahnya. Sementara di dalam rumah, terdapat lima kursi dan sebuah meja bundar, yang di atasnya, terletak empat kitab yang cukup tebal.

Kiai Sartono menceritakan perihal pesantren yang dirintisnya sekitar 20 tahun lalu. "Kami sama dengan pesantren pada umumnya. Hanya dalam penyampaian, kami menggunakan bahasa pengantar Bahasa Arab, Inggris dan Indonesia, agar santri yang dari luar Jawa juga bisa memahami," ujar dia.

Sementara kitab-kitab yang diajarkan, antara lain Aisarut Tafaasir, Silsilah Tafsir, Fikih Sunnah dan Minhajul Muslim. "Tidak ada yang beda. Sementara untuk tauhid, kita memakai kitab Qidah Thahawiyah karya Dr. Sholeh Fauzan," terang Kiai Sartono yang sehari-hari juga berprofesi sebagai petani dan berdagang konveksi kecil-kecilan.

Terkait dengan isu terorisme saat ini yang lagi jadi perbincangan hangat, Kiai Sartono mengaku tidak pernah merasa mengajari santrinya menjadi teroris atau melakukan tindak kekerasan lain. "Kalau ada alumnus ponpes saya, mungkin karena setelah lulus, ia terbawa arus dengan teman atau ia belajar dengan siapa. Pergaulan sekarang kan kompleks," tutur dia.

Pada prinsipnya, menurut dia, pihaknya mendirikan pesantren dengan bekerja dan ikhlas, agar bisa membantu pemerintah menyiapkan generasi yang cerdas dan berkahlaq. "Kalau pemerintah mencari-cari kejelekannya saja, pasti dapat. Di manapun. Tetapi apakah pemerintah memperhatikan dan memberi apresiasi kepada pesantren sebagai lembaga pendidikan yang notabene wajah Islam Indonesia," tegas Kiai yang mengaku ponpesnya tidak ada sangkut paut atau hubungan apa pun dengan Abu Bakar Ba'asyir.

Hingga Sabtu (29/8/2009) polisi belum bisa menangkap Urwah, yang menjadi buron kasus bom Marriott dan Ritz-Carlton. Jejak terakhirnya, Urwah tinggal di sebuah rumah di RT 01 RW 04 di kampung Buntarejo, Kadokan, Grogol, Sukoharjo. Dia masih terlihat pada 7 Agustus 2009, beberapa jam sebelum polisi melakukan penggerebekan di Jatiasih da Temanggung.

Sumber: Detik.com, 29 Agustus 2009

Jumat, 28 Agustus 2009

2 Pulau di Karimunjawa Dikelola Asing

Oleh Rosidi

Di
tengah kontroversi penjualan pulau di internet, ternyata ada fakta pulau-pulau di Indonesia sudah biasa dikelola asing. Di kepulauan Karimunjawa saja, ada dua pulau yang dikelola oleh orang berkewarganegaraan asing (WNA).

Berdasarkan data dari Balai Taman Nasional Karimunjawa, saat ini ada 8 pulau di Karimunjawa yang dikuasai oleh perorangan. Dua pulau yang dikelola WNA adalah Pulau Menyawakan dan Pulau Kumbang.

Pulau Menyawakan tercatat dikuasai oleh Mr Lak dan Mr Hands. Sementara Pulau Kumbang dikelola oleh nama Mr Jell. Ketiganya memperoleh izin pengelolaan pulau karena mereka menikah dengan perempuan berkewarganegaraan Indonesia.

"Pengelolaan lahan Karimunjawa oleh pihak asing hanya bersifat penanam modal di bidang pariwisata dan pembangunan resort," kata Ketua Balai Taman Nasional Karimun Jawa Hariyanto, Jumat (28/8/2009).

Hal itu juga dibenarkan oleh Bupati Jepara Hendro Martojo. Dia memastikan, meski dikelola pihak asing, pulau-pulau tersebut masih di bawah pengawasan Pemerintah Kabupaten Jepara.

"Pulau-pulau itu masih di bawah pengawasan kami," tandas Hendro.

Boleh jadi pulau-pulau tersebut memang tidak 'dijual', namun tokoh masyarakat di kepulauan Karimunjawa khawatir, pulau-pulau yang masih indah tersebut akan rusak karena pengelola hanya mementingkan sisi bisnis.

"Karimunjawa harus diselamatkan dari tangan orang-orang yang hendak mengeruk kekayaan alamnya tanpa peduli terhadap kelestarian lingkungannya," kata Kepala Sekolah di Madrasah Safinatul Huda, Karimunjawa, Hisyam Zamroni.

Dia pun berharap, pemerintah dapat mengawasi sehingga perusakan lingkungan di Karimunjawa tidak terjadi. "Kearifan lokal di Karimunjawa harus dijaga, jangan sampai tergerus oleh zaman dan hilang. Kearifan lokal itu kan identitas masyarakat," katanya.

Akhir-akhir ini, penjualan pulau yang berada di kawasan Indonesia ramai dibicarakan. Terbaru, tiga pulau di kepulauan Mentawai diiklankan 'for sale' di situs Private Islands Online.

Iklan itu tentu saja mengundang kontroversi. Departemen Dalam Negeri pun akan meminta klarifikasi pada Gubernur Sumatera Barat tentang hal itu.

Sumber: Detik.com, 28 Agustus 2009

Kamis, 27 Agustus 2009

Melongok Ponpes Al Muttaqin Jepara

Tak Ada Yang Perlu Dicurigai di Ponpes Urwah

Oleh Rosidi

Dulu
Ponpes Al Mukmin Ngruki Sukoharjo dan Ponpes Daarussyahadah Boyolali disorot karena beberapa tersangka terorisme pernah belajar di pondok ini. Kini, setelah Bagus Budi Pranoto alias Urwah menjadi buron, Ponpes Al Muttaqin Jepara juga disorot. Urwah alumnus ponpes ini.

Bagaimana sebenarnya aktivitas di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Muttaqin? Detikcom telah berkunjung ke Pondok Pesantren ini pada Selasa (25/8/2009) lalu.

Ponpes ini terletak relatif jauh dari pusat kota Jepara, Jawa Tengah. Namun, untuk menemukan ponpes yang terletak di Desa Sowan Kidul, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara ini, tidaklah sulit. Nama Ponpes ini dikenal oleh warga di Kecamatan Kedung.

Berada di lahan sekitar 2 hektar, saat ini Ponpes tersebut memiliki sekitar 750 santri yang berasal dari kabupaten atau kota dari berbagai pelosok nusantara, termasuk NTB dan NTT. "Santri ada yang datang dari NTB, NTT, Lampung, Bekasi dan lain sebagainya," kata Abdurrohman, ustad kelahiran Kota Gudeg, Yogyakarta.

Usia pondok ini tidak setua Ponpes Ngruki. Pondok ini baru berdiri tahun 1988 dan sudah mengantongi izin secara sah sebagai lembaga pendidikan. Ponpes ini terdiri dari dua jenjang pendidikan, yaitu Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang setara SMP dan Madrasah Aliyah (MA), setara dengan SMA.

Pemantauan detikcom, suasana ponpes ini tidak berbeda dengan Ponpes lainnya. Di bagian depan, terdapat sebuah gerbang terbuat dari bambu. Di dalamnya, terdapat pos jaga, dengan lima orang yang sedang berjaga sembari membaca kitab maupun buku pelajaran.

Di depan pos jaga, ada ruang tamu terbuat dari kayu yang cukup sangat unik. Plang di depan ruangan bertuliskan 'Ruang Tamu' itulah yang menandaskan tempat merupakan tempat untuk menyambut orang luar pondok yang hendak bersilaturrahmi.

Di samping ruang tamu, ada masjid yang cukup bersih. Beberapa santri nampak membaca al-Qur'an. Maklum, di bulan puasa ini, mereka diminta oleh ustadnya untuk memperbanyak amal sholeh, baik dengan membaca al-Qur'an maupun berdzikir.

Pada Ramadan ini, kegiatan mengaji, selain kegiatan rutin, ditambah. "Setiap sore ada kegiatan mengaji kitab dan al-Qur'an. Sementara habis shubuh, diadakan kuliah pagi yang diisi oleh santri secara bergantian," terang Abdurrohman, alumnus Ponpes Al-Muttaqin yang sudah tiga tahun ikut membantu mengajar.

Secara kasat mata, tidak ada yang perlu dicurigai terhadap ponpes ini. Namun, menurut sumber detikcom di kepolisian, karena salah satu alumnusnya, Bagus alias Urwah, menjadi tersangka kasus bom JW Marriott Jakarta dan The Ritz-Carlton, maka ponpes ini pun dipantau aparat.

Tapi seperti sorotan terhadap Ponpes Ngruki dan Daarussyahadah sebelumnya, biasanya para tersangka terorisme itu tak melibatkan lembaga pendidikan tempat dia belajar. Demikian pula yang terjadi pada Ponpes Al Muttaqin. Apalagi, para pelaku terorisme sudah lama meninggalkan ponpes dan bergumul dengan komunitas, jamaah, organisasi, kelompok, atau jaringan-jaringan tertentu.

Sumber: Detik.com, 27 Agustus 2009

Selasa, 13 Januari 2009

Perempuan, Gerabah dan Warisan Budaya

Oleh Nanik Kurniawati

GERABAH, yang kita kenal adalah suatu barang unik yang sudah ada sejak ribuan tahun silam. Bahkan sampai sekarang pun gerabah menjadi suatu kebutuhan, terutama di pedesaan.

Bagi sebagian orang, pembuatan gerabah dimanfaatkan sebagai hobi untuk menghilangkan kejenuhan. Tapi tidak untuk sebagian yang lainnya. Di banyak daerah membuat gerabah dimanfaatkan sebagai mata pencaharian (sumber ekonomi).

Contohnya saja di Mayong, Jepara. Sebagian besar perekonomian warga Jepara memang berasal dari sektor mebel. Namun di Mayong, kebanyakan warganya menggeluti kerajinan gerabah sebagai mata pencaharian.

Kerajinan membuat gerabah sudah menjadi home industri di daerah ini. Hebatnya, pekerjaan ini justru digawangi oleh perempuan. Mereka yang tidak mempunyai pendidikan yang memadai memilih aktivitas sebagai pengrajin gerabah.

Kebanyakan pekerjaan ini digeluti oleh para Ibu rumah tangga. Dengan peralatan tradisional (ala kadarnya), para perempuan ini menyulap gumpalan tanah liat menjadi suatu produk gerabah yang apik.

Jangan salah. Meski pengerjaan gerabah ini hanya dikerjakan oleh para perempuan berpendidikan rendah, namun beraneka macam produk gerabah yang mereka hasilkan sudah dipasarkan hingga ke berbagai wilayah di Indonesia, seperti: Bali, Surabaya, Sumatera, Jakarta bahkan sampai ke luar negeri.

Tidak banyak penghasilan yang didapatkan dari pekerjaan ini. Mereka hanya mampu mendapatkan penghasilan 10.000-20.000 setiap harinya. Namun semua itu tidak menyurutkan langkah para perempuan ini untuk tetap berkarya dan mencari nafkah.

“Tidak banyak penghasilan yang saya dapatkan dari pembuatan gerabah, tapi saya senang. Setidaknya saya tidak hanya menunggu pemberian suami," ujar Romlah, salah satu pengrajin gerabah di Mayong.

Pekerja lain. Sumiati, ibu rumah tangga 40 tahun ini berprofesi sebagai pembuat gerabah sejak sepuluh tahun silam. Bersama suaminya selama sepuluh tahun itu ia menafkahi keluarganya.

”Kami senang menjadi pengrajin gerabah. Meski penghasilan kami tidak seberapa, namun sudah bisa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ungkap pasangan suami istri yang telah sekian tahun menekuni profesi sebagai pembuat gerabah.

Berbeda dengan Suti. Ibu dua anak ini mengaku menekuni profesi sebagai pembuat gerabah karena ingin melestarikan warisan leluhur. Sejak kecil dia sudah diajarkan untuk membuat gerabah.

“Biar bagaimanapun profesi sebagai pengrajin gerabah adalah profesi turun-temurun dari leluhur saya. Jadi saya harus tetap melestarikan profesi ini, selain untuk membantu perekonomian keluarga,” Ungkap Suti.

Berbagai alasan namun tetap satu tujuan. Ujung terakhirnya adalah bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi.

“Saya harus bekerja meski sebagai pembuat gerabah. Selain bisa membantu perekonomian keluarga, saya juga bangga karena saya bisa menghasilkan produk yang digunakan banyak orang,” ujar Robi’ah, pemilik usaha sekaligus pembuat gerabah.

Berbanggalah para perempuan pengrajin gerabah. Selain sebagai produk peninggalan sejarah, kerajinan gerabah juga merupakan sumber ekonomi bagi yang menekuninya.[]

Jumat, 24 Oktober 2008

Asah Keterampilan Bahasa Inggris, Siswa MA Walisongo “On Air” di Double-E

Jepara, NU Online
English Conversation Club (ECC), salah satu kegiatan ekstrakulikuler siswa di Madrasah Aliyah (MA) Walisongo, Pecangaan, Jepara, Jawa Tengah, mulai Rabu (22/10) kemarin on air (mengudara) di Radio Double E pada gelombang 98.7 FM. Program ini dimaksudkan untuk mengasah ketrampilan speaking (berbicara) bahasa Inggris para anggota.

Untuk kelancaran program baru ECC di madrasah yang berada di bawah naungan Lembaga Pendidikan Ma'arif NU Jepara ini, dalam setiap siaran yang dilaksanakan setiap Rabu siang hanya dijatah lima orang anggota untuk mengudara.

Ulfatun Nikmah, ketua ECC menyatakan siaran yang dilaksan akan setiap hari Rabu setelah pulang sekolah ini merupakan wahana untuk melatih anggota agar lebih berani mengekspresikan "cuap-cuap" dalam bahasa Inggris.

"Saya berharap agar temen-temen pegiat ECC, lebih enjoy tatkala mengudara di Radio Double E", kata Ulfatun, siswi kelas XI jurusan Bahasa, ditemui kontributor NU Online Syaiful Mustaqim di MA Walisongo, Jepara, Rabu (22/20).

ECC lahir sejak 2002 silam dan kegiatan ini dikhususkan bagi siswa jurusan Bahasa. Awal mulanya merupakan rintisan Drs Rohmadi AF, wali kelas jurusan Bahasa saat itu merekomendasikan kepada Alexander Mongot Jaya (Mr Mongot), salah seorang lulusan madrasah ini yang kemudian kuliah di AKABA 17 Semarang untuk menularkan ilmu kepada adik kelasnya.

Dengan kehadiran Mr Mongot, banyak siswa yang antusias untuk mengikuti kegiatan ini, sehingga ECC eksis hingga sekarang. Tahun berganti tahun akhirnya, pada tahun ajaran baru 2008 kemarin ECC berubah menjadi kegiatan ekstrakulikuler di MA Walisongo.

Selain itu, tidak hanya untuk siswa jurusan bahasa saja, akan tetapi semua jurusan baik IPA, IPS boleh mengikutinya. Hal ini merupakan antisipasi agar tidak mengalami penurunan jumlah anggota.

Pembina ECC, Irbab Aulia Amri mengutarakan kegiatan ECC saat ini dilaksanakan rutin setiap hari Sabtu siang. Sedangkan kegiatan tambahan setiap hari Rabu merupakan kerjasama ECC dengan Radio Double E yang berada di desa Troso, Pecangaan Jepara.

Lebih lanjut lulusan Universitas Muria Kudus menambahkan setiap Rabu akan dibahas topik tertentu sehingga pendengar radio bisa mengirimkan opini atau hanya sekadar mengirim SMS kepada kawan-kawan selain itu juga bisa request lagu favorit.

Respon dari pendengar cukup baik, terbukti program perdana yang baru digelar siang kemarin banyak pendengar radio yang mengirimkan pesan singkat (SMS) baik berupa opini atau sekedar kirim salam kepada teman.

"Mudah-mudahan ini menjadikan awal yang baik agar ECC semakin eksis dan makin di kenal oleh khalayak", kata Irbab. (nam)

[Warta, NU Online 23 Oktober 2008]

Kamis, 09 Oktober 2008

Dewandaru Jepara Society Dinobatkan Sebagai Komunitas Penulis Jepara

Jepara, NU Online
Ada yang menarik dari halalbihalal yang digelar Smart Institute Jepara pada Senin (06/10) lalu. Silaturrahim penulis yang dipusatkan di griya Smart Institute, Jalan Kauman II Nomor 45 itu, berjalan dengan lancar dan sukses.

Direktur Smart Institute, Syaiful Mustaqim, menyatakan pertemuan yang digelar, masih dalam suasana Idul Fitri itu merupakan agenda pemetaan kerja pasca-Lebaran.

"18 Oktober mendatang Smart Institute secara kontinyu akan menggembleng siswa MA atau sederajat untuk menjadi calon tutor jurnalistik andal," kata Mustaqim.

Mustaqim menambahkan, penggemblengan tutor jurnalistik itu merupakan permintaan berbagai madrasah dan sekolah yang berada di Jepara. Sedangkan kondisi tutor jurnalistik andal masih sangat sedikit. Kalau pun ada, harus impor dari daerah lain.

"Inilah momentum yang pas untuk menggembleng siswa madrasah, sehingga saat ada permintaan fasilitator jurnalistik tidak susah-susah mengundang pembicara dari daerah lain," jelas pembina ekstra Jurnalistik MA Walisongo dan pegiat IPNU itu.

Di kesempatan lain, konsultan Smart Institute, M. Saifuddin Alia juga angkat bicara. Menurutnya, Smart Institute merupakan wadah bagi siswa madrasah yang ingin mendalami ilmu jurnalistik secara intens.

"Saya berharap Smart Institute menjadi kiblat siswa yang akan belajar jurnalistik secara intens," tutur mantan aktivis PMII dan IPNU Jateng itu.

Lebih lanjut, ia menambahkan blog smart yang bisa diakses di http://smartjepara.blogspot.com merupakan wadah untuk belajar menulis. Selain itu, tidak menutup kemungkinan penulis daerah lain untuk berpartisipasi di blog yang baru diluncurkan pada Juni lalu.

6 Oktober bertepatan dengan 6 Syawal, Dewandaru Jepara Society resmi dinobatkan sebagai Komunitas Penulis Jepara. M. Abdullah Badri menyatakan keberadaan Komuntias Penulis di Jepara saat ini sangat dibutuhkan. Ia menilai, kondisi penulis di Jepara sendiri sedang kritis.

Hal senada juga disampaikan Awaludin Marwan yang mengaku prihatin. Ia menyontohkan keberadaan komunitas penulis di daerah lain sudah mengalami perkembangan pesat, misal, di Pati, Kudus, Batang, Solo, Yogyakarta, dan sebagainya.

"Semoga Dewandaru Jepara Society, sebagai Komunitas Penulis Jepara layak diperhitungkan di kancah regional dan nasional," harapnya kepada kontributor NU Online. (ful)

[Warta, NU Online, 09 Oktober 2008]

Rabu, 10 September 2008

Kalangan Muda NU Jepara Kembangkan Tradisi Menulis lewat Blog

Jepara, NU Online
Masyarakat Jepara, Jawa Tengah, selama ini dikenal dengan kemampuannya dalam seni ukir. Tapi, untuk urusan tradisi tulis-menulis, masyarakat di kota kelahiran tokoh emansipasi perempuan Indonesia, RA Kartini, ini bisa dibilang kurang.
Salah satu sebabnya adalah belum adanya sebuah komunitas yang memprakarsai gerakan menulis serta mengorganisasi keberadaan penulis yang ada.

Atas dasar itulah, sejumlah anak muda Nahdlatul Ulama (NU) kreatif di kota itu memprakarsai sebuah gerakan menulis. Target awalnya adalah membudayakan masyarakat setempat, utamanya kalangan pelajar, untuk menulis di media massa.

Langkah awalnya, anak muda NU yang tergabung dalam Smart Institute Jepara itu menerbitkan media online, yakni blog (website/laman pribadi). Blog yang dapat diakses melalui domain: http://smartjepara.blogspot.com itu memuat banyak tulisan dari berbagai topik, sosial, budaya, ekonomi, dan sebagainya.

Meski baru diluncurkan pada Juni lalu, media online itu sudah mendapat sambutan positif dari banyak kalangan, di antaranya pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum. Buktinya, banyak kiriman tulisan yang masuk ke redaksi.

Zakki Amali, kontributor Smart Institute, mengakui fenomena sedikitnya para penulis di kota kelahirannya. “Masyarakat Jepara memang membaca surat kabar setiap harinya. Namun, penulis Jepara memang jarang ditemui, berbeda dengan daerah-daerah lain,” terangnya.

Smart Institute, katanya, bisa menjadi wahana silaturrahmi penulis asli Jepara dari berbagai kalangan sekaligus penulis luar daerah.

Hal senada diungkapkan Mukodi, juga salah satu kontributor Smart Institute. Menurutnya, orang Jepara masih saja ‘jago kandang’, menulis hanya di media lokal Jepara, belum berani menulis di media luar.

"Sudah saatnya penulis Jepara go national, agar tidak ketinggalan dengan daerah lain," ucap alumnus Program Pascasarjana Univeritas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, itu kepada kontributor NU Online, Syaiful Mustaqim, di Jepara, Selasa (9/9).

M. Saifuddin Alia, konsultan Smart Institute Jepara, mengaku optimistis akan keberadaan para penulis di kotanya. Ia bertekat akan selalu menyemangati para penulis muda.

Mantan redaktur pelaksana majalah Maarif Pengurus Wilayah NU Jateng itu yakin bahwa Smart Institute nantinya bakal mencetak penulis-penulis yang andal. "Sedikit-sedikit, lama-lama menjadi bukit, bukankah filosofinya demikian?" ungkap aktivis Ikatan Pelajar NU Jateng itu.

Rencananya, setelah Hari Raya Idul Fitri nanti, Smart Institute akan menggelar pertemuan para penulis di Jepara. Kegiatan itu sekaligus sebagai wahana tukar pengalaman antarpenulis. (rif)
[Warta NU Online, 09 September 2008]

Habiburrahman Menginspirasi Pelajar untuk “Bersastra”

Jepara, NU Online

Dunia sastra masih dianggap tabu oleh sebagian kawula muda khususnya pelajar. Namun setelah munculnya novel Ayat-Ayat Cinta, semua kalangan termasuk pelajar berbondong-bondong membaca, mengkaji, dan menkritisi novel karya karya Habiburrahman El-Shirazy itu.

Karenanya Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) MA Walisongo, lembaga di bawah naungan Lembaga Pendidikan Ma'arif Nahdlatul Ulama (NU) Jepara, beberapa hari lalu menggelar acara bertajuk Bincang-Bincang Sastra dan Belajar Menulis bersama Kang Abik (panggilan akrab Habiburrahman El-Shirazy).

"Diskusi dan belajar menulis ini dihadiri oleh siswa dan siswi MTs/SMP, MA/SMA dan pemerhati sastra di Jepara dan Kudus," ungkap Ainun Najib, S Ag, wakil kepala bagian kesiswaan kepada kontributor NU Online, Syaiful Mustaqim.

Rabu (27/8) lalu, pukul 10.00 tepat acara dimulai. Kang Abik yang juga mantan ketua Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) ini bercerita tentang perjalanan panjang menjadi seorang penulis.

Menurut penjelasannya, novel Ayat-Ayat Cinta (AAC) bukanlah karyanya yang pertama sebab dia menulis sejak di bangku MAPK Surakarta. Bisa dikatakan AAC adalah karya yang sudah ke sekian kali.

Lebih lanjut, pengasuh pesantren Basmala ini bercerita tentang suka dan duka menjadi penulis. Katanya, menjadi seorang penulis membutuhkan proses proses panjang yang harus dilalui, meski nyawa taruhannya.

Hal itulah yang dialami Kang Abik saat mengalami kecelakaan kakinya patah saat hendak pulang perjalanan Yogyakarta-Semarang. Sejak saat itu ia bertekad dan yakin akan menjadi orang besar. Maka, muncullah AAC yang kini booming menjadi karya sastra yang digemari oleh semua kalangan.

Siang harinya, acara dilanjutkan dengan belajar menulis. Ratusan siswa dan siswi secara khidmat mendengarkan materi yang sampaikan oleh Kang Abik.

Disampaikannya, menulis membutuhkan waktu dan target khusus. "Luangkan waktu untuk kontinyu dalam menulis dan harus ada target dalam menyelesaikan tulisan itu," kata Kang Abik menanggapi pertanyaan Enny Fadhilah, salah seorang peserta. (nam)

[Warta NU Online, 2 September 2008]