Senin, 11 Januari 2010

Pelajaran Catur

Suara Merdeka, 11 Januari 2010

Oleh Yusuf Afandi
guru SD N 4 Bategede, Nalumsari, Jepara

SEJAK 2006, olah raga catur secara resmi masuk dalam salah satu cabang olahraga yang dipertandingkan di Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) dan Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas). Kenyataan ini tentu sangat menggembirakan, namun ada hal aneh yang mungkin luput dari perhatian pemerintah.

Dalam kenyataannya olahraga catur belum dimasukkan dalam kurikulum resmi sekolah formal. Bahkan, di lembaga pendidikan tinggi pencetak guru olahraga (FPOK), tidak ada mata kuliah khusus yang memelajari catur.

Padahal di beberapa negara, seperti Amerika Serikat, Kanada, Jerman, Rusia, Zaire, dan yang kemudian menyusul belakangan adalah Jepang, sudah lama memasukkan catur dalam kurikulum pendidikannya.

Tujuan catur dimasukkan dalam kurikulum sekolah bukanlah semata-mata untuk mencetak atlet dan meraih prestasi catur, tapi lebih dari itu. Di balik permainan catur terkandung nilai-nilai positif yang luar biasa.

Di antaranya belajar menganalisis dan memecahkan masalah, belajar mengambil keputusan yang konsisten, meningkatkan kecerdasan dan daya ingat, meningkatkan kepercayaan diri, melatih disiplin, mengasah logika, belajar menerima kemenangan dan kekalahan (sportif), belajar merencanakan, mengatur strategi, dan mempunyai visi ke depan untuk mencapai tujuan.
Luar Sekolah

Selama ini, di Indonesia, catur dipelajari anak-anak di luar pelajaran sekolah. Mereka belajar bermain catur dari teman, tetangga, kakak dan orang tuanya.

Beberapa anak juga ada yang dimasukkan ke klub catur atau sekolah catur dengan tujuan utama untuk meraih prestasi yang baik dalam pertandingan catur.

Kenyataan itu menggambarkan tidak semua anak mendapat kesempatan yang sama dalam belajar dan bermain catur. Jadi, pada akhirnya tidak semua anak bisa bermain catur.

Lain halnya, jika olahraga catur dimasukkan dalam kurikulum sekolah, hampir dipastikan semua anak bisa bermain catur dan bisa mendapatkan manfaat positif dari olahraga tersebut.

Yang perlu kita ingat, bermain catur bukan sekadar untuk menyalurkan hobi dan mendapatkan prestasi, tapi lebih dari itu bisa membentuk anak menjadi pribadi yang lebih unggul.

Mengingat nilai-nilai positif yang terkandung dalam permainan catur, sudah saatnya pemerintah untuk segera memasukkan cabang olahraga ini dalam kurikulum yang wajib diajarkan di sekolah-sekolah formal di seluruh Indonesia. Semoga! (45)

0 komentar: