Kamis, 25 September 2008

Puisi-puisi M Badri

M BADRI, lahir di sebuah dusun kecil di kaki Gunung Kelud, Kabupaten Blitar (Jawa Timur), 13 Maret 1981. Namun sejak tahun 1986 hijrah mengikuti orang tua sebagai transmigran yang ditempatkan di belantara Kuantan Singingi (Riau). Untuk mengenalnya lebih detail klik di http://badridoang.blogspot.com

RIWAYAT CINTA

setiap kali mengamati sisa airmata di pipimu
aku seperti menyelami sebuah danau yang hijau
karena aku ikan yang merayap di celah rerumputan
sambil meniupkan gelembung-gelembung ke permukaan
karena kau seekor bangau yang menunggu

hingga rintik gerimis memaksaku menjadi nelayan
yang termenung di atas sampan
melemparkan jala ke setiap penjuru
sambil berharap tersangkut di reranting perdu
karena kau setangkai bunga yang bisu

dengan luka yang sama, kumaknai isyarat angin
sampai burung-burung yang bersarang di kepalaku
mengabarkan para peri mandi di danau
aku ingin mencuri pelangi yang melilit tubuhmu
sampai lanskap senja membentuk silhuet merah jambu

akhirnya, buah kuldi yang kau lempar selepas malam
menancap di leherku. hingga suaraku terdengar parau
untuk sekadar mengucap sebuah kalimat cinta
sebab kau ingin aku kembali menjadi ikan
yang merenangi setiap danau di tubuhmu
Pekanbaru, 2008


MALAM PINANGAN

Aku ingin menanami hamparan sawah yang memanjang di hatimu
Dengan padi-padi yang tumbuh dari gairah jiwaku
Lalu kualiri dengan sungai yang memancar di lubuk rindu
Dengarlah seruling cinta itu, mengalun sampai ke padang-padang
Beriring kasidah panjang di keremangan petang

Aku ingin melingkarkan sebait puisi di jemarimu
Sampai embun pagi memutih
Menghapus kesunyian kita sepanjang pematang
Saat mengeja nama anak-anak yang tertulis di setiap bulir padi
Hingga menguning dan berwarna gading

Semalam, aku menunggu bukit-bukit meluruhkan bunganya
Sebab di rambutmu yang gambut ingin kusemai doa-doa
Agar matamu memancarkan cahaya seperti bintang-bintang
Saat pelangi melukis warna warni rumah kita
Ketika aku menerjemahkan isyarat angin menjadi bahasa cinta

Lihatlah, menjelang malam Tuhan mengirimi bulan
Hingga puisi yang lekat di jemarimu berkilauan
Kunang-kunang pun menabuh reranting menjadi irama merdu
Burung-burung kemudian memahat kesetiaan
Dengan paruhnya yang meruncing karena rindu

Tiba di dermaga, ayah ibu kita, pasangan kekasih tua itu
Memberi sebuah sampan yang ditatahnya dari batu karang
Sebab laut akan mengiringi, dengan gelombang surut dan pasang
Sampai waktu membuktikan setiap makna
Dari kata-kata yang kita kayuh berdua
Bogor, 2008

Sajak "Malam Pinangan" ini menjadi pemenang "Karya Terpuji" Sayembara Puisi Cinta Tabloid Nyata 2008

0 komentar: