Selasa, 08 Juli 2008

Bekerja Untuk Keabadian

Oleh Syaiful Mustaqim*


Raden Ajeng Kartini, Ahmad Wahid, dan Soe Hok Gie merupakan tiga tokoh yang jelas berbeda dan hidup pada zaman yang berbeda pula. RA Kartini, misalnya, hidup pada masa kolonialisme Belanda saat sedang berjaya di bumi Nusantara. Kartini adalah pejuang kaum perempuan dalam menghadapi dominasi feodalisme patriarki, sehingga setiap 21 April diperingati hari Kartini, hari emansipasi bagi kaum hawa.

Sedangkan Soe Hok Gie hidup pada masa peralihan yakni masa kemunduran Soekarno menuju ke era Soeharto. Sosok Gie memang dikenal sebagai intelektual muda yang anti rezim Soekarno.

Sementara itu Wahib, hadir di zaman awal pemerintahan Orba, saat itu umat Islam mengalami kondisi marginal dan stagnan. Ahmad Wahib populer dengan gagasan pembaruan Islamnya. Ia juga merupakan salah satu penggerak Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Ya, melalui tulisan mereka giat dan kontinyu berjuang untuk terciptanya perubahan. Dengan menulis Kartini cancut taliwanda dan menggerakkan bendera perubahan dalam revolusi lewat surat-suratnya. Seyogianya, kita tidak akan pernah tahu sosok Kartini jika ia tidak menulis surat-suratnya itu dan kemudian dikumpulkan oleh J.H Abendanon.

Soe Hok Gie dan Wahib pun demikian. Gie maupun Wahib telah membuka mata hati dan pikiran kita melalui catatan (buku) harian. Barangkali kita tidak akan pernah mengenalnya jika Soe Hok Gie dan Wahib tidak menulis catatan harian, yang kemudian dipublikasikan.

Meminjam istilah Ben Okri, novelis asal Afrika, yang menyebut penulis atau pengarang sebagai “resi-resi sejarah”. Penulis atau pengarang merupakan the town-criers (barometer zaman). Siapa pun tak bisa memungkiri, perkembangan peradaban manusia dipengaruhi oleh jasa penulis atau pengarang.

Kehadiran penulis bukanlah tanpa sebab, melainkan upaya melakukan pemberontakan terhadap sebuah penantian. Tentunya mereka akan berceritera tentang berbagai hal. Misalnya, ketidakadilan, kemanusiaan, kejahatan, tragedi, cinta kasih, dan lain sebagainya.

Zaman globalisasi pun akan terbentuk dan menjadi seperti saat ini, juga tidak lepas dari pergulatan penulis dengan karya-karyanya. Penulis merupakan sosok yang bergerak di tengah wacana dan suasana hiruk pikuk masyarakat.

Tak hanya itu, maju mundurnya suatu bangsa dapat diukur dari tradisi menulis masyarakat. Bangsa yang mempunyai tradisi menulislah yang akan menjadi pendongkrak kemajuan. Sebab, tradisi menulis dapat mengantarkan manusia pada kearifan untuk mengungkapkan sebuah gagasan.

Kartini, Wahib dan Soe Hok Gie memang patut dijadikan teladan karena mereka memiliki semangat yang luar biasa dan konsisten dalam menulis. Dengan usia yang lumayan muda mereka telah menghasilkan karya-karya berbobot.

Mereka tidak pernah menyangka, hanya dengan hasil goresan pena akhirnya menjadi sebuah wacana yang masih diperdebatkan hingga kini. Selain itu, mereka justru semakin populer tatkala mereka telah tiada. Maka, tak salah apabila gagasan-gagasannya senantiasa dibaca, dikaji, dikritisi, dan dikenang sepanjang masa.

Nah, inilah yang dalam perspektif Pramoedya Ananta Toer disebut sebagai bekerja untuk keabadian. Pram menjelaskan dengan menulis niscaya kita akan senantiasa abadi, dikenang oleh sejarah dan peradaban. Karena dengan menulis mereka telah bekerja untuk keabadian, mengabdi pada sejarah serta peradaban.

Ya, siapa dan apapun profesi anda? Entah pelajar, mahasiswa, guru, dosen, karyawan, dan segala macam bentuk profesi maka menulislah dari sekarang. Sebab sesuai apa yang dituturkan Pramoedya jika anda tidak menulis sama artinya ingin hilang dari peredaran masyarakat luas dan tak akan dikenang oleh sejarah. Maka, menulislah!
* Direktur Smart Institute, Jepara

0 komentar: