Selasa, 13 Januari 2009

Perempuan, Gerabah dan Warisan Budaya

Oleh Nanik Kurniawati

GERABAH, yang kita kenal adalah suatu barang unik yang sudah ada sejak ribuan tahun silam. Bahkan sampai sekarang pun gerabah menjadi suatu kebutuhan, terutama di pedesaan.

Bagi sebagian orang, pembuatan gerabah dimanfaatkan sebagai hobi untuk menghilangkan kejenuhan. Tapi tidak untuk sebagian yang lainnya. Di banyak daerah membuat gerabah dimanfaatkan sebagai mata pencaharian (sumber ekonomi).

Contohnya saja di Mayong, Jepara. Sebagian besar perekonomian warga Jepara memang berasal dari sektor mebel. Namun di Mayong, kebanyakan warganya menggeluti kerajinan gerabah sebagai mata pencaharian.

Kerajinan membuat gerabah sudah menjadi home industri di daerah ini. Hebatnya, pekerjaan ini justru digawangi oleh perempuan. Mereka yang tidak mempunyai pendidikan yang memadai memilih aktivitas sebagai pengrajin gerabah.

Kebanyakan pekerjaan ini digeluti oleh para Ibu rumah tangga. Dengan peralatan tradisional (ala kadarnya), para perempuan ini menyulap gumpalan tanah liat menjadi suatu produk gerabah yang apik.

Jangan salah. Meski pengerjaan gerabah ini hanya dikerjakan oleh para perempuan berpendidikan rendah, namun beraneka macam produk gerabah yang mereka hasilkan sudah dipasarkan hingga ke berbagai wilayah di Indonesia, seperti: Bali, Surabaya, Sumatera, Jakarta bahkan sampai ke luar negeri.

Tidak banyak penghasilan yang didapatkan dari pekerjaan ini. Mereka hanya mampu mendapatkan penghasilan 10.000-20.000 setiap harinya. Namun semua itu tidak menyurutkan langkah para perempuan ini untuk tetap berkarya dan mencari nafkah.

“Tidak banyak penghasilan yang saya dapatkan dari pembuatan gerabah, tapi saya senang. Setidaknya saya tidak hanya menunggu pemberian suami," ujar Romlah, salah satu pengrajin gerabah di Mayong.

Pekerja lain. Sumiati, ibu rumah tangga 40 tahun ini berprofesi sebagai pembuat gerabah sejak sepuluh tahun silam. Bersama suaminya selama sepuluh tahun itu ia menafkahi keluarganya.

”Kami senang menjadi pengrajin gerabah. Meski penghasilan kami tidak seberapa, namun sudah bisa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ungkap pasangan suami istri yang telah sekian tahun menekuni profesi sebagai pembuat gerabah.

Berbeda dengan Suti. Ibu dua anak ini mengaku menekuni profesi sebagai pembuat gerabah karena ingin melestarikan warisan leluhur. Sejak kecil dia sudah diajarkan untuk membuat gerabah.

“Biar bagaimanapun profesi sebagai pengrajin gerabah adalah profesi turun-temurun dari leluhur saya. Jadi saya harus tetap melestarikan profesi ini, selain untuk membantu perekonomian keluarga,” Ungkap Suti.

Berbagai alasan namun tetap satu tujuan. Ujung terakhirnya adalah bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi.

“Saya harus bekerja meski sebagai pembuat gerabah. Selain bisa membantu perekonomian keluarga, saya juga bangga karena saya bisa menghasilkan produk yang digunakan banyak orang,” ujar Robi’ah, pemilik usaha sekaligus pembuat gerabah.

Berbanggalah para perempuan pengrajin gerabah. Selain sebagai produk peninggalan sejarah, kerajinan gerabah juga merupakan sumber ekonomi bagi yang menekuninya.[]

0 komentar: