Selasa, 24 Maret 2009

(Jangan) Panggil Aku Susi

Cerpen Iffah Nafi'ah
Penggiat Smart Institute Jepara
ini lahir di Jepara, 09 November 1991. Pernah studi di MA Tasywiqul Banat Robayan hingga kelas XI, setelah itu drop out karena terbentur masalah ekonomi. Masih mukim di Brantak Sekarjati RT. 04 RW. 01 Welahan Jepara Jawa Tengah.

BUKAN asing lagi buatku. Di perempatan jalan, aku dan teman-teman mengais uang. Muda-mudi berjubel memadati taman, tentunya mereka berpasang-pasangan. Apalagi ini malam minggu. Mereka bermadu kasih dibawah siraman lampu-lampu gemerlap kota metropolitan. Mobil dan sepeda motor parkir tak jauh dari pemiliknya berada.

Aku dan keempat teman seperjuanganku: Bunga, Wita, Rossa, dan Lia masih duduk-duduk di tepian taman. Semua nama mereka hanyalah nama samaran. Sedangkan aku (Susi): tentu saja penyamaran ini hanya berlaku tatkala malam menjelang.

Satu persatu diantara kami pergi. Itu artinya dapat rejeki. Tapi, sial bagiku belum juga laku. Pelangganku belum datang menjemput. Sedang koran bekas yang kubeli sebagai tikar nanti, kini sudah kumal. Sebal! Kupukul-pukulkan gulungan kertas itu ke telapak tangan kiriku. Samar-samar, telingaku mendengar suara mesin mobil berhenti. Seorang lelaki gagah turun dan melangkah ke arahku.

"Maaf ya, telat,” rayunya meraih dagu lancipku. Aku berpura-pura marah. Tuli mendengar suaranya, buta melihat kehadirannya. Pura-pura. Tapi dalam hati, aku bahagia. Bukan bahagia karena bertemu orang layaknya pacar. Melainkan, karena besok bisa makan.

"Sayang, kamu marah ya?” Dia memelukku. Perlahan, aku tersenyum menahan geli akibat ulahnya.

“Ah, tidak. Kok, lama banget sih?” balasku manja.

Mahasiswa itu hanya tersenyum, “Biasa, ada urusan sebentar.” Setelah itu, kami memilih area yang kosong. Kebetulan di dekat kolam sepi.

Aku dan lelaki itu duduk berdekatan di kursi panjang. Malam itu, bulan susut. Mega-mega hitam menutupi wajahnya. Sinar bintang mulai meredup.

Tangan kekar itu membelai rambutku. Aku cemas. Membayangkan jika nanti rambut palsuku lepas. Syukurlah, cuma sebentar. Wajah tampannya mendekat dengan wajahku, yang tersapu make up. Semakin dekat, mendekat, dan …

Ciuman yang lama di bibir tipisku. Nafas bersatu. Tangannya meraba seluruh tubuhku. Mulai dari dagu, leher, berhenti sejenek. Ke dada, meremasnya. Aku tak menggelinjang, bahkan sakitpun tidak. Lalu perut rampingku, semakin ke bawah, dan …

"Auw…belutku…,” rintihku menggelinjang.

“Sayang, apa ini?” tangannya masih menggenggam belut itu. Punyaku. Ia menarik rambutku, “Ikut aku ke kantor polisi!” dan dibuangnya benda itu. Diseretnya aku menuju mobil kijang berwarna silver. Semua orang melihatku. Betapa malunya. Apa dia sengaja mempertontonkanku di hadapan semua orang? Hingga akhirnya mereka menghinaku, mengutukku, menertawai caraku menyambung hidup, atau justru kasihan padaku? Aku tak peduli!

Tubuhku terhempas di jok mobilnya. Mobil mulai berjalan. Pelan.

"Kau kira aku bodoh, mbak Susi?” Ia masih memegang setir. "Sialan, ternyata dia seorang polisi yang mengaku mahasiswa," hujatku dalam hati.

"Sekilas kau memang cantik. Body langsing, putih, mulus, dan tidak buruk”. Aku hanya diam. “Tapi, ketika aku memegang payudaramu, Eit…lebih tepatnya spon. Apalagi, ketika kau juga punya belut seperti aku. Aku semakin yakin kalau kau…”

"Seorang waria!” selaku. Dia tersenyum kecut. Aku pun sama. Menggigit bibir menahan kegetiran hidup. ”Semua orang pasti menghina profesiku. Termasuk kau!” mataku tertimbun berkaca-kaca, hampir tak bisa melihat.

"Tangkap saja aku. Lebih baik aku hidup dalam bui. Daripada harus menggeluti pekerjaan ini,” nadaku lirih.

"Asal kau tahu, aku juga jijik dengan diriku. Aku terpaksa melakukannya karena dunia semakin angkuh. Untuk makan saja susah. Apalagi, biaya kuliah.” Benar-benar pilu. Dia hanya melirikku sebentar. Pura-pura acuh. Tapi aku yakin, dia ingin mendengarkan kalimatku selanjutnya.

"Kau beruntung, bisa makan enak, mengenyam pendidikan, sering jalan-jalan. Dan semua itu, kau hanya bisa menghabiskan harta orang tuamu. Sedangkan aku? Aku tak bisa sepertimu. Orang tuaku saja tak tahu, kalau anaknya seperti ini. Lalu, harus bagaimana lagi aku menghidupi diriku sendiri dan keluargaku di desa?” seperti aku memakinya. Matanya tetap lurus ke depan.

“Kenapa kau bicara seperti itu padaku? Aku hanya seorang oknum yang diberi amanat untuk menangkap orang-orang sepertimu.”

“Hanya seorang oknum? Apa untungnya kau bekerja hanya seorang oknum?” Aku menirukan katanya.

Kami hanya terdiam. Lama.

“Dari pada kita hanya bisu, kau mau mendengar cerita hidupku?” tawarku seraya membersihkan make up dengan tissue. Dia masih diam. Tapi aku tahu, dia ingin mendengar ceritaku.

Aku mulai berkisah, “Sebenarnya, aku merasa jijik atas diriku sendiri. Tapi mau bagaimana lagi, aku hanya mengikuti takdir Illahi. Sudah setahun aku tenggelam dalam dunia ini. Itu berawal, ketika temanku, Ali, sudah dua tahun nyemplung menjadi waria. Dia menyamar dengan nama, Lia. Alasannya, agar tak jauh beda dengan nama aslinya. Aku tertawa. Menertawai kekerdilanku.

“Aku kasihan dengan keluargaku. Aku menafkahi mereka dengan uang hasil penjualan martabatku. Aku berdosa. Tapi kenapa Tuhan menakdirkanku seperti ini? Apa ini sebuah dosa? Kenyataannya aku memang seperti ini. Sungguh aku masih lelaki sejati. Aku punya pacar, cantik. Dia tidak tahu diriku seperti apa. Yang dia tahu, aku seorang mahasiswa jurusan sastra, tampan, dan berwibawa. Sengaja aku menyembunyikan realita hidup darinya. Aku terlalu mencintainya. Sekali lagi, ini terpaksa,” air mata begitu kekal di pelupuk. Sesekali, aku menyisipkan seulas senyum.

“Pacarmu kuliah juga sepertimu?” tanya oknum yang bernama Dentri itu. Aku sempat tak percaya mencengar pertanyaannya, yang menurutku sangat bersahabat. Rupanya, dia menyimak pembicaraanku.

“Tidak. Dia gadis desa. Berjilbab, lembut, dan seorang santri," balasku.

“Kau bilang, pacarmu itu seorang santri. Lalu kenapa kau seperti ini? Seharusnya kau malu padanya, karena dia wanita suci yang pandai mengaji,” seperti ia memarahi ketololanku.

“Hei, kau tak dengar alasanku, kenapa aku menjadi manusia terkutuk?” aku sedikit geram.

“Iya, iya. Aku mendengarnya. Bung, kau mau menjadi temanku?” ia mengulurkan tangannya. Aku menjabatnya.

Kemudian, aku menceritakan hobiku yang tak bisa lepas dari nafasku. Menulis di media massa. Ternyata, Dentri adalah salah satu penyuka buah karyaku. Katanya, aku berbakat dalam bidang jurnalistik.

“Menulis itu, tidak harus mengandalkan bakat,” tukasku menanggapi komentarnya tentang menulis.

“Bung susi, eh, maaf maksudku, Susilo. Aku mempunyai teman, dia pemilik penerbitan terkenal. Sekarang, dia sedang mencari seorang jurnalis profesional dan handal. Sepertinya kau cocok. Kalau kau mau, aku bisa memasukkanmu disana. Bagaimana?” mobil mulai sedikit berjalan.

“Benarkah? kau tak jadi menangkapku?” Dia mengangguk. Mataku berbinar. Aku membayangkan, jika nantinya aku tak harus menjadi seorang waria. Menjadi lelaki sejati. Joko Susilo.
** *

Hampir genap satu tahun aku berkecimpung di penerbitan ini. Gajiku lumayan besar. Bahkan, lebih untuk kuliah dan menghidupi keluargaku di desa.

Bulan depan, aku akan melangsungkan pernikahanku dengan Laili, gadis pujaanku. Aku mengundang Dentri untuk menghadiri pesta yang akan diselenggarakan di kampung halamanku. Tapi sayang, sekarang dia pindah tugas di luar kota . Tak apalah, yang penting dia sudah merestuiku, meski dengan nada berat. Aku tak tahu mengapa.

***

Pesta pernikahan berlangsung meriah. Semeriah apapun, rasanya hambar tanpa kehadiran Dentri. Entah mengapa aku merindukannya.

Para tamu undangan silih berganti, pergi.

Malam semakin pekat. Aku dan istriku duduk di bibir balai pengantin. Aku mencumbunya. Ia rebahkan tubuhnya di atas kasur yang bertabur bunga-bunga. Pakaian tipis transparan membalut tubuh moleknya. Perlahan, aku menindihnya. Ia menggigit bibirnya, perih katanya. Baguslah kalau begitu, berarti ia masih perawan, pikirku.

Bicara soal perawan membuatku teringat pada Dentri dan kehidupanku dulu. Aku pernah bertanya padanya, “Apa aku masih bisa disebut jejaka?” Dia malah terkekeh.

"Apa kau pernah melakukan ini dengan perempuan? Tidakkan.”

Selama aku bersamanya, kami selalu bertemu. Pergi berdua, keluar malam, dan melakukan misi utama. Adalah hubungan badani. Mungkin kami memang benar-benar sudah tak waras.

Entah mengapa aku begitu rindu. Aku membayangkan, kalau seakan-akan yang kini di bawahku adalah dia. "Dentri…," desahku pelan.

"Ada apa, mas?” ternyata Laili mendengarnya.

Aku segera membalas, “Tidak. Tak ada apa-apa.” Dia hanya percaya dan tersenyum manja padaku. Kasihan Laili, desisku dalam hati.

Seandainya suatu waktu dia tahu, bahwa aku sudah tak jejaka. Sudah tak ting-ting lagi. Apa dia akan memarahiku, meminta cerai, merasa jijik, dan akhirnya pergi meninggalkanku? Kurasa dia tidak akan pernah tahu.

Yang penting, aku bisa membikin anak.

0 komentar: