Rabu, 14 Juli 2010

Kelanjutan Kampung Teknologi Jepara

Suara Merdeka, 14 Juli 2010

Oleh M Abdullah Badri

Sifat teknologi yang praktis, mudah, cepat dan efektif membuat warga Suwawal Timur mampu meningkatkan kesejahteraan sosial dan ekonominya

ADA titik terang di Jepara. Kabupaten di wilayah pantura Jateng yang juga dikenal dengan sebutan Kota Ukir sekarang dibicarakan sekolompok orang karena di daerah itu ada kampung teknologi. Jangan membayangkan kampung itu laiknya kota yang ada gedung pencakar langitnya dan mesin-mesin otomatis yang bekerja sendiri seperti dalam film futuristik rekaan Hollywood. Namanya juga kampung, jadi aroma naturalnya tetap terjaga dengan baik.

Suwawal, tepatnya Suwawal Timur, Kecamatan Pakis Aji, adalah desa yang diproyeksikan Pemerintah Kabupaten Pemkab) Jepara sebagai kampung masa depan berbasis teknologi dengan nilai investasi Rp 247,9 miliar. Dengan menggandeng Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek), Pemkab hendak menjadikan kampung seluas 110 hektare itu sebagai pusat pemberdayaan masyarakat desa dalam bidang pertanian, industri pengolahan, pariwisata, dan pendidikan berbasis teknologi (Kompas, 09/07).

Jika sebelumnya warga kampung meminjam sapi jantan tetangga untuk membuat sapi betinanya hamil, dengan dikawinkan, kini, sejak teknologi peternakan dikembangkan di sana, kini mereka hanya perlu menyuntikkan cairan khusus (semen, mani beku-Red) ke sapi betina. Tanpa kawin, tak lama lagi sapi itu akan hamil.

Warga kampung teknologi tersebut kini juga sudah bisa memaksimalkan lahan tanah yang dulu dibiarkan tidak produktif. Dengan penyuluhan, pendampingan dan praktik langsung, tanah tandus sekarang bisa ditanami aneka tanaman. Tanaman yang untuk sementara sudah diberdayakan adalah kacang tanah. Semua dilakukan berkat proyeksi sebagai kampung teknologi.

Selain memberdayakan, warga kampung teknologi juga diharapkan bisa mendayagunakan hasil tanaman dan olahannya. Hal ini dilakukan untuk menghindari agar hasil panenan tanaman dan ternaknya bisa dijual layak dengan harga yang menguntungkan. Berkat pembangunan jaringan sosial yang berjalan, petani kampung teknologi itu kini bisa menjual hasil jerih payahnya kepada beberapa perusahaan yang telah komitmen dan bekerjasama membeli hasil tanaman mereka.

Untuk tanaman kacang, PT Garudafood Pati telah berbaik hati bersedia pasti membeli hasil tanaman kacang dari Suwawal, sekaligus memberikan benih kacang organik itu untuk ditanam. Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta juga telah diminta komitmennya meningkatkan kualitas kacang tanah dari petani dengan penyediaan oven pengering berbahan gas atau batu bara. Dengan alat teknologi itu, petani tak perlu menjemur kacang di jalan raya atau di halaman rumah.

Berkah Tersendiri
Warga kampung teknologi Jepara telah menemukan kemudahan-kemudahan operasional kerja bertani dan beternak. Selain penggemukan sapi dan penanaman kacang organik secara teknologis, program pemberdayaan yang sudah berjalan sementara ini seperti dinyatakan oleh pengelola utamanya, Imam Chanafi, adalah pembuatan pupuk dari kotoran dan air seni kambing. Sifat teknologi yang praktis, mudah, cepat dan efektif telah membuat warga Suwawal Timur mampu meningkatkan kesejahteraan sosial dan ekonomi. Ini merupakan berkah tersendiri yang harus terus ditingkatkan.

Yang menjadikan gelisah adalah bagaimana kalau kampung teknologi itu tidak mampu bertahan lama? Belum adanya sekolah khusus berbasis teknologi pertanian dan peternakan di Jepara menjadi problem tersendiri terhadap eksistensi kampung teknologi. Warga kampung teknologi itu bisa jadi hanya akan ’’diperas’’ tenaganya oleh perusahaan yang membutuhkan hasil tanamannya.

Karena itulah, untuk menjaga keberlanjutan pembangunan kampung teknologi, Pemkab hendaknya juga mengirimkan putra daerahnya ke perguruan tinggi yang komitmen terhadap eksistensi kampung teknologi, untuk belajar sains dan ilmu pengetahuan. Kontraknya, setelah lulus dia mau membangun kampung itu lebih lanjut.

Atau, akan lebih baik jika punya sekolah berbasis pendidikan teknologi sendiri sebagaimana STM khusus ukir yang sudah ada. Ini akan lebih baik mengingat kampung teknologi itu ke depan diproyeksikan dalam bidang yang lebih luas, yakni agrotechnopark, ecopark, dan technopark.

Petani-petani jangan hanya di-wulang bagaimana cara menanam dan beternak hewan dengan baik. Mereka juga harus dirangsang secara inovatif agar muncul kreasi baru. Jika hal ini dapat dilakukan, kampung teknologi akan bisa bertahan dengan kaki sendiri, tanpa tergantung dengan unsur luar, nantinya. (10)

Rabu, 30 Juni 2010

Memakmurkan Taman Baca Jepara

Suara Merdeka, 30 Juni 2010

Oleh Syaiful Mustaqim

BANYAK cara dan upaya yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Jepara melalui perpustakaan daerah dalam rangka meningkatkan minat baca. Salah satunya dengan mendirikan dan mengelola taman baca. Bahkan Bupati Hendro Martojo pada akhir Desember 2009 meresmikan Taman Baca Bukit Asri di Demaan Jepara.

Taman baca itu untuk sementara waktu menempati Rumah Aman, yaitu sekretariat KDRT: Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana. Rencananya pada tahun ini dibangun perpustakaan permanen di dekat bangunan itu. Adapun berkaitan dengan referensi (buku rujukan), saat ini taman baca itu sudah dilengkapi 450 buku ditambah 20 alat peraga edukatif (APE).

Selain taman cara tersebut, beberapa cara dan upaya yang telah dilakukan perpustakaan daerah adalah menyediakan fasilitas bacaan di tempat umum yakni dua warung baca yang menyediakan buku bacaan dan koran harian. Pun papan baca berupa koran dinding, terletak di terminal kota dan di pojok taman selatan alun-alun kota serta rumah baca lengkap dengan arena bermain anak-anak di taman belakang kantor Perpustakaan Daerah Jalan HOS Cokroaminoto.

Tak hanya itu, satu motor pintar—melayani perpustakaan keliling di kawasan kota. Ditambah tiga mobil perpustakaan keliling (dua unit beroperasi ke sekolah-sekolah dan satu unit lagi keliling dari desa satu ke desa lain). Sehingga, sejak 2005 hingga 2009 saja di Bumi Kartini ini telah berdiri 169 perpustakaan yang tersebar di pelosok desa dan kecamatan, 31 tempat untuk perpustakaan ormas, 81 lokasi perpustakaan sekolah serta 146 perpustakakan di tempat-tempat peribadatan.

Banyaknya taman, ruang ataupun rumah baca yang tersebar di pelosok kota ini semestinya tidak hanya berhenti di situ saja—lebih dari itu, alangkah lebih afdolnya jika kantung-kantung baca yang telah ada tidak hanya difungsikan sebagai tempat membaca saja. Dengan hanya menjadikannya sebagai sarana meningkatkan minat baca masyarakat bisa mengalami kejenuhan.

Sejatinya, tempat-tempat itu bisa diperankan sebagai pusat pelbagai kegiatan berbasis massa. Menyebut massa, maka seluruh elemen yang ada di masyarakat mulai anak-anak, remaja hingga orang tua masuk kategori di dalamnya. Sehingga, kantung-kantung baca yang telah ada perlu dimaksimalkan potensinya. Kantung baca digunakan sebagai tempat kegiatan ilmiah. Agenda yang penulis maksud yakni memosisikan kantung baca untuk sarana diskusi, jumpa pembaca maupun sekadar tempat tukar ide.

Meski hanya diikuti oleh beberapa gelintir orang saja, menurut hemat penulis tidak jadi soal. Yang terpenting melalui forum yang beraura ilmiah itu—berbincang-bincang tentang tema kejeparaan, isu nasional dan terkait dunia pustaka nantinya menghasilkan wacana yang luar biasa dan bermanfaat untuk khalayak.

Berbasis Edukatif
Lambat laun ketika pengunjung yang lain sudah tahu maksud dan tujuan dari forum itu setidaknya berpartisipasi meramaikannya. Dalam fase yang lebih besar digunakan untuk bedah buku, seminar ataupun talkshow.

Bisa pula dijadikan pusat keterampilan berbasis edukatif. Semisal, keterampilan berbahasa, kesenian ataupun membaca dan menulis. Artinya, kantung baca digunakan untuk klub-klub bahasa Inggris, Prancis, Mandarin ataupun bahasa asing lain. Konkretnya untuk belajar bersama tentang bahasa asing. Untuk perihal kesenian bisa berupa seni teater, lukis maupun tari.

Sedangkan membaca dan menulis dapat diaplikasikan melalui kegiatan jurnalistik (tulis-menulis). Aktivitas tulis menulis artikel, puisi, cerpen, resensi, berita dan sebagainya. Hal itu bisa dilaksanakan sepekan sekali dan dijadwalkan sesuai dengan kesepakatan bersama.

Selain itu, sebagai arena lomba berpidato, baca puisi, lomba jurnalistik, menggambar ataupun mewarnai. Kegiatan lomba-lomba itu secara tidak langsung akan menambah kuota yang berkunjung ke kantung baca yang ada.

Upaya untuk memaksimalkan potensi taman baca yang penulis maksud adalah selain sebagai tempat yang digunakan dalam rangka meningkatkan minat baca baca juga difungsikan untuk aktivitas lain. Tentu aktivitas yang bergaung edukatif, artinya, nuansa pendidikan yang nantinya bermanfaat untuk masyarakat luas.

Keberhasilan atas gagasan butuh kerja sama semua pihak, setidaknya pemkab mendukung pendanaan. Sementara, pegiat seni, pekerja pers dan jurnalistik, akademisi serta penggila dunia pustaka juga harus berperan aktif.(10)