Sabtu, 26 Desember 2009

Tren Baru Pop Religi Jepara

Suara Merdeka, 26 Desember 2009

Oleh M Abdullah Badri
peneliti budaya di Idea Studies Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang

SELAMA ini, masyarakat Jepara dikenal sebagai warga yang memiliki minat relatif tinggi terhadap musik dangdut. Hampir setiap malam, jika mau melakukan safari ke pelosok dan sudut desa di Kota Ukir itu,

Anda tidak akan kesulitan menemukan pergelaran orkes dangdut utuh atau organ tunggal.

Apalagi ketika banyak warga sedang melangsungkan gawe besar keluarga, semacam nikahan dan sunatan. Bahkan untuk tasyakuran haji atau umrah, tidak jarang dirayakan dengan dangdutan.

Tontonan gratis itu membuat masyarakat berdatangan, berdesak-desakan menikmati musik khas Indonesia itu, ngibing (bergoyang) bareng, yang seringkali memicu timbulnya kekerasan antarpenonton.

Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, ada banyak polisi diterjunkan untuk mengondisikan penonton orkes. Dangdutan memang hiburan, namun juga berarti ancaman keamanan dan ketertiban.

Ratusan atau bahkan mencapai angka ribuan manusia yang hadir di arena jika tidak dikondisikan sedemikian rupa oleh aparat, bukan tidak mungkin, dan bahkan sering, menimbulkan kekacauan.

Sekarang euforia dangdut di Jepara telah digeser oleh keriuhan lain yang barangkali dianggap lebih positif, yakni maulidan (perayaan hari lahir Nabi Muhammad SAW). Beberapa bulan terakhir, hampir setiap malam ada perhelatan acara maulidan di mana-mana.

Seperti memiliki idola, ketika tokoh agama itu membacakan teks maulid Nabi dalam acara tersebut, orang ber-bondong-bondong menyimak suara merdu yang dilantunkan olehnya serta nasihat-nasihatnya, baik yang berkaitan dengan problem agama maupun sosial humaniora. Habib Syekh bin Abdul Qodir. Ya, itulah nama idola baru masyarakat Jepara belakangan ini.

Orang yang sebelumnya tidak pernah mengikuti kegiatan keagamaan, mengikuti arus baru itu, menghadiri acara tersebut. Sekadar melepaskan rasa penasaran atau memang ia ingin menjadi aktor yang terlibat langsung.

Bukan hanya warga sekitar yang hadir, orang luar kota juga tidak jarang mengikuti ke mana pun sang idola manggung. Penggemarnya juga berasal dari berbagai kalangan. Tua, muda, anak-anak, pedagang asongan, petani, santri, abangan, semua mengikuti syair arab yang dilantunkan itu.

Hafal Seperti sebuah konser musik populer, hampir semua penonton bisa mengikuti syair-syair atau nyanyian lagu pujian kepada Nabi Muhammad yang dibawakannya.

Bahkan saking seringnya mengikuti acara yang sama, ada yang hafal kumpulan syair yang tersusun hingga puluhan halaman itu, di luar kepala. Kumpulan syair pujian tersebut bernama Simtud Duror, karya Habib Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsy, pujangga kelahiran Hadramaut, Yaman.

Yang menarik adalah euforia praktik keagamaan itu ternyata menyedot ribuan hadirin. Pernah suatu ketika dalam malam yang sama di desa yang sama, orkesan dangdut dan maulidan diadakan bersamaan oleh dua orang bertetangga.

Namun kuantitas penikmat dangdut ternyata tidak bisa melebihi tumpahnya hadirin yang mengikuti pangajian maulidan itu, mengikuti idola baru itu. Orang lebih memilih menghadiri pengajian daripada dangdutan. Mengapa?

Barangkali ada dua hal menarik sebagai penggambaran karakter sosial dan kultur budaya masyarakat Jepara. Pertama, ketertarikan masyarakat terhadap acara keagamaan seperti maulidan adalah karena mayoritas penduduknya masih memegang teguh nilai dan tradisi yang sudah berlaku sejak lama.

Kedua, mereka merindukan suasana baru yang lebih aman daripada dangdutan yang kadang melahirkan kecemasan pribadi dan sosial, namun masih dalam suasana yang menghibur serta menyajikan nilai tambah dalam peningkatan pengetahuan dan spiritual.

Acara maulidan itu bukan hanya membacakan dan melantunkan bait menjadi lagu merdu, namun juga ada keterangan tambahan dari pembicara, idola baru itu.

Bahkan, dalam kesempatan tertentu, disediakan waktu khusus kepada hadirin untuk memberikan pertanyaan kepada pembicara itu. Hal yang tidak didapati dalam pertunjukan orkes dangdut.

Dengan mengikuti acara itu, orang akan lebih dekat dengan teks sejarah kehidupan dan perjuangan Nabi Muhammad. Namun jika dilihat secara substansial, acara yang mulanya dimaksudkan untuk tujuan dakwah menjadi seperti pertunjukkan konser musik band, yang semata untuk mencari hiburan dan keriuhan sensasi.

Bagaimana tidak, tutur kata yang dilontarkan tidak lebih banyak daripada syair arab yang dilagukan dengan iringan rebana itu. Hiburan bukan iringan, tapi menjelma tujuan. (10)

0 komentar: